Tinjauan Ulang Manfaat Statin sebagai Prevensi Primer Penyakit Kardiovaskuler

Oleh dr. Hunied Kautsar

Statin adalah obat yang umum dipakai untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah sehingga diharapkan dapat mencegah terjadinya penyakit kardiovaskular, baik sebagai prevensi primer maupun prevensi sekunder. Walau demikian, risiko efek samping yang signifikan membuat efektivitas penggunaannya, khususnya untuk prevensi primer, dipertanyakan.

Sumber: jk1991, Freedigitalphotos, 2015. Sumber: jk1991, Freedigitalphotos, 2015.

Pedoman Penggunaan Statin

Berdasarkan panduan terbaru yang dikeluarkan oleh American College of Cardiology/American Heart Association (ACC/AHA) mengenai manajemen kolesterol dan penggunaan statin [1], ada empat kelompok yang menjadi fokus, yakni:

  • Individu dengan atherosclerotic cardiovascular disease klinis
  • Individu dengan nilai LDL-C ≥ 190 mg/dL
  • Individu dengan diabetes melitus usia 40-75 tahun, dengan nilai LDL-C 70-189 mg/dL tanpa atherosclerotic cardiovascular disease klinis
  • Individu usia 40-75 tahun, nilai LDL-C 70-189 mg/dL, tanpa atherosclerotic cardiovascular disease namun memiliki resiko penyakit kardiovaskuler (CVD) dalam 10 tahun ke depan sebesar ≥7,5% (resiko dihitung dengan heart disease risk calculator yang dikeluarkan oleh ACA/AHA)

Kadar Kolesterol dan Penyakit Kardiovaskular

  • Penelitian membuktikan bahwa kadar kolesterol dalam darah berasosiasi dengan terjadinya penyakit kardiovaskular
  • Namun, harus disadari bahwa asosiasi tidak sama dengan penyebab. Belum ada penelitian yang menyatakan bahwa kadar kolesterol dalam darah adalah penyebab penyakit kardiovaskular
  • Berdasarkan penelitian, kadar kolesterol dalam darah orang dengan penyakit kardiovaskular dengan orang yang tidak mempunyai penyakit kardiovaskular beririsan kecuali pada orang dengan total kolesterol di atas 380 mg/dL atau di bawah 150 mg/dL[2]

  • Jika menggunakan heart risk calculator yang dikeluarkan oleh ACA/AHA, banyak faktor selain kadar kolesterol yang akan menentukan poin resiko CVD dalam 10 tahun ke depan[3]

  • Oleh karena itu tidak tepat jika penurunan kadar kolesterol dalam darah dijadikan alasan utama untuk pencegahan penyakit kardiovaskular

Efektivitas Statin

  • Jika target jangka panjangnya adalah pencegahan terjadinya penyakit kardiovaskular maka efektivitas statin seharusnya tidak hanya dilihat dari keberhasilan dalam menurunkan kadar kolesterol namun dari mortality rate kasus kardiovaskular
  • Metaanalisis yang diadakan oleh Cochrane terhadap 18 cholesterol-lowering trial (sebagian memakai statin) tidak membuktikan adanya penurunan mortality rate. [4] Metaanalisis lain dari 11 penelitian tentang statin untuk high risk prevensi primer juga tidak menunjukkan adanya manfaat dari penggunaan statin terhadap mortalitas.[5]

Efek Samping dari Konsumsi Statin

  • Hasil survey terbesar mengenai statin yang diadakan oleh National Lipid Association menyatakan bahwa sekitar 30% dari pasien mengalami sakit otot dan merasa lemas serta 57% dari pasien berhenti mengkonsumsi statin karena merasakan efek samping[6]

  • Hampir 75% dari pasien lanjut usia yang termasuk dalam kategori prevensi primer menghentikan konsumsi statin dalam dua tahun pertama[7]

  • Salah satu efek samping dari konsumsi statin yang jarang terjadi namun fatal adalah rhabdomiolisis
  • Berdasarkan penelitian, rhabdomiolisis yang dipicu oleh konsumsi statin lebih banyak terjadi pada pria dengan usia di atas 45 tahun
  • Rhabdomiolisis paling banyak ditemukan pada pasien yang mengkonsumsi simvastatin (40 mg/hari) atau atorvastatin (10 mg/hari) dan juga mengkonsumsi obat lain seperti fibrat, anti jamur, makrolid, dan fusidic acid
  • Fibrat biasanya diresepkan bersamaan dengan statin untuk menurunkan kadar trigliserida dan kolesterol
  • Fusidic acid biasanya diresepkan bersamaan dengan statin pada pasien usia lanjut karena adanya peningkatan prevalensi dari infeksi Staphylococcus aureus yang resistan terhadap metisilin
  • Obat-obatan seperti fibrat, anti jamur, makrolid, dan asam fusidat menganggu metabolisme statin dan menyebabkan statin menjadi toksik sehingga meningkatkan resiko terjadinya rhabdomiolisis[8]

  • Usia lanjut, fisik yang lemah, penyakit multisistem, polifarmasi, hipothiroidisme, gangguan fungsi hati dan gangguan fungsi ginjal menjadi faktor predisposisi dari terjadinya rhabdomiolisis yang dipicu oleh konsumsi statin (statin-induced rhabdomiolisis)
  • Pasien dengan faktor predisposisi seperti disebutkan di atas sebaiknya dipantau lebih ketat ketika mengkonsumsi statin, perhatikan tanda-tanda miopati seperti nyeri otot atau lemas yang berkepanjangan
  • Gejala dari statin-induced rhabdomiolisis dapat muncul kapan saja setelah konsumsi statin
  • Gejala rhabdomiolisis dapat hilang setelah konsumsi statin dihentikan (antara 7 hari-6 bulan setelah konsumsi statin dihentikan)

Pencegahan Rhabdomiolisis Pada Pasien yang Mengkonsumsi Statin

  • Identifikasi gejala nyeri otot yang pernah/sedang dialami (nyeri otot, rasa lemas atau kaku) untuk menciptakan basis sebelum memulai terapi statin.
  • Timbulnya mialgia, walaupun tidak parah, jika disertai dengan kegagalan fungsi ginjal dan kegagalan hati merupakan tanda dari rhabdomiolisis.
  • Jika timbul gejala nyeri otot ringan sampai sedang ketika pasien sedang mengkonsumsi statin, maka hentikan konsumsi statin dan evaluasi faktor lain yang dapat meningkatkan resiko terjadinya nyeri otot (hipotiroidisme, berkurangnya kualitas fungsi hati, kelainan reumatologi, defisiensi vitamin D atau penyakit otot lain).
  • Jika timbul nyeri otot hebat atau lemas yang berkepanjangan ketika pasien sedang mengkonsumsi statin, maka hentikan konsumsi statin dan identifikasi adanya kemungkinan rhabdomiolisis dengan mengevaluasi kadar creatinine kinase activity (CK), kreatinin, dan analisis urin untuk mioglobinuria. [9]

  • Jika nyeri otot mereda dan tidak ada kontraindikasi maka lanjutkan terapi statin dengan memberikan jenis statin yang sama dengan dosis yang sama atau lebih rendah untuk membuktikan bahwa statin adalah pemicu nyeri otot.
  • Jika terbukti statin tersebut adalah pemicu nyeri otot maka hentikan konsumsi statin. Ketika nyeri otot mereda, berikan statin jenis lain dalam dosis rendah. Jika statin dapat ditoleransi maka tingkatkan dosis statin secara perlahan.

Efek Tidak Langsung dari Konsumsi Statin

  • Pasien menganggap bahwa dengan mengkonsumsi statin mereka dapat memakan apa saja yang mereka mau dan tidak perlu menjaga gaya hidup dan pola makan karena sudah "dilindungi" oleh statin.[10]

Penggunaan Statin Bagi Pasien Usia Lanjut

  • Pedoman terapi statin bagi pasien di atas 75 tahun masih sangat terbatas.
  • Penelitian mengenai efektivitas dan efek samping dari terapi statin pada umumnya tidak mencakup pasien di atas usia 75 tahun.
  • Pasien di atas usia 75 tahun memiliki resiko penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi dan juga rentan terhadap efek samping dari terapi statin yang disebabkan oleh interaksi obat karena kebanyakan dari pasien di atas 75 tahun juga mengkonsumsi obat-obatan lain
  • Keputusan dari inisiasi terapi statin pada pasien di atas usia 75 tahun harus mempertimbangkan segala aspek seperti kualitas hidup, faktor predisposisi, dan kemungkinan efek samping, tidak hanya semata-mata dari nilai kadar kolesterol
  • Gaya hidup sehat dan pola makan seimbang tetap menjadi fondasi utama dari prevensi primer penyakit kardiovaskular

Alternatif Untuk Menurunkan Kadar Kolesterol

  • Pedoman yang dikeluarkan oleh ACA/AHA menekankan pentingnya aktivitas fisik secara reguler dan pola makan sehat untuk menurunkan kolesterol
  • Menjaga berat badan ideal dan menghentikan konsumsi tembakau juga penting untuk dilakukan
  • Salah satu pola makan yang telah terbukti dapat menurunkan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular adalah diet Mediterania
  • Diet Mediterania menekankan konsumsi buah-buahan, sayur-sayuran dan kacang-kacangan dalam jumlah banyak, mengganti garam dengan rempah-rempah untuk membumbui makanan, mengganti mentega dengan olive oil, membatasi konsumsi daging merah dalam satu bulan dan menggantinya dengan ikan serta ayam
  • Diet Mediterania terbukti dapat mengubah coagulation cascade yang menyebabkan pembentukan plak aterosklerotik[11]

  • Diet Mediterania juga dapat mengubah ekspresi dari gen aterogenik [12] di mana statin tidak bisa menghasilkan efek yang sama[13]

  • Selain itu, diet Mediterania juga dapat mengurangi resiko penyakit diabetes di mana diabetes merupakan salah satu resiko terjadinya kasus kardiovaskular. Pasien diabetes biasanya memiliki level kolesterol dalam batas normal[14]

Referensi