Berbagai praktik berbasis bukti dapat dilakukan untuk mengoptimalkan luaran klinis pasien yang menjalani seksio sesarea (SC). Tindakan SC saat ini telah menjadi prosedur bedah mayor yang paling sering dilakukan di seluruh dunia. Dalam tiga dekade terakhir, angka penggunaannya meningkat, dan proyeksi terkini mengindikasikan bahwa pada tahun 2030, hampir 30% wanita di seluruh dunia diperkirakan akan melahirkan melalui prosedur ini.[1]
Meskipun SC sering kali menjadi intervensi penyelamat nyawa pada kegawatdaruratan obstetri, prosedur ini membawa risiko morbiditas yang tidak bisa diabaikan. Dibandingkan persalinan per vaginam, SC dikaitkan dengan peningkatan risiko komplikasi jangka pendek seperti postpartum hemorrhage, infeksi luka operasi, dan komplikasi anestesi.[2]
Selain itu, bukti terkini menyoroti dampak jangka panjang dari tindakan SC, termasuk peningkatan risiko plasenta akreta dan ruptur uteri pada kehamilan berikutnya. Beberapa bukti juga menunjukkan potensi dampak kesehatan pada anak, seperti peningkatan risiko asma dan gangguan imun akibat kurangnya paparan mikrobioma vagina ibu.[3,4]
Tantangan dalam Pengelolaan Pasien yang Menjalani Seksio Sesarea
Tantangan utama dalam pengelolaan pasien yang menjalani seksio sesarea adalah variasi asuhan medis yang sangat luas. Banyak prosedur perioperatif dilakukan berdasarkan kebiasaan institusional semata, tanpa didasari bukti ilmiah yang kuat. Akibatnya, pasien mungkin menerima intervensi yang tidak memberi manfaat klinis atau justru tidak mendapat intervensi sederhana yang meningkatkan keselamatan menurut basis bukti ilmiah.[1]
Penerapan praktik berbasis bukti (evidence-based practice) menjadi mendesak untuk melakukan standarisasi layanan dan mengeliminasi prosedur yang tidak perlu. Dengan memprioritaskan intervensi berbasis bukti, klinisi tidak hanya dapat menurunkan morbiditas, tetapi juga meningkatkan efisiensi layanan kesehatan.[2]
Persiapan Preoperatif Berbasis Bukti Untuk Mengoptimalkan Luaran Klinis Seksio Sesarea
Langkah pertama dalam mengoptimalkan luaran SC dimulai jauh sebelum insisi kulit dilakukan. Fokus utama pada fase ini adalah stratifikasi risiko dan persiapan area operasi untuk meminimalkan komplikasi.
Penilaian Risiko Preoperatif
Sebelum prosedur dimulai, perlu dilakukan identifikasi faktor risiko spesifik pasien. Skrining dan koreksi anemia preoperatif diperlukan, mengingat bukti ilmiah menunjukkan bahwa anemia berat berkaitan erat dengan peningkatan insidensi postpartum hemorrhage dan kebutuhan transfusi.[5]
Selain itu, penilaian risiko tromboemboli vena (VTE) perlu dilakukan pada setiap pasien. Riwayat VTE sebelumnya, obesitas, atau komorbiditas lain akan menentukan stratifikasi risiko dan kebutuhan tromboprofilaksis pascaoperasi, sesuai dengan pedoman klinis yang berlaku.[6]
Persiapan Vagina (Vaginal Preparation)
Intervensi sederhana yang sering terlewatkan adalah pembersihan vagina sebelum operasi. Rongga vagina merupakan reservoir bakteri yang dapat naik (ascend) ke uterus. Tinjauan sistematik menunjukkan bahwa membersihkan vagina dengan larutan antiseptik sesaat sebelum operasi menurunkan risiko endometritis pascaoperasi secara signifikan, terutama pada wanita yang sudah dalam persalinan (in labor) atau mengalami pecah ketuban.[1]
Profilaksis Antibiotik: Waktu dan Jenis
Pemberian antibiotik profilaksis adalah standar asuhan, namun ketepatan waktu pemberian akan menentukan efikasinya. Basis bukti mendukung pemberian antibiotik sebelum insisi kulit (pre-insisi), yang terbukti lebih superior dalam menurunkan risiko endometritis dan infeksi luka operasi (ILO) dibandingkan pemberian setelah klem tali pusat.
Terkait pemilihan regimen, sefalosporin generasi pertama atau penisilin spektrum luas masih menjadi terapi pilihan. Namun, pada kasus dengan risiko tinggi infeksi (misalnya SC nonelektif), penambahan azithromycin pada profilaksis standar menunjukkan potensi penurunan kejadian endometritis dan infeksi luka yang signifikan.[1]
Manajemen Kandung Kemih
Pemasangan kateter urin menetap (indwelling catheter) intraoperatif diperlukan untuk mencegah distensi kandung kemih dan memperbaiki visualisasi bedah. Namun, penggunaan kateter yang berkepanjangan pascaoperasi meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK) dan memperlambat mobilisasi.
Strategi pelepasan kateter segera (immediate removal) sesaat setelah operasi selesai lebih disarankan dibandingkan menunda hingga keesokan hari (>12 jam). Pendekatan ini terbukti menurunkan insidensi disuria, frekuensi berkemih, dan bakteriuria tanpa meningkatkan risiko retensi urin berulang secara bermakna.[1]
Pematangan Paru pada Operasi Elektif
Pada kasus SC elektif yang direncanakan pada usia kehamilan aterm (37–39 minggu), intervensi farmakologis pada janin perlu dipertimbangkan. Pemberian kortikosteroid antenatal 48 jam sebelum prosedur terbukti menurunkan risiko transient tachypnoea of the newborn (TTN) dan admisi ke NICU akibat morbiditas pernapasan.[1]
Manajemen Intraoperatif Untuk Mengoptimalkan Luaran Klinis Seksio Sesarea
Fokus utama manajemen medis selama prosedur berlangsung adalah menjaga stabilitas hemodinamik ibu, mencegah perdarahan berlebih, dan meminimalkan efek samping anestesi seperti mual, muntah, dan hipotermia.
Pencegahan Postpartum Hemorrhage
Manajemen aktif kala III yang dimodifikasi untuk SC merupakan standar asuhan yang wajib diterapkan. Oksitosin intravena (IV) tetap menjadi uterotonika lini pertama yang paling efektif dengan profil efek samping paling minimal dibandingkan uterotonika lain. Pemberian oksitosin, baik secara bolus lambat maupun infus kontinu, direkomendasikan segera setelah bayi lahir untuk menjaga tonus uterus.
Selain oksitosin, penggunaan asam traneksamat (TXA) telah mendapat perhatian besar dalam dekade terakhir. Berdasarkan uji WOMAN Trial dan pedoman FIGO, pemberian TXA 1 g intravena direkomendasikan sebagai terapi pilihan pada postpartum hemorrhage, atau sebagai profilaksis pada kasus risiko tinggi perdarahan. Pemberian dini (<3 jam setelah persalinan) dilaporkan menurunkan mortalitas maternal tanpa meningkatkan risiko kejadian tromboemboli.[7,8]
Manajemen Mual dan Muntah Intraoperatif
Mual dan muntah intraoperatif sering kali dipicu oleh hipotensi akibat anestesi spinal. Pencegahan hipotensi yang agresif dengan pemberian cairan kristaloid (co-loading) dan penggunaan vasopresor profilaksis dilaporkan efektif menurunkan insidensi mual intraoperatif.
Selain itu, antagonis reseptor 5-HT3, seperti ondansetron, yang diberikan sebelum atau sesudah klem tali pusat juga efektif mengurangi keluhan mual dan muntah, sehingga meningkatkan kenyamanan pasien selama masa pemulihan.[9]
Pencegahan Hipotermia
Hipotermia perioperatif (suhu inti <36°C) berkaitan dengan peningkatan risiko perdarahan, infeksi luka operasi, dan pemulihan anestesi yang lebih lambat. Implementasi strategi penghangatan aktif, seperti penggunaan selimut penghangat dan penghangatan cairan infus, bisa dijadikan standar prosedur di kamar operasi, terutama jika tindakan diperkirakan berlangsung lebih dari 60 menit.[9]
Perawatan Pascaoperatif (Enhanced Recovery After Cesarean Section / ERACS)
Paradigma perawatan pascaoperasi SC telah bergeser dari perawatan konservatif menuju protokol pemulihan cepat yang dikenal sebagai Enhanced Recovery After Cesarean Section (ERACS). Tujuan utama protokol ini adalah meminimalkan respons stres fisiologis akibat pembedahan dan mempercepat pemulihan fungsional ibu.[10]
Asupan Oral Dini (Early Oral Intake)
Praktik tradisional berupa puasa pascaoperasi SC hingga bising usus terdengar atau flatus keluar sudah tidak lagi direkomendasikan. Tinjauan sistematik menunjukkan bahwa asupan oral dini (makan dan minum segera setelah pasien sadar penuh) memberikan manfaat klinis yang nyata.
Dibandingkan dengan pemberian makan tertunda, strategi ini dilaporkan mempercepat waktu inisiasi ambulasi, kembalinya bising usus, waktu pelepasan infus dan kateter, serta inisiasi menyusui pertama kali.[10]
Stimulasi Gastrointestinal
Ileus pascaoperasi adalah komplikasi yang dapat menghambat kenyamanan dan memperpanjang masa rawat. Intervensi sederhana seperti mengunyah permen karet (chewing gum) pada periode pascaoperasi terbukti efektif merangsang pemulihan fungsi usus.
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa mengunyah permen karet mempercepat kembalinya bising usus dan waktu keluarnya flatus pertama, serta menurunkan risiko kejadian ileus secara signifikan. Edukasi pasien mengenai anjuran mengunyah permen karet setelah operasi abdomen untuk meningkatkan pemulihan pascaoperasi.[10]
Manajemen Nyeri Non-Farmakologis
Selain manajemen nyeri farmakologis multimodal, penggunaan alat bantu fisik juga dapat dilakukan. Penggunaan bebat perut (abdominal binder) pascaoperasi dapat mengurangi nyeri pascaoperasi pada 48 jam pertama. Selain itu, penggunaan bebat perut juga dikaitkan dengan penurunan skor nyeri pada 24 jam pertama dan penurunan tingkat distres pasien, yang secara tidak langsung meningkatkan kenyamanan saat pasien mulai mobilisasi.[10]
Mobilisasi Dini dan Tromboprofilaksis
Pasien didorong untuk turun dari tempat tidur dan berjalan sesegera mungkin (idealnya dalam 24 jam pertama). Pada pasien dengan stratifikasi risiko tromboemboli derajat sedang hingga tinggi, pemberian tromboprofilaksis perlu dipertimbangkan.[10]
Optimalisasi Luaran Klinis Seksio Sesarea pada Fase Pemulangan dan Edukasi
Tren pemulangan dini (early discharge) semakin umum dilakukan. Bukti menunjukkan bahwa pemulangan dini berpotensi meningkatkan keberhasilan menyusui secara eksklusif maupun parsial pada 12 minggu postpartum. Namun, klinisi harus mewaspadai risiko trade-off karena pemulangan dini dikaitkan dengan peningkatan risiko readmisi neonatus akibat morbiditas, seperti ikterus atau masalah menyusui, dalam 28 hari pertama.[1]
Dukungan Pasca Pemulangan
Kunjungan rumah (home visits) oleh tenaga kesehatan terbukti memberikan manfaat lebih dibandingkan kunjungan ke fasilitas kesehatan semata. Jadwal kunjungan rumah yang lebih sering dikaitkan dengan peningkatan durasi ASI eksklusif hingga 6 minggu dan 6 bulan postpartum. Selain itu, kunjungan rumah juga berpotensi meningkatkan kepuasan maternal terhadap asuhan nifas.[1]
Edukasi Pasien
Persiapan mental pasien juga berdampak pada luaran fisik. Penggunaan video edukasi informatif pada fase preoperatif terbukti secara signifikan menurunkan tingkat kecemasan (anxiety) pasien pascaoperasi. Edukasi yang baik mengenai ekspektasi nyeri dan pemulihan membantu pasien beradaptasi lebih baik dengan protokol ERACS.[1]
Kesimpulan
Penerapan protokol berbasis bukti sejak fase preoperatif, intraoperatif, hingga pascaoperatif tindakan seksio sesarea (SC) menjadi krusial untuk menurunkan komplikasi seperti perdarahan, infeksi, dan kejadian tromboemboli, sekaligus meningkatkan efisiensi dan keselamatan pelayanan obstetri. Beberapa intervensi yang dapat dilakukan adalah:
- Persiapan preoperatif: Pembersihan vagina dengan antiseptik, pemberian antibiotik profilaksis sebelum insisi kulit, dan pelepasan kateter dini.
- Manajemen intraoperatif: Penggunaan oksitosin sebagai uterotonika lini pertama, dapat disertai penggunaan kortikosteroid antenatal pada SC elektif untuk pematangan paru janin.
- Perawatan pascaoperatif (protokol Enhanced Recovery After Cesarean Section/ERACS): Penerapan asuhan nutrisi dini (early oral intake), penggunaan permen karet untuk merangsang fungsi usus, dan mobilisasi dini.
