Farmakologi Kontrasepsi Darurat
Secara farmakologi, kontrasepsi darurat terdiri dari agen hormonal dan non-hormonal dengan mekanisme aksi yang berbeda namun berfokus pada pencegahan fertilisasi. Terdapat beberapa metode kontrasepsi darurat yang sering dipakai secara klinis, seperti levonorgestrel oral, ulipristal asetat oral, dan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) tembaga.
Levonorgestrel merupakan progestin sintetik yang bekerja terutama dengan menghambat atau menunda lonjakan luteinizing hormone (LH) sehingga mencegah atau menunda ovulasi bila diberikan sebelum ovulasi terjadi, tanpa efek bermakna pada implantasi.
Ulipristal asetat adalah selective progesterone receptor modulator (SPRM) yang berikatan dengan reseptor progesteron dan efektif menghambat ovulasi bahkan ketika lonjakan LH telah dimulai, menjadikannya lebih efektif pada fase periovulasi.
Sementara itu, AKDR tembaga merupakan metode non-hormonal yang melepaskan ion tembaga intrauterin, bersifat spermisidal dengan mengganggu motilitas dan viabilitas sperma, serta menghambat fertilisasi. Bila fertilisasi terjadi, AKDR tembaga diharapkan menciptakan respons inflamasi endometrium yang tidak mendukung implantasi.[1-4]
Farmakodinamik
Secara umum, kontrasepsi darurat bekerja dengan mencegah terjadinya kehamilan sebelum implantasi melalui intervensi pada tahapan awal proses reproduksi. Mekanisme utamanya adalah menghambat atau menunda ovulasi dengan menekan atau memodulasi lonjakan luteinizing hormone, sehingga oosit tidak dilepaskan pada saat sperma masih viabel di traktus genital.
Selain itu, beberapa metode kontrasepsi darurat menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi fertilisasi, terutama melalui efek spermisidal dan gangguan motilitas sperma di kavum uteri dan tuba falopi. Secara klinis penting ditekankan bahwa kontrasepsi darurat tidak mengganggu implantasi embrio yang telah terjadi dan tidak efektif apabila kehamilan sudah terbentuk, sehingga tidak dikategorikan sebagai abortifasien.[1-4]
Farmakokinetik
Aspek farmakokinetik kontrasepsi darurat bervariasi sesuai metodenya. Levonorgestrel (LNG) dan ulipristal asetat (UPA) diberikan per oral dan cepat diabsorpsi melalui saluran cerna. Sementara itu, AKDR tembaga memiliki karakteristik farmakokinetik yang berbeda karena bersifat lokal dan non-sistemik.[1-4,6]
Absorbsi
Levonorgestrel diserap dengan cepat dan sepenuhnya setelah pemberian oral dilakukan. Studi menunjukkan bahwa LNG tidak mengalami metabolisme lintas pertama yang signifikan. Bioavailabilitasnya bervariasi dari 85% hingga 100%. Waktu rata-rata untuk mencapai konsentrasi plasma maksimal adalah sekitar 1,6 jam±0,7 jam.[7]
Sementara itu, pada alat AKDR tembaga, ion tembaga dilepaskan secara kontinu ke dalam kavum uteri setelah pemasangan intrauterin, menghasilkan konsentrasi lokal yang tinggi dengan absorpsi sistemik yang minimal.[2,4,6]
Distribusi
Volume distribusi LNG sekitar 1,8 L/kg yang menunjukkan distribusi jaringan yang luas. Obat ini menunjukkan pengikatan protein plasma yang tinggi terutama pada globulin pengikat hormon seks, dan pada tingkat yang lebih rendah yakni albumin serum.[7]
Pada AKDR tembaga, ion tembaga bekerja terutama secara lokal pada endometrium dan sperma, sehingga tidak mengalami distribusi sistemik bermakna seperti obat oral.[2,4,6]
Metabolisme
LNG mengalami metabolisme melalui hidroksilasi, konjugasi, dan reduksi di hati. LNG dimetabolisme oleh CYP3A4.[7]
Pada AKDR tembaga, ion tembaga yang terserap dalam jumlah kecil akan mengikuti metabolisme tembaga fisiologis tubuh dan diekskresikan terutama melalui empedu dan feses.[2,4,6]
Eliminasi
Sekitar 45% LNG dan metabolitnya diekskresikan melalui urin, sedangkan 32% diekskresikan dalam feses, terutama sebagai konjugat glukuronida. Waktu paruh eliminasi rata-rata adalah 24,4±5,3 jam.[7]