Epidemiologi Grover Disease
Data epidemiologi belum bisa memastikan secara jelas mengenai angka kejadian Grover disease (GD). Kemungkinan angka kejadian penyakit ini lebih tinggi dari yang dilaporkan, karena bentuk klinisnya sering tidak khas dan menyerupai berbagai penyakit kulit lainnya. Terdapat laporan yang menyebutkan bahwa insidensinya sebesar 0,1 hingga 0,8%.[1,2]
Global
Grover disease dilaporkan lebih banyak pada pria, dengan perbandingan kejadian pada pria dan wanita adalah 2,4:1. Rerata onset penyakit adalah pada usia 61 tahun.
Grover disease terutama bermanifestasi sebagai ruam papulovesikular kemerahan yang agak gatal. Predileksi paling sering terletak di badan, terutama di dada dan punggung.[15]
Indonesia
Data epidemiologi Grover disease di Indonesia belum tersedia.
Mortalitas
Mortalitas jarang disebabkan langsung oleh penyakit itu sendiri, karena Grover disease bersifat jinak dan terbatas pada kulit. Meski begitu, morbiditas klinis bisa terjadi akibat pruritus berat dan persisten, lesi papulovesikular yang luas, serta eksaserbasi kronik atau rekuren yang dapat secara signifikan menurunkan kualitas hidup.
Lebih lanjut, mortalitas yang dilaporkan biasanya tidak berkaitan langsung dengan Grover disease, melainkan mencerminkan penyakit komorbid yang mendasari, seperti keganasan atau gagal ginjal kronik. Pada pasien lanjut usia atau imunokompromais, komplikasi infeksi sekunder dan keterbatasan toleransi terhadap terapi sistemik dapat berkontribusi pada peningkatan risiko morbiditas secara tidak langsung.[1-5]