Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Diagnosis Grover Disease annisa-meidina 2026-03-06T14:02:31+07:00 2026-03-06T14:02:31+07:00
Grover Disease
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Diagnosis Grover Disease

Oleh :
dr. Siti Solichatul Makkiyyah
Share To Social Media:

Diagnosis Grover disease (GD) merupakan suatu diagnosis klinis, yang ditandai oleh lesi berupa papul dan vesikel edematosa, diskret, dan pruritik yang muncul pada area badan dan ekstremitas. Pemeriksaan histopatologi menjadi baku emas untuk membedakan Grover disease dari penyakit akantolisis lain. Ciri histopatologi khas pada Grover disease adalah akantolisis fokal dan diskeratosis dengan derajat bervariasi.[1,3]

Anamnesis

Pada anamnesis didapatkan pasien dengan keluhan ruam papulovesikular. Gejala utama yang dirasakan pasien adalah pruritus, yang pada beberapa kasus dapat berat dan tidak sebanding dengan gambaran klinis lesi kulit, sementara sisanya tidak bergejala. Erupsi dapat berkembang cepat menjadi krusta serta erosi keratotik.[1,2]

Berdasarkan tinjauan sistematik, keterlibatan batang tubuh merupakan temuan yang sangat umum dijumpai, mencapai 93% kasus. Area batang tubuh yang paling sering terkena yaitu punggung (78%), dada (69%), dan abdomen (53%). Area yang lebih jarang yaitu ekstremitas atas (23%), ekstremitas bawah (22%), kepala (12%), leher (5%), punggung tangan (1%) dan kaki (1%). Mukosa umumnya tidak terlibat, meskipun terdapat laporan kasus yang melibatkan mukosa (3%).[1,2]

Lesi biasanya menghilang secara spontan dalam beberapa minggu hingga bulan. Namun, telah dilaporkan perjalanan penyakit yang kronis bahkan persisten, dengan kekambuhan musiman, terutama pada musim dingin dan panas. Durasi penyakit berkorelasi dengan usia, di mana usia lebih tua cenderung mengalami erupsi yang lebih luas dan lebih lama.[1]

Pemeriksaan Fisik

Lesi khas pada Grover disease yaitu erupsi kulit monomorfik akut atau subakut, berupa papula atau papulovesikel berwarna kecokelatan pucat hingga eritematosa, sering disertai edema ringan, dan jarang bersifat keratotik. Pada sebagian besar kasus, lesi ditemukan di batang tubuh, meskipun dapat meluas ke ekstremitas.[2]

Sebuah tinjauan sistematik melaporkan morfologi lesi yang paling sering dijumpai yaitu papula edematosa diskret (60%) dan papula-vesikel (32%). Lesi yang lebih jarang yaitu komponen keratotik berupa lesi papuloskuamosa (16%), serta ekskoriasi atau krusta eritematosa sekunder (9%).[2]

Beberapa kasus melaporkan lesi menyerupai pseudoherpetik (3%), pustula (2%), bula (1%), lesi plak eritematosa (1%), serta nodul. Lesi dapat muncul secara tunggal maupun kombinasi. Selain pola klasik lesi yang berupa diskret tersebar, terdapat pula distribusi lesi yang tidak lazim, seperti linear, blaskoid, dan zoteriform (1%).[2]

Pemeriksaan dermoskopi menunjukkan pola sentral berwarna coklat berbentuk seperti bintang, disertai pembuluh darah linear yang dikelilingi halo keputihan pada subtipe Darier-like. Sementara itu, subtipe spongiotik menunjukkan latar belakang kekuningan-kemerahan dengan skuama putih.[1,3]

Diagnosis Banding

Diagnosis banding Grover disease terutama penyakit kulit dengan ciri histologis akantolisis dan diskeratosis, seperti penyakit Darier, Hailey-Hailey, pemphigus vulgaris, dan Galli-Galli.[1]

Penyakit Darier

Penyakit Darier merupakan kelainan kulit autosomal dominan yang secara klinis dan histologis menyerupai Grover disease. Gambaran khasnya berupa akantolisis dan keratinisasi abnormal, yang menimbulkan papula dan plak verukosa pada batang tubuh, area fleksura, kulit kepala, disertai pit palmoplantar serta kelainan pada kuku. Penyakit ini disebabkan oleh mutasi gen ATP2A2, yang tidak ditemukan pada Grover disease, sehingga pemeriksaan imunohistokimia dapat digunakan untuk membedakan keduanya.[1]

Penyakit Hailey-Hailey

Penyakit Hailey-Hailey juga merupakan dermatosis autosomal dominan yang ditandai oleh erosi nyeri, vesikel, dan krusta, terutama di area leher, aksila, lipat paha, dan perineum. Secara histologis, penyakit ini menunjukkan pembentukan celah atau vesikulasi epidermis dengan akantolisis yang luas, yang menjadi ciri pembeda dengan Grover disease yang bersifat lebih fokal dan terbatas.[1]

Pemfigus Vulgaris

Pemfigus vulgaris merupakan penyakit autoimun berat yang disebabkan oleh autoantibodi terhadap komponen desmosom epitel, sehingga menimbulkan akantolisis dan pembentukan bula pada kulit serta mukosa oral. Lesi pemphigus vulgaris berupa bula flasid dan ulkus nyeri yang sulit sembuh, dan dapat dibedakan dari Grover disease dengan pemeriksaan imunofluoresensi.[1]

Penyakit Galli-Galli

Penyakit Galli-Galli adalah varian langka dari penyakit Dowling-Degos yang bermanifestasi sebagai hiperpigmentasi retikuler disertai papula berskuama dan pruritik pada batang tubuh dan ekstremitas proksimal. Penyakit ini umumnya melibatkan area tubuh yang lebih luas dari Grover disease, dan secara histologis menunjukkan protrusi rete ridge berbentuk digit yang memanjang ke bawah.[1]

Pemeriksaan Penunjang

Sebetulnya, Grover disease adalah diagnosis klinis. Meski demikian, pemeriksaan histopatologi masih menjadi baku emas dalam memastikan diagnosis Grover disease.

Pemeriksaan Histopatologi

Pemeriksaan histopatologi merupakan standar baku emas dalam menegakkan diagnosis Grover disease. Ciri histopatologi khas pada Grover disease adalah akantolisis fokal dan diskeratosis dengan derajat bervariasi. Secara klasik, terdapat empat subtipe histologis yang dapat dijumpai secara terpisah maupun bersamaan dalam satu sampel jaringan:

  • Subtipe Darier-like: paling sering menunjukkan akantolisis suprabasal pada keratinosit dengan diskeratosis yang tersebar di epidermis, dan ditemukan grains dan corps ronds, serta hiperkeratosis, akantosis, dan parakeratosis.
  • Subtipe PV-like: ditandai dengan akantolisis suprabasal dominan, dengan keratinosit basal tetap melekat pada membran basal sehingga membentuk Gambaran khas ‘tombstone’.
  • Subtipe spongiotik: menunjukkan edema epidermis, yang memungkinkan visualisasi jembatan interseluler antar keratinosit.
  • Subtipe Hailey-Hailey-like: menunjukkan akantolisis suprabasal di seluruh lapisan epidermis tanpa diskeratosis yang bermakna, menghasilkan gambaran ‘dilapidated brick wall’.[1,3]

Subtipe Darier-like dan PV-like paling sering dilaporkan. Sementara beberapa pola histologis tambahan selain keempat di atas telah diidentifikasi. Terdapat lima subtipe tambahan yang diperkenalkan, yaitu prokeratotik, lentiginosa, vesikular, likenoid, dan dismaturatif. Peneliti lain juga melaporkan pola menyerupai pemfigus foliaseus, di mana akantolisis dan diskeratosis terjadi antara lapisan granular dan lapisan tanduk.[1]

Temuan lain pada Grover disease meliputi hiperplasia epitel sedang dan parakeratosis. Sering dijumpai infiltrat dermal limfosit, eosinofil, dan neutrofil, serta tanda-tanda kerusakan vaskular berupa edema dan ekstravasasi eritrosit.[1]

Pemeriksaan Reflectance Confocal Microscopy (RCM)

Penggunaan RCM telah dilaporkan dalam diagnosis penyakit vesikubulosa lain, meskipun belum banyak digunakan secara spesifik pada Grover disease. Pada laporan kasus, RCM memungkinkan identifikasi secara in vivo gambaran histopatologis khas pada penyakit Grover disease.[3]

Gambaran yang dijumpai pada RCM yaitu berupa ruang gelap intraepidermal yang merepresentasikan celah intra-epidermal, sel bulat dengan reflektansi tinggi yang tampak di tepi maupun di dalam ruang tersebut yang sesuai dengan keratinosit akantolitik, serta area epidermal poligonal tanpa struktur yang mencerminkan hiperkeratosis.[3]

Selain itu, ditemukan sel menyerupai target dengan pusat gelap dan halo yang sangat reflektif, yang berkorelasi dengan sel diskeratotik. Keberadaan sel-sel ini membantu menyingkirkan diagnosis banding penyakit akantolitik lain.[3]

Referensi

1. Aldana PC., Khachemoune A. Grover disease: review of subtypes with a focus on management options. International Journal of Dermatology. Blackwell Publishing Ltd; 2020. pp. 543–550.
2. Bellinato F., Maurelli M., Gisondi P., Girolomoni G. Clinical features and treatments of transient acantholytic dermatosis (Grover’s disease): a systematic review. JDDG - Journal of the German Society of Dermatology. Wiley-VCH Verlag; 2020. pp. 826–833.
3. Lacarruba F., Boscaglia S., Nasca MR., Caltabiano R., Micali G. Grover’s disease: dermoscopy, reflectance confocal microscopy and histopathological correlation. Dermatology Practical & Conceptual. Mattioli1885; 2017; 7(3): 51–54.
4. Nedelcu R., Dobre A., Turcu G., Andrei R., Balasescu E., Pantelimon F., et al. Grover’s Disease Association with Cutaneous Keratinocyte Cancers: More than a Coincidence? International Journal of Molecular Sciences. Multidisciplinary Digital Publishing Institute (MDPI); 2024.
5. Gantz M., Butler D., Goldberg M., Ryu J., McCalmont T., Shinkai K. Atypical features and systemic associations in extensive cases of Grover disease: A systematic review. Journal of the American Academy of Dermatology. Mosby Inc.; 2017. pp. 952-957.e1.
6. Simpson CL., Tiwaa A., Zaver SA., Johnson CJ., Chu EY., Harms PW., et al. ERK hyperactivation in epidermal keratinocytes impairs intercellular adhesion and drives Grover disease pathology. 2024; DOI:10.1172/jci
7. Awe O., Pavlidakey P., Kole L., Kissel R. Drug-induced Grover’s disease: a case report and review of the literature. International Journal of Dermatology. John Wiley and Sons Inc; 2022; 61(5): 591–594. DOI:10.1111/ijd.15803
8. Seli D., Ellis KT., Goldust M., Shah K., Hu R., Zhou J., et al. Association of Somatic ATP2A2 Damaging Variants with Grover Disease. JAMA Dermatology. American Medical Association; 2023; 159(7): 745–749. DOI:10.1001/jamadermatol.2023.1139
9. Gupta N., Virgen CA., Goyal A., Lane AA., Antin JH., Divito SJ., et al. Novel use of acitretin for posttransplant Grover’s disease and cutaneous graft versus host disease. JAAD Case Reports. Elsevier Inc, 2023; 33: 67–69. DOI:10.1016/j.jdcr.2023.01.011
10. Moodie D., Dunn C., Fernandez C., Nathoo R. Retinoids for the Treatment of Refractory Grover’s Disease: A Case Series and Review of the Literature. Cureus. Springer Science and Business Media LLC; 2024; DOI:10.7759/cureus.53510
11. Kaprive JF., Washburn S., Emerson CM., Mullins T. Successful treatment of resistant Grover’s disease with dupilumab. International Journal of Women’s Dermatology. Wolters Kluwer Medknow Publications; 2024; 10(2): E140. DOI:10.1097/JW9.0000000000000140
12. Olagbenro M., Ravi S., Myers D., Lin D., Woodburn W., Walter JR., et al. Assessment of Blue Light Phototherapy for Grover Disease: A Nonrandomized Controlled Trial. JAMA Dermatology. American Medical Association; 2023; 159(1): 102–104. DOI:10.1001/jamadermatol.2022.4491
13. Renz P, Hasan S, English JC, Wegner RE, Jedrych J, Ho J, Colonias A. Grover’s Disease Treated With Total Skin Electron Beam Radiotherapy. J Drugs Dermatol. 2019;18(4):392-393.
14. Pendlebury GA., Oro P., Merideth D., Rudnick E. A rare case of transient acantholytic dermatosis (Aka. grover’s disease) with concomitant pediculosis pubis: An atypical presentation and first documented case report. Dermatopathology. Multidisciplinary Digital Publishing Institute (MDPI); 2021; 8(4): 502–508. DOI:10.3390/dermatopathology8040052
15. Sousou JM, Fritsche JM, Fernandez BR, Tummala MR, Scott R. Management and Treatment of Grover's Disease: A Case Report and Review of Literature. Cureus. 2022 Apr 12;14(4):e24082. doi: 10.7759/cureus.24082
16. Zabawski EJ. Transient Acantholytic Dermatosis (Grover Disease) Treatment & Management. Medscape, 2024. https://emedicine.medscape.com/article/1124347-treatment#d1

Epidemiologi Grover Disease
Penatalaksanaan Grover Disease

Artikel Terkait

  • 5 Lesi Kulit pada Neonatus
    5 Lesi Kulit pada Neonatus
Diskusi Terkait
Anonymous
Dibalas 23 Mei 2025, 13:39
Apa diagnosis gatal kulit pada anak yang tepat?
Oleh: Anonymous
6 Balasan
Alo Dokter. Selamat siang dok, terdapat pasien usia 5 tahun keluhan gatal dan pada kulit sejak 2 minggu. Pasien sering makan sosis. Gatal bertambah saat...
dr.Simon Andri Sihombing
Dibalas 03 April 2025, 16:50
Apakah ada tatalaksana lain untuk miliaria crystalina yang hilang timbul selama 3 bulan selain antihistamin, dexa, dan krim antibiotik?
Oleh: dr.Simon Andri Sihombing
6 Balasan
Alo dokter, saya ada pasien anak laki-laki usia 6 tahun dengan diagnosa miliaria crystallina di bagian dada kanan dan lutut kanan sudah 3 bulan hilang...
dr.Risa
Dibalas 16 Juli 2024, 07:23
Bercak putih seluruh wajah pada pasien 70 tahun
Oleh: dr.Risa
2 Balasan
Alo dokter. Izin berdikusi pasien saya wanita usia 70 th muncul bercak putih di wajahnya. Pasien mengatakan keluhan ini timbul sudah lama (tidak mengingat...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.