Etiologi Grover Disease
Etiologi Grover disease (GD) belum diketahui sepenuhnya. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap munculnya Grover disease adalah cuaca panas dan berkeringat, udara kering dan dingin, kondisi medis kronis, serta kondisi dermatologis lainnya.[1]
Koinsidensi kejadian Grover disease dengan berbagai kondisi iritasi nonspesifik, kondisi imunokompromais, dan kondisi dermatologi lainnya mengindikasikan bahwa Grover disease bersifat polipatogenik. Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan predisposisi Grover disease adalah kondisi integritas epidermis yang terganggu, bukan kerusakan epidermis secara langsung.[1-5]
Faktor Risiko
Faktor risiko munculnya Grover disease dilaporkan berkaitan dengan paparan keringat berlebihan, paparan panas, serta rawat inap dengan tirah baring yang lama. Faktor lainnya yaitu paparan sinar matahari, radiasi pengion, dan radiasi ultraviolet.[2]
Faktor Cuaca Panas
Grover disease sering dihubungkan dengan suhu panas dan berkeringat, dan melibatkan kelenjar ekrin sebagai penyebabnya. Diduga akantolisis terjadi akibat kebocoran molekul keringat pada epidermis akibat oklusi duktus ekrin yang rusak dan akibat cedera suhu ringan. Namun, hingga ini tidak dijumpai kebocoran antigen keringat dengan imunohistokimia, serta keterlibatan keringat terbatas pada beberapa kasus.[1]
Faktor Cuaca Dingin
Grover disease lebih sering terjadi pada musim dingin, sehingga sering dikaitkan dengan udara kering dan dingin. Diduga kondisi xerosis akibat humiditas rendah dan penurunan produksi keringat selama musim ini memicu terjadinya Grover disease.[1]
Kondisi Medis Penyerta
Beberapa kondisi medis sistemik berhubungan dengan Grover disease, seperti gagal ginjal kronis, keganasan, pasien dengan riwayat transplantasi organ, dan Grover disease terinduksi obat.[1,2,5,7]
Induksi Obat
Pasien Grover disease terinduksi obat cenderung mengalami lesi yang lebih luas, melibatkan ekstremitas atas dan bawah bagian proksimal, selain batang tubuh bagian atas. Sampel biopsi menunjukkan temuan yang serupa dengan gambaran pada Grover disease idiopatik. Pemeriksaan imunofluoresensi langsung (DIF) umumnya negatif.[1]
Penggunaan inhibitor BRAF dan ribavirin dilaporkan menginduksi pola akantolisis menyerupai penyakit Darier, sedangkan pasien yang diterapi dengan IL-4 rekombinan menunjukkan akantolisis spongiotik. Penghentian obat penyebab pada sebagian besar kasus menyebabkan resolusi lesi.[7]
Kondisi Dermatologis Penyerta
Terdapat kasus Grover disease dengan koinsidensi penyakit kulit seperti dermatitis asteatotik, dermatitis kontak alergi, dermatitis atopik, serta penyakit infeksi kulit seperti tinea versicolor dan skabies. Pada kondisi dermatologis penyerta, pengobatan terhadap kondisi koinsidensi menghasilkan resolusi terhadap Grover disease.[1]