Memprediksi Ovulasi pada Menstruasi Ireguler

Oleh dr. Michael Susanto

Kemampuan untuk memprediksi waktu ovulasi seorang wanita sangatlah penting bagi mereka yang merencanakan kehamilan ataupun kontrasepsi, namun hal ini cukup sulit dilakukan pada wanita dengan siklus ireguler. Hingga saat ini terdapat beragam cara untuk memprediksi ovulasi pada menstruasi ireguler, beberapa praktis dan lainnya tidak.[1]

Siklus Menstruasi Normal

Siklus menstruasi normal pada wanita memiliki variabilitas antara 26-35 hari per siklus, dengan 3-7 hari menstruasi, dan masa fertil selama 5 hari sebelum hingga saat ovulasi. [2]

Siklus menstruasi teregulasi oleh hormon dan dapat dibagi dalam 3 fase yaitu fase folikuler, ovulasi, dan luteal. Fase folikuler dimulai pada saat hari pertama menstruasi dan merupakan saat terbentuknya folikel pada ovarium. Fase ini berlangsung selama 13-14 hari. Pada saat terjadi kenaikan hormon luteinizing, folikel dominan akan ruptur dan mengeluarkan telur sehingga terjadi fase ovulasi. Fase ovulasi berlangsung selama sekitar 16 hingga 32 jam. Fase luteal kemudian terjadi setelah ovulasi dan berlangsung selama sekitar 14 hari apabila tidak terjadi fertilisasi. [3]

menstrual cycle

Menstruasi Ireguler

Terdapat beragam penyebab untuk terjadinya menstruasi ireguler, seperti ketidakseimbangan hormon, masalah pembekuan darah, hingga kanker. Dari semua penyebab ini, yang paling sering adalah ketidakseimbangan hormon yang berpotensi menyebabkan anovulasi. Masalah hormonal ini dapat disebabkan oleh beragam kondisi seperti sindrom ovarium polikistik hingga faktor-faktor lain seperti merokok, obesitas, dan stres. Walau demikian, telah diketahui juga bahwa mayoritas dari wanita muda yang mengalami menstruasi ireguler tetap berovulasi. [4-6]

Infertilitas adalah suatu kondisi dimana seorang pasangan tidak dapat mengandung setelah satu tahun berhubungan secara rutin. Seorang klinisi dapat memberikan bermacam obat pada pasien yang tidak menstruasi secara rutin, sehingga ovulasi dan menstruasi dapat menjadi lebih reguler. Apabila menstruasi tetap ireguler dan pasien masih ovulasi, terdapat banyak cara yang dapat dilakukan untuk mendeteksinya.[7]

Metode Mendeteksi Ovulasi

Terdapat beragam cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui kapan terjadinya ovulasi. Metode yang dapat dilakukan dalam mendeteksi ovulasi mencakup penggunaan ultrasonografi, deteksi hormon dalam serum ataupun urin, dan pengukuran suhu tubuh basal dan kekentalan mukus serviks, serta analisa ferning saliva. Perlu diketahui bahwa terdapat kelebihan dan kekurangan dalam masing-masing metode dan tidak semua dapat secara praktis dilakukan oleh wanita dalam praktik sehari-hari.[1]

Ultrasonografi Transvaginal

Ultrasonografi transvaginal adalah cara terbaik dan paling pasti untuk melihat ovulasi. Walau demikian, cara ini adalah invasif, mahal, dan sangat tidak praktis. Selain untuk melihat ovulasi, tindakan ini juga banyak dilakukan oleh ginekolog untuk mendiagnosa bermacam kondisi yang dapat berhubungan dengan infertilitas.[8]

Pengukuran Hormon

Terjadi perubahan pada tingkat hormon seorang yang sedang mengalami ovulasi. Berdasarkan literatur, kenaikan hormon luteinizing mendahului ovulasi selama 25-44 jam, dan tingkat tertinggi mendahuluinya selama 10-12 jam. Kenaikkan hormon luteinizing dapat diperiksa dalam serum dan secara lebih praktis dalam urin dengan alat-alat over the counter. Tingkat kehamilan adalah tertinggi apabila hubungan seksual dilakukan sekitar 2 hari sebelum ovulasi, dan oleh sebab itu penilaian kenaikan hormon luteinizing pada wanita yang ingin mengandung baik untuk dilakukan.

Seorang wanita dengan siklus menstruasi yang teratur dapat memeriksa kadar hormon luteinizing pada urin sekali atau dua kali dalam sehari pada hari ke 10 atau ke 11 siklusnya. Namun, kapan terjadi kenaikan hormon luteinizing pada wanita dengan siklus tidak teratur lebih sulit diprediksi, dan kenaikan hormon tersebut belum tentu diikuti dengan ovulasi. Sebuah penelitian menyatakan bahwa 46.8% dari kejadian kenaikan hormon luteinizing tidak diikuti oleh ovulasi pada wanita infertil dan 10.7% pada wanita fertil.

Selain memeriksa kadar hormon luteinizing pada urin, pemeriksaan hormon lain dalam menilai ovulasi juga dapat dilakukan. Pemeriksaan progesteron serum atau pregnanediol 3-glucoronide (PDG) yaitu metabolit progesteron tersebut dalam urin dapat diperiksa untuk mengonfirmasi ovulasi. Tingkat hormon follicle stimulating juga meningkat tertinggi pada jarak + 1 hari ovulasi pada 97% siklus menstruasi. Walau demikian, hingga saat ini tidak ada alat over-the-counter yang mampu memeriksa PDG pada urin ataupun hormon follicle stimulating.[1]

Metode Symptothermal

Pengukuran suhu tubuh basal dan penilaian mukus serviks sebagai metode kontrasepsi dikenal sebagai metode symptothermal. Terjadi kenaikan suhu tubuh sebanyak 0.2oC pada suhu tubuh basal pada waktu sekitar ovulasi. Kenaikan suhu yang terukur selama 3 hari adalah saat dimana wanita sedang masa subur. Walau demikian, banyak faktor yang dapat mempengaruhi suhu tubuh basal, termasuk demam, konsumsi alkohol, stres, gangguan tidur, perubahan suhu ruangan, dan waktu bangun. Metode ini pada umumnya dilakukan pada saat seorang pasangan tidak menginginkan bayi, namun juga sangat bisa dipakai menentukkan masa fertil.

Penggunaan suhu tubuh basal dalam menentukkan ovulasi tidak selalu mudah. Terdapat penelitian yang menyatakan bahwa waktu ovulasi yang ditentukan dengan pengukuran suhu tubuh basal hanya berkorelasi bersamaan dengan kenaikan hormon luteinizing + 1 hari sebanyak 17 dari 77 siklus (22.1%). Walau demikian, terdapat alat-alat pengukur suhu yang secara khusus mengidentifikasi waktu ovulasi.

Mukus serviks dapat mengalami variasi bentuk dalam satu siklus menstruasi. Pada masa sebelum ovulasi, mukus serviks banyak terdiri dari musin yang bekerja sebagai penghadang untuk sperma dan mikroorganisme. Pada saat ini mukus terlihat tebal dan kental. Pada saat masa sesudah ovulasi, oleh karena efek estrogen, produksi air aseluler meningkat dan sekresi musin menurun sehingga sperma dapat dengan mudah melewatinya. Kebanyakan wanita memiliki cairan vagina yang encer dan seperti putih telur mentah pada saat ini.

Mengobservasi kekentalan mukus serviks adalah cara termurah dalam mendeteksi ovulasi dan juga tergolong cukup baik. Beragam studi menyatakan ketepatan cara mendeteksi ovulasi dengan cara ini cocok dengan hasil ultrasonografi sebanyak 48.3%, 74.4%, dan 75.9%.

Metode symptothermal dapat dilakukan dengan cukup murah dan mudah oleh seorang wanita di rumah. [1,9]

Analisis Ferning Saliva

Pembentukan pola seperti akar ferning pada saliva saat ditaruh di mikroskop dapat ditemukan pada masa sebelum terjadinya ovulasi. Hal ini dikarenakan oleh level estrogen dan hormon adenokortikotropik yang meningkat sebelum ovulasi menstimulasi sekresi aldosteron yang meregulasi elektrolit dan status cairan dalam tubuh. FDA menyatakan bahwa suatu tes positif dapat mengindikasikan bahwa wanita tersebut sedang mendekati ovulasi, namun hasil yang negatif tidak cukup dapat diandalkan untuk kontrasepsi.[1]

Kesimpulan

Memprediksi ovulasi pada wanita dengan siklus menstruasi yang ireguler seringkali cukup sulit dilakukan. Klinisi awalnya sebaiknya menentukkan apakah wanita tersebut fertil dan memberikan terapi dalam upaya agar menstruasi kembali teratur. Walau demikian, banyak juga cara yang dapat dilakukan untuk menentukan saat terjadinya ovulasi. Ultrasonografi transvaginal merupakan cara terbaik dalam menentukkan ovulasi namun tidaklah praktis dan sebaiknya tidak dilakukan secara rutin. Cara lain yang dapat dilakukan adalah pengukuran hormon, metode symptothermal, dan analisis ferning saliva.

Referensi