Rasionalisasi Pemberian Antibiotik pada Sinusitis Akut

Oleh :
dr. Khrisna Rangga Permana

Sinusitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi virus sehingga antibiotik hanya perlu diberikan pada sinusitis akut bakterial yang jarang terjadi, 0,5-2% dari seluruh kasus sinusitis akut[1].

Sinusitis merupakan salah satu diagnosis klinis yang sering ditemukan dan ditangani pada level layanan primer. Kondisi ini disebabkan oleh peradangan pada sinus yang, pada sebagian kecil kasus, disertai oleh peradangan pada mukosa hidung. American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery membagi klasifikasi penyakit ini menjadi tipe akut, subakut, akut rekurens, dan kronik berdasarkan durasi perjalanan penyakit. Sinusitis akut kemudian dibagi kembali menjadi sinusitis bakterial akut (SBA) dan sinusitis viral akut (SVA) berdasarkan penyebabnya[2].

Tinjauan ini akan membahas tentang aspek rasionalisasi pemberian antibiotik, manfaat pemberian antibiotik, dan risiko dari pemberian antibiotik pada sinusitis akut.

fakta-tentang-gurah-untuk-mengobati-sinus-alodokter

Rasionalisasi Pemberian Antibiotik pada Sinusitis Akut

  • Infectious Disease Society of America dalam pedoman praktik klinisnya menjelaskan bahwa pemberian terapi antibiotik empirik sebaiknya segera dimulai ketika diagnosis klinis SBA telah ditegakkan[3].

  • SBA dapat dibedakan dari SVA jika salah satu dari tiga kriteria berikut terpenuhi[3]:

    • Onset sinusitis dianggap persisten apabila penyakit berlangsung lebih dari 10 hari dengan gejala yang menetap atau tanda khas sinusitis akut tanpa menunjukkan adanya perbaikan klinis
    • Onset sinusitis berat apabila terdapat demam tinggi diatas 39oC dan sekret purulen dari hidung atau nyeri pada wajah yang berlangsung minimal selama 3-4 hari berturut-turut sejak gejala muncul
    • Onset sinusitis dengan perburukan jika ada episode demam baru disertai nyeri kepala atau peningkatan sekret hidung yang mengikuti suatu episode infeksi saluran napas atas akibat virus yang berlangsung 5-6 hari setelah sebelumnya mengalami perbaikan klinis

  • Selain itu, National Institute of Health and Care Excellence menyarankan agar pemberian antibiotik juga perlu dipertimbangkan pada kelompok pasien yang berisiko tingggi mengalami komplikasi akibat sinusitis akut[4], yaitu:

    • Pasien dengan komorbiditas yang telah ada sebelumnya, seperti penyakit neuromuskuler, ginjal, jantung, dan paru
    • Pasien dalam kondisi imunosupresi
    • Pasien fibrosis kistik
    • Pasien berusia di atas 65 tahun dengan gejala batuk yang disertai dua atau lebih faktor risiko penyerta, atau pasien berusia di atas 80 tahun dengan minimal satu faktor risiko penyerta (riwayat perawatan di rumah sakit dalam 12 bulan terakhir, penderita diabetes tipe 1 atau 2, gagal jantung kongestif, dan riwayat penggunaan kortikosteroid oral)

  • Bukti ilmiah tentang indikasi penggunaan antibiotik pada anak-anak dengan sinusitis akut sangat terbatas namun dari temuan beberapa uji klinis acak diperkirakan bahwa efektivitas antibiotik pada anak-anak dengan sinusitis akut mirip dengan efektivitasnya pada orang dewasa [4].

Manfaat Pemberian Antibiotik pada Sinusitis Akut

  • Terlepas dari rasionalisasi pemberian antibiotik pada sinusitis yang telah dijelaskan sebelumnya, bukti mutakhir dari berbagai uji klinis acak terkontrol menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik hanya memiliki sedikit manfaat untuk pengobatan sinusitis akut.
  • Bahkan, manfaat antibiotik terlihat makin kecil, khususnya pada level layanan primer dimana sebagian besar penyakit ini didiagnosis dan diobati, yang ditunjukkan oleh perlunya 7-15 orang mendapat terapi antibiotik agar satu orang merasakan manfaatnya (number-needed-to-treat: 7-15) [1]
  • Ahovuo-Saloranta et al dalam tinjauan mereka menemukan enam studi acak terkontrol yang membandingkan antibiotik terhadap plasebo untuk mengobati sinusitis akut dengan temuan sebagai berikut[5]:

    • Meta-analisis 5 studi (n = 631) menunjukkan bahwa antibiotik tidak menunjukkan perbaikan klinis bermakna dalam 7-15 pasca pengobatan dibandingkan plasebo. Antibiotik terlihat menunjukkan manfaat, yang didukung oleh risiko relatif kegagalan terapi sebesar 0.66 (95% CI 0,44-0,98). Namun, perlu dicatat bahwa tingkat perbaikan klinis cukup tinggi pada kedua kelompok, yakni 86% pada kelompok plasebo vs 91% pada kelompok antibiotik.
    • Di sisi lain, antibiotik terlihat mampu menurunkan risiko kegagalan perbaikan klinis dalam 1-2 minggu sebesar 27% (95% CI 15-37%) bila dibandingkan dengan plasebo. Namun, seberapa jauh hal ini bermakna secara klinis masih perlu dikaji lebih lanjut.

  • Sebuah tinjauan sistematis oleh Falagas et al terhadap 17 uji klinis terkontrol yang membandingkan antibiotik dengan plasebo dalam mengatasi sinusitis akut menemukan bahwa [6]:

    • Enam belas studi (n = 2648) menunjukkan bahwa terapi antibiotik meningkatkan angka kesembuhan dalam 7-15 hari pasca terapi dimulai secara signifikan (OR 1,64; 95% CI 1,35-2,00)
    • Namun, peneliti pada studi ini menyimpulkan bahwa manfaat antibiotik relatif kecil dibandingkan plasebo mengingat bahwa proporsi kesembuhan pasien yang relatif sama pada kelompok antibiotik dibandingkan dengan plasebo (77,2% vs 67,8%)

  • Rosenfeld et al dalam kajiannya menemukan bahwa[1] :

    • Tingkat kesembuhan dalam 7-15 hari pertama pasca terapi tidak berbeda bermakna antara pasien yang mendapat antibiotik dibandingkan dengan plasebo (91% vs 86%)
    • Diperlukan terapi antibiotik terhadap 11-15 pasien untuk menunjukkan manfaat antibiotik pada 1 orang
    • Durasi nyeri dan gejala penyakit terkait SBA tidak berhubungan dengan tata laksana awal (observasi gejala dalam 7 hari tanpa antibiotik vs pemberian antibiotik saat diagnosis klinis)
    • Saat ini belum ada bukti klinis yang menunjukkan bahwa peningkatan usia, riwayat rinitis alergi, maupun pasien usia lanjut menjadi prediktor manfaat antibiotik dalam kasus SBA[1]

Risiko Pemberian Antibiotik pada Sinusitis Akut

  • Beberapa uji klinis terkontrol acak menunjukkan adanya peningkatan risiko kejadian yang tidak diharapkan (KTD) dari pemberian antibiotik, dibandingkan dengan plasebo, pada kasus SBA[1,4–6]
  • Tingkat KTD pada berbagai jenis antibiotik yang digunakan dalam terapi SBA sangat bervariasi antara 8-59% dan bergantung pada jenis antibiotik yang digunakan [5]
  • KTD terkait saluran cerna merupakan yang paling sering ditemukan, namun ruam kulit, infeksi jamur pada vagina, sakit kepala, dan pusing juga dapat dialami oleh pasien yang mendapat antibiotik untuk penanganan SBA[1]
  • Pemberian antibiotik meningkatkan tingkat kejadian KTD sebesar 10-12% dibandingkan dengan plasebo dengan OR 1,8-2,1 [1,5,6]
  • Walaupun pemberian antibiotik berhubungan dengan peningkatan KTD, tidak tampak adanya perbedaan antar grup pasien yang mendapat antibiotik dan plasebo dalam hal tingkat drop-out (1,5%) dari penelitian[5,6]
  • Namun, perlu diketahui bahwa dalam berbagai penelitian tentang pengawasan efek samping antibiotik pada studi terapi sinusitis akut, hanya kurang dari separuh penelitian yang menunjukkan sistem pelaporan standar terhadap efek samping antibiotik [7]. Maka, masih terdapat kemungkinan bahwa tingkat KTD dari penggunaan antibiotik dalam terapi SBA sama atau bahkan melebihi manfaat dari terapi itu sendiri [5].

Kesimpulan

  • Diagnosis klinis untuk membedakan SBA dari SVA menjadi kunci utama dalam pertimbangan awal perlu atau tidaknya terapi antibiotik dalam penanganan kasus SBA
  • Pemberian antibiotik hanya menunjukkan sedikit manfaat dibandingkan plasebo dalam pengobatan SBA terutama dalam hal perbaikan gejala klinis penurunan risiko kegagalan pengobatan
  • Terdapat peningkatan risiko KTD dari pemberian antibiotik dibandingkan plasebo pada pasien SBA sebesar 10-12%
  • Tingkat KTD sangat bervariasi untuk tiap jenis antibiotik yang digunakan dalam terapi SBA
  • Gejala saluran cerna, ruam kulit, infeksi jamur vagina, dan sakit kepala merupakan efek samping antibiotik yang sering ditemukan
  • Hingga kini, pengawasan efek samping dari penggunaan antibiotik pada SBA masih terbatas

Referensi