Manfaat dan Keamanan Obat Batuk Over the Counter (OTC) untuk Keluhan Batuk pada Common Cold

Oleh dr. Intan Ekarulita

Batuk adalah respon mekanis dari dalam tubuh yang diikuti dengan tertutupnya glotis dan ditandai dengan suara yang khas. [1] Batuk bukan merupakan sebuah penyakit tetapi tanda yang menandai penyakit, salah satunya adalah common cold. Obat batuk over-the-counter (OTC) masih menjadi terapi yang sering digunakan untuk mengobati batuk yang diakibatkan oleh common cold. Karena penggunaan obat batuk OTC pada common cold  yang semakin banyak, tenaga medis harus mempertimbangankan efektifitas, manfaat serta keamanannya.

Depositphotos_24541297_m-2015

Batuk pada Common Cold

Berdasarkan onset, batuk pada common cold adalah batuk akut. Batuk ini berlangsung kurang dari 3 minggu. Tanpa adanya penyebab komorbid, batuk akut biasanya dapat sembuh dengan proses alami tubuh atau self-limiting. Penyebab batuk pada common cold atau infeksi saluran nafas atas sangat beragam, namun yang tersering adalah infeksi virus, antara lain adalah Rhinovirus, virus Influenza A, RSV, Coronavirus, C. pneumoniae, dan Parainfluenza virus tipe 3.[2,3]

Pemberian Obat Batuk OTC pada Common Cold

Pada batuk akut yang disebabkan oleh common cold, obat simtomatik yang dapat dibeli secara bebas (over-the-counter / OTC) umum diberikan sebagai penanganan batuk tersebut. Walau demikian, efektifitasnya masih dipertanyakan. Beberapa contoh obat batuk dan flu OTC pada common cold, antara lain:

  • Antihistamin, seperti difenhidramin, hidroksizin, klorferamin
  • Antipiretik, seperti paracetamol dan ibuprofen
  • Antitusif, seperti dekstrometrofan
  • Dekongestan, seperti : pseudoefedrin, fenilpropanolamin, fenilefrin
  • Ekspektoran, seperti guaifenesin[4]

Keamanan dan Kefektifan Obat Batuk OTC pada Common Cold

Obat batuk OTC pada common cold  sudah dianalisis oleh Food and Drug Administration (FDA) pada tahun 1976 pada dewasa dan anak-anak dengan dosis yang sesuai. Pada data epidemiologi, penyakit common cold muncul sangat sering, maka FDA menganalisis kembali keamanan penggunaan OTC batuk pada penyakit common cold pada anak-anak ditahun 2007. Hasil dari analisis adalah melarang penggunaan obat batuk OTC pada anak-anak yang mengalami common cold di bawah 2 tahun oleh karena efek samping yang mengancam nyawa. Penggunaan obat batuk OTC yang mengantung antihistamin dan dekongestan dapat meningkatkan laju detak jantung, meningkatkan resiko kejang, dan kematian.[5] FDA juga memperingatkan untuk tidak menggunakan produk OTC yang mengandung morfin atau kodein pada anak-anak usia 12 hingga 18 tahun dan khususnya anak-anak obesitas yang memiliki kondisi Obstructive Sleep Apnea (OSA) dan penyakit paru yang mengancam karena dapat meningkatkan faktor resiko sesak nafas. Pada terapi balita, FDA memperingatkan untuk berhati-hati pada penggunaannya terhadap dosis yang berlebihan, pemberian yang terlalu sering, dan penggunaan lebih dari 1 produk OTC dengan isi yang sama.[6]

Hasil FDA tersebut sesuai dengan hasil penelitian program US National Electronic Injury Surveillance System-Cooperative Adverse Drug Event Surveillance tentang penggunaan obat batuk OTC pada common cold kasus dewasa. Penelitian menyimpulkan pasien sering tidak sesuai atau tidak mengikuti panduan penggunaan obat, sedangkan pada kasus anak-anak didapatkan beberapa efek samping dari kesalahan pemberian baik dari dosis dan frekuensinya.[7]

Secara meta-analisis oleh kolaborasi Cochrane dengan mengambil 25 penelitian tentang efektifitas penggunaan terapi OTC pada batuk dengan melihat frekuensi batuk, jumlah produksi sputum, dan penilaian tenaga ahli kesehatan pada anak-anak dan dewasa. Hasil yang didapat, penggunaan obat batuk OTC tidak cukup efektif dalam penyembuhan batuk pada common cold. Walau beberapa subjek merasakan manfaat penggunaan terapi OTC pada batuk, namun penggunaan obat batuk OTC pada common cold dinilai berpotensi bahaya.[8]

Terapi Alternatif Batuk pada Common Cold

Pada dasarnya penyakit common cold adalah penyakit yang self-limiting atau dapat sembuh dengan proses alami tubuh, sehingga obat batuk OCT tidak terlalu bermanfaat. Pasien perlu ditekankan kembali untuk beristirahat cukup dan menjaga status hidrasi. Pasien batuk perlu melalukan konsultasi ke dokter jika disertai dengan gejala-gejala seperti berikut:

  • Bayi di bawah usia 2 bulan dengan demam
  • Demam lebih dari 38 derajat Celsius
  • Tanda-tanda pernafasan berat, seperti pergerakan cuping hidung, bunyi mengi saat bernafas, laju pernafasan meningkat, dan retraksi saat bernafas
  • Bibir menjadi kebiruan
  • Batuk diiringi dengan tanda dehirasi
  • Nyeri telinga
  • Batuk hingga sulit tidur
  • Batuk lebih dari 3 minggu
  • Batuk dirasa semakin parah[6]

Jika pasien tidak mengalami gejala di atas, terdapat pilihan terapi alternatif untuk batuk akibat common cold. Walau demikian, perlu diperhatikan bahwa sebagian besar terapi ini masih kontroversial dan memerlukan penelitian lebih lanjut baik mengenai manfaatnya maupun mengenai keamanannya.

Inhalasi Uap Panas

Mekanismenya masih belum diketahui secara pasti, namun penggunaan inhalasi uap panas dihipotesakan dapat memperlancar pembuangan kongesti pada saluran nafas atas. Walau manfaatnya belum terbukti dan masih memerlukan penelitian lebih lanjut, namun penggunaannya dilaporkan tidak memiliki efek samping sehingga aman untuk dilakukan. [9]

Echinacea

Terapi Echinacea masih sering digunakan dan dipercaya dapat menyembuhkan penyakit common cold dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Belum terdapat data yang cukup untuk menyimpulkan efektifitasnya dalam penyembuhan. Namun untuk profilaksis, Echinacea terbukti tidak dapat mencegah batuk dan flu pada penyakit common cold.[10]

Zinc

Beberapa penelitian menyimpulkan manfaat penggunaan zinc dalam menghambat pertumubuhan virus pada batuk oleh penyakit common cold khususnya dalam 24 jam pertama. [11] Walaupun demikian beberapa penelitian tidak merekomendasikan penggunaan zink pada anak-anak.[12]

Madu

Meskipun belum terdapat banyak penelitian yang membuktikan efektifitas madu dalam terapi batuk pada common cold, namun madu memiliki kandungan antioksidan dan efek antimikrobial dengan membantu pelepasan sitokin.[13] Terdapat penelitian yang melaporkan penggunaan 2,5 mL madu sebelum tidur dapat memperbaiki frekuensi dan keparahan batuk.[14]

Vitamin C

Penggunaan vitamin C sebagai terapi batuk yang diakibatkan common cold tidak terbukti efektif, namun dalam penelitian vitamin C efektif menurunkan insidensi penyakit common cold.[15]

Referensi