Memprediksi Ovulasi pada Menstruasi Ireguler

Oleh :
dr. Michael Susanto

Kemampuan untuk memprediksi waktu ovulasi seorang wanita sangat penting, baik untuk merencanakan maupun mencegah kehamilan. Namun, hal ini cukup sulit dilakukan pada wanita dengan siklus menstruasi yang ireguler. Saat ini terdapat berbagai cara untuk memprediksi ovulasi pada menstruasi ireguler, di mana beberapa cara dinilai praktis tetapi ada yang sulit diterapkan.[1]

Siklus Menstruasi Normal

Rata-rata siklus menstruasi normal adalah 28 hari, dari hari pertama periode menstruasi ke hari pertama berikutnya. Lama/durasi menstruasi sekitar 3‒5 hari, tetapi durasi 1 hari hingga 8 hari dapat terjadi pada wanita normal. Sedangkan ovulasi selalu terjadi 14 hari sebelum menstruasi, sehingga ovulasi terjadi pada hari ke-14 setelah hari pertama menstruasi pada siklus rata-rata 28 hari.[2]

Siklus menstruasi diregulasi oleh hormon, yang dapat dibagi dalam 3 fase yaitu fase folikuler, ovulasi, dan luteal. Fase folikuler dimulai pada saat hari pertama menstruasi dan merupakan saat terbentuknya folikel pada ovarium. Fase ini berlangsung selama 13‒14 hari.[2,3]

Pada fase ovulasi, terjadi kenaikan luteinizing hormone (LH) yang menyebabkan folikel dominan ruptur dan mengeluarkan telur. Fase ovulasi berlangsung selama 16‒32 jam. Fase luteal terjadi setelah ovulasi dan berlangsung selama sekitar 14 hari, apabila tidak terjadi fertilisasi.[2,3]

Menstruasi Ireguler

Menstruasi ireguler adalah siklus menstruasi yang tidak teratur, atau jarak antara hari pertama ke hari pertama tidak sama setiap periode menstruasi. Banyak faktor sebagai penyebab menstruasi ireguler, di antaranya ketidakseimbangan hormon, masalah pembekuan darah, hingga kanker. Penyebab yang paling sering adalah ketidakseimbangan hormon, yang berpotensi menyebabkan anovulasi.[4-6]

Ketidakseimbangan Hormon

Masalah hormonal dapat disebabkan oleh beragam kondisi, seperti sindrom ovarium polikistik, merokok, obesitas, dan stres. Walau demikian, telah diketahui juga bahwa mayoritas dari wanita muda yang mengalami menstruasi ireguler tetap berovulasi.[4-6]

Metode Mendeteksi Ovulasi

Pada wanita dengan menstruasi yang ireguler dan masih ovulasi, terdapat banyak cara yang dapat dilakukan untuk mendeteksi kapan ovulasi terjadi. Beberapa metode adalah pemeriksaan ultrasonografi transvaginal, deteksi hormon dalam serum atau urin, pengukuran suhu tubuh basal dan kekentalan mukus serviks, serta analisa ferning saliva.[1]

Perlu diketahui bahwa terdapat kelebihan dan kekurangan dari masing-masing metode, dan tidak semua dapat secara praktis dilakukan oleh wanita dalam praktik sehari-hari.[1]

Ultrasonografi Transvaginal

Ultrasonografi transvaginal adalah cara terbaik dan paling pasti untuk melihat ovulasi. Namun, cara ini invasif, mahal, dan sangat tidak praktis. Selain untuk melihat ovulasi, tindakan ini juga banyak dilakukan oleh ginekolog untuk mendiagnosis kondisi yang berhubungan dengan infertilitas wanita.[1,7]

Luteinizing Hormone (LH)

Tingkat hormon akan berubah saat ovulasi terjadi. Kenaikan luteinizing hormone (LH) mendahului ovulasi selama 25‒44 jam, atau sekitar 1‒2 hari sebelum ovulasi. Tingkat LH tertinggi mendahului ovulasi selama 10‒12 jam. Kenaikkan LH ini dapat diperiksa dalam serum, atau dalam urin yang dapat dideteksi menggunakan alat over the counter (OTC) secara praktis.[1]

Tingkat kehamilan tertinggi adalah hubungan seksual yang dilakukan +2 hari sebelum ovulasi. Oleh karena itu, mendeteksi kenaikan LH baik untuk dilakukan oleh wanita yang ingin hamil. Pada wanita dengan siklus menstruasi teratur, LH pada urin dapat diperiksa sekali atau dua kali dalam sehari, pada hari ke-10 atau ke-11 siklus menstruasi.[1]

Sedangkan pada wanita dengan siklus ireguler, kenaikan LH juga tidak teratur sehingga sulit diprediksi kapan pemeriksaan sebaiknya dilakukan. Selain itu, kenaikan hormon tersebut belum tentu diikuti dengan ovulasi. Sebuah penelitian menyatakan bahwa 46,8% dari kejadian kenaikan LH tidak diikuti oleh ovulasi pada wanita infertil, dan 10,7% pada wanita fertil.[1]

Hormon Progesteron

Korpus luteum mensekresikan progesteron, sehingga serum progesteron atau metabolitnya dalam urin dapat diukur untuk mengonfirmasi ovulasi. Tingkat progesteron serum tunggal pada fase mid-luteal telah digunakan untuk mendeteksi ovulasi, sedangkan kadar pregnanediol 3-glucuronide (PDG) dalam urin selama 3 hari berturut-turut dapat digunakan sebagai konfirmasi positif ovulasi.[1]

PDG adalah  metabolit progesteron dalam urin. Namun, alat OTC untuk pemeriksaan PDG dalam urin belum tersedia.[1]

Follicle Stimulating Hormone (FSH)

Puncak tertinggi follicle stimulating hormone (FSH) terjadi pada 1 hari setelah folikel kolaps, atau terjadi ovulasi. Studi lebih lanjut terkait pemeriksaan FSH untuk mendeteksi ovulasi belum ada.[1]

Suhu Tubuh Basal

Pada waktu sekitar ovulasi, suhu tubuh naik sebanyak 0,2 derajat celcius dari suhu tubuh basal. Kenaikan suhu yang terukur selama 3 hari adalah saat wanita sedang masa subur.[1]

Mekanisme kenaikan suhu tubuh basal adalah progesteron yang bekerja pada hipotalamus, sehingga fase luteal dikaitkan dengan peningkatan perasaan hangat dan berkeringat. Progesteron yang menurun jika tidak terjadi kehamilan, akan menurunkan suhu tubuh basal. Sebaliknya, suhu tubuh basal yang tidak kembali ke baseline bisa menjadi indikasi awal kehamilan.[9]

Namun, banyak faktor yang dapat mempengaruhi suhu tubuh basal, termasuk demam, konsumsi alkohol, stres, gangguan tidur, perubahan suhu ruangan, dan waktu bangun. Oleh karena itu, penggunaan suhu tubuh basal dalam menentukkan ovulasi tidak selalu mudah.[1,9]

Mukus Serviks

Mukus serviks dapat mengalami variasi bentuk dalam satu siklus menstruasi. Sebelum ovulasi, mukus serviks banyak terdiri dari musin yang tebal dan kental, untuk menghalangi mikroorganisme. Sesudah ovulasi, hormon estrogen akan meningkatkan produksi air aseluler dan menurunkan sekresi musin, sehingga sperma dapat dengan mudah melewatinya.[1,10]

Oleh karena itu, ovulasi dapat ditandai dengan cairan vagina yang encer seperti putih telur mentah. Mengobservasi kekentalan mukus serviks adalah cara termurah dalam mendeteksi ovulasi, dan juga tergolong cukup baik.[1,10]

Pengukuran suhu tubuh basal dan penilaian mukus serviks sebagai metode kontrasepsi dikenal sebagai metode symptothermal. Metode ini dapat dilakukan dengan cukup murah dan mudah oleh seorang wanita di rumah.[1,8]

Analisis Ferning Saliva

Pada fase sebelum ovulasi, saliva yang ditaruh di mikroskop akan membentuk pola seperti akar ferning. Hal ini karena level hormon estrogen dan adrenokortikotropik yang meningkat sebelum ovulasi akan menstimulasi sekresi aldosteron, yang berfungsi  meregulasi elektrolit dan cairan dalam tubuh.[1]

Hasil positif tes Ferning saliva dapat mengindikasikan seorang wanita sedang mendekati ovulasi, tetapi hasil negatif tidak cukup dapat diandalkan untuk metode kontrasepsi.[1]

Pengembangan Alat Otomatis Mendeteksi Ovulasi

Terdapat berbagai studi pengembangan alat untuk mendeteksi ovulasi, yang akan bermanfaat untuk wanita dengan siklus menstruasi iregular. Alat yang dikembangkan umumnya menggunakan prinsip pengukuran suhu tubuh basal dan pH mukus serviks.[10,11]

Suatu alat yang dapat mengukur suhu tubuh basal dan pH secara simultan telah diujicobakan pada 20 wanita. Alat ini dapat terkoneksi pada smartphone atau e-health. Kesimpulan uji coba terhadap versi terakhir alat ini menampilkan periode kesuburan jika pH 7 dan suhu tubuh basal <36,5°C.[10]

Studi lain melibatkan 16 wanita muda untuk mengetahui peningkatan suhu basal tubuh dengan menggunakan wristband. Perangkat bodymedia sensewear (BMSW) ternyata saat ini belum dapat mendeteksi perubahan suhu tubuh basal ke atas. Oleh karena itu, masih dibutuhkan penelitian untuk mendapatkan alat memantau ovulasi yang sederhana, mandiri, dan murah.[11]

Kesimpulan

Memprediksi ovulasi pada wanita dengan siklus menstruasi yang ireguler seringkali sulit dilakukan. Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menentukan saat terjadinya ovulasi. Ultrasonografi transvaginal merupakan cara terbaik dalam menentukkan ovulasi, tetapi pemeriksaan ini tidak praktis dan tidak dapat dilakukan secara rutin. Cara lain yang lebih praktis adalah pengukuran hormon luteinizing dalam urin, metode symptothermal (peningkatan suhu tubuh basal dan perubahan mukus serviks), dan analisis ferning saliva. Saat ini, pengukuran hormon luteinizing dalam urin tersedia over the counter (OTC) yang dapat digunakan secara praktis dan mandiri di rumah.

 

 

 

Direvisi oleh: dr. Hudiyati Agustini

Referensi