Red Flag Dispepsia

Oleh :
dr. Audric Albertus

Red flag atau tanda bahaya dispepsia penting dikenali untuk membantu menentukan pasien mana yang memerlukan pemeriksaan lanjutan, utamanya dengan endoskopi. Meskipun dispepsia bisa disebabkan oleh etiologi nonorganik, kondisi ini juga bisa disebabkan oleh perdarahan saluran cerna ataupun keganasan. Beberapa red flag dispepsia adalah awitan baru pada pasien lansia, adanya massa, adanya anemia, dan muntah yang persisten.

Dispepsia merupakan salah satu kondisi yang paling sering ditemukan di fasilitas kesehatan primer. Dispepsia mengacu pada nyeri atau ketidaknyamanan epigastrik, yang dapat disertai keluhan seperti rasa kenyang dini, rasa penuh setelah makan, mulas dan regurgitasi. Dispepsia dapat disebabkan oleh penyebab nonorganik seperti stres psikologis. Namun, kondisi ini juga bisa disebabkan oleh kondisi lebih serius seperti ulkus peptikum dan keganasan.[1,2]

shutterstock_1846195573-min

Sekilas Tentang Etiologi Berbahaya Dispepsia

Dispepsia secara umum dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu dispepsia organik dan fungsional. Sekitar 40-75% kasus dispepsia merupakan kasus dispepsia fungsional yang membaik tanpa memerlukan investigasi lebih lanjut. Pada dispepsia organik, pasien baru akan merasakan perbaikan bila dilakukan penanganan pada etiologi yang mendasari. Beberapa etiologi berbahaya dapat menyebabkan dispepsia organik dan membutuhkan evaluasi lebih lanjut.[3]

Kanker Lambung

Risiko kanker lambung umumnya meningkat pada pasien dengan riwayat keganasan, riwayat tindakan bedah lambung, atau pasien dengan infeksi Helicobacter pylori. Apabila dispepsia disertai gejala penurunan berat badan, disfagia, perdarahan saluran cerna bagian atas, mual dan muntah persisten, atau teraba massa abdomen, etiologi kanker lambung perlu dipertimbangkan.[1,3]

Kanker Esofagus

Risiko kanker esofagus pada pasien dengan gejala dispepsia dilaporkan kurang dari 1%. Kanker esofagus ditemukan lebih sering terjadi pada pasien dengan jenis kelamin laki-laki, memiliki kebiasaan merokok, banyak mengonsumsi alkohol, dan memiliki riwayat heartburn jangka panjang.

Pasien kanker esofagus umumnya memiliki gejala disfagia, muntah persisten, dan penurunan berat badan. Walaupun jarang ditemukan, pasien kanker esofagus juga dapat memiliki gejala perdarahan saluran cerna bagian atas dan  massa abdomen yang teraba saat palpasi.[1,3]

Ulkus Peptikum

Ulkus peptikum dilaporkan terjadi pada 5-10% kasus dispepsia. Ulkus peptikum kronik umumnya berkaitan dengan infeksi H. pylori atau konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) jangka panjang. Pasien dispepsia yang disebabkan oleh ulkus peptikum akan mengeluhkan gejala perdarahan saluran cerna bagian atas, seperti melena atau hematemesis.[1,3]

Red Flag Dispepsia

Kecurigaan etiologi yang lebih serius pada pasien dengan dispepsia dapat dikenali dengan mengetahui red flag atau tanda bahaya. Pasien dengan kecurigaan etiologi serius perlu diprioritaskan untuk menjalani endoskopi.

Berikut ini merupakan beberapa red flag yang perlu dievaluasi pada pasien dispepsia:

  • Dispepsia awitan baru pada usia > 60 tahun
  • Perdarahan saluran cerna seperti melena atau hematemesis
  • Penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya
  • Muntah persisten
  • Massa abdomen atau epigastrik atau adenopati abnormal yang terpalpasi
  • Anemia defisiensi besi
  • Disfagia atau odinofagia progresif
  • Riwayat kanker saluran cerna bagian atas pada keluarga[1,4,5]

Manajemen Pasien dengan Red Flag Dispepsia

Pasien dispepsia dengan red flag atau tanda bahaya perlu menjalani investigasi lebih lanjut untuk mengevaluasi kemungkinan etiologi berbahaya. Evaluasi awal yang disarankan adalah dengan tindakan endoskopi.

Anamnesis

Anamnesis yang lengkap dan tepat dibutuhkan untuk mengevaluasi etiologi serius pada pasien. Pada pasien dispepsia dengan gejala penyerta penurunan berat badan dan disfagia, perlu dipikirkan etiologi keganasan seperti kanker lambung dan kanker esofagus. Riwayat penyakit dahulu, kehidupan sosial, dan riwayat keluarga pasien juga perlu dievaluasi untuk membantu klinisi dalam mengarahkan kemungkinan etiologi.[1,3]

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik menyeluruh diperlukan untuk mengevaluasi pasien dispepsia. Pasien dengan keadaan umum lemah dan tanda anemia perlu dicurigai mengalami anemia akibat perdarahan saluran cerna, defisiensi besi, atau penyakit kronik.

Pemeriksaan nodus limfa menyeluruh juga diperlukan untuk mengevaluasi kemungkinan keganasan. Adanya pembesaran nodus Virchow atau nodus limfa supraklavikula kiri, mengindikasikan adanya metastasis dari kanker lambung.

Pemeriksaan nyeri tekan, perabaan massa, dan organomegali juga diperlukan saat dokter melakukan pemeriksaan abdomen. Pemeriksaan rektal perlu dipertimbangkan jika pasien dicurigai mengalami perdarahan saluran cerna.[6,7]

Pemeriksaan Penunjang

Pasien dispepsia dengan red flag memerlukan evaluasi adanya perdarahan. Hal ini mencakup pemeriksaan kadar hemoglobin dan perdarahan samar pada feses. Pasien juga disarankan untuk menjalani evaluasi endoskopi saluran cerna bagian atas dalam kurun waktu 2 minggu. Fungsi dari evaluasi endoskopi ini utamanya adalah untuk menyingkirkan kemungkinan keganasan. Sensitivitas dan spesifisitas dari red flag sendiri dalam memprediksi adanya kanker gastroesofageal dilaporkan mencapai 70%. Namun, red flag memiliki positive predictive value rendah, sehingga pemeriksaan endoskopi tetap disarankan.

Perlu dicatat bahwa pemeriksaan endoskopi pada pasien yang memiliki red flag lebih disarankan pada pasien dengan usia > 60 tahun. Meskipun terdapat studi yang menyatakan bahwa keberadaan red flag akan meningkatkan risiko adanya keganasan 2-3 kali lipat, risiko keganasan pada pasien berusia <60 tahun dianggap cukup rendah, sehingga keputusan melakukan endoskopi pada populasi ini harus berdasarkan kasus per kasus. Pada pasien berusia <60 tahun, pemeriksaan penunjang inisial yang lebih dianjurkan adalah pemeriksaan H.pylori noninvasif dan uji proton pump inhibitor (PPI).[5,7,8,9]

Referensi