Cara Mencegah Physician Burnout

Oleh :
dr. Soeklola SpKJ MSi

Cara mencegah physician burnout perlu diketahui oleh masing-masing dokter karena kondisi ini bisa memengaruhi kualitas pelayanan dokter terhadap pasien. Profesi dokter (physician) dianggap sebagai salah satu pekerjaan yang penuh stres dan tuntutan. Kesadaran mengenai physician burnout perlu dicanangkan, terutama di masa pandemi COVID-19 yang semakin meningkatkan beban kerja dokter seperti saat ini.[1-6]

Burnout secara umum ditandai dengan kelelahan emosional, depersonalisasi (sikap yang memperlakukan pasien bukan sebagai manusia tetapi sebagai objek), dan perasaan memiliki pencapaian personal yang rendah. Hal ini secara konsisten berkaitan dengan kepuasan kerja yang rendah, penurunan produktivitas kerja, kualitas perawatan pasien yang buruk, peningkatan risiko medical error, dan pensiun dini.[1,7,8]

Depositphotos_151844550_m-2015_compressed

Sebuah penelitian menunjukkan adanya medical error yang lebih tinggi pada grup klinisi yang mengalami burnout daripada yang tidak mengalami burnout (77,6% vs 51,5%). Hal ini menunjukkan pentingnya upaya pengenalan, pencegahan, serta penurunan physician burnout.[6]

Faktor Risiko Pencetus Physician Burnout

Faktor risiko yang memengaruhi terjadinya physician burnout dapat dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu faktor pekerjaan, faktor karakter personal, dan faktor organisasi.[1,8]

Faktor Pekerjaan

Contoh faktor pekerjaan yang menyebabkan physician burnout adalah beban kerja berlebihan, jam kerja panjang, frekuensi doctor-on-call yang sering (terutama di malam hari atau di akhir pekan), perasaan kehilangan otonomi dalam lingkungan kerja, dan kehilangan dukungan rekan kerja.[1,8]

Penggunaan waktu yang tidak efisien untuk pekerjaan administratif seperti mengisi rekam medis dan formulir laboratorium juga dilaporkan menurunkan kepuasan kerja dokter dan meningkatkan kelelahan profesional. Selain itu, jenis spesialisasi yang bekerja di garda terdepan (misalnya dokter unit gawat darurat dan dokter keluarga) juga dilaporkan memiliki risiko tertinggi mengalami stres.[8,9]

Faktor Karakter Personal

Karakter yang rentan mengalami burnout adalah mereka yang sangat kritis terhadap diri sendiri, neurotik, sering menggunakan strategi coping tidak sesuai, sering kurang tidur, memiliki komitmen berlebihan, perfeksionis, dan idealis.

Ketidakseimbangan pekerjaan dengan aktivitas kehidupan lain dan kurangnya sistem dukungan di luar lingkungan kerja juga berkontribusi. Klinisi yang masih berada di masa awal karirnya atau di masa residensi dilaporkan memiliki risiko burnout hingga dua kali lipat lebih tinggi daripada yang berusia lebih tua.

Selain itu, klinisi berjenis kelamin perempuan dikatakan lebih sering mengalami fatigue daripada pria. Adanya anak yang berusia lebih muda dari 21 tahun juga meningkatkan risiko burnout hingga 54% dan adanya pasangan yang tidak berprofesi sebagai tenaga kesehatan meningkatkan risiko hingga 23%.[1,8]

Faktor Organisasi

Perilaku pemimpin yang negatif, ekspektasi beban pekerjaan yang berlebihan, reward yang tidak mencukupi, kolaborasi interpersonal yang terbatas, dan kesempatan yang terbatas untuk mengembangan diri dapat menyebabkan physician burnout.[2,8]

Tanda dan Gejala Physician Burnout

Burnout atau kelelahan emosional ditandai dengan perasaan lelah dan hilangnya energi fisik maupun emosional. Hal ini bisa menimbulkan perasaan atau perilaku negatif, sinis, dan bermusuhan.

Selain itu, burnout dapat menyebabkan perasaan detached terhadap pasien yang ditangani. Dokter akhirnya memperlakukan pasien sebagai objek dan bukan sebagai manusia (depersonalisasi).

Dokter juga bisa mengalami penurunan pencapaian pribadi akibat munculnya penilaian diri yang negatif, perasaan tidak kompeten, dan rasa tidak efisien dalam mengerjakan pekerjaan harian.[1,14]

Cara Mencegah dan Mengendalikan Physician Burnout

Terdapat standar perawatan diri minimal yang wajib dipenuhi bagi tiap klinisi, misalnya kecukupan tidur, olahraga, kebutuhan medis personal, serta kemampuan untuk mengidentifikasi dan mencapai prioritas kehidupan pribadi serta profesional.

Untuk mencegah dan mengendalikan physician burnout, diperlukan cara mengenali dan mengukur burnout serta cara mengevaluasi dan memitigasi regulasi yang membebani. Intervensi burnout bisa dibagi menjadi dua kategori, yaitu intervensi yang berfokus pada dokter dan intervensi yang berfokus pada hal struktural.[2,9,14,16]

Intervensi yang Berfokus pada Dokter

Tujuan intervensi ini adalah meningkatkan kompetensi kerja, keterampilan komunikasi, dan strategi coping personal. Pembinaan klinisi secara profesional memampukan klinisi untuk memaksimalkan potensi profesional dan kapasitas mental dalam menghadapi tantangan. Prinsip utama dari pembinaan ini adalah meningkatkan kontrol internal dan pemahaman bahwa aksi pribadinya akan lebih memengaruhi luaran hidup daripada faktor eksternal di sekitarnya.

Langkah yang dilakukan sejalan dengan teknik kognitif-perilaku, yaitu mengenal preokupasi pikiran negatif tertentu dan melakukan self-defeating inner dialogue. Dialog internal ini mempertanyakan pikiran dan persepsi yang otomatis muncul dalam situasi tertentu, kemudian membedakan antara fakta, asumsi dan interpretasi. Hal ini membuat seseorang lebih bisa mengontrol kepuasan hidupnya dan mencegah burnout.[14,16]

Selain pembinaan personal, diskusi kelompok dengan memasukkan unsur mindfulness, refleksi, dan pembagian pengalaman juga terbukti mampu mereduksi burnout. Dalam kelompok, para dokter dapat saling berbagi pengalaman dan strategi coping ketika menghadapi situasi sulit.

Aktivitas grup juga dapat berupa piknik, gathering, bakti sosial, maupun kegiatan lain yang dapat membangun hubungan interpersonal. Keterlibatan di tempat kerja dapat meningkatkan makna pekerjaan, mereduksi depersonalisasi terhadap pasien, serta mereduksi kelelahan emosional.[14,16]

Latihan peningkatan resilience juga dapat bermanfaat. Resilience adalah kemampuan ketahanan mental untuk bangkit kembali saat mengalami tekanan. Latihan ini berfokus pada mekanisme coping aktif seperti perilaku yang menuju target, memecahkan masalah, dan mencari dukungan sosial ketika dibutuhkan.[14,19]

Intervensi yang Berfokus pada Hal Struktural

Intervensi ini berfokus pada lingkungan kerja dan dilaporkan berkaitan dengan reduksi skor kelelahan emosional dan depersonalisasi yang lebih besar daripada intervensi yang berfokus pada dokter.[14,16,17]

Kondisi kerja yang buruk berkaitan dengan risiko physician burnout yang lebih tinggi dan penurunan kualitas layanan. Contoh intervensi sederhana yang dapat dilakukan adalah merencanakan pertemuan bulanan yang berfokus terhadap kehidupan kerja, tantangan pribadi, dan manajemen perawatan pasien sulit.

Selain itu, tempat kerja dapat mendelegasikan tugas nonesensial ke staf nonmedis, misalnya dengan mempekerjakan staf tambahan yang memasukkan data pasien ke rekam medis elektronik. Tempat kerja juga bisa memperbaiki sistem yang menghambat proses menuju ruang rawat inap, seperti rekonsiliasi medikasi dan pemasukkan data.

Tempat kerja juga dapat menyediakan staf administrasi untuk dokumentasi dan dapat menggunakan pre-appointment tes laboratorium untuk mengurangi waktu administrasi. Standarisasi dan sinkronisasi alur pelayanan untuk peresepan rutin dan berulang juga diperlukan. Hal ini dapat mengurangi waktu pelayanan.

Tempat kerja juga dapat membatasi jam kerja agar tidak melebihi 80 jam/minggu, dengan ketentuan ada minimal 24 jam libur tiap minggu, minimal 10 jam libur di antara shift, dan maksimal 1 tugas on-call tiap 3 malam.[1,14,19]

Physician Burnout selama Pandemi

Saat pandemi COVID-19, suatu survei yang dilakukan di Wuhan terhadap 220 klinisi menunjukkan bahwa 25% dari seluruh sampel melaporkan peningkatan kelelahan emosional dan depersonalisasi terhadap pasien, serta hampir 50% sampel melaporkan penurunan pencapaian personal. Hal yang mirip juga ditemukan pada survei dokter di Italia.[21,22]

Secara umum, kedua intervensi burnout yang dijelaskan di atas tetap dapat dilakukan. Namun, terdapat tambahan yang disarankan, seperti limitasi waktu shift kurang dari 16 jam, program konsultasi lewat telepon atau helpline oleh profesional kesehatan jiwa, dan program dukungan bagi pasangan dan tanggungan.

Selain itu, teknik manajemen stres dan pandemic planning bisa menjadi salah satu mata kuliah selama masa pendidikan kedokteran dan residensi. Pemerintah juga dapat melaksanakan program dukungan pencegahan dan manajemen burnout.[4]

Kesimpulan

Physician burnout tidak hanya berpengaruh pada kualitas layanan bagi pasien tetapi juga pada kinerja dan kesehatan klinisi yang mengalaminya. Secara umum, terdapat tiga faktor utama yang memengaruhi terjadinya burnout, yaitu faktor pekerjaan, karakter personal, dan organisasi.

Intervensi yang dilakukan untuk mencegah dan mengendalikan physician burnout terdiri dari intervensi yang berfokus pada dokter dan intervensi struktural. Intervensi yang berfokus pada dokter bertujuan untuk meningkatkan kompetensi kerja, keterampilan komunikasi, dan strategi coping personal. Sementara itu, intervensi struktural berfokus pada lingkungan kerja.

Penulisan pertama: dr. Hunied Kautsar

Referensi