Red Flags Vertigo

Oleh :
dr.Saphira Evani

Red flags pada vertigo penting dikenali untuk dokter pada praktik sehari-hari. Hal ini dilakukan untuk mengetahui tipe vertigo dan langkah manajemen selanjutnya.

Vertigo merupakan keluhan yang sering ditemukan di praktik sehari-hari. Pasien vertigo biasanya datang ke instalasi gawat darurat, bahkan ke poliklinik di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Prevalensi vertigo seseorang mencapai 3 - 10% selama hidupnya.[1]

shutterstock_1662766783

Definisi dan Etiologi Vertigo

Definisi vertigo adalah sensasi pergerakan kepala, tubuh, atau ruangan sekitar (berputar atau gerakan lainnya) pada posisi diam. Vertigo posisional terjadi akibat distorsi sensasi pergerakan yang mengikuti gerakan kepala posisi diam. Berpegang pada definisi ini dokter harus mampu membedakan keluhan vertigo dengan keluhan "pusing" lainnya, misalnya "lightheadedness" pada presinkop atau "rasa tidak seimbang saat berdiri" pada gangguan postural.[2,3]

Vertigo perifer yang paling sering ditemukan adalah benign paroxysmal positional vertigo (BPPV), sedangkan bentuk vertigo sentral dengan prevalensi tertinggi adalah migraine vestibular. Etiologi vertigo perifer lainnya adalah penyakit Meniere, labirinitis, neuritis vestibular, otikus herpes zoster (sindrom Ramsay Hunt), dan koleastoma. Etiologi vertigo sentral lain adalah stroke area serebelum atau sistem vertebrobasilar, tumor serebelopontin, multiple sclerosis, intoksikasi zat.[4,5]

Red Flags Vertigo

Sebagian etiologi vertigo bersifat ringan, namun ada vertigo yang timbul pada penyakit berbahaya atau mengancam nyawa. Dokter harus dapat mengenali red flags vertigo atau tanda bahaya vertigo sebagai berikut:

  • Vertigo yang persisten dan terus memberat
  • Penurunan pendengaran unilateral mendadak dengan onset pertama kali
  • Pasien mengeluhkan sensasi gerakan vertikal
  • Sakit kepala berat terutama di pagi hari
  • Defisit neurologis fokal seperti diplopia, disartria, disfagia, paresis atau parestesia ekstremitas
  • Ataxia atau gejala gangguan serebelum lainnya
  • Papilledema
  • Hasil pemeriksaan HINTS berupa tes head-impulse yang normal, arah nistagmus yang berubah-ubah (bidirectional) dan test of skew dengan hasil deviasi vertikal ditambah dengan tes fungsi pendengaran yang abnormal dengan onset baru, mengarah pada vertigo akibat lesi sentral[5-8]

Poin-poin penting di bawah ini harus ditanyakan saat anamnesis untuk membantu membedakan etiologi vertigo:

  • Deskripsi keluhan "pusing" secara jelas untuk membedakan vertigo dengan pusing lainnya. Deskripsi yang bisa disampaikan pasien adalah pusing berputar seperti naik komidi putar, ruangan terasa berputar, kepala ringan seperti mau pingsan, rasa tidak seimbang seperti mau jatuh, rasa terombang-ambing seperti di atas perahu
  • Faktor pencetus timbulnya keluhan, misalnya saat mengubah posisi kepala atau muncul bahkan saat sedang diam
  • Waktu kejadian meliputi onset, frekuensi, serta durasi vertigo
  • Penyakit komorbid pada pasien dan keluarga serta pengobatan rutin yang dikonsumsi pasien[5,9,10]

Pemeriksaan Dix-Halpike lebih baik dilakukan untuk pasien dengan durasi vertigo <2 menit dan tidak ada nistagmus saat keadaan istirahat. Pemeriksaan head-impulse, nystagmus, test of skew (HINTS) plus (ditambah tes fungsi pendengaran) dapat dilakukan untuk pasien yang memiliki keluhan vertigo dengan durasi beberapa jam atau hari, serta jika ditemukan nistagmus saat istirahat atau nistagmus spontan.[5,6,8]

Jika hasil keempat pemeriksaan HINTS plus hasilnya mengarah ke perifer, maka kemungkinan pasien mengalami neuritis vestibular. Namun, jika salah satu saja hasil pemeriksaan HINTS plus hasilnya mengarah pada lesi sentral, maka pemeriksaan pencitraan untuk mengeksklusi lesi sentral harus dilakukan. Pemeriksaan HINTS plus ini cukup sensitif untuk mendeteksi vertigo akibat lesi sentral, bahkan bila dilakukan dalam 48 jam setelah onset gejala. [5-8]

Pemeriksaan pencitraan rutin tidak dianjurkan untuk semua kasus vertigo. Namun adanya red flags perlu meningkatkan kecurigaan bahwa etiologi vertigo bukanlah lesi perifer melainkan lesi sentral. Pencitraan berupa MRI (lebih baik) atau CT-scan untuk mendeteksi lesi sentral dibutuhkan jika ditemukan red flags pada pemeriksaan klinis. [9,10]

Sekilas Penatalaksanaan Vertigo

Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV) merupakan jenis vertigo yang dapat didiagnosis secara klinis dan diberikan penatalaksanaan di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Namun, vertigo dengan red flags, misalnya vertigo akibat stroke dapat bersifat mengancam nyawa sehingga dibutuhkan rujukan dan penanganan medis lanjutan segera.[5]

Berikut ini sekilas rangkuman penatalaksanaan yang dapat dilakukan untuk pasien vertigo:

  • BPPV: manuver Epley
  • Vestibular neuritis: membaik bertahap dengan istirahat, medikamentosa berupa supresan vestibular jangka pendek (antihistamin, antiemetik, benzodiazepin), rehabilitasi vestibular
  • Penyakit Meniere: diet rendah garam dan kafein, medikamentosa simtomatik, alat bantu dengar, rehabilitasi vestibular
  • Migraine vestibular: penatalaksanaan migraine, supresan vestibular, rehabilitasi vestibular
  • Stroke: rujuk spesialis saraf, dan lakukan penatalaksanaan stroke
  • Vertigo sentral lainnya: rujuk untuk penatalaksanaan sesuai etiologis
  • Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) pasien yang baik untuk mengurangi kecemasan
  • Rujuk pasien ke dokter spesialis THT bila disertai keluhan penurunan pendengaran, hasil otoskopi yang abnormal, dan gejala vertigo rekuren atau persisten dengan karakteristik gangguan vestibular perifer[5,6,9-11]

Referensi