Epidemiologi Infeksi Saluran Pernapasan Bawah (ISPB)
Data epidemiologi menunjukkan bahwa infeksi saluran pernapasan bawah (ISPB), seperti bronkiolitis dan pneumonia, memiliki kecenderungan kejadian berdasarkan usia. Bronkiolitis lebih banyak mengenai bayi atau balita, sedangkan pneumonia cenderung terjadi pada pasien imunokompromais atau penyakit paru kronik.[6,9,12,18,19]
Global
Pneumonia komunitas memiliki insidensi berkisar antara 1 hingga 25 kasus per 1000 penduduk per tahun. Insidensi penyakit ini lebih tinggi pada laki-laki, penderita HIV, dan individu dengan penyakit penyerta, terutama penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Sekitar 40% pasien memerlukan rawat inap, dan 5% memerlukan perawatan intensif (ICU).[9]
Di sisi lain, bronkiolitis merupakan ISPB tersering pada bayi, terutama disebabkan oleh respiratory syncytial virus (RSV). Di Amerika Serikat, bronkiolitis merupakan penyebab utama rawat inap pada bayi di bawah 12 bulan, dengan sekitar 100.000 kasus setiap tahun dan angka rawat inap tertinggi pada bayi usia 30–60 hari.[12]
Insidensi bronkitis akut diperkirakan mencapai 44 kasus per 1000 orang dewasa per tahun. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada populasi dengan status sosial ekonomi rendah serta mereka yang tinggal di daerah perkotaan dan industri padat. Secara demografis, bronkitis akut lebih sering didiagnosis pada anak balita, sementara bronkitis kronis lebih sering terjadi pada individu berusia di atas 50 tahun.[17]
Indonesia
Belum ada data epidemiologis spesifik untuk ISPB di Indonesia. Dalam Riset Kesehatan Dasar 2024, Kementerian Kesehatan Indonesia hanya mempublikasikan cakupan temuan pneumonia pada balita, yakni sebesar 52,7%. Selain itu, dilaporkan pula bahwa angka kematian terkait pneumonia pada bayi adalah 0,12%.[18]
Mortalitas
Sebuah penelitian di Italia yang melibatkan 683.741 kasus rawat inap terkait ISPB menunjukkan bahwa 4% pasien memerlukan perawatan di ICU. Karena penelitian ini mencakup masa saat terjadi pandemi COVID-19, dilaporkan bahwa 22% kasus kematian ISPB adalah terkait infeksi COVID-19. Sementara itu, persentase kematian ISPB karena virus non-COVID adalah 3,2%.[7]
Studi retrospektif di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pasien ISPB rawat inap memiliki mortalitas 30 hari 5,8% dan 360 hari 18,3%. Di sisi lain, pasien rawat jalan memiliki mortalitas 30 hari 1,2% dan 360 hari 3,6%. Risiko mortalitas meningkat seiring usia dan pada pasien dengan penyakit kronis atau kondisi imunokompromais.[19]
Penulisan pertama oleh: dr. Saphira Evani