Rapid Test untuk Skrining Virus Corona

Oleh :
dr. Nurul Falah

Rapid test untuk skrining virus corona sangat dibutuhkan mengingat penyebaran penyakit ini sangat cepat. Rapid test atau imunokromatografi ini sangat bermanfaat karena hasil dapat keluar lebih cepat, membutuhkan biaya lebih murah, dan dapat dilakukan pada lingkungan dengan tenaga dan sarana kesehatan yang terbatas. Tes ini juga tidak perlu dilakukan di laboratorium dengan biosecurity level II, sehingga memungkinkan untuk dilakukan di hampir seluruh rumah sakit di Indonesia.[1-3]

Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

Rapid test sebagai penapisan coronavirus disease in 2019 (COVID-19) di Indonesia terdiri dari rapid test antibodi dan/atau rapid test antigen. Rapid test hanya merupakan skrining awal, hasil pemeriksaan harus tetap dikonfirmasi dengan Real-Time Reverse-Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Pada rapid test antibodi, spesimen yang diperlukan darah dan dapat dilakukan pada komunitas. Sedangkan rapid test antigen, spesimen diambil dari swab orofaring/nasofaring dan hanya dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki biosafety cabinet.[12]

Penyebaran Covid-19

Pada akhir tahun 2019, serangkaian kasus pneumonia dengan  penyebab yang tidak diketahui muncul di Wuhan, Cina. Setelah diteliti virus ini termasuk virus corona jenis baru yang disebut SARS-CoV-2. Penambahan jumlah kasus COVID-19 berlangsung cukup cepat dan sudah terjadi penyebaran antar negara, termasuk Indonesia. World Health Organization (WHO) akhirnya menetapkan COVID-19 sebagai pandemi ada 11 Maret 2020.[3,4]

shutterstock_1656883729-min

Berdasarkan laporan terakhir dari European Centre for Disease Prevention and Control pada 25 Maret 2020, terdapat 421.413 kasus COVID-19 yang terkonfirmasi positif dan ada sebanyak 18.810 kematian yang diakibatkan oleh virus ini. Sementara itu, data perkembangan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) sampai tanggal 24 Maret 2020 didapatkan penambahan kasus tertinggi yakni 107 kasus baru, sehingga terdapat total 686 kasus positif COVID-19 dan 55 kematian yang diakibatkan oleh virus ini.[5,6]

Cepatnya penyebaran penyakit ini membuat sejumlah negara termasuk Indonesia mulai menerapkan rapid test  untuk deteksi virus corona agar orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), maupun orang yang terdapat di area transmisi dapat segera diperiksa, sehingga bila hasilnya nanti positif, akan dapat segera dilakukan isolasi untuk memutus mata rantai penularan COVID-19.[7,8]

Baku Emas Pemeriksaan COVID-19

Menurut WHO, deteksi ribonucleic acid/RNA virus corona baru (SARS-CoV-2)  dengan metode Real-Time Reverse-Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) dari sputum dan swab tenggorok merupakan baku emas pemeriksaan COVID-19. Pemeriksaan RT-PCR kemudian akan dilanjutkan dengan genom sequencing untuk mengkonfirmasi diagnosis COVID-19.[3,9,10]

Pemeriksaan ini memiliki spesifitas yang tinggi, namun sensitivitasnya rendah, sehingga  diperlukan pemeriksaan penunjang CT scan paru untuk mencari gambaran pneumonia akibat Covid-19. Pemeriksaan RT-PCR juga memiliki hasil negatif palsu yang tinggi karena sering mengandalkan swab tenggorok, faktanya infeksi virus SARS-CoV-2 dimulai di paru-paru bukan di saluran pernafasan atas. Selain itu, alat pemeriksaan ini tidak tersedia di semua fasilitas kesehatan karena membutuhkan biaya yang mahal dan tenaga yang terlatih, serta waktu yang lama dalam pengerjaannya.[3,9,10]

Sebuah penelitian terhadap 1070 spesimen yang diambil dari 205 pasien terkonfirmasi Covid-19, rata-rata berusia 44 tahun, memberikan hasil positif RT-PCR pada spesimen cairan lavage bronchoalveolar tertinggi 93%, sputum/dahak 72%, swab hidung 63%, swab faring 32%), dan darah 1%.[13]

Rapid Test untuk Skrining Virus Corona

Peranan rapid test antibodi adalah untuk dapat mendeteksi keberadaan antibodi Immunoglobulin M/IgM dan Immunoglobulin G/IgG terhadap virus SARS-CoV-2 dari sampel darah manusia. Pemeriksaan ini hanya membutuhkan waktu 15 menit dan dapat mendeteksi infeksi COVID-19 dalam berbagai stadium penyakit. Antibodi IgM diketahui memiliki peranan penting sebagai pertahanan utama saat terjadi infeksi virus, sementara respon IgG adalah melindungi tubuh dari infeksi dengan cara mengingat virus yang sebelumnya pernah terpapar di dalam tubuh.[1,2,8]

Respon Imun Humoral pada Infeksi Virus Corona SARS-CoV-2

Di dalam imunitas humoral yang berperan adalah limfosit B atau sel B yang berasal dari stem sel. Fungsi utama imunitas humoral adalah mempertahankan tubuh terhadap infeksi bakteri, virus dan melakukan netralisasi toksin. Masuknya benda asing akan merangsang sel B untuk menghasilkan antibodi. Sel Th2 juga mempunyai kontribusi di dalam imunitas ini. Sel Th 2 akan memproduksi Il-4, Il-5, Il-6 yang merangsang sel B untuk menghasilkan imunoglobulin, menekan kerja monosit/makrofag dan respon imun seluler. Imunoglobulin dibentuk oleh sel plasma yang berasal dari proliferasi sel B akibat kontak dengan antigen. Saat ini mekanisme respon imun humoral pada infeksi SARS-CoV-2 tengah dikaji. Pada sebuah penelitian ditemukan bahwa median durasi deteksi antibodi IgM dan IgA adalah 5 hari, sementara median durasi deteksi IgG adalah 14 hari. Hal ini menjadi dasar bahwa deteksi imunoglobulin mungkin dapat dijadikan alat skrining virus corona.[1,2,11]

Tingkat Kepercayaan Rapid Test

Dalam mendeteksi berbagai patogen, terdapat beberapa urutan tingkat kepercayaan (confidence level), dimana yang paling tinggi tingkat kepercayaannya adalah pemeriksaan kultur. Diikuti oleh pemeriksaan molekuler (DNA dan RNA), pemeriksaan antigen, dan yang paling rendah tingkat kepercayaannya adalah pemeriksaan antibodi (IgM dan IgG sebagai antipatogen). Meskipun berada pada level yang terendah, rapid test masih dapat digunakan sebagai skrining atau penapisan awal COVID-19 sebelum dilanjutkan ke pemeriksaan dengan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi, yakni pemeriksaan RT-PCR. Pemeriksaan kultur sampai saat ini belum bisa dilakukan untuk COVID-19.[1-3]

Metodologi Rapid Test untuk Skrining Virus Corona

Kartrid rapid test antibodi virus corona terdiri atas 5 bagian, yaitu plastic backing, sample pad, conjugate pad, absorbent pad  dan membran NC. Persiapan yang harus dilakukan pada kartrid sebelum digunakan adalah membran NC menempel di lapisan plastic backing untuk memudahkan penanganan. Anti-human-IgM, anti-human-IgG, dan anti-rabbit-IgG diletakkan secara berturut-turut pada garis M, G, dan C (control) pada kartrid rapid test. Conjugate pad disemprotkan campuran AuNP-COVID-19 recombinant antigen conjugate dan AuNP-rabbit-IgG. Sebelumnya, AuNP-COVID-19 recombinant antigen conjugate telah dibuat dengan mencampurkan protein rekombinan virus SARS-CoV-2 yang telah dilarutkan ke dalam campuran koloid AuNP dan borate buffer lalu dimurnikan. AuNP-rabbit-IgG juga dibuat dengan metode yang sama. Sample pad disiapkan dengan bovine serum albumin (BSA) (3%, w/v) and Tween-20 (0.5%, w/v).[1,7]

Rapid test antibodi bisa menggunakan spesimen serum/plasma/darah lengkap, dari penelitian menyebutkan konsistensi untuk tiap spesimen adalah 100 persen. Dibutuhkan volume spesimen sekitar 10 mikroliter untuk serum/plasma, atau 20 mikroliter untuk darah lengkap. Spesimen diletakkan pada sample pad lalu diikuti dengan menambahkan 2-3 tetes larutan buffer. Hasil pemeriksaan bisa didapatkan dalam waktu 15 menit.[1]

Interpretasi Rapid Test untuk Skrining Virus Corona

Sebanyak tiga garis terdapat pada kartrid rapid test. Garis kontrol (C) akan menjadi merah ketika sampel spesimen telah mengalir melalui kartrid. Keberadaan IgM anti-SARS-CoV-2 dan IgG anti-SARS-CoV-2 akan ditunjukkan oleh garis uji merah di wilayah M dan G. Kalau hanya garis kontrol (C) menunjukkan warna merah, berarti sampel negatif virus corona. Kalau garis M atau G atau kedua garis tersebut menjadi merah hal itu menunjukkan sampel positif, sehingga perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan RT-PCR. Jika garis kontrol tidak tampak merah, tes tidak valid, dan tes harus diulang dengan kartrid lain.[1]

Spesifisitas dan sensitivitas Rapid Test untuk Deteksi Virus Corona

Menurut WHO, rapid test untuk skrining COVID-19 masih perlu dievaluasi lebih lanjut serta tidak dapat digunakan sebagai alat diagnostik. Sejauh ini hanya terdapat satu penelitian yang meneliti rapid test untuk COVID-19. Dari penelitian tersebut dilaporkan terkait uji coba rapid test untuk COVID-19 terhadap 397 sampel darah dari pasien positif COVID-19, didapatkan sensitivitas sebesar 88,66% dan spesifisitas 90,63%. Meski demikian pemeriksaan ini masih memungkinkan hasil yang negatif palsu dan positif palsu.[1,3]

Penyebab hasil negatif palsu di antaranya:

  • Konsentrasi antibodi yang rendah, jadi jika level IgG dan IgM di bawah batas deteksi dari rapid test hasilnya akan menjadi negatif
  • Adanya perbedaan respon imun tiap individu dalam produksi antibodi, misalnya pada pasien immunocompromised yang memiliki gangguan pembentukan antibodi
  • Antibodi IgM akan berkurang kadarnya atau bahkan menghilang setelah 2 minggu

Sementara itu penyebab hasil positif palsu antara lain:

  • Adanya kemungkinan reaksi silang (cross reactive) dengan jenis virus corona lain
  • Infeksi lampau dengan jenis virus corona selain virus SARS-CoV-2[1,3,9]

Kelebihan dan Kekurangan Pemeriksaan Rapid Test

Pemeriksaan rapid test untuk skrining COVID-19 memiliki beberapa kelebihan. Bila dibandingkan dengan RT-PCR, rapid test akan lebih menghemat waktu dan tidak membutuhkan peralatan yang banyak, pemeriksaan ini lebih mudah untuk dilakukan dan hanya membutuhkan training singkat. Pemeriksaan hanya membutuhkan sedikit darah dari ujung jari karena sama baiknya dengan darah dari vena. Hal ini memungkinkan pemeriksaan untuk dilakukan di tempat tidur, klinik, laboratorium bahkan pusat keramaian seperti bandara dan stasiun kereta api.[1-3]

Kelebihan lain dari pemeriksaan rapid test untuk COVID-19 adalah kemampuannya dalam mendeteksi antibodi IgG dan IgM pada carrier SARS-CoV-2 yang asimtomatis, sehingga baik untuk mengontrol penyebaran COVID-19. Selain itu, pada pemeriksaan rapid test dapat mendeteksi IgM dan IgG secara bersamaan, sehingga pemeriksaan ini dapat dilakukan sebagai alat diagnostik dan monitoring selama terapi.[1-3]

Adapun kekurangan dari rapid test untuk COVID-19 adalah bahwa pemeriksaan ini tidak dapat mengkonfirmasi keberadaan virus SARS-CoV-2, namun hanya menyediakan info adanya reaksi imunitas terhadap infeksi. Meski demikian, kombinasi rapid test dengan RT-PCR dapat memungkinkan diagnosis COVID-19 yang lebih akurat.[1-3]

Kesimpulan

Rapid test dapat menjadi metode skrining/penapisan awal untuk virus corona. Meskipun rapid test tidak seakurat pemeriksaan RT-PCR, namun pemeriksaan ini dapat membantu pemerintah mengukur sejauh mana penyebaran infeksi COVID-19 di Indonesia. Rapid test dapat membantu menunjukkan paparan infeksi terutama pada kasus yang dicurigai sehingga dapat digunakan untuk studi epidemiologi dan penelitian lebih lanjut. Mengingat rapid  test ini memungkinkan terjadinya hasil yang positif palsu dan negatif palsu, maka hasil yang positif sebaiknya tetap dikonfirmasi dengan tes RT-PCR. Sedangkan ODP/PDP dengan hasil negatif harus dilakukan tes ulang setelah 7 hari. Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait rapid test untuk skrining virus corona.[1-3]

Referensi