Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Farmakologi Rocuronium annisa-meidina 2026-04-16T09:21:39+07:00 2026-04-16T09:21:39+07:00
Rocuronium
  • Pendahuluan
  • Farmakologi
  • Formulasi
  • Indikasi dan Dosis
  • Efek Samping dan Interaksi Obat
  • Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui
  • Kontraindikasi dan Peringatan
  • Pengawasan Klinis

Farmakologi Rocuronium

Oleh :
dr.Nailla Fariq Alfiani
Share To Social Media:

Secara farmakologi, rocuronium bekerja sebagai antagonis kompetitif reseptor nikotinik asetilkolin di sinaps neuromuskular sehingga menimbulkan blokade neuromuskular reversibel dengan onset cepat dan durasi kerja menengah. Obat ini diberikan secara intravena, mengalami distribusi cepat, metabolisme minimal, serta dieliminasi terutama melalui jalur hepatobilier dan sebagian melalui ginjal.[1,3,5]

Farmakodinamik

Rocuronium bekerja sebagai penghambat neuromuskular nondepolarisasi melalui antagonisme kompetitif terhadap reseptor nikotinik asetilkolin pada membran postsinaptik pada neuromuscular junction (NMJ). Ikatan ini menghambat interaksi asetilkolin dengan reseptornya sehingga mencegah depolarisasi membran dan transmisi impuls saraf, menghasilkan paralisis otot skeletal yang bersifat reversibel dan bergantung dosis.

Blokade neuromuskular yang ditimbulkan dapat dipantau menggunakan stimulasi saraf perifer, seperti train-of-four. Rocuronium memiliki onset kerja cepat dengan durasi aksi menengah, tanpa efek depolarisasi dan dengan pengaruh hemodinamik minimal pada dosis klinis. Di praktik, rocuronium diberikan secara intravena untuk memfasilitasi intubasi endotrakeal dan relaksasi otot selama anestesi.[1,2,5]

Farmakokinetik

Rocuronium diberikan secara intravena sehingga tidak melalui fase absorbsi gastrointestinal, kemudian terdistribusi cepat ke kompartemen cairan ekstraseluler dan jaringan target. Rocuronium mengalami metabolisme minimal di hati dan dieliminasi terutama melalui ekskresi hepatobilier, dengan sebagian kecil melalui ginjal.[1,3,5]

Absorbsi

Rocuronium diberikan secara intravena sehingga tidak mengalami proses absorbsi melalui saluran gastrointestinal.[1,2,5]

Distribusi

Setelah pemberian intravena, rocuronium mengalami distribusi cepat. Onset kerja berkisar antara 15 detik hingga 2 menit, dengan durasi kerja sekitar 30–60 menit.

Distribusi terjadi lebih cepat. terutama ke kompartemen cairan ekstraseluler. Volume of distribution at steady state (VDSS) relatif kecil hingga sedang, mencerminkan keterbatasan penetrasi ke jaringan perifer dan dominan berada di ruang ekstraseluler. Extent of plasma protein binding berkisar ±30%.

Perubahan farmakokinetik dapat terjadi pada pasien dengan gangguan fungsi hati, perubahan perfusi organ, atau kondisi kritis yang memengaruhi distribusi obat.[1,3,5,12]

Distribusi Pada Pasien Gangguan Hati:

Pada gangguan fungsi hati, dapat terjadi penurunan klirens hepatobilier dan peningkatan volume distribusi, yang berujung pada perpanjangan durasi blokade neuromuskular serta peningkatan waktu paruh eliminasi. Hal ini disebabkan oleh gangguan ekskresi empedu dan perubahan aliran darah hepatik.[1,3,5]

Distribusi Pada Kondisi Perubahan Perfusi Organ:

Pada kondisi dengan perubahan perfusi organ, misalnya syok atau hipovolemia, distribusi awal ke neuromuscular junction dapat melambat sehingga onset kerja menjadi lebih lambat, sementara gangguan perfusi hepatik dapat menurunkan klirens obat.[1,3,5]

Distribusi Pada Kondisi Kritis:

Pada pasien kritis, perubahan komposisi cairan tubuh, hipoalbuminemia, serta disfungsi multiorgan dapat menyebabkan peningkatan volume distribusi, perubahan extent of plasma protein binding, dan akumulasi relatif obat, sehingga durasi kerja dapat menjadi lebih panjang dan variabel.[1,3,5]

Metabolisme

Rocuronium mengalami metabolisme hepatik dalam derajat minimal dan sebagian besar tetap berada dalam bentuk obat utuh di sirkulasi sistemik. Proses biotransformasi yang terjadi terutama berupa deasetilasi di hati yang menghasilkan metabolit utama 17-desacetyl-rocuronium. Metabolit ini memiliki potensi penghambatan neuromuskular yang jauh lebih rendah dibandingkan obat utuh.[1,3,5]

Eliminasi

Eliminasi rocuronium terutama berlangsung melalui ekskresi hepatobilier ke dalam empedu, dengan sekitar 10–30% diekskresikan melalui ginjal dalam bentuk tidak berubah. Karena metabolisme hepatiknya minimal, proses eliminasi lebih bergantung pada fungsi ekskresi empedu dibandingkan transformasi metabolik.

Waktu paruh eliminasi terminal pada dewasa sehat berkisar 1–2 jam, namun dapat memanjang pada pasien dengan gangguan fungsi hati atau ginjal akibat penurunan klirens. Klirens sistemik terutama dipengaruhi oleh fungsi hepatik dan perfusi organ, sehingga pemantauan blokade neuromuskular tetap diperlukan untuk menilai durasi efek klinis secara individual.[1,3,5]

Referensi

1. Jain A, Wermuth HR, Dua A, et al. Rocuronium. StatPearls Publishing; 2025 Jan. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK539888/
2. Medscape. Rocuronium (Rx). 2026. https://reference.medscape.com/drug/rocuronium-343109#0
3. JAMP Pharma. PrRocuronium Bromide Injection. JAMP Pharma Corporation. 2026. https://pdf.hres.ca/dpd_pm/00067018.PDF
5. Khan, Sarfaroj. Rocuronium. Rx List. 2026. https://www.rxlist.com/rocuronium/generic-drug.htm
12. ANMF Consensus Group. Rocuronium: Newborn use only (Version 2.0). Australian & New Zealand Medicines Formulary (ANMF). 2021. https://www.anmfonline.org/wp-content/uploads/2021/06/rocuronium-12012021-2.0.pdf

Pendahuluan Rocuronium
Formulasi Rocuronium

Artikel Terkait

  • Intubasi dan Ventilasi pada Pasien ARDS dengan COVID-19
    Intubasi dan Ventilasi pada Pasien ARDS dengan COVID-19
  • Cara Praktis Menilai Intubasi Sulit
    Cara Praktis Menilai Intubasi Sulit
  • Bougie VS Stilet pada Keberhasilan Intubasi Pasien Sakit Kritis – Telaah Jurnal Alomedika
    Bougie VS Stilet pada Keberhasilan Intubasi Pasien Sakit Kritis – Telaah Jurnal Alomedika
  • Anestesi Umum vs Anestesi Lokal untuk Sirkumsisi Anak
    Anestesi Umum vs Anestesi Lokal untuk Sirkumsisi Anak
  • Anestesi Umum atau Lokal untuk Ekstraksi Gigi Bungsu
    Anestesi Umum atau Lokal untuk Ekstraksi Gigi Bungsu

Lebih Lanjut

Diskusi Terbaru
dr.Elizabeth Anastasya
Dibalas 18 jam yang lalu
Ikuti Webinar ber-SKP Kemenkes - Rahasia Mengatasi Kulit Sensitif dengan Kandungan Aktif - Kamis, 30 April 2026 Jam:14.00 - 15.30 WIB WIB
Oleh: dr.Elizabeth Anastasya
1 Balasan
ALO Dokter.Daftar disini:https://www.alomedika.com/webinar/rahasia-mengatasi-kulit-sensitif-dengan-kandungan-aktif?type=single Link...
dr.Eurena Maulidya
Dibalas 18 jam yang lalu
Bukan Sekadar Pelembap: Inilah Kombinasi Ampuh untuk Menjinakkan Kulit Sensitif!
Oleh: dr.Eurena Maulidya
1 Balasan
ALO Dokter!Masih seringkah Dokter menemui pasien dengan keluhan kulit sensitif yang sulit diredakan hanya dengan pelembap standar? Tahukah Dokter, bagaimana...
dr. Hudiyati Agustini
Dibalas 22 jam yang lalu
Yuk, Peka Lepra! Ikuti e-Course berSKP Kemenkes - Lepra Masih Ada: Tantangan Diagnosis dan Tata Laksana
Oleh: dr. Hudiyati Agustini
2 Balasan
ALO Dokter!Link daftar: https://www.alomedika.com/ecourse/lepra-masih-ada-tantangan-diagnosis-dan-tata-laksanaLink LMS:...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.