Efek Jangka Panjang dari COVID-19

Oleh :
dr. Jocelyn Prima Utami

Beberapa pasien yang telah sembuh dari coronavirus disease 2019 atau COVID-19 mengeluhkan efek jangka panjang yang menetap hingga berbulan-bulan setelah infeksi. Efek berkelanjutan ini tidak hanya terjadi pada pasien yang pulih dari gejala berat COVID-19 tetapi juga pada pasien yang bergejala ringan-sedang.[1-3]

Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

Manifestasi klinis COVID-19 bervariasi dari kondisi asimtomatik, kondisi simtomatik ringan, hingga simtomatik berat. Contoh manifestasi klinis ringan adalah demam, batuk, nyeri tenggorokan, kongesti nasal, sakit kepala, nyeri otot, lemas, dan gangguan indra pengecap serta penghidu. Sementara itu, pada gejala yang lebih berat, pasien dapat mengalami pneumonia hingga acute respiratory distress syndrome (ARDS).[4,5]

Efek Jangka Panjang dari COVID-19

Sindrom post-COVID dinyatakan sebagai kumpulan gejala persisten yang mungkin berkaitan dengan inflamasi residual, kerusakan organ, efek nonspesifik dari rawat inap atau penggunaan ventilator, dan kondisi kesehatan lain. Gejala yang umum dilaporkan setelah COVID-19 adalah kelelahan, dispnea, nyeri sendi, dan nyeri dada. Selain itu, disfungsi organ jantung, paru, dan otak juga dilaporkan pada beberapa pasien.[2,6]

shutterstock_1697224447-min

Dalam studi Tenforde et al, 35% dari 274 pasien COVID-19 yang simtomatik saat hasil polymerase chain reaction (PCR) mereka positif mengatakan bahwa kondisi kesehatan mereka belum kembali ke kondisi awal sebelum terkena COVID-19. Studi ini melakukan wawancara sekitar 16 hari setelah tes PCR. Saat wawancara, 43% responden masih merasakan gejala batuk, 35% gejala kelelahan, dan 29% sesak napas.[5,7]

Studi di Italia pada 143 pasien COVID-19 pascarawat inap menunjukkan bahwa 87% pasien mengalami minimal 1 gejala yang menetap pada 60 hari setelah onset gejala. Sekitar 32% pasien mengalami 1–2 gejala dan sekitar 55% mengalami >3 gejala. Studi lain di Perancis juga menunjukkan bahwa beberapa pasien COVID-19 memiliki gejala menetap hingga 110 hari setelah keluar dari rumah sakit. Gejala yang umum adalah kelelahan dan sesak napas.[8,9]

Faktor risiko terjadinya efek jangka panjang COVID-19 masih belum diketahui dengan jelas. Menurut studi Carvalho-Schneider et al, efek jangka panjang COVID-19 berkaitan dengan usia yang lebih tua, riwayat kebutuhan perawatan di rumah sakit saat infeksi akut, gejala berat COVID-19, dispnea, dan auskultasi abnormal.[10,11]

Efek Jangka Panjang COVID-19 Secara Umum

Kelelahan merupakan gejala umum yang paling sering dikeluhkan setelah infeksi akut SARS-CoV-2. Studi oleh Carfi et al menunjukkan bahwa 53,1% pasien mengeluhkan kelelahan. Studi ini dilakukan pada 143 pasien dengan hasil PCR negatif setelah rawat inap. Studi di Perancis oleh Garrigues et al juga memberi hasil serupa, yakni 120 pasien pascarawat inap mengeluhkan kelelahan (55%).[5,8,9]

Studi di Inggris pada 100 pasien penyintas COVID-19 juga menunjukkan bahwa gejala persisten yang sering dilaporkan adalah kelelahan. Keluhan ini dilaporkan lebih banyak terjadi pada pasien yang dirawat di ICU (72%) daripada pasien yang dirawat di bangsal (60%) saat masa akut COVID-19. Perbandingan keluhan kelelahan antara wanita dan pria adalah 54,3% berbanding 29,6%.[5,9]

Efek Jangka Panjang COVID-19 pada Sistem Kardiovaskular

Miokarditis dan aritmia dilaporkan dapat terjadi setelah COVID-19. Studi kohort observasional di Jerman menunjukkan bahwa dari 100 pasien yang pulih COVID-19, 78% menunjukkan abnormalitas hasil pemeriksaan cardiac magnetic resonance (CMR), di mana 60%-nya merupakan inflamasi miokardium. Mayoritas pasien pada studi Puntmann et al ini asimtomatik atau bergejala ringan-sedang, dengan ⅓ sisanya memerlukan perawatan di rumah sakit saat infeksi akut.[2,5,12]

Studi oleh Huang et al pada 26 pasien yang telah pulih dari COVID-19 dan mengalami gejala kardiovaskular juga menunjukkan abnormalitas pada pemeriksaan CMR. Sebanyak 15 dari 26 pasien menunjukkan edema miokardial. Selain itu, pasien dengan temuan abnormalitas CMR juga menunjukkan penurunan fungsi ventrikel kanan, seperti fraksi ejeksi, indeks jantung, dan stroke volume. Namun, sampel dalam studi ini berjumlah amat terbatas.[5,13]

Efek Jangka Panjang COVID-19 pada Sistem Respirasi

Sesak napas yang baru atau yang memberat merupakan salah satu gejala yang umum terjadi pada ⅖ pasien bangsal dan ⅔ pasien ICU. Studi di Perancis menyimpulkan bahwa pasien yang dirawat inap saat infeksi akut COVID-19 umumnya memiliki gejala yang menetap, termasuk dispnea yang mencapai 42%.

Pasien dengan riwayat rawat inap di ICU, riwayat penggunaan ventilator, penyakit premorbid paru, usia tua, dan body mass index (BMI) tinggi dikatakan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami gejala sesak napas yang menetap. Pedoman dari British Thoracic Society merekomendasikan radiografi dada untuk tiga bulan setelah pasien keluar dari rumah sakit karena COVID-19.[9,14,15]

Studi oleh Zhao et al menunjukkan bahwa 3 bulan setelah infeksi akut, 14,55% pasien mengalami dispnea. Computed tomography resolusi tinggi (HRCT) setelah 3 bulan menunjukkan abnormalitas pada 39 pasien (70,91%), dengan gambaran paling umum berupa fibrosis dan penebalan interstisial.

Pada studi tersebut, meskipun beberapa pasien tidak memiliki keluhan saat follow-up, ditemukan adanya abnormalitas fungsi paru pada 14 pasien (25,45%), dengan temuan tersering berupa penurunan kapasitas difusi paru untuk karbon monoksida (DLCO) yang mencapai 16,36%. Hal ini serupa dengan hasil studi Xiao Neng Mo et al yang menunjukkan adanya abnormalitas pada DLCO, kapasitas total paru, volume ekspirasi paksa dalam 1 detik (FEV1), dan kapasitas vital paksa.[16,17]

Efek Jangka Panjang COVID-19 pada Sistem Saraf

Pada fase akut COVID-19, sekitar 36% pasien mengalami gejala neurologis seperti pusing, sakit kepala, gangguan kesadaran, dan kejang. Pada kasus ringan-sedang, pasien juga mengeluhkan gangguan penciuman dan pengecapan. Efek jangka panjang COVID-19 pada sistem saraf dapat disebabkan oleh empat mekanisme patogenik yang mungkin, yaitu ensefalitis viral secara langsung, inflamasi sistemik, disfungsi organ perifer (hati, ginjal, paru), dan perubahan serebrovaskular.[18,19]

Gejala neurologis yang umum dilaporkan setelah COVID-19 adalah gangguan kognitif (brain fog), sakit kepala, gangguan tidur, pusing, delirium, dan neuropati perifer. Studi di Perancis pada 58 pasien COVID-19 yang mengalami ARDS menunjukkan bahwa dari 45 pasien yang sudah pulang dari rumah sakit, 15 pasien (33%) mengalami gejala neurologis seperti inatensi, disorientasi, dan gerakan yang tidak terorganisir. Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan karena terbatasnya jumlah sampel.[5,20-22]

Efek Jangka Panjang COVID-19 pada Status Metabolik

COVID-19 dilaporkan berkaitan dengan onset baru diabetes mellitus atau komplikasi metabolik yang berat pada diabetes yang sudah ada sebelumnya. Studi oleh Li et al terhadap pasien rawat inap COVID-19 menunjukkan bahwa dari 42 pasien yang mengalami ketosis, 27 pasien di antaranya tidak memiliki diabetes. Sementara itu, dari 5 pasien yang mengalami ketoasidosis, 2 tidak memiliki riwayat diabetes.

Infeksi COVID-19 diperkirakan meningkatkan laju pemecahan lemak dan menginduksi ketosis yang akhirnya dapat menyebabkan ketoasidosis. Ada juga hipotesis tentang efek diabetogenik dari COVID-19 tetapi perubahan metabolisme glukosa ini belum diketahui sifatnya permanen atau sementara. Studi-studi ini masih berukuran sampel sangat kecil, sehingga hasilnya perlu diinterpretasikan dengan hati-hati.[23,24]

Kesimpulan

Terdapat banyak laporan tentang efek jangka panjang COVID-19 pada pasien yang telah pulih dari infeksi akut. Efek jangka panjang ini dikatakan tidak hanya terjadi pada pasien yang mengalami gejala berat saat fase akut tetapi juga pada pasien bergejala ringan-sedang.

Efek jangka panjang yang paling umum dirasakan adalah kelelahan dan gejala respirasi seperti dispnea. Namun, gejala kardiovaskular, neurologis, dan metabolik juga pernah dilaporkan. Efek jangka panjang ini diduga berkaitan dengan inflamasi residual, kerusakan organ, efek non-spesifik dari perawatan selama fase akut, serta penyakit komorbid yang sudah ada. Namun, mekanisme pasti dari efek-efek ini belum diketahui.

Studi-studi yang ada tentang efek jangka panjang COVID-19 masih memiliki ukuran sampel yang sangat kecil, sehingga kesimpulan yang definitif belum bisa dibuat. Studi tentang mekanisme komplikasi jangka panjang, faktor risiko, pedoman follow-up setelah pasien sembuh, serta tata laksana yang dapat dilakukan masih perlu ditelusuri lebih lanjut dengan populasi yang lebih besar.

Referensi