Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Diagnosis Infeksi Saluran Pernapasan Bawah (ISPB) general_alomedika 2026-01-12T08:53:15+07:00 2026-01-12T08:53:15+07:00
Infeksi Saluran Pernapasan Bawah (ISPB)
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Diagnosis Infeksi Saluran Pernapasan Bawah (ISPB)

Oleh :
dr.Nailla Fariq Alfiani
Share To Social Media:

Diagnosis infeksi saluran pernapasan bawah (ISPB) dicurigai pada pasien dengan gejala respirasi seperti batuk produktif, demam, sesak napas, nyeri dada pleuritik, atau temuan auskultasi abnormal seperti ronki dan mengi. Penentuan tipe ISPB didasarkan pada lokasi dan karakteristik inflamasi.

Bronkitis akut ditandai oleh peradangan bronkus dengan batuk produktif tanpa infiltrat paru pada radiografi. Bronkiolitis umumnya terjadi pada bayi atau balita, dengan gejala obstruktif dan hiperinflasi paru. Sementara itu, pneumonia ditandai oleh adanya infiltrat alveolar atau konsolidasi pada rontgen toraks disertai tanda infeksi sistemik.[1,3,4]

Anamnesis

Anamnesis pada ISPB mencakup penilaian onset dan durasi gejala seperti batuk, sesak napas, demam, serta nyeri dada. Riwayat paparan terhadap polusi, asap rokok, atau kontak dengan individu sakit perlu digali karena meningkatkan risiko infeksi, disertai evaluasi penyakit penyerta seperti penyakit paru kronis atau kondisi imunokompromais.[1,3,4,20,21]

Bronkiolitis

Bronkiolitis umumnya melibatkan bayi dan anak di bawah usia dua tahun, dengan puncak kejadian pada usia 3–6 bulan. Gejala biasanya diawali dengan prodromal koriza selama 1–3 hari, diikuti batuk persisten yang disertai takipnea, retraksi dinding dada, serta adanya mengi atau crackles.

Batuk biasanya mencapai puncak keparahan dalam 3–5 hari dan membaik dalam waktu tiga minggu pada sebagian besar pasien. Demam ringan dan penurunan asupan makan sering ditemukan, terutama setelah beberapa hari sakit. Pada bayi muda, khususnya usia kurang dari 6 minggu, bronkiolitis dapat bermanifestasi dengan apnea sebagai gejala utama tanpa tanda klinis lain yang menonjol.[10]

Bronkitis Akut

Gejala utama bronkitis akut adalah batuk, sering kali disertai produksi sputum yang dapat jernih, kekuningan, atau kehijauan. Pasien dapat mengeluhkan gejala tambahan seperti nyeri dada ringan, rasa lelah, sakit tenggorokan, hidung tersumbat atau berair, serta nyeri otot.

Demam biasanya ringan atau tidak ada, dan bila ditemukan demam tinggi, hal ini dapat mengarah pada diagnosis influenza atau pneumonia. Riwayat paparan terhadap asap rokok, polutan, atau bahan kimia juga perlu digali karena merupakan faktor pencetus utama bronkitis akut.

Anamnesis juga menilai kemungkinan adanya kondisi lain yang meniru gejala bronkitis, seperti asma, pneumonia, atau eksaserbasi penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Gejala bronkitis akut biasanya berlangsung kurang dari tiga minggu dan sering muncul setelah infeksi saluran napas atas.[17]

Pneumonia

Temuan anamnesis pada pneumonia umumnya mencakup awitan akut dengan gejala utama berupa batuk, demam (≥38°C), sesak napas, nyeri dada pleuritik, serta perubahan karakter sputum menjadi purulen. Pasien dapat mengeluhkan rasa lemah, menggigil, dan malaise, terutama bila infeksi disebabkan oleh patogen bakteri.

Pada pasien usia lanjut, manifestasi klinis pneumonia sering kali tidak khas. Gejala dapat muncul dalam bentuk penurunan kesadaran, disorientasi mendadak, penurunan nafsu makan, atau perburukan kondisi umum tanpa adanya demam atau batuk yang menonjol.[4]

Pemeriksaan Fisik

Temuan pemeriksaan fisik pada ISPB bergantung pada lokasi dan derajat peradangan di saluran napas. Secara umum, tanda-tanda respirasi seperti takipnea, penggunaan otot bantu napas, retraksi dinding dada, serta penurunan saturasi oksigen sering dijumpai. Pemeriksa juga dapat menemukan demam, peningkatan frekuensi napas, serta kelainan suara napas seperti ronki, mengi, atau suara napas bronkial.[1,3,4,20,21]

Bronkiolitis

Pada bronkiolitis, yang umumnya menyerang bayi dan anak kecil, pemeriksaan fisik menunjukkan takipnea, retraksi dinding dada, serta mengi difus dan crackles halus akibat obstruksi dan inflamasi pada bronkiolus kecil. Hiperinflasi dada dan perpanjangan fase ekspirasi dapat terlihat pada kasus berat.[10]

Bronkitis Akut

Pada bronkitis akut, temuan fisik biasanya lebih ringan, berupa ronki kasar atau mengi yang menyebar tanpa adanya tanda konsolidasi. Bunyi napas vesikuler umumnya tetap terdengar normal, dan tidak terdapat perbedaan fremitus maupun perkusi, menandakan bahwa proses peradangan terbatas pada bronkus tanpa keterlibatan parenkim paru.[17]

Pneumonia

Pada pneumonia, pemeriksaan fisik menunjukkan tanda-tanda konsolidasi paru seperti peningkatan fremitus vokal, reduksi bunyi perkusi (dullness), suara napas bronkial, serta egofoni. Ronki halus (fine crackles) atau krepitasi sering terdengar di area yang terlibat, menandakan adanya cairan atau eksudat dalam alveolus. Pada kasus berat dapat ditemukan takipnea berat, sianosis, dan penggunaan otot bantu napas.[4]

Diagnosis Banding

Diagnosis banding pada ISPB membantu dokter membedakannya dari kondisi lain yang menyerupai, sehingga intervensi yang diberikan menjadi tepat dan efektif. ISPB pada anak sering menimbulkan gejala yang mirip dengan berbagai penyakit lain, sehingga penting untuk melakukan diagnosis banding.[2,3,6,8]

Bronkiolitis

Bronkiolitis adalah infeksi saluran pernapasan bawah yang umumnya disebabkan oleh virus, terutama respiratory syncytial virus (RSV). Penyakit ini paling sering terjadi pada bayi dan balita, ditandai dengan batuk, mengi, retraksi interkostal, dan kesulitan bernapas.[6,8]

Bronkitis Akut

Bronkitis akut merupakan peradangan bronkus yang umumnya viral, menyebabkan batuk produktif dan sesak ringan. Tidak menimbulkan infiltrat pada radiografi, sehingga bisa dibedakan dari pneumonia.[6,20]

Pneumonia Bakteri

Pneumonia bakteri merupakan bentuk ISPB yang paling serius, disebabkan oleh patogen seperti Streptococcus pneumoniae atau Haemophilus influenzae. Gejalanya termasuk demam tinggi, batuk produktif, sesak napas, dan infiltrat pada radiografi dada. Pneumonia bakterial perlu dibedakan dari ISPB viral untuk menentukan keperluan terapi antibiotik.[3,8]

Pneumonia Viral

Pneumonia viral disebabkan oleh virus seperti influenza, adenovirus, atau RSV. Gejalanya bisa mirip pneumonia bakterial tetapi sering lebih ringan, dengan demam sedang, batuk kering, dan gejala sistemik ringan. Pemeriksaan biomarker seperti C-Reactive Protein (CRP) biasanya rendah, membantu membedakannya dari pneumonia bacterial.[3,6,22]

Asma atau Wheezing Episodik

Asma pada anak bisa meniru ISPB, terutama jika didahului infeksi virus yang memicu serangan. Biasanya ditandai dengan mengi berulang, batuk malam atau saat aktivitas, dan respons baik terhadap bronkodilator. Tidak ditemukan tanda infeksi sistemik yang signifikan seperti demam tinggi.[6,8]

Aspirasi atau Obstruksi Saluran Napas

ISPB biasanya menunjukkan onset gejala bertahap dengan riwayat infeksi atau paparan patogen, disertai demam, batuk produktif, dan temuan radiologi seperti infiltrat atau konsolidasi. Sebaliknya, aspirasi atau obstruksi jalan napas akibat benda asing cenderung memiliki onset mendadak, batuk atau sesak akut, meng unilateral, atau penurunan bunyi napas fokus.[6,21]

Penyakit Jantung Kongenital dengan Gejala Respiratori

Beberapa kelainan jantung bawaan, seperti defek septum ventrikel, dapat menimbulkan sesak napas dan intoleransi aktivitas, mirip ISPB. Perbedaan utama adalah tidak ada tanda infeksi, serta pemeriksaan jantung akan menunjukkan adanya murmur atau temuan hemodinamik.[6,8]

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang pada ISPB meliputi rontgen toraks untuk menilai infiltrat, konsolidasi, atau hiperinsuflasi, serta laboratorium seperti hitung darah lengkap, CRP, prokalsitonin, dan pemeriksaan mikrobiologi sputum atau PCR untuk mengidentifikasi patogen.

Pada bronkiolitis, rontgen toraks biasanya menunjukkan hiperinsuflasi dan infiltrat difus. Bronkitis akut umumnya tidak menampilkan kelainan radiologis signifikan. Sementara itu, pneumonia ditandai oleh infiltrat fokal atau konsolidasi yang sesuai dengan lokasi infeksi.[3,6,8,13,20-24]

Pemeriksaan Radiologi

Pada bronkiolitis, rontgen toraks biasanya menunjukkan hiperinsuflasi paru dengan diafragma datar, peningkatan transparansi paru, dan terkadang adanya garis-garis interstisial halus atau patchy infiltrate. Tidak terdapat konsolidasi fokal yang khas, sehingga radiologi lebih mendukung diagnosis klinis daripada menjadi penentu utama.

Untuk bronkitis akut, temuan radiologis umumnya minimal atau normal, karena inflamasi terbatas pada bronkus besar tanpa melibatkan alveolus. Pada beberapa kasus, mungkin terlihat sedikit perbaikan visualisasi bronkus atau perihilar markings, tetapi tidak ada infiltrat atau konsolidasi yang menonjol. Oleh karena itu, radiologi lebih sering digunakan untuk menyingkirkan pneumonia atau komplikasi lain daripada untuk menegakkan diagnosis.

Pada pneumonia, temuan radiologi meliputi infiltrat fokal, konsolidasi alveolar, atau air bronchogram yang menunjukkan adanya eksudat dalam alveolus. Pneumonia lobar biasanya tampak sebagai area konsolidasi homogen pada satu lobus, sedangkan pneumonia interstisial atau bronkopneumonia menunjukkan pola patchy atau difus dengan infiltrat yang menyebar ke beberapa segmen.[4,6,10,17,20]

Pemeriksaan Laboratorium

Hitung darah lengkap dapat menunjukkan leukositosis dengan dominasi neutrofil pada infeksi bakteri, atau leukopenia dan limfositosis pada beberapa infeksi viral. Penanda inflamasi seperti CRP dan prokalsitonin sering digunakan untuk menilai aktivitas peradangan dan kemungkinan etiologi bakteri. Sebagai contoh, prokalsitonin bisa meningkat pada infeksi bakteri sistemik dan relatif normal pada infeksi viral.

Analisis sputum, kultur darah, atau uji PCR dari nasofaring atau aspirat bronkial dapat mengidentifikasi patogen spesifik penyebab ISPB, seperti Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, RSV, atau virus influenza. Pada bronkiolitis, identifikasi RSV melalui PCR atau rapid antigen test dapat memperkuat diagnosis klinis. Pada pneumonia, kultur darah atau sputum dapat membantu menegakkan etiologi bakteri, khususnya pada pasien rawat inap atau dengan penyakit berat.[1,3,6,8,13,20-24]

Pemeriksaan Penunjang Lainnya

Oksimetri nadi digunakan untuk memantau saturasi oksigen pasien, yang dapat memandu keperluan terapi oksigen. Selain itu, pemeriksaan khusus seperti bronkoskopi dapat dilakukan, terutama bila diagnosis tidak jelas atau pasien tidak responsif terhadap terapi standar.[6,20,21,23]

 

 

Penulisan pertama oleh: dr. Saphira Evani

Referensi

1. Malakounidou E, Tsiri P, Theochari E, Koulousousa E, Karampitsakos T, Tzouvelekis A. Lower respiratory tract infections treatment recommendations: An overview. Pneumon, 36(3), 17. 2023. https://doi.org/10.18332/pne/163184
2. Hussain SM, Rumaisa N, Keshav J. Understanding Lower Respiratory Tract Infection: A Comprehensive Review of Associated Risk Factors. Ann Pulm Res Med. 2024; 2(1): 1006. 2024. https://www.remedypublications.com/open-access/understanding-lower-respiratory-tract-infection-a-comprehensive-review-of-associated-10135.pdf
3. Gan Y, Hu Y, Dong H, Wu L, Niu Y. Causes of Lower Respiratory Tract Infections and the Use of Diagnostic Biomarkers in Blood Samples from Children in Hohhot, Inner Mongolia, China, Between July 2019 and June 2020. Medical science monitor : international medical journal of experimental and clinical research, 28, e934889. 2022. https://doi.org/10.12659/MSM.934889
4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. PNPK Tata Laksana Pneumonia pada Dewasa. 2023.
6. Duyu M, Karakaya Z. Viral etiology and outcome of severe lower respiratory tract infections among critically ill children admitted to the PICU. Med Intensiva. 2021;45(8):447–458. doi:10.1016/j.medine.2020.04.011. 2021. https://www.medintensiva.org/en-viral-etiology-outcome-severe-lower-articulo-S2173572721001259
8. Byungsun Y, Ilha Y, Eu SK, et al. Etiology of Community Acquired Lower Respiratory Tract Infection (LRTI) in Children, Open Forum Infectious Diseases, Volume 10, Issue Supplement_2, 2023, ofad500.2219. 2023. https://doi.org/10.1093/ofid/ofad500.2219
10. NICE. Bronchiolitis in children: diagnosis and management. 2021. https://www.nice.org.uk/guidance/ng9/chapter/Recommendations
13. Yoo B, Yune I, Kang D, Cho Y, Lim SY, Yoo S, Kim M, Kim JS, Kim D, Lee HY, Baek RM, Jung SY, Kim ES, Lee H. Etiology and Clinical Prediction of Community-Acquired Lower Respiratory Tract Infection in Children. J Korean Med Sci. 2025 Jan;40(2):e5. doi:10.3346/jkms.2025.40.e5. 2025.
17. Fayyaz J. Bronchitis. Medscape, 2024.https://emedicine.medscape.com/article/297108-overview#a1
18. Sulistijo E, Manullang EV, Sulistyowati D, Sakti ES, dkk. Profil Kesehatan Indonesia. 2024. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. https://share.google/tI1iYlHxxO4h3pKsl
20. Chidanand KN, Pooja K, Manjunath A. LRTI: Systematic approaches to diagnosis and effective therapeutic management. International Journal of Pharmaceutical Sciences and Research, 12(12), 6392–6398. 2021. https://doi.org/10.13040/IJPSR.0975-8232.12(12).6392-98
24. Pham HT, Nguyen PTT, Tran ST, Phung TTB. Clinical and Pathogenic Characteristics of Lower Respiratory Tract Infection Treated at the Vietnam National Children's Hospital. The Canadian Journal of Infectious Diseases & Medical Microbiology, 2020, 7931950. https://doi.org/10.1155/2020/7931950

Epidemiologi Infeksi Saluran Per...
Penatalaksanaan Infeksi Saluran ...

Artikel Terkait

  • Perbandingan Potensi Kortikosteroid Sistemik
    Perbandingan Potensi Kortikosteroid Sistemik
  • Red Flag Noisy Breathing pada Bayi
    Red Flag Noisy Breathing pada Bayi
  • Red Flags Batuk pada Bayi dan Anak
    Red Flags Batuk pada Bayi dan Anak
  • Manajemen PPOK Menurut Pedoman GOLD 2023
    Manajemen PPOK Menurut Pedoman GOLD 2023
  • Pedoman Penanganan PPOK 2025 – Ulasan Guideline Terkini
    Pedoman Penanganan PPOK 2025 – Ulasan Guideline Terkini

Lebih Lanjut

Diskusi Terkait
Anonymous
Dibalas 25 November 2025, 09:38
Sesak napas pada anak usia 8 bulan dengan riwayat bronkopneumonia
Oleh: Anonymous
2 Balasan
Alo Dokter, Assalamualaikum.. sy memiliki pasien anak usia 8 bulan BB 7 kg. keluhan sesak disertai demam . Keluhan tanpa disertai batuk flu. Pasien punya...
Anonymous
Dibalas 25 September 2025, 18:32
Tbc reinfeksi atau bronchopneumonia? Bagaimana melakukan diagnosisnya?
Oleh: Anonymous
2 Balasan
Alo dokter, izin diskusi dok. Pasien anak 3 tahun datang dgn keluhan demam 4 mgg,batuk4 mgg, bb turun tidak ada kontak tbc skrg, kgb tdk membesar, rontgen...
dr.Meidina
Dibalas 01 Juli 2025, 22:25
Diagnosis sesak yang tepat? - ALOPALOOZA Paru-paru
Oleh: dr.Meidina
1 Balasan
Pasien laki-laki usia 62th datang ke IGD dengan keluhan utama sesak napas meningkat sejak 2 hari yll, sesak hilang timbul, sesak tidak menciut, meningkat...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.