Jenis Pengobatan Infertilitas

Oleh :
dr. DrRiawati MMedPH

Saat ini terdapat berbagai opsi pengobatan infertilitas yang dapat ditawarkan kepada pasien seperti intrauterine insemination (IUI) dan in vitro fertilization (IVF). Akan tetapi, sebelum memberikan rekomendasi, dokter perlu mengetahui jenis pengobatan mana yang paling sesuai untuk kondisi masing-masing pasien. Infertilitas yang disebabkan oleh kondisi yang berbeda dapat membutuhkan jenis pengobatan yang berbeda pula.

Menurut definisi WHO, infertilitas adalah suatu penyakit sistem reproduksi yang ditandai dengan kegagalan untuk mencapai kehamilan setelah pasangan berhubungan seksual secara reguler (tanpa proteksi) selama 12 bulan atau lebih. Pada wanita, penyebab tersering infertilitas adalah disfungsi ovarium dengan anovulasi (25–35%), kelainan tuba fallopi (20–25%), endometriosis (10–20%), patologi uterus seperti mioma uteri (5–10%) dan unexplained infertility (20–30%). Pada pria, lebih dari 90% kasus infertilitas disebabkan oleh jumlah sperma yang rendah, kualitas sperma yang buruk, atau kombinasi keduanya.[1,2]

ICSI - pengobatan untuk infertilitas pria. Sumber Gambar: Palermo G, Openi 2014. ICSI - pengobatan untuk infertilitas pria. Sumber Gambar: Palermo G, Openi 2014.

Persiapan Sebelum Pengobatan Infertilitas

Sebelum pengobatan infertilitas dilakukan, informed shared-decision making perlu dilakukan terlebih dahulu. Dokter perlu menginformasikan hal-hal terkait infertilitas yang dialami kepada pasien secara lengkap dan menginformasikan opsi pengobatan yang ada. Hal ini bertujuan agar pasien dan pasangannya turut serta menentukan opsi pengobatan yang paling sesuai dengan keinginan. Dokter perlu merekomendasikan pengobatan infertilitas yang spesifik berdasarkan pada:

  • Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap infertilitas pasien
  • Lamanya infertilitas
  • Usia wanita
  • Pilihan metode pengobatan oleh pasangan setelah mereka mendapatkan informasi mengenai angka keberhasilan, manfaat, dan risiko [1,3]

Pengobatan infertilitas meliputi tata laksana segala kondisi yang mungkin mengganggu kesuburan, proses pembuahan, dan ketahanan kehamilan. Contohnya, bila pasien mengalami infeksi HIV, Chlamydia trachomatis, rubella, atau toxoplasmosis, maka infeksi perlu diatasi terlebih dahulu sebelum menjalani pengobatan selanjutnya.[3]

Metode Pengobatan Noninvasif untuk Infertilitas

Pengobatan noninvasif yang dapat dilakukan adalah konseling gaya hidup yang sehat, tracking siklus ovulasi, induksi ovulasi, dan intrauterine insemination (IUI). Program donor sperma juga dapat dipertimbangkan bila diperlukan dan disetujui oleh pasien.

Konseling Gaya Hidup Sehat

Pasien dianjurkan untuk tidak merokok dan tidak mengonsumsi alkohol lebih dari 1-2 unit per minggu. Pasien juga diminta untuk menjaga pola makan sehat dan berolahraga untuk kesehatan kardiovaskular sekitar 20-30 menit tiap hari. Pasien yang obesitas disarankan untuk menjalani program penurunan berat badan. Pasien wanita dapat dianjurkan untuk mengonsumsi asam folat 0.4 mg sebagai suplemen harian dan dapat meningkatkan dosis menjadi 5 mg bila memiliki riwayat melahirkan bayi dengan spina bifida atau riwayat mengonsumsi obat epilepsi.[2,3]

Tracking Siklus Ovulasi

Dokter dapat mengajari pasien cara mengenali masa suburnya dengan melacak kadar luteinising hormone (LH) untuk memprediksi kapan ovulasi akan terjadi. Kadar LH di urine biasanya akan meningkat 24-48 jam sebelum ovulasi. Pasien dapat dibekali dengan alat untuk mendeteksi kenaikan kadar LH di urine yang dapat dilakukan sendiri di rumah. Tracking ini akan memberikan kesempatan terbaik bagi pasangan untuk melakukan hubungan seksual dan mengalami fertilisasi secara alami.[4]

Induksi Ovulasi

Induksi ovulasi dilakukan apabila pasien mengalami disfungsi ovulasi. Pasien dapat diberikan obat-obatan untuk stimulasi ovulasi seperti klomifen sitrat, letrozole, human menopausal gonadotropin (hMG), follicle stimulating hormone (FSH), gonadotropin releasing hormone (GnRH), metformin, dan bromokriptin.[3]

Intrauterine Insemination

Upaya untuk mengalami konsepsi secara alami (selama 2 tahun) dan metode IVF sebenarnya lebih disarankan bagi pasien dengan unexplained infertility, bagi wanita dengan endometriosis yang minimal, dan bagi pria dengan oligoasthenozoospermia (bila istri masih berusia muda). Namun, IUI juga dapat disarankan bagi pasien-pasien tersebut sebagai opsi. Meskipun masih perlu diteliti lebih lanjut, sebuah meta analisis Cochrane menyatakan bahwa IUI mungkin dapat meningkatkan angka kelahiran hidup kumulatif dibandingkan metode timed intercourse dengan hiperstimulasi ovarium.[1,5]

Donor Sperma

Pasangan dapat disarankan untuk menjalani inseminasi dengan menggunakan sperma donor bila pasien (pria) mengalami azoospermia, infeksi HIV, atau mengalami masalah infertilitas yang berat, namun menolak untuk menjalani in vitro fertilization (IVF) dengan intracytoplasmic sperm injection (ICSI).[3]

Metode Pengobatan Invasif untuk Infertilitas Wanita

Untuk kasus infertilitas pada wanita, metode pengobatan invasif dapat berupa bedah tubal, bedah uterus, bayi tabung (IVF), gamete intrafallopian transfer (GIFT), zygote intrafallopian transfer (ZIFT), dan donor oocyte.

Bedah Tubal

Pada wanita dengan obstruksi tuba proksimal, dokter dapat menyarankan salpingografi selektif dengan kateterisasi atau kanulasi tuba secara histeroskopik. Hal ini diperkirakan dapat meningkatkan kemungkinan hamil. Wanita dengan hidrosalping dapat disarankan untuk menjalani salpingectomy secara laparoskopik sebelum menjalani IVF.[3]

Bedah Uterus

Wanita yang mengalami amenorea dengan adhesi intrauterine dapat disarankan untuk menjalani hysteroscopic adhesiolysis untuk meningkatkan peluang hamil. Bedah uterus juga dapat dilakukan pada kasus endometriosis dan fibroid. Namun, pengaruh bedah fibroid terhadap fertilitas masih perlu dipelajari lebih lanjut.[3]

Bayi Tabung

Metode bayi tabung atau IVF (in vitro fertilization) dilakukan apabila pasien mengalami masalah tuba fallopi atau mengalami unexplained infertility. IVF dapat dilakukan dengan metode embryo transfer (ET) biasa atau metode frozen embryo transfer (FET). Pada FET, beberapa embrio yang diperoleh dari siklus IVF dibekukan dan disimpan untuk penggunaan di masa depan. Apabila diperlukan, embrio beku ini akan diambil dari tempat penyimpanan, dihangatkan, dan ditransfer ke dalam uterus resipien.

Efektivitas FET sebenarnya masih kontroversial. Studi melaporkan bahwa bayi yang dilahirkan dengan metode ini secara signifikan merupakan bayi yang prematur atau memiliki berat badan lahir rendah. Namun secara umum, IVF merupakan metode yang paling rasional bagi kasus unexplained infertility, bagi wanita dengan endometriosis minimal, dan bagi pria dengan kondisi oligoasthenozoospermia (bila istri masih berusia muda). IVF terutama dianjurkan bila pasien-pasien ini telah berupaya untuk mengalami konsepsi secara alami selama 2 tahun namun gagal.[1,6]

Assisted Hatching

Metode ini melibatkan penggunaan sinar laser, alat mekanik, atau bahan kimia untuk menipiskan zona pellucida. Penipisan zona ini dilakukan terutama pada wanita berusia lebih tua, dengan pemikiran bahwa ketebalan zona dapat menghambat implantasi. Pasien yang dapat menjalani metode ini adalah pasien berusia lebih dari 38 tahun yang telah menjalani IVF dan FET, namun gagal.[7]

Gamete Intrafallopian Transfer dan Zygote Intrafallopian Transfer

Prosedur ini dapat menjadi opsi selain IVF, akan tetapi efektivitasnya pada kasus unexplained infertility dan kasus infertilitas pria masih belum memiliki basis bukti yang kuat.[3]

Donor Oocyte

Metode ini dilakukan apabila terdapat premature ovarian failure, disgenesis gonad, ovarian failure setelah menjalani kemoterapi atau radioterapi, atau bila kasus dinilai akan gagal dengan IVF. Donor oocyte juga dapat disarankan bagi pasien yang telah menjalani bilateral oophorectomy.[3]

Metode Pengobatan Invasif untuk Infertilitas Pria

Metode pengobatan invasif untuk pria dapat berupa bedah mikro atau bedah restorasi untuk patensi duktus, intracytoplasmic sperm injection (ICSI), dan metode digital high manifestation of sperm.

Bedah Mikro atau Bedah Restorasi untuk Patensi Duktus

Metode ini dapat dilakukan bagi pasien yang memiliki riwayat vasektomi, bagi pasien yang butuh bypass blokade epididimis seperti pasien dengan azoospermia obstruktif, dan bagi pasien dengan obstruksi duktus ejakulatori. Pembedahan untuk kasus varikokel tidak selalu menghasilkan perbaikan kualitas semen, namun dapat diberikan sebagai opsi kepada pasien karena dapat bersifat efektif pada beberapa pasien. Hasil dari pembedahan mikro dan rekonstruktif ini akan sangat tergantung pada penyebab dan lokasi obstruksi. Bila pembedahan tidak memungkinkan, sperm retrieval dapat menjadi opsi.[2,3]

Sperm Retrieval

Terdapat bermacam metode untuk sperm retrieval. Microsurgical epididymal sperm aspiration (MESA) melibatkan pembedahan terbuka dengan bantuan mikroskop untuk mencari tubulus epididimis dan mengambil sperma dalam jumlah besar. Testicular sperm extraction (TESE) dapat dilakukan pada kasus azoospermia obstruktif dan azoospermia nonobstruktif karena sperma langsung diambil dari testis. Testicular sperm aspiration (TESA) juga merupakan opsi lain untuk langsung mengambil sperma dari testis dengan aspirasi fine needle.[2]

Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI)

ICSI dilakukan sebagai bagian dari tindakan IVF. Dokter menginjeksikan sperma tunggal ke dalam sel telur untuk membantu fertilisasi dengan menggunakan peralatan manipulasi mikro yang sangat kecil. Metode ini dilakukan dengan atau tanpa preimplantation genetic diagnosis (PGD). ICSI merupakan metode yang paling umum dilakukan untuk permasalahan infertilitas pria yang berat. Metode ini juga digunakan untuk kegagalan siklus IVF yang berulang.[1,3]

Digital High Magnification of Sperm

Metode ini melibatkan prosedur IVF dan juga ICSI. Metode ini dilakukan pada pasien pria yang mengalami infertilitas berat karena abnormalitas jumlah atau morfologi sperma yang signifikan. Metode ini dilakukan dengan cara memilih sperma yang paling baik untuk diinjeksikan ke dalam sel telur dengan menggunakan alat pembesar digital yang canggih, yang dapat memvisualisasi gambaran sperma hingga lebih dari 7300 kali pembesarannya. Keuntungan teknik ini adalah:

  • Meningkatkan kesempatan fertilisasi
  • Meningkatkan angka kehamilan
  • Menurunkan angka keguguran pada kasus-kasus infertilitas pria yang berat

Namun, metode ini juga memiliki kelemahan yaitu sperma dipilih secara kasat mata (diambil karena bentuk fisik yang tampak baik dari luar) dan tidak dapat mendeteksi kromosom sperma. Apabila terdapat gangguan kromosom, maka bayi yang dilahirkan juga akan terdampak oleh kromosom yang abnormal tersebut.[8]

Kesimpulan

Terdapat berbagai jenis pengobatan infertilitas yang dapat diberikan kepada pasien mulai dari metode pengobatan yang noninvasif hingga yang invasif. Setelah pasien dan pasangan menjalani pemeriksaan, dokter perlu memformulasikan rencana pengobatan yang sesuai dengan kondisi setiap individu karena setiap penyebab infertilitas akan membutuhkan jenis pengobatan yang berbeda. Dokter perlu menginformasikan manfaat dan risiko masing-masing opsi pengobatan kepada pasien agar pasien dan pasangannya dapat membuat informed decision.

 

Direvisi oleh: dr. Irene Cindy Sunur

Referensi