Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui Rocuronium
Penggunaan rocuronium pada kehamilan perlu berhati-hati, karena obat ini masuk dalam kategori B menurut FDA dan kategori C dalam literatur yang lebih tua. Pada ibu menyusui, belum diketahui apakah rocuronium dikeluarkan ke ASI dan bagaimana efeknya pada produksi susu atau bayi yang menyusu.[4]
Penggunaan pada Kehamilan
Menurut FDA, rocuronium termasuk kategori B, tetapi obat ini dimasukkan dalam kategori C dalam literatur yang lebih tua. Kategori ini berarti bahwa studi pada hewan percobaan menunjukkan adanya efek terhadap janin, namun belum terdapat studi terkontrol yang adekuat pada wanita hamil. Obat hanya digunakan apabila manfaat yang diharapkan lebih besar dibandingkan potensi risiko terhadap janin.[4,14]
Menurut Therapeutic Goods Administration (TGA) Australia, rocuronium termasuk Kategori B2. Kategori ini menaungi obat-obat yang telah digunakan pada sejumlah terbatas wanita hamil tanpa peningkatan frekuensi malformasi atau efek berbahaya terhadap janin yang teramati, sementara data studi hewan terbatas namun tidak menunjukkan bukti peningkatan kerusakan janin.[8,10,11]
Rocuronium dapat melintasi plasenta dalam jumlah kecil dan telah digunakan dalam anestesi obstetri tanpa bukti konsisten peningkatan risiko teratogenik, namun penggunaannya tetap harus mempertimbangkan kondisi klinis ibu.[4,14]
Penggunaan pada Ibu Menyusui
Pada praktik, rocuronium dipakai untuk memfasilitasi intubasi endotrakeal cepat dan memberikan relaksasi otot rangka selama anestesi umum atau ventilasi mekanik. Meski demikian, data mengenai ekskresi rocuronium ke dalam ASI masih terbatas.
Berdasarkan sifat farmakokinetiknya yang hidrofilik, bermuatan ion, dan memiliki berat molekul relatif besar, transfer ke dalam ASI diperkirakan sangat kecil dan tidak bermakna secara klinis. Hingga saat ini tidak terdapat laporan efek merugikan pada bayi setelah pemberian rocuronium dosis tunggal dalam anestesi.[8,10,14]