Untung Rugi Penggunaan Acid Suppressant untuk Dyspepsia

Oleh dr. Alexandra Francesca

Obat penekan asam lambung (acid suppressant) adalah golongan yang sering digunakan pada praktik sehari-hari terutama untuk dyspepsia, namun tidak semua dokter mengetahui pertimbangan keuntungan dan kerugiannya. [1, 2] Sebuah studi menyatakan bahwa di Inggris, 14-18% anggaran obat pada pelayanan primer dialokasikan untuk acid suppressant, yang artinya acid suppressant juga merupakan kategori obat dengan alokasi anggaran terbesar di Inggris. Contoh acid suppressant yang sering digunakan adalah golongan proton pump inhibitor seperti omeprazole dan golongan histamine-2 receptor antagonist seperti ranitidin. [3]

Penyakit dyspepsia merupakan diagnosis yang seringkali dijadikan dasar penggunaan acid suppressant pada layanan kesehatan primer. Namun, penggunaannya pada kasus dyspepsia yang belum terinvestigasi atau dyspepsia fungsional dalam jangka lama masih menjadi perdebatan.[4]

Sebagian besar pasien dyspepsia di layanan primer ditangani tanpa endoskopi. Endoskopi biasanya hanya dilakukan jika pasien memiliki gejala yang persisten dan berulang.[4] Padahal, sebuah studi mengungkapkan bahwa 30% dari pasien yang mengeluhkan gejala dyspepsia ditemukan memang memiliki kelainan struktural pada lambungnya. [5]

stomach juice

Rasionalitas Penggunaan Acid Suppressant

Terapi acid suppressant sebagai terapi empiris untuk dyspepsia belum terinvestigasi atau dyspepsia fungsional pada dasarnya dinilai baik dilakukan karena memiliki hasil luaran (penyembuhan/perbaikan gejala) yang tidak berbeda dengan terapi pasca endoskopi, dan juga hanya memerlukan biaya yang cenderung lebih murah.

Hal ini ditunjukkan pada sebuah studi oleh Goulston, et al yang menemukan bahwa tidak ada perbedaan bermakna perbaikan gejala antara pasien yang diobati secara empiris dengan pasien yang diobati setelah diagnosis ulkus peptikum ditegakkan dengan endoskopi. [6]

Hasil tersebut didukung studi lain oleh Bitzer, et al di mana dilaporkan bahwa efek pengobatan dan perbaikan gejala setelah 1 tahun serupa antara terapi empiris dengan pemberian terapi menunggu endoskopi.[7]

Acid Suppressant yang Paling Efektif

Acid suppressant golongan proton pump inhibitor (PPI) dinilai lebih efektif dibandingkan supresan lain dalam mengobati gejala dyspepsia. Sebuah studi yang dilakukan oleh Meinecke-Schmidt et al melaporkan bahwa penggunaan omeprazole 20 mg dapat sepenuhnya mengobati gejala hanya dalam 2 minggu. Hal ini lebih efektif dibandingkan dengan ranitidin yang memerlukan 4 minggu. [8]

Hasil studi tersebut didukung oleh sebuah uji klinis yang membandingkan antara omeprazole, ranitidin, cisapride, dan plasebo dalam penatalaksanaan pasien dyspepsia yang tidak terinfeksi Helicobacter pylori. Pada studi ini digunakan omeprazole 20 mg sekali sehari, atau ranitidine 150 mg dua kali sehari, atau cisapride 20 mg dua kali sehari selama 4 minggu. Pada studi ini disimpulkan bahwa omeprazole lebih superior dalam mengurangi gejala dyspepsia dibandingkan dua obat lainnya. [9]

Risiko Penggunaan Acid Suppressant

Beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan acid suppressant membawa risiko tersendiri.

Risiko Fraktur

Sebuah studi kohort prospektif melaporkan bahwa terjadi peningkatan risiko fraktur pada pasien yang menggunakan acid suppressant. Pada pasien yang sedang mengkonsumsi acid suppressant, risiko fraktur meningkat 1,15 kali, lebih spesifiknya 1,22 kali untuk fraktur panggul dan 1,40 kali untuk fraktur vertebra. Mekanisme pasti yang menyebabkan peningkatan risiko ini masih belum jelas, namun diduga berkaitan dengan malabsorbsi kalsium yang diakibatkan oleh efek alkali acid suppressant. [10]

Risiko Adenokarsinoma Gastroesofageal

Penggunaan acid suppressant, terutama omeprazole dibandingkan dengan ranitidine, dalam jangka panjang dapat menyebabkan perubahan mukosa terutama pada fundus dan corpus gaster. [11] Namun demikian, perubahan mukosa ini juga diduga berkaitan dengan infeksi H. pylori dimana omeprazole dilaporkan tidak memperburuk gastritis pada pasien dengan status H.pylori negatif, namun menyebabkan atrofi dan metaplasia corpus/antrum gaster pada pasien dengan status H.pylori positif. [12]

Sebuah studi kasus kontrol melaporkan bahwa penggunaan acid suppressant jangka panjang berhubungan dengan peningkatan 5 kali lipat terhadap adenokarsinoma esofagus dan peningkatan 4 kali lipat terhadap adenokarsinoma gaster. Namun, pada studi ini terdapat bias karena subjek yang dipilih memang diberikan acid suppressant karena penyakit-penyakit yang bisa meningkatkan risiko adenokarsinoma saluran cerna, misalnya Barret’s esophagus dan ulkus peptikum. [13]

Risiko Pneumonia

Tinjauan sistematik dan meta analisis yang dipublikasikan pada tahun 2010 melaporkan bahwa penggunaan acid suppressant meningkatkan risiko terjadinya pneumonia. Risiko ini meningkat sebanyak 1,27 kali pada penggunaan PPI dan 1,22 kali pada penggunaan histamine-2 receptor antagonist. [14]

Risiko Gastroenteritis

PPI dinilai meningkatkan risiko gastroenteritis oleh Clostridium difficile sebanyak 70%, sementara histamine-2 receptor antagonist meningkatkan risiko gastroenteritis oleh Campylobacter sebanyak 4 kali lipat. Peneliti mengestimasi bahwa 1 dari 4 kasus gastroenteritis bakterial di komunitas disebabkan karena acid suppressant. [15]

Kesimpulan

Acid suppressant, seperti golongan proton pump inhibitor (omeprazole) dan histamine-2 receptor antagonist (ranitidin), merupakan obat yang sangat sering digunakan pada pasien dengan dyspepsia tidak terinvestigasi atau dyspepsia fungsional. Penggunaan golongan acid suppressant sebelum dilakukan endoskopi ini dilaporkan sama efektifnya dengan apabila diberikan pasca endoskopi. Acid suppressant yang dilaporkan paling efektif adalah golongan proton pump inhibitor. Namun, penggunaan acid suppressant juga dikaitkan dengan peningkatan risiko fraktur, atrofi maupun metaplasia gaster, peningkatan risiko adenokarsinoma gastroesofageal, pneumonia, dan gastroenteritis. Ada baiknya dilakukan skrining risiko sebelum penggunaan acid suppressant jangka panjang, misalnya investigasi adanya infeksi H.pylori ataupun pemeriksaan densitas tulang.

Referensi