Pemeriksaan Skrining COVID-19 untuk Pasien Sebelum Operasi

Oleh :
dr. Ardi Putranto Ari S SpPK

Pemeriksaan skrining COVID-19 untuk pasien sebelum operasi harus dilakukan demi menjaga keamanan dan keselamatan petugas medis dan juga pasien. Manajemen penanganan pasien sebelum operatif di saat pandemi COVID-19 memang perlu perhatian khusus, karena berhubungan dengan perlengkapan alat pelindung diri (APD) petugas kesehatan, kesiapan ruang operasi, kesiapan ruangan setelah operasi, dan  sumber daya manusia.[1,2]

Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

Risiko Tindakan Operasi pada Pasien COVID-19

Peran laboratorium klinik pada manajemen pasien sebelum operasi cukup besar, yaitu dalam menentukan derajat risiko pasien. Perlu diingat bahwa tindakan intubasi untuk kepentingan pembiusan, yang dilakukan sebelum dilakukan operasi, merupakan tindakan yang memicu aerosolisasi yang berisiko menyebarkan virus corona kepada tenaga medis yang berada di dalam ruang operasi apabila pasien tersebut terinfeksi COVID-19. Selain itu, pasien yang terinfeksi dengan virus SARS-CoV-2 mempunyai risiko perburukan penyakit dan risiko kematian yang tinggi apabila dilakukan tindakan operasi. Komplikasi dapat berupa acute respiratory distress syndrome (ARDS), kerusakan jantung, gagal ginjal, bahkan kematian.[1,2]

Karena beberapa risiko yang dapat disebabkan tindakan operasi pada pasien COVID-19, maka terdapat beberapa rekomendasi operasi selama era pandemi COVID-19. Berdasarkan asosiasi bedah saraf Italia, pasien sebelum operasi dibagi menjadi 4 grup.[3]

shutterstock_1683755050-min

Kasus Terkonfirmasi

Grup 1 terdiri dari pasien terkonfirmasi kasus COVID-19 melalui pemeriksaan reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) menggunakan sampel swab nasofaring. Atau pemeriksaan serologi imunoglobulin atau IgM – IgG reaktif, meskipun pemeriksaan serologi tidak menggambarkan infeksi aktif tetapi hanya gambaran kontak sebelumnya dengan virus corona.[3]

Kasus Tersangka

Grup 2 adalah pasien dengan kondisi sebagai berikut:

  • Mungkin memiliki riwayat kontak dengan pasien COVID-19
  • Disertai gejala infeksi COVID-19, seperti demam, gangguan pernapasan, dan pneumonia khas COVID-19 yang terdiagnosis oleh CT scan thorax

  • Ditemukan juga leukopenia dan
  • Belum ada hasil pemeriksaan PCR[3]

Kasus Risiko Tinggi

Grup 3 adalah pasien dengan kondisi:

  • Tidak terdapat gejala COVID-19
  • Tidak menunjukkan kelainan laboratorium atau radiologi
  • Tetapi mempunyai riwayat kontak erat dengan pasien terkonfirmasi positif atau tersangka COVID-19
  • Belum ada hasil pemeriksaan PCR[3]

Kasus Risiko Rendah:

Grup 4 ini adalah pasien yang tidak mempunyai riwayat kontak, hasil tes RT-PCR negatif, dan tidak memiliki gejala klinik maupun manifestasi COVID-19 yang tampak melalui CT-scan thorax.[3]

Skrining Menggunakan Pemeriksaan RT-PCR

Metode Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) adalah pemeriksaan amplifikasi asam nukleat untuk virus ribonucleic acid (RNA). Sampel yang paling sering digunakan adalah swab tenggorok bagian nasofaring yang paling sensitif, atau orofaring.  Sampel swab kemudian diletakkan dalam cairan untuk melepaskan RNA virus ke dalam larutan, dan secara bertahap dilakukan amplifikasi menggunakan RT-PCR.[4]

Swab nasofaring atau orofaring sering direkomendasikan untuk skrining atau diagnosis dini COVID-19, yang terbaik adalah swab nasofaring tunggal karena nyaman untuk pasien dan aman untuk operator tenaga medis. Menurut centers for disease control and prevention (CDC), pemeriksaan ini memiliki sensitivitas sekitar 66–80%, dan sekitar 20 – 33 % dapat menghasilkan positif palsu.[5]

Pemeriksaan RT-PCR dengan sampel feses pasien yang terkonfirmasi COVID-19, menghasilkan hasil positif sebanyak 36–53%. Apabila dibandingkan dengan sampel swab tenggorok, sampel feses positif 2–5 hari setelah pengambilan swab tenggorok. Sebaliknya, sekitar 23–82% pasien tetap menunjukkan hasil sampel feses positif meskipun sampel swab tenggorok sudah negatif, dengan rata-rata hari pemeriksaan adalah 3–20 hari.[5]

Bagian bedah saraf dan bedah telinga hidung tenggorok rumah sakit umum Singapura, merekomendasikan semua pasien yang akan melakukan operasi elektif risiko tinggi, yaitu tindakan bedah yang melibatkan bagian saluran nafas bagian atas, harus menjalani pemeriksaan RT-PCR rutin sehari sebelum operasi, terlepas dari semua status pasien tersebut. Apabila hasil swab negatif, maka alat pelindung diri atau APD, seperti masker N95, pelindung mata, dan alat pelindung badan dapat dikurangi, atau cukup menggunakan APD yang digunakan untuk operasi umumnya. Tetapi apabila hasil swab positif maka tindakan harus ditunda hingga hasil swab negatif.[6]

Asosiasi bedah saraf di Perancis memberikan rekomendasi untuk melakukan rawat inap pada pasien yang akan dilakukan tindakan bedah selama 48 jam sebelum tindakan dimulai, apabila pasien asimtomatik maka dilakukan pemeriksaan skrining metode RT-PCR saat pasien datang. Apabila pasien menunjukkan gejala COVID-19 maka dilakukan skrining PCR 2x dengan jarak 24 jam tiap pemeriksaan, dikombinasikan dengan pemeriksaan CT-scan thorax. Berlaku sama untuk pasien yang datang melalui instalasi gawat darurat.[7]

Bagian anestesi rumah sakit Prince Wales Hongkong memberikan rekomendasi untuk skrining COVID-19 pada pasien sebelum operasi melalui 2 metode. Metode pertama menggunakan real time RT-PCR (rRT-PCR) dengan sampel dari swab hidung dan sputum, atau menggunakan rapid RT-PCR dengan waktu tes sekitar 2–4 jam yang hanya mendeteksi infeksi virus aktif. Metode kedua menggunakan riwayat kontak pasien, gejala klinik, dan temuan karakteristik CT-scan thorax.[8]

Rekomendasi kementerian kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes-RI), bagian direktorat jenderal pencegahan dan pengendalian penyakit, adalah semua pasien tanpa gejala dilakukan pengambilan sampel untuk pemeriksaan RT-PCR sebanyak 2x, yaitu pada hari ke-1 dan hari ke-14. Untuk pasien terkonfirmasi COVID-19 dan tersangka kontak dengan pasien COVID-19 apabila terjadi perburukan, dapat dilakukan pengambilan sampel swab 2x yaitu pada hari ke-1 dan ke-2.[9]

Skrining Menggunakan Pemeriksaan Antibodi

Pemeriksaan antibodi dikenal dengan sebutan rapid test. Pemeriksaan serologi untuk mendeteksi antibodi menggunakan dasar pemeriksaan IgM, IgG, IgA, atau Ig total tubuh. Pembentukan respon antibodi tersebut membutuhkan waktu, pada kasus SARS-CoV-2 banyak penelitian menyebutkan bahwa respon serologi terbentuk di hari ke 7-11 setelah terpapar virus. Antibodi SARS-CoV-2 sendiri tidak selalu ada dalam darah.[4]

American Society of Anesthesiologists (ASA) dan Anesthesia Patient Safety Foundation (APSF) tidak menyarankan pemeriksaan antibodi SARS-CoV-2, karena tidak mempunyai peran dalam skrining dan penggolongan risiko. Kelemahan pemeriksaan antibodi adalah tidak semua pasien terinfeksi COVID-19 membentuk antibodi yang dapat dideteksi alat dan menyebabkan hasil negatif palsu. Selain itu, dapat terjadi reaksi silang dengan virus corona jenis lainnya sehingga menghasilkan hasil positif palsu. Jenis antibodi yang dideteksi alat adalah IgM, IgG, IgA dan Ig total, dimana pada fase asimtomatis pemeriksaan antibodi tidak terdeteksi. Deteksi antibodi tidak sama setiap jenisnya, IgM dan IgA terdeteksi mulai hari ke 3–6 setelah onset gejala, sementara IgG mulai terdeteksi hari ke 10–18 setelah onset gejala.[1,2]

Skrining Menggunakan Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium darah memiliki keunggulan dapat memberikan hasil yang lebih cepat. Karena itu, sambil menunggu hasil pemeriksaan RT-PCR, dokter dan rumah sakit dapat mengambil keputusan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan yang dapat dijadikan skrining pasien COVID-19 adalah parameter hematologi, koagulasi, dan kimia klinik.

Parameter Hematologi dan Koagulasi

Bagian anestesi rumah sakit Prince Wales Hongkong dan departemen bedah fakultas kedokteran Universitas Hashemite Yordania merekomendasikan pemeriksaan parameter hematologi sebagai skrining sebelum operasi. Hasil pemeriksaan berupa leukositosis, limfopenia, neutrofilia, pemanjangan international normalized ratio (INR), dan kadar D-Dimer meningkat terjadi pada kurang lebih 30% pasien terkonfirmasi COVID-19. Limfopenia sendiri ditetapkan sebagai parameter paling sering ditemukan pada pasien COVID-19.[8]

Parameter Kimia Klinik

Rekomendasi anestesi rumah sakit Prince Wales Hongkong dan departemen bedah fakultas kedokteran Universitas Hashemite Yordania untuk parameter kimia klinik yang layak dipertimbangkan sebagai skrining COVID-19 adalah peningkatan lactate dehydrogenase (LDH), kreatinin kinase, alanin aminotranferase, aspartat aminotransferase, dan peningkatan C-reactive protein (CRP). Parameter laboratorium yang berperan sebagai konfirmasi pneumonia adalah analisa gas darah dengan hasil saturasi oksigen ≤ 93%.[8,10]

The European association for the study of the liver European Society of Clinical Microbiology and Infectious Disease (EASL-ESCMID) memberikan rekomendasi untuk pasien yang akan menjalani tindakan biopsi hati, yaitu untuk melakukan pemeriksaan serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT), albumin, dan kadar trombosit dalam serum. Tindakan biopsi hati hanya dilakukan apabila pasien negatif antigen COVID-19, SGPT mengalami kenaikan > 5x dari nilai normal, dan curiga keganasan hati. Apabila pasien positif terinfeksi COVID-19 atau kenaikan SGPT hanya < 3x nilai normal atau bukan curiga ke arah keganasan maka segala macam tindakan bedah maupun biopsi ditunda karena berisiko memperberat kondisi pasien dan terjadinya penularan virus kepada tenaga medis.[11]

Skrining Menggunakan Pemeriksaan Pencitraan

Hasil pemeriksaan rontgen toraks yang normal tidak dapat menyingkirkan diagnosis COVID-19, sehingga pemeriksaan tersebut pada pasien sebelum operasi dilakukan tidak untuk skrining COVID-19. Sedangkan pemeriksaan CT scan thorax hanya dilakukan bila ditemukan gejala pernapasan yang semakin memburuk, yaitu untuk menegakkan diagnosis pneumonia.

Kesimpulan

Pemeriksaan skrining COVID-19 untuk pasien sebelum operasi yang direkomendasikan hampir di seluruh fasilitas kesehatan di dunia adalah dengan metode PCR menggunakan sampel swab dari nasofaring yang memiliki sensitivitas, spesifisitas, dan tingkat akurasi cukup tinggi. Skrining metode ini sebaiknya dilakukan pada semua pasien sebelum operasi, walaupun pasien asimtomatik. Tindakan operasi pada masa pandemi COVID-9 harus diseleksi dengan ketat, dimana hanya beberapa jenis operasi yang direkomendasikan tetap dapat dilaksanakan. Apabila hasil PCR negatif, maka petugas kesehatan cukup menggunakan APD untuk operasi umumnya. Namun, jika hasil positif maka tindakan operasi sebaiknya ditunda, dan jika tidak dapat ditunda maka petugas kesehatan di dalam ruang operasi harus menggunakan APD lengkap menghadapi COVID-19, termasuk masker N95, pelindung mata, serta sarung tangan 2 lapis.

Pemeriksaan skrining COVID-19 lainnya adalah mendeteksi IgM, IgA dan IgG, parameter laboratorium seperti hematologi (limfositopenia), koagulasi, dan kimia klinik, serta pemeriksaan CT scan thorax jika ada kecurigaan pneumonia. Semua metode skrining COVID-19 berfungsi untuk meningkatkan keselamatan pasien dan tenaga medis di ruang operasi. Apabila dilakukan sesuai dengan rekomendasi yang ada maka diharapkan keamanan dan keselamatan pasien serta tenaga medis di rumah sakit, khususnya di ruang operasi dapat terjaga dengan baik.

Referensi