Antibiotik Intracameral Post Operasi Katarak Untuk Mencegah Endoftalmitis

Oleh :
dr. Gisheila Ruth Anggitha

Injeksi antibiotik intracameral mulai banyak digunakan karena dipercaya lebih baik dalam mencegah komplikasi post operasi katarak, salah satunya endoftalmitis. Endoftalmitis post operasi merupakan suatu kondisi peradangan pada bagian jaringan dalam mata yang disebabkan oleh infeksi selama atau post operasi katarak. Endoftalmitis adalah komplikasi yang dapat menyebabkan penurunan tajam penglihatan seseorang atau bahkan menyebabkan kebutaan. Protokol operasi dengan tindakan aseptik, penggunaan povidone iodine selama operasi, isolasi kelopak dan bulu mata, dan teknik operasi dapat mengurangi risiko endoftalmitis post operasi katarak. Selain daripada itu, saat ini semakin banyak dokter mata yang menggunakan antibiotik intracameral sebagai profilaksis tambahan ataupun pengganti dari antibiotik topikal perioperatif. [1,2]

Penyebab Endoftalmitis Post Operasi Katarak

Terdapat dua mekanisme kontaminasi bakteri ke intraokular yang dapat menyebabkan endoftalmitis post operasi katarak. Adanya instrumen yang cukup banyak dapat membawa bakteri periokular dari bulu mata, permukaan mata, atau kelopak mata. Insisi kornea yang tidak dijahit juga dapat menyebabkan influks retrograde atau adanya cairan permukaan yang masuk selama atau setelah operasi. Walaupun sudah menggunakan antibiotik perioperatif, povidone iodine, protokol aseptik dan sterilisasi alat yang baik, angka kontaminasi bakteri intraokular masih mencapai 31%. Injeksi antibiotik intracameral (ke dalam bilik mata depan) pada akhir operasi diharapkan dapat membunuh bakteri intraokular yang masuk selama prosedur operasi. [1]

cataract surgery

Bukti Klinis Efektivitas Antibiotik Intracameral Post Operasi Katarak

Sebuah kohort longitudinal dilakukan oleh Herrinton, et al. yang meneliti tentang efektivitas injeksi intracameral untuk mencegah infeksi post katarak. Pada studi kohort ini didapatkan hasil bahwa penggunaan antibiotik intracameral lebih efektif dibandingkan penggunaan antibiotik topikal saja. Studi ini juga melaporkan bahwa penggunaan antibiotik intracameral ditambah antibiotik topikal tidak lebih efektif dibandingkan penggunaan antibiotik intracameral saja. Studi ini merekomendasikan penggunaan antibiotik intracameral cefuroxime atau moxifloxacin pada setiap prosedur operasi katarak, termasuk fakoemulsifikasi. [5]

Studi ini merupakan studi kohort dengan jumlah sampel yang besar dan follow up yang baik. Namun, studi ini memiliki keterbatasan kurangnya informasi mengenai kepatuhan pasien untuk meneteskan obat topikal dan lama durasi penggunaan obat topikal, sehingga masih dapat terjadi bias. [5]

Studi kohort lain dilakukan untuk menilai efektivitas dan keamanan penggunaan injeksi cefuroxime intracameral untuk mencegah endoftalmitis post operasi katarak. Pada studi ini juga didapatkan penurunan risiko endoftalmitis post operasi pada penggunaan injeksi intracameral cefuroxime (OR 0,61). Keamanan retinal dari penggunaan injeksi intracameral dilihat dari adanya kejadian edema makular sistoid. Pada studi ini didapatkan penggunaan injeksi cefuroxime tidak meningkatkan risiko timbulnya edema makula. [6]

Sejalan dengan kedua kohort tersebut, sebuah meta analisis terhadap 34 studi randomized controlled trial (RCT) dan studi observasional menyimpulkan bahwa risiko endoftalmitis pasca operasi katarak menurun menjadi 0,2 kali pada pemberian antibiotik intracameral. Pada sebuah RCT yang dianalisis, ditemukan bahwa cefuroxime intracameral efektif dalam pencegahan endoftalmitis post operasi katarak. Selain daripada itu, studi kohort yang dianalisis juga menunjukkan bahwa vancomycin/moxifloxacin intracameral juga efektif dalam mencegah endoftalmitis post operasi katarak.[7]

Penggunaan Antibiotik Intracameral Post Operasi Katarak

Sejauh ini, FDA belum menyetujui penggunaan antibiotik intracameral secara rutin pada operasi katarak. Hal ini disebabkan oleh keamanan injeksi intracameral yang belum dapat dipastikan serta adanya laporan mengenai reaksi anafilaksis. Sebuah laporan kasus oleh Moisseiev, et al. menemukan adanya reaksi anafilaksis beberapa menit setelah pemberian injeksi intracameral cefuroxime. Toksisitas endothelial kornea dan sindrom toksik segmen anterior juga merupakan komplikasi yang perlu dipertimbangkan. Toksisitas dapat terjadi akibat faktor obat, preservatif, ataupun gangguan pada pH dan osmolaritas. Osmolaritas dan pH pada mata perlu dijaga untuk mengurangi risiko toksisitas dengan cara melarutkan antibiotik dalam larutan NaCl 0,9%.[8,9]

Rekomendasi injeksi intracameral yang sebaiknya diberikan adalah injeksi cefuroxime atau vancomycin/moxifloxacin dengan konsentrasi 1 mg/0,1mL pada saat akhir prosedur operasi ekstraksi katarak. Sampai saat ini belum ada sediaan komersial yang tersedia sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Oleh karena itu, sediaan dipersiapkan dengan mencampur obat parenteral dengan larutan NaCl 0,9% untuk mencapai konsentrasi yang diinginkan. Sebelum operasi, sebaiknya dilakukan tes alergi atau hipersensitivitas terhadap antibiotik yang akan digunakan. [8,9]

Kesimpulan

Penggunaan antibiotik intracameral terbukti efektif dalam mencegah endoftalmitis post operasi katarak. Efektivitas penggunaan antibiotik intracameral saja tidak berbeda bermakna dengan penggunaan bersamaan dengan antibiotik topikal. Bukti ilmiah yang ada mendukung penggunaan cefuroxime dan vancomycin/moxifloxacin intracameral untuk mencegah terjadinya endoftalmitis post operasi katarak. Konsentrasi antibiotik yang dianjurkan adalah 1 mg/0,1 mL. Sebelum diberikan, sebaiknya dilakukan tes alergi atau hipersensitivitas untuk menghindari reaksi anafilaksis.

Referensi