Diagnosis Infeksi Saluran Pernapasan Bawah (ISPB)
Diagnosis infeksi saluran pernapasan bawah (ISPB) dicurigai pada pasien dengan gejala respirasi seperti batuk produktif, demam, sesak napas, nyeri dada pleuritik, atau temuan auskultasi abnormal seperti ronki dan mengi. Penentuan tipe ISPB didasarkan pada lokasi dan karakteristik inflamasi.
Bronkitis akut ditandai oleh peradangan bronkus dengan batuk produktif tanpa infiltrat paru pada radiografi. Bronkiolitis umumnya terjadi pada bayi atau balita, dengan gejala obstruktif dan hiperinflasi paru. Sementara itu, pneumonia ditandai oleh adanya infiltrat alveolar atau konsolidasi pada rontgen toraks disertai tanda infeksi sistemik.[1,3,4]
Anamnesis
Anamnesis pada ISPB mencakup penilaian onset dan durasi gejala seperti batuk, sesak napas, demam, serta nyeri dada. Riwayat paparan terhadap polusi, asap rokok, atau kontak dengan individu sakit perlu digali karena meningkatkan risiko infeksi, disertai evaluasi penyakit penyerta seperti penyakit paru kronis atau kondisi imunokompromais.[1,3,4,20,21]
Bronkiolitis
Bronkiolitis umumnya melibatkan bayi dan anak di bawah usia dua tahun, dengan puncak kejadian pada usia 3–6 bulan. Gejala biasanya diawali dengan prodromal koriza selama 1–3 hari, diikuti batuk persisten yang disertai takipnea, retraksi dinding dada, serta adanya mengi atau crackles.
Batuk biasanya mencapai puncak keparahan dalam 3–5 hari dan membaik dalam waktu tiga minggu pada sebagian besar pasien. Demam ringan dan penurunan asupan makan sering ditemukan, terutama setelah beberapa hari sakit. Pada bayi muda, khususnya usia kurang dari 6 minggu, bronkiolitis dapat bermanifestasi dengan apnea sebagai gejala utama tanpa tanda klinis lain yang menonjol.[10]
Bronkitis Akut
Gejala utama bronkitis akut adalah batuk, sering kali disertai produksi sputum yang dapat jernih, kekuningan, atau kehijauan. Pasien dapat mengeluhkan gejala tambahan seperti nyeri dada ringan, rasa lelah, sakit tenggorokan, hidung tersumbat atau berair, serta nyeri otot.
Demam biasanya ringan atau tidak ada, dan bila ditemukan demam tinggi, hal ini dapat mengarah pada diagnosis influenza atau pneumonia. Riwayat paparan terhadap asap rokok, polutan, atau bahan kimia juga perlu digali karena merupakan faktor pencetus utama bronkitis akut.
Anamnesis juga menilai kemungkinan adanya kondisi lain yang meniru gejala bronkitis, seperti asma, pneumonia, atau eksaserbasi penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Gejala bronkitis akut biasanya berlangsung kurang dari tiga minggu dan sering muncul setelah infeksi saluran napas atas.[17]
Pneumonia
Temuan anamnesis pada pneumonia umumnya mencakup awitan akut dengan gejala utama berupa batuk, demam (≥38°C), sesak napas, nyeri dada pleuritik, serta perubahan karakter sputum menjadi purulen. Pasien dapat mengeluhkan rasa lemah, menggigil, dan malaise, terutama bila infeksi disebabkan oleh patogen bakteri.
Pada pasien usia lanjut, manifestasi klinis pneumonia sering kali tidak khas. Gejala dapat muncul dalam bentuk penurunan kesadaran, disorientasi mendadak, penurunan nafsu makan, atau perburukan kondisi umum tanpa adanya demam atau batuk yang menonjol.[4]
Pemeriksaan Fisik
Temuan pemeriksaan fisik pada ISPB bergantung pada lokasi dan derajat peradangan di saluran napas. Secara umum, tanda-tanda respirasi seperti takipnea, penggunaan otot bantu napas, retraksi dinding dada, serta penurunan saturasi oksigen sering dijumpai. Pemeriksa juga dapat menemukan demam, peningkatan frekuensi napas, serta kelainan suara napas seperti ronki, mengi, atau suara napas bronkial.[1,3,4,20,21]
Bronkiolitis
Pada bronkiolitis, yang umumnya menyerang bayi dan anak kecil, pemeriksaan fisik menunjukkan takipnea, retraksi dinding dada, serta mengi difus dan crackles halus akibat obstruksi dan inflamasi pada bronkiolus kecil. Hiperinflasi dada dan perpanjangan fase ekspirasi dapat terlihat pada kasus berat.[10]
Bronkitis Akut
Pada bronkitis akut, temuan fisik biasanya lebih ringan, berupa ronki kasar atau mengi yang menyebar tanpa adanya tanda konsolidasi. Bunyi napas vesikuler umumnya tetap terdengar normal, dan tidak terdapat perbedaan fremitus maupun perkusi, menandakan bahwa proses peradangan terbatas pada bronkus tanpa keterlibatan parenkim paru.[17]
Pneumonia
Pada pneumonia, pemeriksaan fisik menunjukkan tanda-tanda konsolidasi paru seperti peningkatan fremitus vokal, reduksi bunyi perkusi (dullness), suara napas bronkial, serta egofoni. Ronki halus (fine crackles) atau krepitasi sering terdengar di area yang terlibat, menandakan adanya cairan atau eksudat dalam alveolus. Pada kasus berat dapat ditemukan takipnea berat, sianosis, dan penggunaan otot bantu napas.[4]
Diagnosis Banding
Diagnosis banding pada ISPB membantu dokter membedakannya dari kondisi lain yang menyerupai, sehingga intervensi yang diberikan menjadi tepat dan efektif. ISPB pada anak sering menimbulkan gejala yang mirip dengan berbagai penyakit lain, sehingga penting untuk melakukan diagnosis banding.[2,3,6,8]
Bronkiolitis
Bronkiolitis adalah infeksi saluran pernapasan bawah yang umumnya disebabkan oleh virus, terutama respiratory syncytial virus (RSV). Penyakit ini paling sering terjadi pada bayi dan balita, ditandai dengan batuk, mengi, retraksi interkostal, dan kesulitan bernapas.[6,8]
Bronkitis Akut
Bronkitis akut merupakan peradangan bronkus yang umumnya viral, menyebabkan batuk produktif dan sesak ringan. Tidak menimbulkan infiltrat pada radiografi, sehingga bisa dibedakan dari pneumonia.[6,20]
Pneumonia Bakteri
Pneumonia bakteri merupakan bentuk ISPB yang paling serius, disebabkan oleh patogen seperti Streptococcus pneumoniae atau Haemophilus influenzae. Gejalanya termasuk demam tinggi, batuk produktif, sesak napas, dan infiltrat pada radiografi dada. Pneumonia bakterial perlu dibedakan dari ISPB viral untuk menentukan keperluan terapi antibiotik.[3,8]
Pneumonia Viral
Pneumonia viral disebabkan oleh virus seperti influenza, adenovirus, atau RSV. Gejalanya bisa mirip pneumonia bakterial tetapi sering lebih ringan, dengan demam sedang, batuk kering, dan gejala sistemik ringan. Pemeriksaan biomarker seperti C-Reactive Protein (CRP) biasanya rendah, membantu membedakannya dari pneumonia bacterial.[3,6,22]
Asma atau Wheezing Episodik
Asma pada anak bisa meniru ISPB, terutama jika didahului infeksi virus yang memicu serangan. Biasanya ditandai dengan mengi berulang, batuk malam atau saat aktivitas, dan respons baik terhadap bronkodilator. Tidak ditemukan tanda infeksi sistemik yang signifikan seperti demam tinggi.[6,8]
Aspirasi atau Obstruksi Saluran Napas
ISPB biasanya menunjukkan onset gejala bertahap dengan riwayat infeksi atau paparan patogen, disertai demam, batuk produktif, dan temuan radiologi seperti infiltrat atau konsolidasi. Sebaliknya, aspirasi atau obstruksi jalan napas akibat benda asing cenderung memiliki onset mendadak, batuk atau sesak akut, meng unilateral, atau penurunan bunyi napas fokus.[6,21]
Penyakit Jantung Kongenital dengan Gejala Respiratori
Beberapa kelainan jantung bawaan, seperti defek septum ventrikel, dapat menimbulkan sesak napas dan intoleransi aktivitas, mirip ISPB. Perbedaan utama adalah tidak ada tanda infeksi, serta pemeriksaan jantung akan menunjukkan adanya murmur atau temuan hemodinamik.[6,8]
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada ISPB meliputi rontgen toraks untuk menilai infiltrat, konsolidasi, atau hiperinsuflasi, serta laboratorium seperti hitung darah lengkap, CRP, prokalsitonin, dan pemeriksaan mikrobiologi sputum atau PCR untuk mengidentifikasi patogen.
Pada bronkiolitis, rontgen toraks biasanya menunjukkan hiperinsuflasi dan infiltrat difus. Bronkitis akut umumnya tidak menampilkan kelainan radiologis signifikan. Sementara itu, pneumonia ditandai oleh infiltrat fokal atau konsolidasi yang sesuai dengan lokasi infeksi.[3,6,8,13,20-24]
Pemeriksaan Radiologi
Pada bronkiolitis, rontgen toraks biasanya menunjukkan hiperinsuflasi paru dengan diafragma datar, peningkatan transparansi paru, dan terkadang adanya garis-garis interstisial halus atau patchy infiltrate. Tidak terdapat konsolidasi fokal yang khas, sehingga radiologi lebih mendukung diagnosis klinis daripada menjadi penentu utama.
Untuk bronkitis akut, temuan radiologis umumnya minimal atau normal, karena inflamasi terbatas pada bronkus besar tanpa melibatkan alveolus. Pada beberapa kasus, mungkin terlihat sedikit perbaikan visualisasi bronkus atau perihilar markings, tetapi tidak ada infiltrat atau konsolidasi yang menonjol. Oleh karena itu, radiologi lebih sering digunakan untuk menyingkirkan pneumonia atau komplikasi lain daripada untuk menegakkan diagnosis.
Pada pneumonia, temuan radiologi meliputi infiltrat fokal, konsolidasi alveolar, atau air bronchogram yang menunjukkan adanya eksudat dalam alveolus. Pneumonia lobar biasanya tampak sebagai area konsolidasi homogen pada satu lobus, sedangkan pneumonia interstisial atau bronkopneumonia menunjukkan pola patchy atau difus dengan infiltrat yang menyebar ke beberapa segmen.[4,6,10,17,20]
Pemeriksaan Laboratorium
Hitung darah lengkap dapat menunjukkan leukositosis dengan dominasi neutrofil pada infeksi bakteri, atau leukopenia dan limfositosis pada beberapa infeksi viral. Penanda inflamasi seperti CRP dan prokalsitonin sering digunakan untuk menilai aktivitas peradangan dan kemungkinan etiologi bakteri. Sebagai contoh, prokalsitonin bisa meningkat pada infeksi bakteri sistemik dan relatif normal pada infeksi viral.
Analisis sputum, kultur darah, atau uji PCR dari nasofaring atau aspirat bronkial dapat mengidentifikasi patogen spesifik penyebab ISPB, seperti Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, RSV, atau virus influenza. Pada bronkiolitis, identifikasi RSV melalui PCR atau rapid antigen test dapat memperkuat diagnosis klinis. Pada pneumonia, kultur darah atau sputum dapat membantu menegakkan etiologi bakteri, khususnya pada pasien rawat inap atau dengan penyakit berat.[1,3,6,8,13,20-24]
Pemeriksaan Penunjang Lainnya
Oksimetri nadi digunakan untuk memantau saturasi oksigen pasien, yang dapat memandu keperluan terapi oksigen. Selain itu, pemeriksaan khusus seperti bronkoskopi dapat dilakukan, terutama bila diagnosis tidak jelas atau pasien tidak responsif terhadap terapi standar.[6,20,21,23]
Penulisan pertama oleh: dr. Saphira Evani