Efikasi Prebiotik dan Probiotik untuk Dyspepsia Fungsional

Oleh :
dr. Eduward T, SpPD

Prebiotik dan probiotik telah banyak digunakan dalam tata laksana dyspepsia fungsional.[1] Hal ini karena patofisiologi dyspepsia fungsional diduga berhubungan dengan berbagai faktor, termasuk ketidakseimbangan flora intestinal, perubahan motilitas gastrointestinal, hipersensitivitas viseral, disregulasi aksis gut-brain, gangguan psikologis, inflamasi ringan, dan disfungsi imun.[2-5] Hingga kini, belum ada tata laksana definitif yang disarankan untuk dyspepsia fungsional. Penggunaan prebiotik dan probiotik untuk tujuan ini pun masih menjadi kontroversi.[1]

Sekilas Mengenai Prebiotik dan Probiotik

Menurut International Scientific Association of Probiotics and Prebiotics (ISAPP), dietary prebiotik didefinisikan sebagai bahan selektif yang akan mengalami fermentasi sehingga menghasilkan perubahan pada komposisi dan atau aktivitas dari mikrobiota gastrointestinal yang memberi manfaat pada kesehatan host.[1,6] Prebiotik bersifat resisten terhadap asam lambung, tidak terhidrolisis oleh enzim pencernaan host, dan tidak diabsorpsi oleh saluran pencernaan, namun mengalami fermentasi oleh mikrobiota intestinal. Jenis prebiotik terdiri dari fruktan seperti inulin dan frukto-oligosakarida atau oligofruktosa, galakto-oligosakarida, pati dan glucose-derived oligosaccharides seperti polidekstrosa, pectic oligosaccharide seperti pektin, dan nonkarbohidrat oligosakarida seperti cocoa-derived flavanols.[6]

Depositphotos_206942948_s-2019-min

 

Probiotik didefinisikan oleh Food and Agriculture Organization of the United Nations dan World Health Organization (FAO/WHO) sebagai mikroorganisme hidup yang mana jika diberikan dalam jumlah yang cukup akan memberi manfaat kesehatan kepada host.[1,7] Mikroorganisme probiotik pada dasarnya mengandung bakteri penghasil asam laktat seperti Bifidobacterium sp (adolescentis, animalis, bifidum, breve, dan longum) dan Lactobacillus sp (acidophilus, casei, fermentum, gasseri, johnsonii, paracasei, plantarum, rhamnosus, dan salivarius).[1,7,10]

Penggunaan probiotik dan prebiotik pada dyspepsia fungsional diasumsikan bermanfaat seperti pada irritable bowel syndrome, yaitu mampu mengurangi inflamasi ringan dan meningkatkan permeabilitas mukosa dengan mengurangi atau mengubah komposisi dari mikrobiota usus atau flora intestinal yang abnormal.[3,8,9]

Bukti Ilmiah Terkini Terkait Efikasi Prebiotik dan Probiotik untuk Dyspepsia Fungsional

Pada tahun 2019, Zhang et al melakukan tinjauan sistematik dan meta analisis yang memeriksa efikasi prebiotik dan probiotik untuk dyspepsia fungsional.  Mereka melakukan pencarian literatur medis pada basis data MEDLINE (dari tahun 1946 hingga 30 september 2018), EMBASE, EMBASE Classic (1947 hingga 30 september 2018), dan Cochrane central register of controlled trials. Kriteria inklusi hanya mengikutsertakan penelitian acak terkontrol placebo pada pasien dewasa (lebih dari 16 tahun) yang memeriksa efek prebiotik, probiotik, atau produk kombinasinya (synbiotic), dengan durasi terapi sekurang-kurangnya 7 hari, diagnosis dyspepsia fungsional ditegakkan melalui kriteria diagnostik, dan temuan negatif gangguan organik pada endoskopi gastrointestinal bagian atas.

Luaran primer yang diperiksa meliputi efek prebiotik, probiotik, atau kombinasinya (synbiotic) yang dibandingkan dengan placebo terhadap gejala dyspepsia fungsional. Luaran sekunder memeriksa kejadian merugikan yang ditimbulkan oleh intervensi di atas. Kumpulan data dikotomi dianalisis sebagai relative risk (RR) dengan tingkat kepercayaan 95% (95% CI), sedangkan data kontinyu dianalisis dengan standardized atau weighted mean difference. Tes I2 digunakan untuk mengevaluasi heterogenitas antar studi. Meta analisis menggunakan model random-effect atau fixed effect yang disesuaikan dengan hasil heterogenitas antar studi. Bias publikasi diperiksa dengan tes Egger.

Zhang et al mengidentifikasi 1062 sitasi yang terdiri dari 27 artikel yang relevan, namun yang memenuhi kriteria inklusi hanya 5 penelitian yang terdiri dari 4 penelitian probiotik dan 1 penelitian prebiotik. Tidak tersedia penelitian yang memeriksa produk kombinasi (synbiotic). 5 penelitian acak terkontrol tersebut mencakup 409 pasien (210 mendapat terapi aktif dan 199 mendapat placebo). Adapun probiotik yang digunakan meliputi Lactobacillus, Bifidobacterium, Streptococcus, Bacillus subtilis, dan Bacilllus lichenformis. Sedangkan prebiotik yang digunakan adalah Caraway Oil/L-Menthol.[1,11]

Hasil meta analisis mendapatkan RR 1,15 (95%CI 1,01-1,30) untuk perbaikan gejala dyspepsia fungsional dengan penggunaan probiotik atau prebiotik jika dibandingkan dengan placebo. Dengan kata lain, produk probiotik dan prebiotik tidak memberi manfaat signifikan secara statistik terhadap perbaikan gejala dyspepsia fungsional, meskipun hasil studi yang diikutkan dalam analisis menunjukkan adanya tren perbaikan gejala. Kelima studi yang dianalisis terdistribusi secara merata saat dikumpulkan untuk penilaian combined effect, mengindikasikan bahwa bias publikasi masing-masing studi cukup minim. Tidak ditemukan perbedaan kejadian merugikan di antara grup intervensi dengan placebo. Zhang et al tidak melakukan subanalisis untuk membandingkan efikasi produk probiotik jenis tertentu karena minimnya data.[1]

Kesimpulan

Produk probiotik dan prebiotik telah banyak dimanfaatkan pada praktik untuk tata laksana dyspepsia fungsional. Walaupun demikian, bukti ilmiah yang mendukung maupun tidak mendukung hal ini masih belum memadai. Sebuah meta analisis terbaru oleh Zhang et al tidak menunjukkan manfaat yang signifikan secara statistik terkait penggunaan prebiotik maupun probiotik dalam tata laksana dyspepsia fungsional. Oleh sebab itu, meskipun sudah tersedia luas di Indonesia, pemberian rutin produk prebiotik, probiotik, atau produk kombinasinya (synbiotic) belum dapat disarankan.

Referensi