Penggunaan Steroid pada Rhinosinusitis Kronis

Oleh dr. Rainey Ahmad Fajri

Penggunaan steroid pada pasien dengan rhinosinusitis kronis sering didapati pada praktik sehari-hari, terutama pada rhinosinusitis kronis dengan polip nasal. Rhinosinusitis adalah inflamasi dan infeksi berulang pada saluran hidung dan sinus paranasal. [1] The European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps (EPOS) mendefinisikan rhinosinusitis kronis sebagai inflamasi pada hidung dan paranasal sinus yang ditandai dengan 2 gejala atau lebih, di antaranya adalah hidung mampet atau keluarnya cairan dari hidung (anterior atau posterior) yang ditambah dengan nyeri seperti tertekan pada wajah dan tidak dapat mencium bau selama lebih dari 12 minggu.[2]

Rhinosinusitis disebabkan oleh adanya inflamasi kronik dan infiltrasi eosinophil dan neutrophil di saluran nafas bagian atas. Adanya interaksi antara faktor genetik dan imunologis dari pasien, serta adanya agen lingkungan dan infeksi, menyebabkan inflamasi kronis dan perubahan struktur pada saluran nafas atas.[3]

Depositphotos_90799416_m-2015_compressed

 

Efek Steroid pada Rhinosinusitis Kronis

Pada pasien dengan rhinosinusitis kronis, terapi yang paling sering digunakan adalah steroid, terutama pada rhinosinusitis kronis yang disertai polip nasal. Steroid yang digunakan dapat berupa steroid topikal maupun sistemik. Steroid digunakan karena dapat mengurangi konsentrasi mediator inflamasi dan mengurangi jumlah sel inflamasi dengan cara menginhibisi proliferasi sel dan merangsang apoptosis. Efektivitas steroid bergantung pada kepatuhan pasien, besarnya polip, serta distribusinya pada nasal dan sinus. [4,5]

Penggunaan Steroid Intranasal dan Steroid Oral pada Rhinosinusitis Kronis

Penggunaan steroid pada penatalaksanaan rhinosinusitis kronis dapat dilakukan secara topikal menggunakan sediaan intranasal, maupun secara sistemik menggunakan sediaan oral.

Steroid Intranasal

Penggunaan kortikosteroid intranasal sebagai penatalaksanaan primer untuk rhinosinusitis kronis telah diuji pada beberapa randomized controlled trial (RCT). Suatu RCT di tahun 2001 menunjukkan bahwa pemberian steroid topikal (flutikason) tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan pemberian plasebo. Namun, jumlah sampel yang diikutkan pada studi ini sangat kecil, yaitu hanya 22 subjek studi. [6]

RCT lain yang dilakukan pada 167 pasien selama 20 minggu menunjukkan hasil berbeda, dimana dilaporkan pemberian steroid (budesonide 128 mcg) intranasal secara signifikan memperbaiki gejala pasien, seperti hidung tersumbat, pilek, dan hiposmia. [7]

Sejalan dengan RCT tersebut, sebuah tinjauan sistematik dan meta analisis yang membandingkan penggunaan steroid intranasal dengan placebo atau tanpa terapi pada 48 RCT juga melaporkan bahwa penggunaan steroid intranasal mampu mengurangi ukuran polip, mencegah rekurensi polip, dan mengurangi gejala serta ketidaknyamanan yang dialami pasien. [8]

Sebuah tinjauan sistematik lain yang dilakukan pada 6 RCT membandingkan penggunaan steroid intranasal pada rhinosinusitis kronis dengan polip dan rhinosinusitis kronis tanpa polip. Studi ini menyimpulkan bahwa intranasal steroid bermanfaat untuk pasien dengan rhinosinusitis kronis dengan polip, namun penggunaan pada pasien yang tidak memiliki polip masih membutuhkan studi lebih lanjut. [5]

Steroid Oral

Pada sebuah double-blind placebo-controlled multicenter trial, 47 pasien dengan rhinosinusitis kronis dengan nasal polip bilateral dirandomisasi dalam 3 kelompok. Kelompok pertama mendapat methylprednisolone dengan dosis tapering 32-8 mg/hari selama 20 hari. Kelompok kedua mendapat doxycycline 200 mg pada hari pertama, kemudian 100 mg di hari-hari berikutnya. Kelompok ketiga adalah kelompok placebo. Studi ini menyimpulkan bahwa pasien yang diberikan steroid dan doxycycline mengalami perbaikan yang signifikan dalam hal ukuran polip, gejala nasal, dan penanda inflamasi mukosal dan sistemik. [9]

Sejalan dengan hasil tersebut, sebuah tinjauan Cochrane pada 8 RCT yang membandingkan penggunaan steroid oral pada rhinosinusitis kronis dengan placebo atau tanpa intervensi, menyimpulkan bahwa penggunaan steroid oral selama 2-3 minggu secara signifikan memperbaiki kualitas hidup dan meringankan gejala yang diderita pasien. [10]

Tinjauan sistematik lainnya meneliti mengenai penggunaan steroid oral pada rhinosinusitis kronis dengan polip dan tanpa polip. Studi ini merekomendasikan penggunaan steroid oral pada rhinosinusitis kronis dengan polip, namun penggunaannya pada rhinosinusitis tanpa polip masih bersifat opsional karena tidak didukung bukti ilmiah yang cukup. Penting untuk diingat pula, bahwa studi ini melaporkan efek samping gastrointestinal yang signifikan pada pasien yang mengonsumsi steroid per oral. [12]

Steroid Oral + Steroid Intranasal

Sebuah uji klinis di tahun 2011 pada 60 pasien dengan rhinosinusitis kronis yang disertai polip nasal ukuran sedang-besar meneliti mengenai efektivitas dan keamanan penggunaan steroid oral selama 2 minggu yang diikuti dengan 26 minggu terapi rumatan menggunakan steroid topikal. Pada studi ini, intervensi yang diberikan adalah prednisolone 25 mg/hari selama 2 minggu diikuti dengan tetes hidung fluticasone propionate 2 x 400 mcg selama 8 minggu dan 2 x 200 mcg semprot hidung selama 18 minggu. Hasil studi menunjukkan bahwa pada pemantauan selama 6 bulan penggunaan steroid oral yang diikuti steroid topikal lebih efektif bila dibandingkan dengan penggunaan steroid intranasal saja dalam mengurangi ukuran polip dan mengembalikan fungsi pembau pada pasien rhinosinusitis kronis. [11]

Kesimpulan

Steroid sering digunakan pada pasien rhinosinusitis kronis, terutama yang disertai polip nasal, karena dapat mengurangi konsentrasi mediator inflamasi dan mengurangi jumlah sel inflamasi dengan cara menginhibisi proliferasi sel dan merangsang apoptosis.

Studi menunjukkan bahwa penggunaan steroid topikal dan sistemik pada rhinosinusitis kronis yang disertai polip sama-sama mampu memperbaiki keluhan pasien dan mengurangi ukuran polip secara signifikan. Namun, sebuah studi menunjukkan bahwa pada pemantauan selama 6 bulan penggunaan steroid oral selama 2 minggu yang diikuti dengan steroid intranasal selama 26 minggu dilaporkan lebih efektif. Masih dibutuhkan lebih banyak studi untuk menentukan rekomendasi pemberian yang paling efektif, mencakup jenis steroid yang digunakan, dosis, dan cara pemberian.

Dokter juga perlu mempertimbangkan efek samping yang mungkin terjadi pada penggunaan steroid. Penelitian menemukan efek samping gastrointestinal yang signifikan akibat penggunaan steroid.

Penggunaan steroid topikal dan sistemik pada rhinosinusitis kronis yang tidak disertai polip masih tidak direkomendasikan karena belum didukung bukti ilmiah yang cukup.

Referensi