Nyeri Tenggorokan pada Anak - Penyebab dan Tata Laksananya

Oleh dr. Nathania S.

Nyeri tenggorokan anak memiliki banyak kemungkinan penyebab sementara tata laksananya ditentukan oleh penyebab tersebut. Hal ini menyebabkan penting bagi dokter untuk mampu membedakan penyebab dari nyeri tenggorokan pada anak.

Nyeri tenggorokan atau “Sakit tenggorok” merupakan salah satu penyakit yang sering dijumpai pada anak-anak dan di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Infeksi yang menyebabkan nyeri tenggorokan pada anak-anak dapat terjadi di sepanjang cincin Waldeyer. Cincin Waldeyer adalah serangkaian jaringan limfoid yang terdiri dari tonsilla lingualis, tonsilla palatina dan tonsilla pharyngea (adenoid). Fungsi utama dari jaringan ini adalah sebagai pertahanan imunologis dari saluran napas atas. Sebagian besar dari infeksi di cincin Waldeyer bersifat polimikrobial atau terdiri dari berbagai patogen. Selain itu, pada ekstraksi data mengenai patogen sering ditemui kesulitan membedakan patogen (kuman penyebab penyakit) dengan bakteri yang telah berkoloni [1].

Sumber: ruttapum2, Depositphotos. Sumber: ruttapum2, Depositphotos.

Studi yang dilakukan pada tahun 2004 membandingkan kuman yang ditemukan pada kelompok faringitis akut (n = 127) dengan kelompok kontrol (n = 130). Dalam studi ini ditemukan [2]:

  • Virus murni sebanyak 29.1% (p < 0.0001), dengan patogen yang signifikan (p < 0.05) adalah:

    • Adenovirus (12.6%)
    • Respiratory Syncytial Virus atau RSV (7.9%)

  • Bakteri yang berpotensi sebagai patogen ditemukan 22% pada kelompok faringitis akut dan 20% pada kontrol (p = 0.802), hal ini karena adanya bakteri-bakteri bawaan yang tidak menimbulkan gejala (bukan patogen)

    • Mycoplasma pneumoniae (14.2%, p = 0.001)

    • pyogenes (Streptokokus grup A) ditemukan lebih banyak pada kelompok kontrol dibandingkan kelompok faringitis akut (16.2% vs 4.7%, p = 0.005), menimbulkan kesulitan untuk membedakan antara S. pyogenes sebagai patogen dengan bukan patogen (koloni)

      • Streptokokus grup A yang bukan patogen tidak menimbulkan gejala pada hingga pada 20% anak-anak [3]

    • Chlamydia pneumoniae pada kelompok faringitis akut dibandingkan kontrol ditemukan tidak berbeda signifikan (3.1% vs 1.5%, p = 0.443) dan diduga sebagai ko-patogen

  • Virus dan bakteri ditemukan pada 20.5% pasien pada kelompok faringitis dan tidak ditemukan (0%) pada kelompok kontrol.

Pada analisis mikrobiota dari tonsil pasca tonsilektomi atas indikasi sindrom demam periodik, stomatitis, faringitis dan adenitis dibandingkan dengan kelompok kontrol, ditemukan [4]:

  • Streptokokus pada kedua kelompok ini,tetapi persentase jumlah Streptokokus dibandingkan dengan mikrobiota lainnya dalam sampel tonsil pasca operasi didapatkan lebih tinggi pada kelompok pasca tonsilektomi dibandingkan kontrol (9.6% vs 3.7%, p = 0.01)
  • Kelompok yang lebih banyak ditemukan pada kelompok pasca operasi dibandingkan kontrol adalah Cyanobacterium (47% vs 17%, p = 0.02), dan Synergistetes (23% vs 4%, p = 0.049). Cyanobacterium menghasilkan mikrosistin dan sianotoksin yang efeknya terhadap manusia masih belum jelas diketahui.

Kelemahan pada penelitian ini adalah kelompok kontrol tidak diambil dari sampel anak-anak yang sehat, tetapi dari anak-anak dengan hipertrofi tonsil.

Selain dari bakteri dan virus yang disebutkan di atas, terdapat beberapa patogen lain yang memiliki manifestasi sebagai faringitis akut. Dalam melakukan diagnosis, diperlukan juga analisis dari tanda dan gejala lain yang ada. Beberapa di antaranya adalah [5]:

  • Bakteri:

    • Streptokokus grup C dan G
    • Arcanobacterium haemolyticum
    • Neisseria gonorrhae
    • Corynebacterium diphteriae
    • Bakteri anaerobik
    • Fusobacterium necrophorum
    • Francisella tularensis
    • Yersinia pestis
    • Yersinia enterocolitica

  • Virus:

    • Virus herpes simpleks tipe 1 dan 2
    • Coxsackievirus
    • Rhinovirus
    • Virus influenza dan parainfluenza
    • Virus Epstein-Barr
    • Human Immunodeficiency Virus (HIV)

Kepentingan untuk mengetahui penyebab dari nyeri tenggorokan adalah untuk menentukan tata laksana pengobatan yang sesuai. Pada infeksi akibat virus dan bakteri C. pneumoniae, tanda dan gejala dapat sembuh dengan sendirinya dan tidak menimbulkan kekambuhan dalam waktu dekat. Sedangkan pada infeksi bakteri M. pneumoniae, memiliki durasi demam yang lebih panjang dan kekambuhan dalam waktu dekat yang lebih tinggi dan membutuhkan antibiotik. Pemberian antibiotik pada infeksi M. pneumoniae juga ditujukan untuk mencegah terjadinya komplikasi menjadi pneumonia atipikal [2,6]. Pilihan antibiotik untuk M. pneumoniae adalah [6,7]:

  • Golongan makrolid seperti azitromisin
  • Golongan tetrasiklin seperti doksisiklin (tidak disarankan untuk anak-anak)
  • Golongan fluorokuinolon (tidak disarankan untuk anak-anak)

Infeksi dari Streptokokus grup A penting untuk dideteksi karena bakteri ini dapat menimbulkan komplikasi menjadi demam rematik dan GNAPS (glomerulonefritis akut pasca streptokokus) [1,8]. Pemeriksaan mikrobiologi dengan sediaan apus tenggorokan dan tes deteksi antigen cepat (rapid antigen detection test) dan/atau kultur direkomendasikan dilakukan untuk dilakukan pada pasien nyeri tenggorokan yang diduga terinfeksi bakteri. Bila tes deteksi antigen cepat ditemukan positif, kultur bakteri tidak wajib dilakukan karena spesifisitasnya tinggi. Pada infeksi akibat Streptokokus grup A, perlu diberikan antibiotik sebagai berikut [5]:

  • Pilihan untuk tanpa alergi penisilin:

    • Penisillin V oral
    • Amoksisilin oral
    • Benzatin penisilin G, intramuskular

  • Pilihan untuk alergi penisilin:

    • Sefaleksin
    • Sefadroksil
    • Klindamisin
    • Azitromisin
    • Klaritromisin

Bila tidak memungkinkan dilakukan pemeriksaan mikrobiologi termasuk apus tenggorokan dan tes antigen, berikut beberapa tanda dan gejala dari nyeri tenggorokan yang berkaitan dengan penyebabnya:

  • Virus: batuk, hidung berair, suara yang serak, sariawan dan konjungtivitis [5,9].
  • Streptokokus Grup A [9]:

    • Nyeri tenggorokan yang tiba-tiba
    • Odinofagia atau nyeri menelan
    • Demam
    • Eritema pada faring dan tonsil
    • Petechiae pada daerah palatum
    • Pembesaran tonsil dengan atau tanpa eksudat
    • Limfadenopati leher anterior

  • M. pneumoniae:

    • Demam, nyeri tenggorokan dan suara serak
    • Memiliki riwayat faringintis berulang dan/atau kontak dengan orang lain yang memiliki infeksi M.  pneumoniae (biasanya yang anak lebih tua atau dewasa) [2,6]

    • Memiliki gejala infeksi saluran napas bawah (sudah terjadi pneumonia atipikal) seperti [6]:

      • Batuk yang tidak berhenti sepanjang hari, dapat diawali dengan batuk kering yang kemudian menjadi batuk berdahak
      • Dispnea

    • Memiliki komplikasi di kulit dan mukosa seperti sindroma Steven-Johnson, eritema multiforme dan nekrolisis epidermal toksik [6].

Kesimpulan

  • Patogen penyebab sakit tenggorokan pada anak-anak memiliki jangkauan yang sangat luas.
  • Infeksi akibat virus ditemukan lebih banyak dibandingkan dengan bakteri.
  • Klinisi perlu mengetahui kecurigaan terhadap nyeri tenggorokan akibat virus karena pada kelompok ini tidak diperlukan terapi antibiotik.
  • Gejala dari nyeri tenggorokan yang diduga akibat virus adalah adanya batuk, hidung berair, suara yang serak, sariawan dan konjungtivitis.
  • Bila terdapat kecurigaan bukan karena virus, maka direkomendasikan untuk dilakukan tes deteksi antigen cepat untuk Streptokokus Grup A dan/atau kultur dari apus tenggorokan karena patogen ini dapat menimbulkan komplikasi demam rematik dan GNAPS.
  • Anamnesis dan pemeriksaan fisik secara keseluruhan perlu dilakukan karena nyeri tenggorokan juga dapat disebabkan oleh patogen yang tidak umum menyebabkan faringitis akut contohnya infeksi gonorrhea, C. diphteriae dan HIV.

Referensi