Pemeriksaan Preoperatif Tidak Perlu Rutin Dilakukan untuk Operasi Katarak

Oleh :
dr. Utami Noor Syabaniyah SpM

Pemeriksaan tambahan preoperatif rutin untuk operasi katarak seringkali hanya bersifat skrining, dan belum tentu sesuai dengan indikasi. Pemeriksaan preoperatif tambahan yang sering dilakukan di antaranya laboratorium, EKG, hingga rontgen toraks. Operasi katarak merupakan salah satu tindakan bedah terbanyak yang dilakukan pada orang tua, sebagai upaya mengurangi angka kebutaan di seluruh dunia. Cataract surgical rate (CSR) adalah angka operasi katarak per satu juta populasi per tahun, dimana angka ini menunjukkan jumlah operasi katarak di suatu negara. Negara maju memiliki CSR 4000−6000, sedangkan Indonesia memiliki CSR sekitar 465 pada tahun 2006.[1,2]

Risiko Operasi Katarak

Operasi katarak sebagian besar dilakukan secara one day care, artinya pasien tidak perlu dirawat di rumah sakit dan bisa langsung pulang setelah tindakan selesai. Operasi katarak pun sebagian besar dilakukan menggunakan anestesi lokal. Insidensi major events pada prosedur pembedahan yang berisiko rendah termasuk di antaranya operasi katarak, yaitu sekitar 0,1%.[3-5]

shutterstock_418729312-min

Namun, kebanyakan pasien katarak tergolong lansia, yang umumnya mempunyai komorbid. Sehingga, banyak dokter merasa perlu untuk melakukan pemeriksaan tambahan sebelum pasien menjalani operasi katarak. Diharapkan pemeriksaan preoperatif tambahan ini dapat mendeteksi komorbid penyakit pada pasien katarak, sehingga dapat mencegah komplikasi intraoperasi maupun pascaoperasi.[3-5]

Macam Pemeriksaan Preoperatif Katarak

Menurut survei yang dilakukan di Amerika serikat, jumlah pemeriksaan preoperatif katarak meningkat dari 11,3% pada tahun 1998 menjadi 18,4% pada tahun 2006. Pemeriksaan tambahan yang dilakukan seringkali tidak sesuai dengan indikasi pasien, sehingga hanya bersifat skrining. Sebanyak 70% pemeriksaan laboratorium yang dilakukan untuk kepentingan operasi kurang diperlukan. Hal ini tentunya menambah biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien, selain biaya pemeriksaan penunjang untuk memang harus dilakukan. Pemeriksaan terkait katarak yang harus dilakukan di antaranya pemeriksaan visus, tonometri untuk tekanan bola mata, funduskopi pupil lebar untuk pemeriksaan retina, pemeriksaan biometri untuk mengukur lensa intraokular yang akan diimplan, dan pemeriksaan ultrasonografi pada katarak yang matur.[3,4,6,7]

Pemeriksaan tambahan preoperatif katarak biasanya meliputi pemeriksaan laboratorium (darah lengkap, kadar elektrolit darah, kadar gula darah), dan pemeriksaan EKG. Pemeriksaan tambahan lain yang lebih jarang dilakukan adalah foto rontgen toraks, dan waktu pembekuan darah (PT dan aPTT). Terkadang, para dokter spesialis mata menginstruksikan pemeriksaan tambahan tersebut bukan karena merasa perlu, tetapi karena mengikuti prosedur yang ada di rumah sakit, merasa teman sejawat lain mungkin memerlukan, ataupun mempertimbangkan masalah medikolegal di kemudian hari.[5,7,8]

Penelitian Terkait Pemeriksaan Preoperatif Katarak

Beberapa studi telah mengevaluasi seberapa perlu pemeriksaan tambahan sebelum operasi katarak, di antaranya studi uji klinis tersamar ganda yang dilakukan oleh Schein et al. pada tahun 1995-1997 di 9 fasilitas yang tersebar di Amerika Serikat dan Kanada. Penelitian tersebut bertujuan untuk menilai apakah pemeriksaan tambahan preoperatif dapat menurunkan insidensi komplikasi intraoperasi dan pascaoperasi katarak. Jumlah pasien yang mengikuti penelitian sebanyak 18.189 orang yang secara random dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu no-testing group (9408) dan routine-testing group (9411). Hasil penelitian menyebutkan bahwa tidak terdapat perbedaan dalam hal komplikasi intraoperasi (19,2/1000 operasi pada no-testing group dan 19,7/1000 operasi pada routine-testing group), demikian juga pada komplikasi pascaoperasi (12,6/1000 operasi pada no-testing group dan 12,1/1000 operasi pada routine-testing group). Medical event yang terjadi pascaoperasi juga rendah, yaitu sekitar 3% pada masing-masing kelompok, dan tidak mengancam nyawa. Kesimpulan studi ini adalah routine-testing group tidak memiliki medical event yang lebih sedikit dibandingkan no-testing group.[1,8]

Uji klinis tersamar ganda yang dilakukan Lira et al melaporkan hal yang serupa. Penelitian ini melibatkan 1025 pasien yang akan dilakukan operasi katarak di Brazil pada tahun 2000−2001. Sebanyak 512 pasien masuk ke dalam routine-testing group, dan 513 pasien ke dalam selective-testing group. Hasil penelitian menunjukkan pada kedua kelompok memiliki jumlah pembatalan operasi yang sama, yaitu sebesar 2%. Tingkat medical event yang terjadi serupa pada kedua kelompok, yaitu 9.6% pada routine-testing group dan 9,7% pada selective-testing group (p= 0,923). Medical event yang dimaksud ialah hipertensi, aritmia, iskemia miokard, transient ischemic attack (TIA), bronchospasm, dan anxietas.[5,7]

Alboim et al melakukan studi kohort retrospektif terhadap 968 pasien operasi katarak. Sebanyak 240 pasien (24,7%) dilakukan pemeriksaan rutin preoperatif, dan tidak ada pasien yang memiliki komorbid kardiovaskular mayor. Terdapat 33 pasien (13,7%) yang mengalami perubahan tata laksana komorbid, di mana terbanyak adalah penyesuaian obat antihipertensi. Namun, tekanan sistolik awal yang tinggi tidak berhubungan dengan risiko ruptur kapsul lensa posterior (P=0,158), atau dengan efek samping pascaoperasi (P=0,902). Studi ini menyimpulkan bahwa operasi katarak merupakan operasi dengan konteks risiko rendah, dan pemeriksaan preoperatif rawat jalan tidak memiliki peran dalam mengurangi efek samping operasi katarak.[3]

Suatu meta analisis oleh Keay et al., pada tahun 2019, mereview tiga randomized clinical test (RCT) yang melibatkan 21.531 operasi katarak di Amerika Serikat, Kanada, Brazil, dan Italia. Terdapat 707 medical event pascaoperasi katarak, sebanyak 353 terjadi pada routine-testing group, dan 354 terjadi pada no-testing group (OR = 1,00; 95% CI = 0,86−1,16). Medical event yang paling banyak terjadi adalah gangguan kardiovaskuler intraoperasi. Hasil analisis adalah pemeriksaan rutin preoperatif tidak menurunkan risiko komplikasi intraoperasi ataupun pascaoperasi, serta tidak ada studi yang melaporkan adanya perubahan tata laksana pembedahan.[5]

Keuntungan dan Kerugian Pemeriksaan Preoperatif Katarak

Berdasarkan studi yang telah dilakukan, pemeriksaan tambahan rutin sebelum operasi katarak menjadi dipertanyakan. Menurut penelitian Lira et al., pemeriksaan rutin menambah biaya sebesar 2,55 kali lebih tinggi dibandingkan operasi katarak tanpa pemeriksaan rutin. Penelitian cost analysis oleh Imasogie et al. pada tahun 2003 menyatakan bahwa penghematan dapat mencapai 90% bila tidak dilakukan pemeriksaan preoperatif katarak secara rutin. Selain kurang efisien dan kurang cost-effective, pemeriksaan rutin pada semua pasien yang akan dilakukan operasi katarak juga dapat menyebabkan pemberian terapi yang tidak diperlukan, dan memperlambat tindakan operasi.[5,7-9]

Pemeriksaan tambahan menjelang operasi katarak sebaiknya dilakukan sesuai indikasi pasien, setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang menyeluruh. Pemeriksaan laboratorium tidak serta merta hanya sebagai syarat operasi. Selain itu, kolaborasi antara dokter spesialis mata, penyakit dalam, serta anestesi dapat dilakukan jika diperlukan, misalnya untuk mendiskusikan masalah yang terjadi pada pasien dengan risiko tinggi supaya tata laksana lebih optimal. Pemeriksaan tambahan hanya dilakukan pada pasien yang memerlukan, walaupun pasien tersebut akhirnya tidak akan menjalani operasi katarak.[5,7-9]

Clare et al. menyarankan untuk melakukan risk assessment pada setiap pasien yang akan dilakukan operasi katarak, alih-alih melakukan pemeriksaan preoperatif tambahan rutin. Pemeriksaan risk assessment ini secara detail menjelaskan yang berkaitan dengan rencana operasi, termasuk keadaan sebelum dan sesudah operasi. Sedangkan, Keay et al menyarankan pengisian kuesioner riwayat kesehatan sebagai pengganti pemeriksaan preoperatif rutin untuk mengidentifikasi pasien yang berisiko tinggi.[5,10]

Kesimpulan

Penelitian menunjukkan bahwa pemeriksaan preoperatif tambahan yang dilakukan rutin tidak akan mempengaruhi outcome operasi katarak. Pemeriksaan tambahan sebaiknya dilakukan atas indikasi, setelah melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik menyeluruh. Disesuaikan dengan kondisi komorbid, terutama untuk pasien lansia. Pemeriksaan preoperatif tambahan rutin selain kurang efisien dan kurang cost-effective, tetapi juga dapat menyebabkan overtreatment dan menunda pelaksanaan operasi katarak. Direkomendasikan untuk melakukan risk assessment menggunakan kuesioner riwayat kesehatan sebagai pengganti pemeriksaan tambahan rutin. Sebaiknya rumah sakit di Indonesia tidak menetapkan standar pemeriksaan preoperatif katarak sebagai suatu keharusan, walaupun hanya untuk menghindari risiko medikolegal.

Referensi