Perbedaan IVF dan IUI

Oleh dr. Nathania S.

Penanganan infertilitas dapat dilakukan dengan teknik in vitro fertilization (IVF) dan intra uterine insemination (IUI). Penting bagi dokter untuk mengetahui perbedaan keduanya dan pertimbangan dalam menentukan teknik mana yang tepat digunakan pada pasien.

Infertilitas adalah penyakit pada sistem reproduksi yang didefinisikan dengan adanya kegagalan untuk menjadi hamil setelah minimal 12 bulan pada hubungan seksual yang rutin tanpa pengaman. Menurut data dari WHO, satu dari empat wanita di negara berkembang memiliki kesulitan dalam mempunyai anak meskipun sudah mencoba untuk hamil selama 5 tahun. 

IVF dengan intracytoplasmic sperm injection Sumber: Openi, 2014 IVF dengan intracytoplasmic sperm injection Sumber: Openi, 2014

Pemilihan metode untuk membantu mendapatkan kehamilan dapat dibedakan menjadi 3 kelompok besar, yaitu: obat-obatan, pembedahan dan teknologi reproduksi berbantu[1]. Teknologi reproduksi berbantu ini ada beberapa macam, di antaranya adalah[2]:

  • IVF (in vitro fertilization) adalah teknik yang mempertemukan sel sperma dan sel telur di luar tubuh manusia, atau disebut in vitro. Produksi ovum akan ditingkatkan dengan obat-obatan dan proses produksi ini dievaluasi menggunakan ultrasound. Sel telur yang sudah matang kemudian diambil dengan jarum khusus dan dibawa keluar tubuh untuk dibuahi dengan sperma. Setelah pembuahan terjadi in vitro, hasil konsepsi ini dimasukkan kembali ke rahim agar dapat berkembang. Prosedur dilakukannya IVF terbagi menjadi 2 yaitu:

    • IVF murni
    • IVF dengan intracytoplasmic sperm injection (ICSI)

  • IUI (intra-uterine insemination) atau inseminasi buatan adalah teknik dimana sperma yang telah dipersiapkan, dimasukkan secara langsung ke dalam rahim di saat ovarium diperkirakan sedang pembuahan (baik dengan atau tanpa obat untuk stimulasi ovulasi).

Faktor infertilitas

Pemilihan pengobatan atau pembedahan atau teknologi reproduksi berbantu sebagai jalan keluar infertilitas didasarkan pada penyebab dari infertilitas itu sendiri. Berikut beberapa penyebab dari infertilitas beserta pemilihan tatalaksananya:

  • Faktor pria (sperma): perlu dilakukan analisis sperma

    • Bila konsentrasi di bawah 20 juta/mL dan motilitas masih baik (tes swim up extraction > 1 juta/sperma motil), dapat dilakukan IUI

    • Bila jumlah hitung sperma rendah atau motilitasnya buruk, dapat dilakukan IVF dengan ICSI.

  • Faktor wanita:

    • Disfungsi ovulasi

      • Kemungkinan penyakit yang menyebabkan disfungsi ovulasi antara lain polycystic ovarian syndrome (PCOS), penyakit Cushing, obesitas dan anovulasi kronis

      • Clomiphene citrate (CC) dapat dipertimbangkan sebagai obat yang menginduksi ovulasi. Pemberian CC lebih dari 3 siklus tanpa terjadinya kehamilan, maka perlu dipertimbangkan penyebab dari infertilitas
      • Pemberian CC perlu dipertimbangkan efek sampingnya, yaitu penipisan endometrium. Bila endometrium lebih kecil dari 7 – 8 mm, maka keberhasilan untuk hamil dari IVF juga menurun
      • Induksi ovulasi dengan follicle stimulating hormone (FSH) eksogen sampai 1 – 2 folikel dominan berkembang sampai ukuran yang cukup, teknik IUI dapat dilakukan.

    • Gangguan tuba

      • IVF menjadi pilihan, terutama bila kedua tuba terjadi gangguan, karena perjalanan ovum dari ovarium akan terganggu

    • Faktor serviks

      • Kemungkinan karena antibodi anti-sperma pada leher rahim sehingga sperma tidak bisa masuk ke rahim
      • IUI menjadi pilihan

    • Faktor uterus

      • Operasi menjadi pertimbangan (contoh: miomektomi pada mioma uteri)

    • Gangguan endokrin

      • CC dan progesteron sediaan supositoria vagina dapat dipertimbangkan

  • Faktor yang tidak dapat dijelaskan, atau di luar faktor-faktor di atas. Hasil keberhasilan teknologi reproduksi berbantu untuk faktor ini dijabarkan pada tabel 1.

Tabel 1. Keberhasilan prosedur pada faktor infertilitas yang tidak dapat dijelaskan

Prosedur Keberhasilan kehamilan (%)
Tanpa bantuan 1.3 – 4.1
IUI 3.8
CC + koitus terencana 5.6
CC + IUI 10
Gonadotropin + koitus terencana 7.7
Gonadotropin + IUI 17.1
IVF 35 – 50

IUI

IUI direkomendasikan untuk dilakukan pada kondisi-kondisi sebagai berikut:

  • Pertimbangan pada wanita yang sulit melakukan hubungan seksual melalui vagina karena pertimbangan tertentu (contoh: gangguan psikoseksual atau disabilitas fisik)
  • Pertimbangan kesehatan (contoh: setelah sperma dibersihkan dari HIV pada pria dengan HIV-positif)
  • Pertimbangan pada pasangan atau wanita dengan pemahaman sosial, budaya dan agama yang tidak menerima IVF.

IUI tidak direkomendasikan pada kondisi:

  • Infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya
  • Sperma yang jumlahnya sedikit atau kualitas yang buruk
  • Endometriosis

Dalam kondisi-kondisi ini, pasangan tetap dianjurkan untuk melakukan hubungan seksual tanpa pengaman selama total 2 tahun dan bila tidak berhasil, maka disarankan untuk IVF. Kecuali pada kondisi-kondisi lain (contoh: usia wanita di atas 36 tahun), dapat langsung disarankan untuk IVF.

IVF

Indikasi IVF antara lain:

  • Kegagalan konsepsi setelah:

    • 24 bulan melakukan hubungan seksual tanpa pengaman (expectant management)

    • Terapi induksi ovulasi
    • Pengobatan pada pria
    • Pengobatan untuk endometriosis
    • IUI 6 siklus
    • Pengobatan penyakit tuba

  • Penyakit tuba yang sudah parah
  • Infertilitas akibat faktor dari pria yang sudah parah (IVF + ICSI)
  • Kegagalan spermatogenesis akibat pengobatan kanker dimana semen yang telah melalui cryopreservation gagal konsepsi melalui IUI

  • Kegagalan ovarium akibat pengobatan kanker dimana ovum atau embrio telah melalui cryopreservation

  • Penggunaan oosit dari donor

Indikasi ICSI sebagai tambahan pada IVF antara lain:

  • Jumlah sperma yang sedikit atau kualitas yang buruk
  • Tidak adanya sperma pada semen (sperma akan diambil melalui proses operasi dari dalam testis)
  • Kegagalan pada IVF

Telah disebutkan sebelumnya bahwa IVF memiliki angka kesuksesan yang lebih tinggi dibandingkan dengan IUI. Keuntungan IUI dibandingkan dengan IVF adalah IUI lebih tidak invasif dan lebih murah. Walau demikian, sebuah studi yang membandingkan IVF dan IUI pada infertilitas dengan sebab yang tidak jelas atau faktor dari pria yang ringan dari segi biaya menyimpulkan bahwa IUI lebih tidak efektif biaya dibandingkan dengan IVF bila mempertimbangkan tingginya kemungkinan kegagalan IUI.

Kesimpulannya, pemilihan teknologi reproduksi berbantu harus disesuaikan dengan penyebab dari infertilitas itu sendiri agar lebih efektif. Masih banyak perdebatan pada infertilitas tanpa penyebab yang jelas, apakah IUI atau IVF yang menjadi lini pertama. NICE Guideline dari Inggris merekomendasikan untuk dilakukan usaha tanpa intervensi medis yaitu hubungan seksual yang rutin tanpa pengaman selama 2 tahun (kecuali ada pertimbangan lain, contoh: usia wanita), kemudian bisa dipertimbangkan untuk IUI selama 6 siklus. Bila gagal, dipertimbangkan untuk dilakukan IVF. Meski demikian, menurut efektivitas biaya, karena IUI angka keberhasilannya lebih kecil, disarankan pada pasangan yang penyebab infertilitasnya tidak diketahui pasti untuk langsung melakukan IVF. Pertimbangan lainnya untuk tidak dilakukan IVF sebagai lini pertama salah satunya adalah masalah etika dan embrio yang dibekukan.

Referensi