Peresepan Morning After Pill Secara Aman

Oleh :
dr. Sunita

Morning after pill atau pil kontrasepsi darurat sering diperlukan oleh wanita yang lupa atau tidak sempat menggunakan kontrasepsi lain saat berhubungan seksual. Pil ini dilaporkan memiliki efektivitas yang baik tetapi dapat mengalami kegagalan bila cara penggunaannya kurang tepat. Oleh karena itu, klinisi perlu mengetahui cara peresepan morning after pill yang aman dan efektif.

Penggunaan kontrasepsi darurat bukan merupakan suatu cara aborsi. Kontrasepsi ini adalah metode pencegahan kehamilan yang digunakan sesaat dalam situasi khusus yang tidak terduga. Untuk mencegah kesalahpahaman mengenai hal ini, dokter yang meresepkan morning after pill perlu melakukan pemeriksaan klinis dan menjelaskan efektivitas, kontraindikasi, serta efek samping yang mungkin timbul pada pasien.

shutterstock_1241997280-min

Mekanisme Kerja Morning After Pill

Pil kontrasepsi darurat dapat mengandung zat aktif levonorgestrel atau ulipristal asetat. Efek pil bervariasi berdasarkan siklus menstruasi pasien saat berhubungan seksual, fase siklus menstruasi ketika pil dikonsumsi, serta jenis pil yang digunakan.

Levonorgestrel diduga memiliki efek inhibisi ovulasi dan implantasi, sehingga sperma yang telah masuk ke saluran reproduksi atas akan mengalami penurunan kemampuan fertilisasi.[1-3]

Sementara itu, ulipristal asetat merupakan modulator reseptor progesteron selektif. Pemberian ulipristal sebelum kenaikan kadar luteinizing hormone (LH) terbukti dapat menghambat ruptur folikel. Efektivitas ulipristal yang ditandai dengan inhibisi ovulasi ditemukan pada 100% wanita yang memiliki kadar LH rendah ketika mengonsumsi ulipristal. Namun, efektivitas ini menurun menjadi 79% bila wanita mulai mengalami peningkatan kadar LH.[1,2]

Anamnesis sebelum Peresepan Morning After Pill

Peresepan morning after pill secara aman diawali dengan anamnesis yang adekuat untuk menentukan apakah pasien memenuhi kriteria eligibilitas konsumsi pil ini.

Riwayat Siklus Menstruasi dan Hubungan Seksual

Informasi awal yang perlu digali mencakup tanggal menstruasi terakhir, keteraturan siklus menstruasi sebelumnya, lama siklus menstruasi, dan tanggal hubungan seksual. Data tersebut dapat menjadi acuan untuk menilai kemungkinan apakah pasien saat ini sedang hamil.

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat hipersensitivitas terhadap levonorgestrel atau ulipristal serta riwayat gangguan fungsi hati berat juga perlu dikaji. Kemudian, riwayat kehamilan ektopik juga penting ditanyakan karena beberapa studi efikasi kontrasepsi yang mengandung progestin menunjukkan bahwa proporsi kehamilan ektopik dari total seluruh kehamilan setelah penggunaan metode kontrasepsi ini mencapai 10%.[2,4]

Pasien dengan asma tidak terkontrol tidak dianjurkan untuk mengonsumsi ulipristal sebab ulipristal diduga menghambat reseptor glukokortikoid dan mungkin berpotensi memperburuk asma. Namun, studi klinis tentang hal ini memang masih terbatas.

Riwayat Konsumsi Obat

Ulipristal dan levonorgestrel bergantung pada sistem metabolisme CYP3A4, sehingga obat yang dapat menginduksi CYP3A4 (misalnya barbiturat, carbamazepine, felbamate, griseofulvin, oxcarbazepine, phenytoin, dan rifampin) berpotensi menurunkan kadar dan efektivitas ulipristal.

Sementara itu, obat-obatan yang menghambat sistem CYP3A4 (misalnya antiretroviral HIV, itraconazole, dan clarithromycin) secara teori dapat menghambat metabolisme ulipristal dan meningkatkan kadarnya.

Obat-obatan penurun pH lambung seperti antasida, penghambat reseptor H2, dan inhibitor pompa proton juga dapat menurunkan absorbsi dan efikasi ulipristal. Oleh sebab itu, berbagai kondisi medis yang berkaitan dengan penggunaan obat tersebut perlu ditanyakan.[2,5,6]

Pemilihan Morning After Pill dan Peresepannya

Jika dokter memutuskan bahwa pasien dapat mengonsumsi morning after pill, dokter perlu menjelaskan pentingnya waktu konsumsi obat. Levonorgestrel harus dikonsumsi secara oral sebanyak 1 tablet (1,5 mg) sesegera mungkin. Beberapa studi menyatakan bahwa obat ini harus dikonsumsi <72 jam sejak berhubungan seksual. Akan tetapi, studi lain menyatakan bahwa levonorgestrel masih efektif hingga 96 jam.

Data menunjukkan bahwa tingkat kehamilan (pregnancy rate) adalah 1% jika obat levonorgestrel dikonsumsi <24 jam; 0,7% jika dikonsumsi antara 25–48 jam; 1,6% jika dikonsumsi antara 49–72 jam; 0,8% jika dikonsumsi antara 73–96 jam; dan 5,2% jika dikonsumsi antara 97–120 jam. Setelah konsumsi, pasien dianjurkan untuk memakai kontrasepsi barier yang efektif sebelum melakukan hubungan seksual kembali pada siklus menstruasi yang sama.[3,4,7,8]

Sementara itu, ulipristal harus dikonsumsi secara oral sebanyak 1 tablet (30 mg) sesegera mungkin dan tidak melewati 120 jam (5 hari) sejak waktu hubungan seksual tanpa kontrasepsi. Ulipristal dapat dikonsumsi bersama makanan atau tanpa makanan.

Apabila pasien muntah dalam kurun waktu 3 jam sejak konsumsi, konsumsi ulipristal ulang sebanyak 1 tablet (30 mg) perlu dipertimbangkan. Setelah konsumsi ulipristal, pasien dianjurkan untuk menggunakan metode kontrasepsi barier yang efektif sebelum melakukan hubungan seksual kembali pada siklus menstruasi yang sama.[6]

Efek Samping Morning After Pill yang Perlu Diantisipasi

Pada umumnya, efek samping pil kontrasepsi darurat dapat bersifat mengganggu tetapi tidak berbahaya. Efek samping yang mungkin timbul setelah konsumsi levonorgestrel adalah volume menstruasi yang lebih banyak (31%), mual (13%), nyeri perut bawah (13%), lelah, (13%), dan sakit kepala (10%). Sementara itu, efek samping ulipristal yang sering muncul adalah sakit kepala (18%), nyeri perut (12%), mual (12%), dismenore (9%), lelah (6%), dan pusing (5%).[2,4,6]

Kontraindikasi Morning After Pill

Kontraindikasi pil kontrasepsi darurat adalah kehamilan, usia pasien <18 tahun, pasien pre-menarche, dan pasien menopause. Levonorgestrel tidak dianjurkan pada wanita hamil meskipun studi yang ada tidak menunjukkan gangguan tumbuh kembang pada bayi yang lahir dari ibu yang pernah mengonsumsi progestin saat hamil.[4]

Ulipristal tergolong dalam kategori X (FDA) pada kehamilan, sehingga penggunaannya pada wanita hamil atau diduga hamil sebaiknya dihindari. Kelainan janin yang mungkin diakibatkan oleh ulipristal masih belum diketahui. Mengingat dampak terhadap bayi yang belum diketahui, obat ini juga sebaiknya tidak dikonsumsi oleh wanita menyusui. Izin penggunaan ulipristal yang terdaftar saat ini adalah untuk pasien berusia minimal 18 tahun. Obat ini tidak disarankan untuk pasien pre-menarche maupun menopause.[6]

Kesimpulan

Morning after pill merupakan metode pencegahan kehamilan yang digunakan sesaat dalam situasi khusus yang tidak terduga atau darurat. Pil ini dapat mengandung zat aktif levonorgestrel atau ulipristal asetat, yang bekerja dengan menghambat ovulasi.

Untuk menentukan eligibilitas pasien dalam menggunakan morning after pill, dokter perlu melakukan anamnesis yang mencakup riwayat menstruasi, riwayat penyakit dahulu yang berkaitan dengan jenis pil yang akan diberikan, dan riwayat konsumsi obat atau suplemen lain. Pastikan bahwa pasien sedang tidak hamil saat peresepan obat.

Pasien juga perlu diedukasi mengenai waktu konsumsi pil yang tepat agar tidak terjadi kegagalan kontrasepsi dan perlu diinformasikan mengenai efek samping yang mungkin dialami.

Referensi