Formulasi Rocuronium
Formulasi rocuronium adalah dalam bentuk sediaan injeksi, baik dalam ampul maupun vial. Secara klinis, rocuronium digunakan melalui rute intravena. Penyimpanan perlu dilakukan di lemari pendingin.[3,10,14]
Bentuk Sediaan
Di Indonesia, rocuronium tersedia dalam bentuk injeksi, baik dalam vial ataupun ampul. Kekuatan sediaan adalah 10 mg/mL. Formulasi yang digunakan adalah rocuronium bromida beserta eksipien seperti natrium asetat sebagai buffer pH dan natrium klorida sebagai agen tonisitas.[3,10,14]
Cara Penggunaan
Rocuronium diberikan hanya melalui rute intravena (IV), dengan dosis awal untuk intubasi diberikan sebagai injeksi IV cepat, sedangkan dosis pemeliharaan dapat diberikan melalui injeksi IV intermiten atau infus IV kontinu menggunakan perangkat infus terkontrol. Pada penggunaan, diperlukan pemantauan blokade neuromuskular menggunakan peripheral nerve stimulator untuk menilai derajat relaksasi otot dan pemulihan.
Pemberian rocuronium, perlu dilakukan setelah induksi anestesi dengan analgesia dan sedasi adekuat. Penggunaan hanya dilakukan pada fasilitas kesehatan dengan kesiapan ventilasi mekanik karena risiko paralisis respirasi.
Untuk infus kontinu, sediaan dapat diencerkan dalam larutan infus intravena yang kompatibel hingga konsentrasi yang diinginkan, umumnya berkisar 0,5–5 mg/mL, dan digunakan dalam waktu 24 jam. Obat tidak boleh dicampur atau diberikan melalui jalur yang sama dengan larutan bersifat alkalis.[1,4,12,14]
Cara Penyimpanan
Rocuronium disimpan pada suhu 2–8°C dalam lemari pendingin, tetapi jangan dibekukan. Rocuronium perlu disimpan dalam kemasan asli agar terlindung dari cahaya. Hindari sediaan dari terkena sinar matahari langsung. Setelah sediaan dibuka, larutan sebaiknya digunakan segera.[9,10,14]