Kriteria Pasien untuk Vaginal Birth After Caesarean Section (VBAC)

Oleh :
dr. Nathania S. Sutisna

Trial Of Labor After Cesarean Section (TOLAC) adalah usaha untuk melahirkan per vaginam pada wanita dengan riwayat operasi sectio caesarea (SC) sebelumnya, sehingga tercapai kondisi Vaginal Birth After Caesarean Section (VBAC). Usaha tersebut mempunyai risiko komplikasi terutama ruptur uteri yang dapat meningkatkan mortalitas dan morbiditas ibu dan bayi. Untuk mencegah terjadinya komplikasi ini, berbagai organisasi profesi obstetri dan ginekologi mengeluarkan rekomendasi mengenai kriteria ibu hamil yang dapat melahirkan VBAC.[1]

Konsultasi dan skrining untuk kandidat TOLAC harus dilakukan sedini mungkin, yaitu saat perawatan antenatal. Prinsip untuk dilakukannya percobaan persalinan per vaginam dengan riwayat sectio caesarea ini adalah dengan mempertimbangkan keuntungan dan risiko yang dapat terjadi (risk and benefit). Keuntungan VBAC salah satunya adalah penurunan jumlah biaya yang dikeluarkan serta keuntungan lain secara umum dari persalinan per vaginam. Secara klinis, studi Cochrane tahun 2013 tidak menemukan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik untuk mortalitas dan morbiditas serius pada ibu dan bayi, bila dibandingkan antara kelompok VBAC dengan kelompok SC terencana.[2,3]

Kriteria pertama untuk dilakukan TOLAC adalah riwayat sectio caesarea sebelumnya, seperti jumlah SC sebelumnya, indikasi SC dan riwayat preeklampsia . Kriteria selanjutnya adalah kondisi ibu saat hamil sekarang serta akses ke Rumah Sakit untuk persalinan saat ini.

Depositphotos_153969680_s-2019_

Riwayat Sectio Caesarea Sebelumnya

Riwayat sectio caesarea sebelumnya terutama adalah jumlah sectio caesarea sebelumnya. RCOG (Royal College of Obstetricians and Gynecologists) merekomendasikan VBAC dilakukan pada wanita hamil dengan maksimal satu kali sectio caesarea yang dilakukan insisi pada segmen bawah rahim (SBR) dan bukan insisi klasik. Meskipun tidak ada penelitian yang signifikan, riwayat sectio caesarea lebih dari satu kali dapat meningkatkan risiko ruptur uteri. Adanya riwayat persalinan per vaginam sebelumnya meningkatkan angka keberhasilan dari VBAC.[1,4,5]

Indikasi dilakukannya SC sebelumnya perlu menjadi pertimbangan dalam TOLAC. Adanya indikasi yang mungkin berulang (contoh: cephalopelvic disproportion / CPD dan persalinan macet) menjadi prediktor kegagalan dari VBAC. Keberhasilan VBAC ditemukan lebih tinggi secara signifikan pada kelompok riwayat SC dengan indikasi tidak berulang seperti malpresentasi dan gawat janin. Pada riwayat CPD, semakin kecil berat lahir saat aterm (yang diukur pada saat lahir) semakin besar keberhasilan dari VBAC.[6,7]

Kegagalan tercapainya VBAC ditemukan pada pasien dengan riwayat preeklampsia. Penyebab dari hubungan ini masih belum diketahui dengan pasti, namun tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada kejadian ruptur uteri pada pasien dengan riwayat preeklampsia dan hipertensi gestasional dengan kelompok kontrol.[14]

Kondisi Ibu Saat Hamil Sekarang

Perencanaan VBAC sebaiknya dilakukan pada wanita hamil janin tunggal intrauteri aterm (di atas usia 37 minggu) dengan presentasi kepala. Indeks massa tubuh (IMT) ibu dapat mempengaruhi keberhasilan VBAC. Obesitas pada ibu hamil menurunkan angka keberhasilan VBAC. Usia juga berpengaruh,  usia 40 tahun ke atas saat persalinan menurunkan angka keberhasilan VBAC.[1,4,7]

Kontraindikasi VBAC mengikuti kontraindikasi persalinan per vaginam lainnya seperti plasenta previa dan letak lintang. Penggunaan induksi dan/atau augmentasi dengan oksitosin pada inersia uteri hipotonik ditemukan tidak bermakna dalam peningkatan kesuksesan dari VBAC dalam sebuah penelitian uji klinik acak terkontrol di Indonesia. Penelitian serupa dengan tingkat pembuktian (level of evidence) II menemukan bahwa induksi saat TOLAC justru meningkatkan risiko kegagalannya.[8-10]

Jarak antar persalinan merupakan salah satu penentu dari keberhasilan VBAC. Semakin kecil jaraknya, semakin kecil angka keberhasilan VBAC karena terkait dengan risiko ruptur uteri. Belum ada konsensus yang menyatakan batas aman jarak antar kelahiran untuk dilakukan TOLAC. Penelitian Bujold E, et al (2010) menemukan bahwa jarak antar kelahiran kurang dari 18 bulan meningkatkan risiko ruptur uteri.[11-13]

Akses ke Rumah Sakit

Kriteria pasien berikutnya adalah mereka harus memiliki akses ke Rumah Sakit untuk persalinan ini. Fasilitas pelayanan kesehatan tempat dilakukannya TOLAC harus mendukung untuk dilakukan operasi gawat darurat bila pasien dinyatakan gagal atau timbul komplikasi. Selain untuk menangani komplikasi ibu, fasilitas ini juga harus dapat menangani kegawatdaruratan dan perawatan bila terjadi gawat janin.[1,4]

Kesimpulan

Konseling rencana kelahiran per vaginam pada pasien dengan riwayat operasi sectio caesarea dapat dilakukan pada saat perawatan antenatal. Pertimbangan ibu hamil untuk dilakukannya TOLAC (Trial Of Labor After Cesarean Section) perlu diperhatikan dari berbagai aspek dengan menimbang keuntungan dan risikonya. Risiko komplikasi yang dapat muncul adalah kejadian ruptur uteri.

Dari beberapa literatur ditemukan kriteria untuk meningkatkan kesuksesan VBAC (Vaginal Birth After Caesarean Section), yaitu :

  • Riwayat sectio caesarea dengan insisi segmen bawah rahim maksimal satu kali
  • Tidak adanya faktor risiko berulang untuk indikasi sectio caesarea (contoh: cephalopelvic disproportion / CPD)
  • Tidak ada riwayat preeklampsia sebelumnya
  • Tidak adanya kontraindikasi kelahiran per vaginam (contoh: plasenta previa)
  • Janin tunggal intrauteri aterm (di atas usia 37 minggu) dengan presentasi kepala
  • Jarak antar kehamilan minimal 18 bulan
  • Ibu hamil memiliki indeks massa tubuh yang normal, dan usia ibu kurang dari 40 tahun
  • Persalinan harus dilakukan di fasilitas kesehatan yang memadai untuk dilakukannya operasi cesar gawat darurat dan penatalaksanaan gawat janin dan neonatus (minimal di Rumah Sakit)

Referensi