Kontraindikasi dan Peringatan Rocuronium
Kontraindikasi rocuronium adalah hipersensitivitas terhadap rocuronium atau agen penghambat neuromuskular lain. Penggunaan juga dihindari jika fasilitas manajemen jalan napas, ventilasi mekanik, dan resusitasi tidak tersedia. Peringatan diperlukan pada pasien dengan penyakit neuromuskular, gangguan elektrolit, disfungsi hati, atau gangguan asam–basa, karena dapat memperpanjang atau mempotensiasi efek blokade neuromuskular.[4,18,19,21]
Kontraindikasi
Rocuronium dikontraindikasikan pada pasien dengan hipersensitivitas yang diketahui terhadap rocuronium, bromida, atau obat penghambat neuromuskular nondepolarisasi lainnya seperti vecuronium dan atracurium. Reaksi hipersensitivitas, termasuk anafilaksis dan sindrom Kounis, dapat terjadi dan berpotensi mengancam jiwa meskipun angka kejadiannya relatif jarang.[4,14,18,19]
Peringatan
Rocuronium dapat menyebabkan paralisis otot respirasi yang berat, sehingga pemberiannya hanya boleh dilakukan oleh tenaga medis yang terlatih dengan fasilitas ventilasi dan resusitasi yang memadai. Reaksi hipersensitivitas serius telah dilaporkan dan dapat menunjukkan reaksi silang dengan agen penghambat neuromuskular lain, sehingga terapi emergensi untuk anafilaksis harus selalu tersedia selama pemberian obat.
Efek blokade neuromuskular rocuronium dapat berubah secara signifikan pada kondisi klinis tertentu. Pasien dengan penyakit neuromuskular seperti myasthenia gravis atau sindrom Eaton-Lambert dapat mengalami blokade yang sangat mendalam sehingga dianjurkan pemberian dosis uji kecil dengan pemantauan menggunakan peripheral nerve stimulator.
Sebaliknya, pasien dengan luka bakar luas (≥25–30% luas permukaan tubuh) sering menunjukkan resistensi terhadap obat ini mulai sekitar satu minggu setelah cedera, sehingga mungkin memerlukan dosis yang lebih tinggi. Resistensi juga dapat terjadi pada kondisi seperti denervasi, atrofi akibat imobilisasi, atau penggunaan jangka panjang obat tertentu seperti carbamazepine dan phenytoin.
Penggunaan rocuronium juga memerlukan perhatian terhadap komplikasi sistemik dan efek residu. Blokade neuromuskular dapat dipotensiasi oleh kondisi seperti debilitas, gangguan elektrolit, ketidakseimbangan asam–basa, atau penggunaan obat lain (misalnya anestetik inhalasi dan magnesium sulfat), sehingga penyesuaian dosis mungkin diperlukan.
Selain itu, penggunaan jangka panjang di unit perawatan intensif dapat menyebabkan paralisis berkepanjangan atau miopati, serta terdapat risiko blokade neuromuskular residual setelah operasi sehingga ekstubasi hanya boleh dilakukan setelah pemulihan fungsi neuromuskular adekuat.[4]