Kontraindikasi dan Peringatan Temazepam
Temazepam kontraindikasi digunakan pada kehamilan dan pada pasien dengan riwayat hipersensitivitas terhadap benzodiazepin. Peringatan utama penggunaan temazepam mencakup risiko sedasi berat, depresi napas, koma, dan kematian bila digunakan bersamaan dengan opioid, sehingga kombinasi ini harus dibatasi hanya pada kondisi ketika alternatif terapi tidak memadai dan disertai pemantauan ketat.[3,5,7]
Kontraindikasi
Temazepam dikontraindikasikan pada kehamilan serta pada pasien dengan riwayat hipersensitivitas terhadap benzodiazepin, mengingat potensi risiko terhadap janin dan kemungkinan terjadinya reaksi alergi berat, termasuk anafilaksis dan angioedema.
Selain kontraindikasi absolut tersebut, penggunaan temazepam harus dihindari atau dilakukan dengan kehati-hatian tinggi pada pasien yang menerima opioid karena kombinasi ini dapat menyebabkan sedasi berat, depresi napas, koma, hingga kematian, serta berkontribusi signifikan terhadap overdosis fatal.[3,5,7]
Peringatan
Penggunaan kombinasi benzodiazepin dan opioid dapat menyebabkan sedasi mendalam, depresi napas, koma, hingga kematian, dan proporsi besar kasus overdosis opioid fatal melibatkan penggunaan benzodiazepin secara bersamaan. Oleh karena itu, penggunaan temazepam bersama opioid harus dibatasi.
Sebelum meresepkan temazepam, diperlukan evaluasi terhadap pasien karena insomnia dapat merupakan manifestasi gangguan medis atau psikiatrik yang mendasari. Kegagalan perbaikan insomnia setelah 7–10 hari terapi, perburukan gejala, atau munculnya perubahan perilaku dan pola pikir yang tidak lazim mengindikasikan kondisi dasar yang belum terdiagnosis.
Benzodiazepin, termasuk temazepam, dapat menimbulkan efek psikiatrik yang tidak terduga seperti agitasi, agresivitas, halusinasi, depersonalisasi, atau amnesia, yang sebagian bersifat terkait dosis sehingga penggunaan dosis terendah yang efektif sangat dianjurkan.
Peringatan lain mencakup risiko complex sleep-related behaviors, seperti mengemudi, melakukan panggilan telepon, atau menyiapkan dan mengonsumsi makanan dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar dan tanpa ingatan terhadap kejadian tersebut.
Temazepam juga memiliki potensi penyalahgunaan, terutama pada pasien dengan riwayat penyalahgunaan zat. Penghentian obat mendadak dapat memicu gejala putus obat sehingga perlu dilakukan bertahap.[3]