Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui Temazepam
Penggunaan temazepam pada ibu hamil tidak dianjurkan. Obat ini masuk kategori X oleh FDA dan kategori C oleh TGA. Pada ibu menyusui, temazepam diketahui dikeluarkan ke ASI.[2-4]
Penggunaan pada Kehamilan
Temazepam masuk dalam kategori X menurut FDA. Obat-obatan dalam kategori ini tidak boleh digunakan oleh wanita hamil karena studi pada manusia atau hewan menunjukkan risiko terhadap janin, dan risiko tersebut lebih besar daripada manfaat klinis yang mungkin diperoleh.
Menurut TGA, temazepam masuk dalam kategori C. Obat dalam kategori ini dilaporkan telah menyebabkan atau diduga menyebabkan efek berbahaya pada janin manusia atau neonatur tanpa menyebabkan malformasi.[2-4]
Penggunaan temazepam pada kehamilan secara umum tidak direkomendasikan, utamanya karena potensi risiko berdasarkan pengalaman dengan benzodiazepin lain. Studi pada hewan tidak menemukan peningkatan teratogenisitas, dan satu studi observasional pada 379 anak yang terpapar temazepam pada trimester pertama juga tidak menunjukkan peningkatan kejadian cacat bawaan.
Secara garis besar, data mengenai dampak temazepam terhadap luaran kehamilan lain seperti persalinan prematur atau berat badan lahir rendah masih terbatas. Meski begitu, penggunaan benzodiazepin mendekati waktu persalinan dapat menyebabkan gejala neonatal, seperti iritabilitas, tremor, gangguan pernapasan, dan hipotonia.[2]
Penggunaan pada Ibu Menyusui
Penggunaan temazepam pada ibu menyusui umumnya dianggap relatif aman karena kadar temazepam dalam ASI rendah dan waktu paruh eliminasinya relatif singkat, sehingga jumlah obat yang tertelan bayi sangat kecil dan tidak diharapkan menimbulkan efek merugikan klinis.
Pemberian dosis pada waktu tidur setelah sesi menyusui terakhir dapat membantu meminimalkan pajanan obat pada bayi, terutama pada bayi yang tidur sepanjang malam. Studi menunjukkan kadar temazepam dan metabolitnya dalam ASI serta plasma bayi umumnya tidak terdeteksi atau sangat rendah, dan tidak ditemukan efek samping yang dapat diamati pada bayi yang disusui.
Meskipun demikian, pemantauan klinis tetap dianjurkan terhadap tanda sedasi, gangguan menyusu, atau pertambahan berat badan yang tidak adekuat pada bayi, khususnya pada neonatus dan bayi muda.[6]