Kortikosteroid untuk Penanganan COVID-19

Oleh :
dr. Eduward T, SpPD

Kortikosteroid memiliki potensi untuk penanganan COVID-19, tetapi pemberiannya masih bersifat kontroversi akibat terbatasnya bukti klinis. CDC dan WHO merekomendasikan untuk menghindari penggunaan kortikosteroid untuk COVID-19, tetapi Surviving Sepsis Campaign merekomendasikan penggunaannya pada pasien COVID-19 yang mengalami acute respiratory distress syndrome (ARDS).

Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

Wabah penyakit COVID-19 yang disebabkan oleh varian baru corona virus 2019 atau SARS-CoV-2 merupakan situasi dan tantangan mayor bagi para klinisi di seluruh dunia. Penanganan penyakit ini sendiri masih belum jelas akibat sedikitnya bukti klinis mengenai efektivitas medikamentosa untuk COVID-19. Salah satu medikamentosa yang dinilai berpotensi untuk menangani COVID-19 ini adalah kortikosteroid.[1]

shutterstock_1692063865-min

Penggunaan Kortikosteroid untuk SARS dan MERS

Efektivitas kortikosteroid untuk penanganan COVID-19 ini didasarkan pada penggunaan kortikosteroid untuk penanganan penyakit yang juga disebabkan oleh coronavirus, yaitu SARS dan MERS.[1,2]

Meskipun terdapat perbedaan secara genetik, SARS-CoV, MERS-CoV maupun SARS-CoV-2 masing-masing menimbulkan inflamasi dan kerusakan pada alveolus paru sehingga menyebabkan kerusakan paru akut (acute lung injury maupun acute respiratory distress syndrome).[3,4] Oleh karena kortikosteroid bermanfaat untuk menekan proses inflamasi, secara teori, penggunaannya untuk COVID-19 bisa saja berguna sebagai antiinflamasi untuk menekan kerusakan paru akibat SARS dan MERS.[1]

Selain dimaksudkan untuk efek antiinflamasi pada kasus kerusakan akut parenkim paru, kortikosteroid umumnya diberikan pada pasien SARS dan MERS yang mengalami syok septik.[1] Sebuah laporan yang dipublikasi belum lama ini melaporkan bahwa kira-kira 5% (140 orang) pasien COVID-19 mengalami septik syok.[4] Ironisnya, meskipun telah digunakan secara luas, efikasi kortikosteroid pada kasus septik syok masih belum jelas. Syok yang terjadi pada pasien dengan severe hypoxemic respiratory failure akibat infeksi virus Corona sering kali diakibatkan oleh konsekuensi peningkatan tekanan intratoraks (selama ventilasi invasif) yang membatasi/mengurangi cardiac filling dan bukan karena vasoplegia.[5,6] Oleh sebab itu, manfaat terapi steroid dengan indikasi septik syok masih dipertanyakan.[1,7]

Data Klinis Yang Tersedia mengenai Penggunaan Kortikosteroid untuk COVID-19

Pada sebuah studi observasi retrospektif 309 pasien dewasa kritis akibat MERS-CoV, sekitar 50% pasien diberikan kortikosteroid. Pada grup pasien tersebut, ternyata lebih banyak yang memerlukan ventilator mekanik, agen vasopresor, maupun terapi pengganti ginjal daripada yang tidak diberikan kortikosteroid. Walau demikian, setelah dilakukan penyesuaian terhadap faktor-faktor perancu, pemberian kortikosteroid tidak berdampak terhadap mortalitas pasien, tetapi berkaitan dengan delayed clearence RNA virus dari sekret saluran nafas.[1,2]

Pada meta analisis penggunaan kortikosteroid pada pasien SARS, hanya ada empat studi dengan data konklusif, namun semua mengindikasikan dampak buruk alih-alih manfaat. Dampak buruk yang ditemukan pada meta analisis ini adalah:

  • Munculnya psikosis pada pemberian kortikosteroid dosis tinggi
  • Kadar viremia minggu kedua dan ketiga setelah infeksi SARS yang lebih tinggi dibandingkan kontrol pada pemberian kortikosteroid dengan durasi rata-rata sekitar 5 hari
  • Risiko diabetes dan avaskular nekrosis[1]

Penggunaan kortikosteroid pada pasien COVID-19 sendiri belum didukung oleh adanya publikasi data penelitian. Saat ini, masih berlangsung penelitian open label yang mengevaluasi dampak methylprednisolone 1 mg/kgBB/hari intra vena pada pasien COVID-19 di Cina.[8]

Rekomendasi Terkait Penggunaan Kortikosteroid untuk COVID-19

Baik pedoman dari World Health Organization (WHO) maupun Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat merekomendasikan untuk menghindari penggunaan kortikosteroid sebagai penanganan COVID-19 karena data klinis yang masih kurang. Pengecualian adalah jika ada indikasi lain pemberian kortikosteroid, misalnya jika pasien mengalami syok septik.[9,10]

Namun, pedoman terbaru dari Surviving Sepsis Campaign merekomendasikan penggunaan kortikosteroid sistemik pada pasien COVID-19 dengan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), meski hal ini masih tergolong rekomendasi lemah karena bukti klinis berkualitas rendah.[11]

Penggunaan Kortikosteroid Oral/Inhalasi untuk Indikasi Lain di Tengah Pandemi COVID-19

Walau rekomendasi dari CDC dan WHO menyarankan untuk menghindari pemberian kortikosteroid untuk COVID-19, kortikosteroid inhalasi dan sistemik masih tetap diberikan untuk indikasi lain.

WHO memperbolehkan pemberian kortikosteroid antenatal pada wanita yang berisiko melahirkan prematur (usia gestasi 24 hingga 34 minggu) jika tidak ada bukti klinis infeksi maternal.[9]

Penggunaan kortikosteroid oral ataupun inhalasi masih direkomendasikan pada pasien asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) menurut pedoman terbaru Global Initiative For Asthma (GINA) dan Global Initiative For Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD).[12,13]

Meski belum ada pedoman resmi, sejumlah ahli endokrinologi menyarankan pemberian kortikosteroid hidrokortison 50-100 mg, tiga kali sehari, pada pasien dengan insufisiensi adrenal dengan tetap mengikuti pedoman pencegahan COVID-19.[14,15]

Untuk pasien dengan Rheumatic Musculoskeletal Diseases, European League Against Rheumatism (EULAR) belum merekomendasikan penghentian kortikosteroid ataupun obat lain yang termasuk pada disease modifying anti-rheumatic drugs (DMARD) pada pasien yang mengalami COVID-19.[16]

Kesimpulan

Belum tersedianya data klinis yang adekuat mengenai manfaat pemberian kortikosteroid untuk penanganan COVID-19 membuat WHO dan CDC merekomendasikan untuk menghindari penggunaan obat ini untuk COVID-19. Rekomendasi ini masih bisa berubah seiring dengan hasil studi  penggunaan kortikosteroid untuk penanganan COVID-19 yang sampai saat ini masih berlangsung di China.

Di sisi lain, pedoman terbaru dari Surviving Sepsis Campaign justru merekomendasikan penggunaan kortikosteroid untuk pasien COVID-19 yang mengalami acute respiratory distress syndrome (ARDS).

Walau penggunaan kortikosteroid untuk COVID-19 sendiri masih kontroversial, penggunaan kortikosteroid untuk indikasi lain di, baik oral maupun inhalasi, masih tetap diperbolehkan. Hal ini didukung oleh rekomendasi dari WHO, GINA, GOLD, dan EULAR.

Referensi