Suplementasi Vitamin B pada Cemas dan Depresi

Oleh :
dr. Irwan Supriyanto PhD SpKJ

Suplementasi vitamin B diduga berperan pada cemas dan depresi tetapi bukti yang mendukung masih dipertanyakan. Telah diketahui bahwa diet merupakan salah satu faktor risiko yang bisa dimodifikasi untuk gangguan mood. Nutrisi yang buruk berhubungan dengan luaran gangguan mental yang lebih buruk, sehingga dipikirkan bahwa diet dapat dimodifikasi untuk menurunkan gejala-gejala depresi dan meningkatkan aktivitas fisik.[1,2]

Dasar Pertimbangan Manfaat Vitamin B pada Cemas dan Depresi

Vitamin B merupakan mikronutrien yang dilaporkan menguntungkan bagi kesehatan otak dan mood. Vitamin tersebut merupakan ko-faktor dalam sintesis dan regulasi neurotransmiter dopaminergik dan serotonergik. Dengan demikian, diperkirakan bahwa defisiensi mikronutrien dan/atau status nutrisi suboptimal ikut berkontribusi pada berbagai gangguan mental, khususnya cemas dan depresi.[1,3]

Sad,Depressed,Woman,Or,Teen,In,Depression,Holding,Pill,And

Vitamin B juga berperan dalam menjaga keseimbangan antara inhibisi dan eksitasi neural. Pergeseran keseimbangan ini ke arah eksitasi yang berlebihan berperan dalam sejumlah gangguan mental, termasuk pada cemas dan depresi. Atas dasar tersebut, suplementasi vitamin B mungkin bisa digunakan sebagai adjuvant therapy untuk cemas dan depresi.[4-6]

Manfaat Vitamin B terhadap Cemas dan Depresi

Beberapa meta analisis telah meneliti manfaat vitamin B kompleks dalam mengatasi berbagai gangguan mood, baik pada orang sehat, orang berisiko gangguan mood, dan pasien yang sudah didiagnosis secara klinis mempunyai gangguan mood.

Meta Analisis oleh Young et al tahun 2019

Sebuah meta analisis oleh Young et al. pada tahun 2019 melibatkan 16 uji klinis yang meneliti efek suplementasi vitamin B terhadap mood pada orang sehat dan orang berisiko gangguan mood.

Berdasarkan hasil meta analisis, pada 568 orang yang sehat, suplementasi vitamin B dinilai dapat bermanfaat untuk gejala depresi tetapi tidak signifikan [standardized mean difference (SMD) = 0,15; 95% CI = −0,01; 0,32; p = 0,07]. Pada 958 orang sehat, vitamin B juga dinilai bermanfaat terhadap stress (p = 0,03), tetapi heterogenitasnya cukup tinggi. Sementara itu, vitamin B dinilai tidak bermanfaat untuk gejala ansietas pada 562 orang sehat.[1]

Selain pada orang yang sehat, meta analisis ini juga meninjau manfaat vitamin B pada populasi yang berisiko mempunyai gangguan mood. Namun, manfaat suplementasi vitamin ini terhadap mood secara keseluruhan masih kontroversial; manfaat hanya secara signifikan ditemukan pada subjek berisiko yang memiliki skor penilaian yang lebih buruk pada awal penelitian.[1]

Meta Analisis oleh Blampied et al tahun 2020

Blampied et al. pada tahun 2020 menyertakan 23 uji acak terkontrol buta ganda yang meneliti manfaat vitamin B kompleks sebagai penanganan gejala depresi pada berbagai macam populasi. Studi oleh Mech et al. (n=330) dan studi kecil Lewis et al. melibatkan pasien yang sudah didiagnosis dengan major depressive disorder (MDD). Namun, manfaat vitamin B kompleks pada pasien dalam kedua penelitian tersebut ini mempunyai hasil yang kontradiktif.

Blampied et al. juga meneliti efek vitamin B kompleks dengan populasi sehat yang memiliki mood depresi. Berdasarkan 7 studi yang ada, tidak dapat disimpulkan apakah vitamin B kompleks bermanfaat mengatasi mood depresi pada populasi ini.

Selain gejala depresi, efek suplementasi vitamin B kompleks pada gangguan mood lainnya juga tidak dapat dinilai karena hasil yang bervariasi pada studi. Meski demikian, pada sejumlah peserta yang menunjukkan gejala stres dan mood negatif, ditemukan sedikit manfaat dalam perbaikan sebagian skor penilaian. Studi-studi dalam skala besar diperlukan untuk mendukung pernyataan tersebut.[7]

Manfaat Beberapa Jenis Vitamin B Lainnya terhadap Cemas dan Depresi

Suplementasi vitamin B6 dapat menurunkan kecemasan berdasarkan self-report assessment oleh pasien dan juga menginduksi tren penurunan depresi. Pada sisi lain, suplementasi vitamin B12 hanya menginduksi trend penurunan cemas. Dosis vitamin B6 yang digunakan adalah 100 mg/hari dan dosis vitamin B12 yang digunakan adalah 1000 µg/hari.[4]

Studi retrospektif oleh Mahdavifar et al. tahun 2021 pada 7387 orang dewasa di Iran menemukan asupan biotin yang lebih tinggi berhubungan dengan penurunan prevalensi gejala-gejala depresi (OR 0,71; 95% CI 0,55-0,91; P-trend= 0,008) dan asupan folat secara moderat berhubungan dengan kemungkinan mengalami depresi yang lebih rendah (OR 0,78; 95% CI 0,61-0,99; P-trend 0,71).

Asupan vitamin B6 secara moderat berhubungan dengan kemungkinan mengalami depresi yang lebih rendah (OR 0,71; 95% CI 0,50-0,99; P-trend =0,43). Pada perempuan, asupan vitamin B5 dan dan B8 dalam diet yang lebih tinggi berhubungan terbalik dengan prevalensi depresi.[6]

Menurut penelitian yang sama, asupan diet vitamin B8 berhubungan dengan risiko kecemasan yang lebih rendah (OR 0,71; 95% CI 0,56-0,89; P-trend= 0,003). Asupan moderat tiamin (OR 0,76; 95% CI 0,61-0,94; P-trend=0,20), niasin (OR 0,78; 95% CI 0,62-0,97; P-trend=0,41), dan vitamin B5 (OR 0,80; 95% CI 0,65-0,99; P-trend=0,05) berhubungan dengan kemungkinan mengalami kecemasan yang lebih rendah.

Manfaat Vitamin B12

Sangle et al  terkait manfaat vitamin B12 dengan gejala depresi. Sangle et al menemukan bahwa belum ada bukti kuat terkait manfaat pemberian vitamin B12 pada gejala depresi. Namun, kadar vitamin B12 yang rendah berhubungan dengan risiko terjadinya depresi. Oleh karena itu, pasien dengan kadar vitamin B12 yang rendah perlu dievaluasi untuk gejala defisiensi vitamin B12 karena manifestasi neurologis dapat saja muncul bahkan pada rentang yang normal.[8]

Pada pria, asupan vitamin B12 berhubungan dengan prevalensi gejala-gejala kecemasan yang lebih rendah dan asupan moderat tiamin berhubungan dengan kemungkinan mengalami kecemasan yang lebih rendah. [6]

Meskipun demikian, sebuah tinjauan sistematis oleh Markun et al. tahun 2021 menemukan bahwa suplementasi vitamin B12 maupun B kompleks ternyata tidak berhubungan dengan parameter depresi. Mereka menyatakan bahwa suplementasi dengan vitamin B12 tidak efektif dalam penanganan depresi.[9]

Kesimpulan

Vitamin B berperan sebagai kofaktor neurotransmitter dopaminergik dan serotonergik, serta berpengaruh terhadap keseimbangan eksitasi dan inhibisi neural. Atas dasar tersebut, vitamin B diperkirakan dapat bermanfaat dalam mempengaruhi cemas dan depresi.[3,4]

Namun, hasil penelitian yang ada menunjukkan belum ada bukti kuat terkait manfaat vitamin B kompleks maupun jenis-jenis spesifik vitamin B untuk mencegah terjadinya cemas dan depresi pada populasi yang sehat, berisiko, maupun pada pasien yang sudah terdiagnosis secara klinis mengalami gangguan mood.

 

Referensi