Intoksikasi Alkohol Meningkatkan Risiko Bunuh Diri

Oleh :
dr. Hunied Kautsar

Kasus bunuh diri merupakan salah satu dari dua puluh penyebab utama kematian pada semua usia. Intoksikasi alkohol saat ini diketahui sebagai salah satu faktor risiko yang meningkatkan risiko bunuh diri.

Bunuh diri merupakan peringkat ketiga penyebab kematian pada golongan usia 15-44 tahun dan peringkat kedua penyebab kematian pada golongan usia 10-24 tahun. Angka ini belum termasuk percobaan bunuh diri yang pada kenyataannya terjadi 20 kali lebih sering dari kasus bunuh diri yang berhasil. Diperkirakan ada satu juta orang meninggal setiap tahunnya akibat kasus bunuh diri.[1]

Depositphotos_178935918_m-2015_compressed

Konsumsi Alkohol dan Risiko Tindakan Bunuh Diri

Tindakan bunuh dapat dipicu oleh beragam faktor seperti faktor psikologis, biologis, sosial, lingkungan dan budaya sehingga tidak ada tindakan bunuh diri yang disebabkan hanya karena satu alasan.[1] Konsumsi alkohol dapat meningkat seiring dengan menurunnya kesehatan psikis dan peningkatan konsumsi alkohol merupakan salah satu faktor risiko dari tindakan bunuh diri. Sebuah penelitian diadakan di Amerika Serikat untuk mengukur kadar alkohol dalam darah pelaku bunuh diri dan dibandingkan dengan populasi pengkonsumsi alkohol yang masih hidup.[2]

Data pelaku bunuh diri diambil dari National Violent Death Reporting System (NVDRS). Enam belas negara bagian di Amerika Serikat tergabung dalam NVDRS sehingga data yang didapat beragam dan dapat mewakili Amerika Serikat secara keseluruhan. Data pembanding didapat dari National Epidemiologic Survey on Alcohol and Related Conditions (NESARC). Hasil dari penelitian menyatakan bahwa terdapat kandungan alkohol di dalam darah 36% pelaku bunuh diri laki-laki dan 28% pelaku bunuh diri perempuan, termasuk di dalamnya hampir seperempat dari pelaku bunuh diri di bawah usia 21 tahun memiliki kandungan alkohol di dalam darah waktu meninggal. Hal ini mengkhawatirkan karena untuk mengkonsumsi alkohol secara legal di Amerika, warga negara Amerika harus berusia minimal 21 tahun. Kadar alkohol dalam darah pada sebagian besar pelaku bunuh diri melebihi 0,08 g/dl (batasan kadar alkohol dalam darah untuk menyetir kendaraan bermotor secara legal). Jika dibandingkan dengan pengkonsumsi alkohol yang masih hidup, pelaku bunuh diri memiliki kecenderungan lebih besar untuk mengkonsumsi alkohol dalam jumlah banyak/berlebih.[2]

Sebuah studi meta analisis diadakan untuk meneliti hubungan antara konsumsi alkohol dengan risiko pemikiran bunuh diri, percobaan bunuh diri dan tindakan bunuh diri yang berhasil. Studi meta analisis tersebut meliputi 29 penelitian yang melibatkan 420.732 partisipan. Hasil studi meta analisis tersebut menyatakan bahwa konsumsi alkohol yang tidak sehat (alcohol use disorder) meningkatkan secara signifikan risiko pemikiran bunuh diri, percobaan bunuh diri, dan tindakan bunuh diri yang berhasil.[3]

Kasus Intoksikasi Alkohol di Instalasi Gawat Darurat dan Risiko Bunuh Diri

Sejumlah penelitian membuktikan bahwa konsumsi alkohol yang berlebih dapat meningkatkan risiko bunuh diri. Oleh sebab itu, pasien yang masuk ke instalasi gawat darurat akibat intoksikasi alkohol atau kasus lain yang berhubungan dengan alkohol (kecelakaan, perkelahian, atau percobaan bunuh diri) merupakan populasi yang harus diberikan perhatian khusus. Namun, sebuah penelitian di salah satu instalasi gawat darurat di Amerika menunjukkan hasil yang tidak ideal, yakni terdapat perbedaan dalam penanganan pasien yang mabuk dan mencoba melakukan tindakan bunuh diri dengan pasien yang tidak mabuk dan mencoba melakukan tindakan bunuh diri. Hasil penelitian menyatakan bahwa sebagian besar pasien yang masuk ke instalasi gawat darurat karena mabuk dan mencoba melakukan tindakan bunuh diri tidak menerima konseling dari psikiater saat ditangani di instalasi gawat darurat. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh anggapan bahwa percobaan tindakan bunuh diri pada pasien yang mabuk merupakan tindakan impulsif yang dipicu oleh intoksikasi alkohol sehingga ketika sudah tidak mabuk, resiko untuk mengulangi percobaan bunuh diri sudah berkurang. Selain itu, konseling dengan psikiater lebih sulit dilakukan jika pasien dalam keadaan mabuk.[4]

Pasien yang masuk ke instalasi gawat darurat akibat intoksikasi alkohol sebaiknya ditangani sama seperti pasien yang melukai dirinya sendiri atau pasien yang melakukan percobaan bunuh diri. Dokter harus melakukan penilaian risiko bunuh diri pada pasien karena intoksikasi alkohol meningkatkan resiko bunuh diri. Sebuah penelitian diadakan untuk meneliti hubungan antara kasus gawat darurat yang berkaitan dengan intoksikasi alkohol dengan risiko tindakan bunuh diri di beberapa rumah sakit di Wales, United Kingdom. Dari penelitian yang berlangsung selama enam tahun terdapat 28.425 kasus gawat darurat yang berhubungan dengan intoksikasi alkohol dan 1.562 kasus diantaranya merupakan kasus bunuh diri. Dari kasus bunuh diri tersebut, 125 kasus bunuh diri terjadi setelah pasien dirawat di instalasi gawat darurat rumah sakit dan 11 kasus (9%) terjadi dalam kurun waktu 4 minggu setelah pasien diijinkan pulang. Dari hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pasien yang dilarikan ke instalasi gawat darurat akibat kasus emergensi yang berhubungan dengan intoksikasi alkohol memiliki risiko untuk melakukan tindakan bunuh diri. Oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih menyeluruh untuk identifikasi dan evaluasi psikososial bagi pasien yang dilarikan ke instalasi gawat darurat akibat kasus emergensi yang berhubungan dengan intoksikasi alkohol sebelum mereka diijinkan pulang.[5]

Kesimpulan

Tindakan bunuh diri dapat dipicu oleh beragam faktor seperti faktor psikologis, biologis, sosial, lingkungan dan budaya sehingga tidak ada tindakan bunuh diri yang disebabkan hanya karena satu alasan.  Sejumlah hasil penelitian menyatakan bahwa konsumsi alkohol yang berlebih merupakan salah satu faktor risiko dari tindakan bunuh diri. Oleh karena itu dibutuhkan pemeriksaan yang menyeluruh dan penanganan yang spesifik dalam menangani pasien yang masuk ke instalasi gawat darurat akibat intoksikasi alkohol. Walaupun pasien yang mengalami intoksikasi alkohol tersebut tidak melakukan tindakan percobaan bunuh diri, pasien tersebut harus ditangani layaknya seorang pasien yang melukai dirinya sendiri. Ketika pasien sudah dalam keadaan stabil, pemeriksaan oleh psikiater penting untuk dilakukan sehingga penyebab dari konsumsi alkohol berlebih dapat ditangani secara tepat dan menurunkan risiko tindakan bunuh diri di kemudian hari.

Referensi