Penilaian Risiko Pasien Bunuh Diri

Oleh :
dr. Immanuel Natanael Tarigan

Insiden bunuh diri di Indonesia adalah 3 per 100.000 penduduk pada tahun 2015. Hal ini membuat dokter di Indonesia harus memiliki kemampuan yang mumpuni untuk melakukan penilaian risiko bunuh diri pada pasien dan harus mampu menanganinya.

Sekitar 800.000 orang meninggal di seluruh dunia akibat bunuh diri, menurut data WHO tahun 2017. Hal ini berarti setiap 40 detik ada 1 orang yang meninggal akibat bunuh diri di seluruh dunia. Bunuh diri menjadi penyebab kematian kedua terbanyak pada kelompok usia 15-29 tahun. Data yang sama mengungkapkan bahwa insiden bunuh diri di Indonesia mencapai 3 kejadian per 100.000 penduduk pada tahun 2015.[1]

last decision

Penilaian risiko bunuh diri pada pasien dilakukan dengan kajian menyeluruh pada seluruh aspek. Anamnesis memegang peran penting dalam menganalisis risiko bunuh diri pada pasien.

Stabilisasi dan Mengamankan Keadaan

Prinsip awal pada saat melakukan pemeriksaan adalah stabilisasi dan mengamankan keadaan. Pasien yang datang ke instalasi gawat darurat sebaiknya diperiksa dalam ruangan terpisah. Sedapat mungkin pasien diperiksa dengan pendampingan oleh keluarga dan perawat. Pasien harus diperiksa secara menyeluruh oleh dokter sebelum dapat dipulangkan sesuai dengan kondisi medis pasien. Pasien yang berlaku membahayakan seperti mengancam petugas kesehatan sebaiknya tidak ditahan. Tenaga kesehatan harus memanggil petugas keamanan.[2]

Peda pasien yang datang disertai dengan kegawatdaruratan medis, misalnya pasien dengan syok hipovolemik akibat perdarahan akibat percobaan bunuh diri, penanganan kegawatdaruratan harus didahulukan. Pada saat itu, gejala yang dialami pasien, misalnya mengamuk dan gangguan kesadaran harus dikaitkan dengan kondisi medis terlebih dahulu sampai terbukti tidak. Penundaan pemeriksaan psikiatri dilakukan pada pasien yang belum stabil atau pasien dengan gangguan kesadaran. Pada pasien percobaan harus dilakukan pemeriksaan psikiatris sebelum dipulangkan walaupun kondisi medisnya sudah stabil.[2]

Selama perawatan, keamanan kondisi pasien harus tetap diperhatikan. Pasien harus dijauhkan dari benda-benda yang dapat digunakan untuk menyakiti diri, termasuk benda-benda tajam. Pasien harus ditempatkan pada posisi yang mudah diamati petugas dan harus terus didampingi oleh keluarga.[2]

Anamnesis

Pada saat melakukan anamnesis pada pasien dengan percobaan bunuh diri, dokter harus melakukan prinsip komunikasi dokter-pasien. Dokter harus dapat membangun suasana yang terbuka. Kebanyakan pasien mungkin tidak nyaman berbicara bila ada orang lain di dalam ruangan. Dokter harus meminta ijin untuk keluarga pasien meninggalkan ruangan dan meminta waktu untuk berbicara terpisah. Pada saat melakukan komunikasi dengan pasien dokter harus dapat menunjukkan empati. Dokter harus menjaga agar sikap agar tetap tenang, terbuka, tidak menghakimi dan tidak mengancam.[3]

Anamnesis pada pasien percobaan bunuh diri tetap harus mengikuti prinsip-prinsip kerahasiaan pasien. Dokter harus memastikan bahwa data yang diperolehnya akan digunakan oleh orang-orang yang berkepentingan pada penatalaksanaan pasien. Pada saat menggali informasi dari teman dan keluarga pasien, dokter harus tetap menjaga kerahasiaan pasien. Riwayat upaya percobaan bunuh diri merupakan hal yang sensitif dan apabila diketahui khalayak umum, dapat memberikan dampak yang luar biasa pada kehidupan pasien.[3,4]

Anamnesis dimulai dengan menggali kondisi medis pasien, termasuk riwayat psikiatri pada pasien. Pasien juga harus menanyakan riwayat pengobatan yang dijalani pasien, termasuk untuk kondisi medis lainnya. Hal lain yang perlu ditanyakan pada pasien adalah riwayat penggunaan obat-obatan terlarang, riwayat kejang, cedera kepala dan faktor risiko HIV. Hal lain yang perlu dipertanyakan pada pasien adalah apakah ada percobaan bunuh diri sebelumnya. Diperkirakan sekitar 90% pasien yang melakukan bunuh diri terdiagnosis gangguan psikiatri saat meninggal, kebanyakan depresi, penyalahgunaan alkohol, atau keduanya. Kesepian, sering ditemukan bersamaan dengan depresi, merupakan salah satu faktor risiko percobaan bunuh diri yang harus dapat ditemukan pemeriksa.[2] Sekitar 60% dari mereka memiliki gangguan mood, selebihnya berupa skizofrenia, kecanduan alkohol, penyalahgunaan zat terlarang, dan gangguan kepribadian seperti gangguan kepribadian antisosial atau borderline.[5]

Faktor Risiko

Dokter harus mampu mengidentifikasi faktor-faktor risiko ini pada pasien:

  1. Percobaan bunuh diri sebelumnya. Percobaan bunuh diri sebelumnya adalah faktor risiko terkuat pada percobaan bunuh diri, namun, kebanyakan orang meninggal pada percobaan bunuh diri pertama
  2. Penyakit fisik kronis dan berat seperti nyeri kronis
  3. Gangguan sistem saraf pusat seperti cedera otak akibat trauma
  4. Gangguan psikiatri seperti gangguan mood (misalnya depresi), skizofrenia, gangguan cemas, penyalahgunaan alkohol dan zat terlarang dan gangguan kepribadian
  5. Gejala-gejala psikiatri seperti anhedonia, kecemasan/panik yang hebat, insomnia, halusinasi, intoksikasi dan kebencian pada diri sendiri
  6. Kecenderungan agresifitas dan/atau impulsivitas
  7. Riwayat trauma atau penyiksaan
  8. Riwayat bunuh diri pada keluarga
  9. Peristiwa yang dialami yang dapat memicu perasaan terhina, malu dan putus asa seperti pada gagalnya hubungan atau pernikahan, pemutusan hubungan kerja, status kesehatan dan finansial baik yang sedang terjadi atau diperkirakan akan terjadi
  10. Pola asuhan keluarga yang tidak harmonis misalnya pada perceraian, pergantian pengasuh, pergantian tempat tinggal atau lingkungan, atau pengurungan
  11. Dukungan sosial yang buruk dan isolasi
  12. Kemudahan akses pada hal-hal yang mengancam nyawa misalnya pistol, obat dan zat terlarang
  13. Tinggal di lingkungan dengan pengaruh bunuh diri yang tinggi
  14. Kesulitan akses terhadap hukum
  15. Kesulitan akses pada penyedia layanan kesehatan terutama layanan kesehatan jiwa dan panti rehabilitasi
  16. Kepercayaan dan budaya tertentu yang percaya bahwa bunuh diri adalah perilaku yang terhormat dan penyelesaian masalah pada dilema diri
  17. Paparan pada kasus bunuh diri, termasuk oleh media, terutama yang dilakukan oleh orang terkenal dapat menyebabkan terjadinya copycat suicide[4,6]

Faktor risiko 1 hingga 9 adalah faktor risiko pribadi, sedangkan faktor risiko 10 hingga 15 adalah faktor risiko yang akibat lingkungan pasien. Faktor risiko 16 dan 17 adalah faktor risiko yang umum ditemukan dalam masyarakat.

Anamnesis Peristiwa Bunuh Diri

Dokter juga harus melakukan anamnesis untuk menggali peristiwa bunuh diri pada saat ini. Pasien diminta untuk menceritakan mendetail peristiwa percobaan bunuh diri yang dilakukannya termasuk senjata yang digunakan, bagaimana dia mendapatkan senjata tersebut. Pada kasus percobaan bunuh diri dengan meminum racun dan overdosis, dokter harus menggali rincian kapan pasien meminumnya dan berapa perkiraan jumlah dosis yang digunakan pada percobaan bunuh diri tersebut. Pasien juga harus ditanyakan kapan dia merencanakan percobaan bunuh diri dan perasaan atau peristiwa pencetusnya saat itu. Pasien yang memiliki ide mendetail tentang proses bunuh diri yang akan dilakukannya, termasuk misalnya kapan, bagaimana dan di mana dia akan bunuh diri, memiliki kecenderungan untuk benar-benar bunuh diri, terutama apabila rencana tersebut merupakan rencana yang letal.[7] Bila diperlukan, anamnesis juga dilakukan pada pengantar pasien, misalnya keluarga atau polisi dengan tetap menjaga privasi pasien.

Anamnesis sebagai Bagian Terapi

Anamnesis pada pasien bunuh diri harus dianggap sebagai bagian dari terapi pasien. Hal ini dapat terjadi bila dokter menunjukkan perilaku empati, keterlibatan aktif, dan tidak menghakimi. Dokter dapat memulai sesi wawancara dengan pertanyaan terbuka. Dokter harus mendengarkan jawaban pasien dengan seksama. Pada pasien yang menolak, tidak terbuka, dan menjawab pertanyaan seadanya, anamnesis dapat dimulai dengan berfokus pada keengganan tersebut. Dokter harus mendengarkan emosi pasien dan ulangi kembali dengan konteks yang lebih luas. Selama anamnesis, dokter juga harus mampu menanamkan sikap positif pada pasien. Pada pasien dengan kesepian dan keputusasaan, yang sering muncul bersamaan dengan depresi, kematian menjadi jawaban dari permasalahan mereka. Mereka hidup dalam keadaan yang tidak mampu melihat perbaikan dari kondisinya saat ini. Dengan menunjukkan sikap empati, pasien dapat merasakan bahwa dokter memahami sakit yang mereka rasakan. Salah satu tujuan anamnesis selain mendapatkan informasi dari pasien, juga memberikan kenyamanan pada pasien bahwa dirinya dihargai dan segala sesuatu dapat menjadi lebih baik.[2,3]

Pasien tanpa Keluhan Percobaan Bunuh Diri

Pada pasien poliklinik atau pasien yang tidak datang dengan keluhan percobaan bunuh diri, memerlukan pendekatan khusus oleh dokter. Dokter harus dapat menangkap apakah pasien memiliki risiko bunuh diri. Salah satu alat bantu yang dapat digunakan oleh dokter adalah Ask Suicide-Screening Questions (ASQ). Kuesioner ini terdiri atas 4 pertanyaan dan 1 pertanyaan lanjutan. Empat pertanyaan tersebut adalah:

  1. Pernahkah dalam beberapa minggu terakhir Anda berharap Anda lebih baik meninggal?
  2. Pernahkah Anda berpikir bahwa Anda atau keluarga Anda akan lebih baik apabila Anda meninggal dalam beberapa minggu terakhir?
  3. Apakah Anda pernah berpikir mengakhiri hidup Anda dalam beberapa minggu terakhir?
  4. Apakah Anda pernah mencoba melakukan bunuh diri?

Bila pasien menjawab “Ya” untuk salah satu pertanyaan di atas, tanyakan pertanyaan lanjutan apakah pasien berpikir untuk melakukan bunuh diri saat ini. Bila iya, tanyakan pasien bagaimana rencana bunuh diri yang akan dilakukannya.

Bila pasien menjawab tidak pada semua 4 pertanyaan pertama, skrining dinyatakan selesai, pasien dinyatakan tidak risiko, dan tidak memerlukan penatalaksanaan. Namun, penilaian klinis lebih penting dibanding skrining. Bila pasien menjawab ya atau menolak menjawab untuk 1 atau lebih 4 pertanyaan pertama, pasien dinyatakan positif. Bila pasien menjawab ya untuk pertanyaan lanjutan, pasien dinyatakan positif akut. Pasien harus mendapat pemeriksaan mental penuh dan pengawasan ketat. Pasien harus dijauhkan dari benda yang dapat mengancam nyawanya. Bila pasien menjawab tidak untuk pertanyaan kelima, pasien dinyatakan positif tidak akut. Pasien dinyatakan berpotensi melakukan percobaan bunuh diri. Pasien harus mendapat pengawasan oleh pihak kesehatan sampai dinyatakan aman.[8]

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik adalah komponen penting pada pemeriksaan pasien percobaan bunuh diri. Pemeriksaan fisik pasien dimulai dengan menilai status mental pasien. Status mental dapat dinilai dengan bertanya tentang hal-hal yang seharusnya pasien ketahui misalnya pasien diminta mengeja namanya, menyebutkan nama-nama hari dalam seminggu dan bertanya dia ada di mana. Pasien harus dinilai orientasi dan kewasapadaannya. Pemeriksaan awal ini dapat digunakan untuk menyingkirkan delusi, psikotik atau penggunaan zat terlarang pada pasien.[2]

Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara teliti dan menyeluruh. Dokter harus dapat menentukan temuan-temuan khusus berkaitan dengan penyakit kronis, penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang. Pasien harus menilai penampilan pasien, tingkat kesadaraan, pakaian, kebersihan dan perawatan pasien. Dokter harus mencari jejas jarum suntik, bau yang tidak biasa atau bekas luka yang menunjukkan pelecehan dan cedera di masa lalu. Pemeriksaan fisik berupa tanda-tanda vital juga harus dilakukan oleh pasien.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang pada pasien percobaan bunuh diri biasanya jarang dilakukan. Pemeriksaan penunjang dilakukan dengan pertimbangan dokter. Bila penyebab organik belum dapat disingkirkan, lakukan pemeriksaan penunjang misalnya pemeriksaan CT Scan atau pemeriksaan toksikologi dapat. Pemeriksaan darah lengkap dan rekam jantung juga dapat dilakukan sesuai kondisi pasien.

Kesimpulan

Penanganan pasien percobaan bunuh diri membutuhkan perhatian khusus oleh dokter. Pasien harus diperlakukan seperti pasien pada umumnya. Penanganan harus didahului dengan penilaian risiko bunuh diri, meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang.

Dokter harus mengingat untuk terlebih dahulu memastikan keamanan lingkungan dan stabilisasi pasien. Selanjutnya anamnesis dilakukan untuk mengetahui faktor yang mendasari percobaan bunuh diri dan faktor risiko yang ada pada pasien. Dokter juga harus mampu menggali kecenderungan percobaan bunuh diri yang mungkin dilakukan pasien. Pemeriksaan fisik dan penunjang dilakukan terutama untuk menyingkirkan penyebab organik pada pasien.

Hal lain yang penting dipahami oleh dokter adalah komunikasi dengan pasien harus dianggap sebagai bagian dari terapi. Dokter harus mampu berkomunikasi dengan terbuka, empati dan tidak menghakimi. Dokter juga harus mampu memberikan penguatan pada pasien.

Referensi