Cara untuk Mencegah Terjadinya Physician Burnout

Oleh :
dr. Hunied Kautsar

Beban kerja yang terus meningkat serta lingkungan kerja yang kurang mendukung menjadi pemicu terjadinya physician burnout. Tanpa disadari banyak dokter mengalami physician burnout yang berujung pada berkurangnya kualitas kerja dan kapasitas emosional ketika menangani pasien. Sudah waktunya dokter mulai memperhatikan kesehatan fisik dan jiwanya sendiri.

Depositphotos_151844550_m-2015_compressed

Physician Burnout

Di dalam diri setiap dokter terdapat tiga macam tabungan energi [1];

  • Tabungan energi fisik

Untuk mengisi tabungan ini, diperlukan istirahat yang cukup, mengkonsumsi makanan yang bergizi, dan berolahraga teratur.

  • Tabungan energi emosional

Tabungan energi emosional dapat diisi dengan memiliki hubungan yang baik dengan pasangan, keluarga dan teman-teman. Tabungan ini penting untuk diisi agar seorang dokter dapat hadir secara emosional bagi pasien, rekan sejawat dan juga keluarganya sendiri.

  • Tabungan energi spiritual

Tabungan ini dapat diisi kembali dengan secara berkala mengingat maksud dan tujuan pribadi seseorang menjadi dokter.

Seperti halnya tabungan di bank, tabungan energi yang dimiliki seorang dokter dapat berjumlah positif atau negatif. Untuk menjalani pekerjaan sebagai seorang dokter dan aktivitas lain di luar dunia medis, dibutuhkan energi yang diambil dari tabungan energi tersebut. Seiring berjalannya waktu, jika tabungan energi tersebut tidak diisi kembali maka jumlahnya dapat menjadi nol. Ketika energi ini sudah mencapai nilai nol dan mengarah ke negatif, dokter akan memasuki fase physician burnout.

Seorang dokter yang mulai memasuki fase physician burnout (tabungan energi nol dan mengarah ke jumlah yang negatif) akan mengaktifkan survival mode, ia akan mengesampingkan kesehatan fisik dan jiwanya sendiri agar tetap dapat menyelesaikan pekerjaannya sehari-hari tanpa menyadari bahwa kualitas pekerjaannya mulai menurun.

Gejala yang Menandakan Physician Burnout

  1. Kelelahan (Exhaustion)

Energi fisik dan emosional seorang dokter berada di titik terendah dan semakin berkurang. Pikiran yang sering terlintas dalam kondisi seperti ini adalah "Saya tidak yakin sampai kapan saya bisa bertahan"

  1. Depersonalization

Ciri-ciri dari depersonalization adalah mulai melontarkan komentar-komentar sinis dan sarkasme serta merasakan kebutuhan untuk mengeluh mengenai pasien atau pekerjaan. Fase ini dikenal juga dengan "compassion fatigue". [1] Pada fase ini seorang dokter tidak bisa hadir secara emosional bagi pasien atau siapapun di sekitarnya. Energi emosional dokter tersebut berada di titik terendah.

  1. Efisiensi yang Berkurang

Seorang dokter mulai mempertanyakan maksud dan kualitas dari tindakan yang dilakukan. Pikiran yang sering terlintas yakni "Mengapa saya tetap melakukan pekerjaan ini? Sepertinya tidak ada gunanya juga." Seorang dokter akan mulai khawatir bahwa ia akan melakukan kesalahan dalam menangani pasien jika keadaan tidak segera membaik.

Solusi Untuk Mengatasi Physician Burnout

  1. Pahami lebih baik sistem yang dipakai oleh rumah sakit atau klinik di tempat dokter bekerja.

Di era digital ini semakin banyak rumah sakit dan klinik yang menerapkan sistem rekam medis elektronik. Bagi dokter yang belum terbiasa menggunakan sistem ini maka ia akan secara tidak sadar menghindari penggunaan sistem rekam medis elektronik ini dan menunda menyelesaikan pengerjaannya sampai di akhir hari. Hal ini akan menambah beban pekerjaan dan menunda waktu pulang ke rumah.

Temukan rekan sejawat yang lebih memahami sistem rekam medis elektronik dan minta bantuan agar dapat menguasai sistem tersebut.[2]

  1. Gunakan bahasa yang singkat dan jelas dalam mengisi rekam medis

Tanpa mengurangi detail dari hasil anamnesis pasien, gunakan bahasa yang singkat dan jelas dalam mengisi rekam medis. Penggunaan poin-poin akan mengurangi waktu penulisan jika dibandingkan dengan penggunaan kalimat lengkap.

  1. Memulai hari dengan berkumpul bersama tim.

Sebelum menjalankan aktivitas dan bertemu pasien, sempatkan untuk berkumpul bersama tim, termasuk perawat dan petugas administrasi. Tidak diperlukan ruangan khusus untuk berkumpul, jika dilakukan sambil berdiri maka lebih baik karena akan mempersingkat waktu. [2]

Mulai dengan menanyakan kabar masing-masing anggota tim sehingga bisa saling memahami kebutuhan masing-masing dan siap untuk mengambil alhi tugas jika diperlukan. Pastikan ada yang membawa jadwal itu hari tersebut sehingga segala kebutuhan khusus dari pasien dapat dipersiapkan dari awal. Sampaikan masalah-masalah lain yang mungkin akan ditemui sepanjang hari itu termasuk mengenai inventoris. Ucapkan terimakasih atas kinerja satu sama lain selama beberapa hari lalu dan saling mengingatkan bahwa sesama anggota tim akan saling membantu.

  1. Mendelegasikan tugas

Seorang dokter terkadang merasa dirinya adalah seorang superhero yang harus melakukan segalanya seorang diri. Penting bagi seorang dokter untuk mampu mendelegasikan tugas dan percaya kepada orang lain bahwa mereka mampu mengerjakan tugas tersebut. Dengan mendelegasikan tugas non medis kepada staff lain, dokter dapat lebih berkonsentrasi dalam menangani pasien dan memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien.

  1. Membuat batasan yang jelas antara lingkungan pekerjaan dan lingkungan pribadi

Seorang dokter dilatih untuk selalu mengutamakan pasien dan di era digital ini batasan antara lingkungan pekerjaan dan lingkungan pribadi menjadi semakin tipis karena pasien mendapat lebih banyak kemudahan dalam menghubungi dokter.

Ketika sudah berada di luar lingkungan pekerjaan (klinik/rumah sakit), seorang dokter harus bisa memprioritaskan dirinya sendiri. Ini adalah salah satu cara untuk mengisi kembali tabungan energi yang sudah terkuras. Prioritaskan waktu untuk meakukan hal-hal diluar dunia medis yang dapat mengembalikan semangat bekerja.

  1. Memastikan tidur yang berkualitas

      Tidak semua dokter memiliki jadwal bekerja yang normal, banyak dokter yang harus bekerja malam hari. Shift kerja malam hari mengganggu ritme sirkadian tubuh sehingga walaupun sudah lelah bekerja semalaman, jam biologis tubuh akan tetap terjaga di siang hari. Hal ini mencegah dokter mendapatkan tidur yang berkualitas.

Untuk mendapatkan tidur yang berkualitas, dapat diterapkan sleep hygiene yakni menetapkan jam tidur yang rutin dan menaati jam tidur tersebut serta membangun lingkungan yang kondusif untuk tidur (kamar tidur yang gelap dan sunyi). [3]

Setelah shift malam selesai, usahakan langsung pulang ke rumah lalu tidur. Salah satu hal yang memicu seseorang tetap terbangun adalah cahaya oleh karena itu kurangi paparan cahaya paling tidak 30 menit sebelum tidur dengan cara memakai kacamata hitam ketika perjalanan pulang ke rumah. Selain itu kurangi konsumsi kafein dan pastikan untuk tidak mengkonsumsi kafein 4 jam sebelum shift malam berakhir agar tubuh memiliki cukup waktu untuk memetabolisme kafein tersebut. [3]

Referensi