Dokter dan Depresi

Oleh dr. Immanuel

Menjadi seorang dokter merupakan pekerjaan yang melelahkan dan dapat berakhir pada terjadinya depresi. Kelelahan juga dirasakan oleh dokter yang menjalaninya. Sebuah laporan di Kanada mengungkapkan sebanyak 64% dokter merasa beban kerja yang diembankan kepadanya sangat berat. Rata-rata jam kerja dokter di Kanada adalah 50-60 jam seminggu.[1] Masa kerja yang panjang ini dapat meningkatkan kelelahan pada dokter yang memberikan dampak negatif secara personal maupun profesional pada dokter. Dampak personal yang mungkin terjadi adalah peningkatan risiko kelelahan mental, peningkatan risiko tertusuk jarum dan meningkatkan risiko kecelakaan pada perjalanan pulang.

Depositphotos_112069010_m-2015

Secara profesional, dokter yang kelelahan memiliki kemampuan fokus bekerja yang lebih rendah dan membuat lebih banyak kesalahan medis mayor.[2] Selain beban jam kerja dan kelelahan, faktor lain yang mempengaruhi dokter adalah beban mental misalnya bekerja dalam situasi yang emosional, melihat banyak penyakit, kegagalan, ketakuran dan kematian serta hubungan yang tidak baik dengan pasien, keluarga pasien atau staf medis lain. Keseluruhan faktor ini berperan dalam menyebabkan terjadinya depresi pada dokter.

Epidemiologi Depresi pada Dokter

Sebuah meta analisis yang dilakukan tahun 2015 mendapati bahwa 3 dari 10 residen mengalami depresi. Pada meta analisis yang melibatkan 31 studi potong lintang dan 23 studi longitudinal tersebut didapatkan bahwa prevalensi depresi pada dokter residen adalah 28,8% (p <0,001, 95% CI 25,3%-32,5%). Tidak ditemukan hubungan antara usia dan jenis kelamin dengan kejadian depresi. Analisis pada studi ini menunjukkan terjadi peningkatan gejala depresi pada residen semenjak memulai pendidikan. Rerata peningkatan depresi pada residen adalah 15,8% (0,3-26,3%) setelah 1 tahun memulai pendidikan.[3]

Sebuah penelitian pada tahun 2012 yang melibatkan hampir 8000 dokter umum di Amerika didapatkan hasil bahwa sekitar 37,9% mengalami kelelahan emosional. Dengan kuisioner didapatkan bahwa 29,4% dokter mengalami depersonalisasi dan 12,4% merasa dirinya tidak meraih pencapaian yang bermakna. Hampir 50% dokter melaporkan bahwa mereka merasa waktu bekerja tidak mengorbankan waktu personal dan waktu kebersamaan dengan keluarga, tetapi 36,9% tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Penelitian ini juga mendapatkan hasil bahwa sebanyak 37,8% (2753) subjek dideteksi mengalami depresi dengan kuesioner 2-Item Primary Care Evaluation of Mental Disorders. Juga didapati sebanyak 6,4% subjek berpikiran untuk mengakhiri hidupnya setidaknya 1 kali selama 12 bulan terakhir.[5]

Faktor Risiko Depresi pada Dokter

Beberapa faktor mempengaruhi terjadinya depresi pada dokter. Salah satu faktor yang memegang peran penting adalah spesialisasinya. Data di Amerika Serikat menunjukkan bahwa dokter spesialis kedokteran kegawatdaruratan, spesialis ilmu penyakit dalam, spesialis saraf dan spesialis kedokteran keluarga adalah spesialisasi yang paling banyak mengalami kelelahan mental yang dapat berujung depresi akibat pekerjaannya. Namun, spesialis patologi, kulit dan kelamin, spesialis anak dan spesialis kedokteran kerja dan lingkungan adalah spesialisasi dengan tingkat kelelahan mental yang paling rendah. Setelah dilakukan penyesuaian dengan faktor lain seperti usia, umur, jadwal on call, status pernikahan, tempat berpraktek, waktu kerja perminggu dan waktu sejak lulus pendidikan, didapatkan bahwa spesialis kedokteran kegawatdaruratan tetap menjadi spesialis dengan risiko kelelahan mental tertinggi, diikuti dengan spesialis ilmu penyakit dalam, kedokteran keluarga, spesialis saraf, dan radiologi sementara spesialis kulit dan kelamin menjadi spesialis dengan risiko kelelahan mental yang paling kecil.  Walau data ini belum tentu sesuai dengan kenyataan di Indonesia, tetapi kita dapat menarik kesimpulan bahwa pilihan spesialisasi berpengaruh terhadap risiko kelelahan mental pada dokter.[5]

Kepuasan atas keseimbangan hidup dan kerja merupakan salah satu faktor lain yang dihipotesiskan mempengaruhi kejadian depresi pada dokter. Dari sebuah studi pada tahun 2012 didapatkan bahwa 48,2% responden setuju atau sangat setuju bahwa mereka memiliki kehidupan personal dan keluarga yang tidak terganggu dengan kehidupan pekerjaan. Hanya 36,9% yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Terdapat perbedaan kepuasan keseimbangan kehidupan pada masing-masing spesialisasi. Dokter kulit dan kelamin, anak dan kedokteran kerja dan lingkungan adalah kelompok spesialisasi dengan angka kepuasan keseimbangan hidup yang tinggi sementara dokter ahli bedah umum, ahli bedah lainnya dan sub spesialis bedah serta dokter kandungan dan kebidanan adalah spesialisasi yang banyak mengeluhkan keseimbangan kehidupannya.

Tempat bekerja juga dapat menyebabkan terjadinya depresi pada dokter. Dokter yang berperan pada lini depan kegawatdaruratan seperti penyakit dalam, neurologi dan spesialis kedokteran kegawatdaruratan memiliki kejadian depresi yang lebih tinggi. Pada studi yang dilakukan pada dokter ICU di Prancis ditemukan bahwa 23,7% responden mengalami gejala depresi. Kelompok responden ini melaporkan gangguan tidur, gangguan pola makan, dan permasalahan dalam dengan pasangan. Dokter yang mengalami gejala depresi memiliki angka ingin mengundurkan diri yang lebih besar (58%) dibanding yang tidak (33%) (p<0,0001).[6]

Beberapa faktor lain yang ditemukan berhubungan dengan kejadian depresi pada dokter, terutama yang bekerja di ICU, adalah jam kerja di ICU dan waktu turun jaga pasca jaga malam. Dokter dengan kelelahan mental juga memiliki gejala depresi yang lebih tinggi. Beban kerja dokter, termasuk jumlah jam kerja per minggu, jumlah jaga malam per bulan dan waktu libur sebelumnya, baik pada hari kerja, akhir minggu atau cuti, memegang peran dalam menentukan kejadian gejala depresi.

Faktor yang tidak berhubungan dengan gejala depresi adalah usia dan status pekerjaan. Kondisi pasien, keparahan tingkat penyakit, angka kematian pasien dan pasien dengan DNR yang mempengaruhi kejadian depresi pada dokter ICU. Keberadaan kelompok diskusi atau konsultasi dengan psikolog juga tidak menurunkan gejala depresi pada dokter.

Dampak Depresi pada Dokter

Depresi secara langsung berdampak pada hubungan dokter dengan pihak lain. Penelitian membuktikan bahwa terjadi penurunan kualitas pelayanan yang diberikan oleh depresi yang dokter.[7] Depresi yang dialami dokter dapat menyebabkan pelayanan yang suboptimal pada pasien. Bentuk pelayanan suboptimal yang dapat dilakukan adalah ketidakmampuan memberikan dan mendiskusikan pilihan pengobatan pada pasien, tidak mampu menjawab pertanyaan pasien, atau kesalahan dalam memberikan asuhan akibat tidak tahu, dan tidak berpengalaman. Dokter juga dilaporkan mengalami penurunan atensi dan penurunan sikap peduli pada pasien. Pada sebuah studi, pelayanan suboptimal ini dilaporkan oleh 75% dokter.[2]

Depresi yang dialami dokter juga mengganggu hubungan dokter dengan rekan kerjanya. Dokter yang memiliki gejala depresi melaporkan hubungan yang tidak baik dengan perawat atau tenaga medis lain, setidaknya 1 minggu terakhir. Gangguan hubungan juga terjadi antara hubungan dokter dengan rekan sejawat dokter lainnya.[6] Depresi juga merupakan penyebab bunuh diri yang paling banyak, termasuk pada dokter. Depresi yang disertai dengan penyalahgunaan alkohol meningkatkan risiko bunuh diri pada penderitanya.[8]

Stigma terhadap Dokter dengan Depresi

Salah satu permasalahan besar yang dialami dokter yang mengalami depresi adalah stigma, bahkan dalam pelayanan kesehatan. Stigma yang dialami oleh penderita juga mempengaruhi dokter dalam mencari pengobatan dan mempengaruhi mereka dalam lingkungan kerja.[9] Terdapat beberapa hal yang mempengaruhi pemberian stigma pada sistem kesehatan yang mempengaruhi pada akses dan kualitas pelayanan kesehatan pasien dengan gangguan mental, antara lain sikap dan perilaku negatif, ketidakpedulian, kurangnya keahlian, pesimisme terhadap hasil pengobatan dan kultur stigma di tempat kerja.[10]

Stigmatisasi juga berdampak pada keinginan tenaga kesehatan yang mengalami depresi untuk mencari bantuan dan mengungkapkan masalah kesehatan mental dirinya. Hal ini berakibat pada tingginya praktek pengobatan diri sendiri dan kondisi lingkungan kerja yang tidak baik. Dukungan yang rendah, bahkan dapat berupa isolasi dan sikap judgemental dari rekan kerja dapat meningkatkan risiko bunuh diri. Masalah lain adalah depresi dapat menurunkan atensi dan produktivitas kerja pasien. Penurunan produktivitas ini dapat menguatkan sterotipe yang diberikan rekan kerja, menambah stigma pada pasien. Kondisi ini memperburuk keinginan pasien mencari pertolongan.[11]

Faktor lain yang membuat dokter semakin tidak mencari bantuan adalah ketakutan bahwa pengobatan secara profesional akan berdampak pada karir dokter tersebut di masa depan, terutama mengenai perpanjangan lisensi (di Indonesia surat tanda registrasi/STR) dokter tersebut.

Menghadapi Depresi pada Dokter

Menghadapi depresi pada dokter membutuhkan perhatian dari dokter. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memahami dan menyadari adanya kemungkinan depresi pada pekerjaan yang melelahkan sebagai dokter. Dokter juga perlu memahami emosi dirinya dan faktor-faktor pemicu pada dirinya. Setelah itu barulah dokter dapat mengatur langkah-langkah perawatan pada dirinya yang memungkinkan mengatasi beban kerja yang berat. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan adalah konseling, meditasi atau olahraga.

Langkah kedua yang perlu dipahami dokter adalah sterotipe yang dia berikan atas dirinya dan mungkin terjadi atas dirinya oleh orang lain. Memahami stigma tersebut membantu kita mempersiapkan diri. Melarikan diri bukanlah jawaban atas masalah ini. Setelah pemahaman tersebut dimiliki dokter, dia harus terbuka pada dirinya. Menutup diri akan membuat dokter mengalami kesulitan mengembangkan diri dan berlaku profesional. Keterbukaan akan menggerakkan rekan, teman dan anggota keluarga untuk memahami kita, menunjukkan empati dan berbelas kasihan.

Langkah ketiga yang perlu dilakukan adalah memahami bahwa pekerjaan kita memiliki tanggung jawab besar pada keselamatan pasien. Dokter yang mengalami depresi namun tidak mencari pengobatan adalah dokter yang lalai melakukan tugasnya dan dapat membahayakan pasien. Langkah terakhir yang dapat dilakukan adalah menumbuhkan jejaring. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa tidak sedikit dokter yang mengalami depresi. Bertumbuh dalam kelompok yang sama akan mengurangi stigma pada pasien. Kemungkinan dokter untuk mencari pengobatan pun lebih tinggi bila dia mengetahui bahwa dia tidak sendiri.[12]

Kesimpulan

Dokter disarankan untuk menemui psikiater bila terjadi gangguan mood, penyalahgunaan obat dan alkohol dan keinginan bunuh diri. Selain itu, dokter juga perlu memahami tanda dan gejala depresi dan keinginan bunuh diri pada diri sendiri dan membuat rancangan mengatasinya. Pemahaman tersebut harus diedukasi pada residen dan mahasiswa kedokteran untuk memberikan pemahaman mengenai cara menanggulangi depresi. Dokter juga perlu memahami peraturan pemerintah dan organisasi profesi terkait perlindungan legalitas dokter. Bagi dokter yang memiliki masalah psikiatri, harus memahami batasan pelayanan yang diberikan.

Dokter yang mengalami depresi adalah salah satu kelompok yang paling rentan mengalami stigmatisasi. Seringnya, stigmatisasi inilah yang menyebabkan dokter tidak ingin mencari pengobatan. Pemahaman dokter akan tugas dan fungsinya serta keterbukaan adalah kunci untuk mengatasi depresi pada tenaga kesehatan.

Referensi