Faringitis Akut – Panduan E-Prescription Alomedika

Oleh :
dr. Ghifara Huda, SE

Panduan e-prescription pada faringitis akut ini dapat digunakan oleh dokter umum sebagai panduan medis pada saat akan memberikan terapi medikamentosa secara online.

Faringitis adalah peradangan atau iritasi pada posterior orofaring. Sebagian besar dari kasus disebabkan oleh  faktor non-infeksi seperti alergi hingga refluks asam lambung atau infeksi virus dan jamur.[1] Pada beberapa kasus, faringitis dapat disebabkan oleh bakteri. Penyebab tersering faringitis bakterial adalah Streptococcus beta-hemoliticus.[2]

Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala pada faringitis seringkali sulit dibedakan antara penyebab virus atau bakteri.  Gejala yang ditemukan adalah nyeri tenggorokan, demam, batuk kering maupun berdahak serta pilek.[3] Faringitis tanpa komplikasi biasanya self-limited dalam jangka waktu 5 – 7 hati, tidak progresif, bilateral, tanpa trismus dan tidak adanya obstruksi jalan napas (stridor).[2]

Faringitis sering ditemukan pada populasi pediatrik dan biasanya disebabkan oleh infeksi Streptococcus beta-hemoliticus. Sedangkan faringitis bakterial sering ditemukan pada pasien usia 5 -15 tahun.[4]

Tabel 1. Membedakan Faringitis Virus dan Bakterial

Faringitis Virus Faringitis Bakterial

●       Demam

●       Batuk

●       Rhinorrhea

●       Konjungtivitis

●       Nyeri kepala

●       Rash

 

●       Demam tinggi

●       Eksudat tonsil

●       Adenopati servikal

●       Nyeri kepala

●       Muntah

●       Adanya riwayat faringitis gonokokus atau demam reumatik

Sumber: dr. Huda, 2020[2,4]

Peringatan

Lakukan pemeriksaan diagnostik seperti rapid antigen test for group A Streptococcus (GAS) dan pikirkan pemeriksaan kultur swab tenggorok untuk mencari etiologic GAS, Gonococcus atau chlamydia bila curiga adanya faringitis bakterial. [5]

Faringitis bakterial perlu diwaspadai karena komplikasi yang serius seperti:

  • Abses peritonsiler
  • Glomerulonefritis akut
  • Toxic shock syndrome[1,6]

Berdasarkan konsensus di Italia mengenai manajemen faringitis akut pada anak, merekomendasikan beberapa hal, yaitu:

  • Antibiotik hanya diberikan jika infeksi streptokokus sudah dikonfirmasi dengan pemeriksaan mikrobiologi
  • Jangka waktu pemberian antibiotik tidak boleh diperpendek
  • Steroid tidak dianjurkan karena adanya kemungkinan menutupi gejala berat
  • Pemberian profilaksis antibiotik diberikan pada kasus untuk mencegah demam reumatik[5,7]

Perhatian pada pemberian medikamentosa adalah:

  1. Pemberian obat golongan fluorokuinolon (seperti ciprofloxacin) pada penanganan faringitis bakterial sebaiknya tidak diberikan pada anak anak karena akan menyebabkan resiko terjadinya gangguan perkembangan tulang dan sendi.
  2. Pemberian obat sefalosporin golongan ke 3 seperti ceftriaxone tidak disarankan pada kasus faringitis bakterial yang terjadi pada bayi dengan usia kurang dari 28 hari. Karena dapat menimbulkan gangguan hemostasis seperti: trombositopenia, anemia hemolitik dan agranulositosis.[8-10]

Medikamentosa

Faringitis merupakan kondisi self-limiting dan biasanya membaik setelah 2 minggu. Pemberian antibiotik profilaksis diberikan untuk mencegah demam reumatik.[5,6]

Pediatrik

Tata laksana simptomatik faringitis pada anak:

  • Istirahat
  • Kumur dengan cairan saline
  • Paracetamol: 10 – 15 mg/kg per pemberian. Maksimum 4 kali per hari[6]

Pastikan hasil tes mikrobiologi positif infeksi Streptococcus beta hemoliticus sebelum memberikan antibiotik pada faringitis bakterial.

Terapi Lini Pertama:

  • Amoxicillin 50 mg/kg/hari terbagi dalam 2-3 dosis selama 10 hari
  • Penicillin benzathine: 600.000 IU (anak < 27 kg); 1.200.000 IU (anak > 27 kg) dosis tunggal secara[6,7]

Terapi Lini Kedua:

  • Sefalosporin generasi 2 seperti cefuroxime axetil 20 – 30 mg/kg/hari terbagi dalam 2 dosis selama 5 hari
  • Cefprozil 15 – 30 mf/kg/hari terbagi dalam 2 dosis selama 5 hari[7]

Dewasa

Terapi faringitis pada dewasa dibedakan sesuai dengan penyebab dari faringitis.

Faringitis Virus:

Dapat diberikan obat seperti berikut:

  • Bedrest total
  • Methisoprinol (isoprinosine): 60 hingga 100 mg/kgBB dibagi dalam 4 hingga 6 kali pemberian perhari.
  • Lozenges: 1 tablet lozenges tiap 2 – 3 jam hingga maksimum 12 tablet dalam 24 jam
  • Analgesik dan antipiretik: paracetamol 3 x 500 mg/24 jam (maksimum 8[1,2,5, 11-13]

Faringitis Bakterial:

Pilih salah satu obat antibiotik dibawah ini pada faringitis bakterial dikarenakan bakteri Streptococcus beta hemoliticus:

  • Penicillin G Benzathin dosis 50.000/U/kgBB/IM dosis tunggal
  • Amoxicillin 3 x 500 mg selama 6 hingga 10 hari

  • Pada pasien dengan alergi penicillin berikan Eritromisin dengan dosis 4 x 500 mg /hari selama 3 hari[6]

Faringitis Jamur:

Dapat diberikan obat sebagai berikut:

  • Nystatin dengan dosis 100.000 – 400.000 selama 2 kali/hari 7 - 14 hari[6]

Faringitis Gonorrhea/Chlamydia:

  • Ceftriaxone 2 gram injeksi Intramuskular dosis tunggal.[6]

Pilihan terapi pada ibu hamil dan menyusui

Amoksisilin pada ibu hamil dan menyusui dengan faringitis bakterial (kategori FDA :B)  pada penelitian praklinis obat ini aman dan tidak didapatkan adanya resiko pada janin, serta pada ibu menyusui diekskresikan minimal.[14,15]

Isoprinosine pada ibu hamil dengan faringitis virus (kategori FDA : C) dimana pada studi preklinis ditemukan adanya efek samping pada janin, pemberian obat ini harus melalui pertimbangan keuntungan dan potensi timbulnya resiko pada janin.[16]

Referensi