Manfaat dan Keamanan Kontrasepsi Emergensi Oral

Oleh dr. Intan Ekarulita

Kontrasepsi emergensi oral, disebut juga “morning-after pill”, adalah salah satu cara yang efektif untuk mencegah kehamilan dari senggama yang tidak terproteksi. Cara kerja kontrasepsi emergensi adalah dengan mencegah terjadinya fertilisasi dan mencegah implantasi ke dinding endometrium.[1]

Berbeda dengan beberapa negara lain yang dapat mengakses bebas kontrasepsi emergensi oral tanpa resep dokter, di Indonesia kontrasepsi emergensi oral hanya bisa diakses secara terbatas. Kebijakan pemerintah untuk membatasi akses kontrasepsi emergensi ini didasarkan pada efek samping dan kontraindikasi obat ini, serta interaksi dengan beberapa obat lain bila dikonsumsi bersama. Meskipun terdapat beberapa sediaan, di Indonesia hanya memiliki sediaan kontrasepsi emergensi oral dengan hormon tunggal. IUD juga dapat digunakan sebagai kontrasepsi emergensi namun artikel ini hanya akan membahas mengenai kontrasepsi emergensi oral yang tersedia di Indonesia saja.

Depositphotos_52159443_m-2015_compressed2

Indikasi Kontrasepsi Emergensi Oral

Kontrasepsi emergensi oral bukan termasuk obat pencegahan kehamilan yang dapat dikonsumsi regular. Kontrasepsi emergensi dapat dipertimbangkan untuk digunakan dalam beberapa kondisi, antara lain:

  • Senggama tanpa proteksi total dan terjadi ejakulasi di dalam vagina
  • Senggama terputus
  • Kondom yang terlepas, sobek, atau berlubang
  • Lupa atau terlewatnya konsumsi 1 pil kontrasepsi dalam atau lebih selama 1 minggu, atau 2 pil dalam 2 hingga 3 minggu dalam 1 siklus.
  • Keterlambatan konsumsi pil progesterone tunggal lebih dari 3 jam
  • Keterlambatan injeksi depot medroksiprogesteron (DMPA) lebih dari 2 minggu
  • Lepasnya kontrasepsi transdermal selama 24 jam dalam 1 minggu.
  • Lepasnya kontrasepsi vaginal ring selama lebih dari 3 jam dalam 1 minggu, atau lebih dari 72 jam selama 2 hingga 3 minggu.

  • Terlambat dalam memulai konsumsi pil kontrasepsi kombinasi selama lebih dari 24 jam
  • Korban pemerkosaan[2,3]

Kontraindikasi Kontrasepsi Emergensi Oral

Terdapat beberapa kontraindikasi dalam penggunaan kontrasepsi emergensi oral, antara lain :

  • Kehamilan adalah kontraindikasi yang absolut, karena kontrasepsi emergensi oral menyebabkan efek teratogenik pada janin.
  • Perdarahan vagina yang belum diketahui penyebabnya
  • Gangguan hepar dan empedu
  • Kanker payudara
  • Kanker ovarium
  • Kanter uterus
  • Riwayat tromboflebitis
  • Kelainan tromboembolik
  • Penyakit arteri koroner atau serebrovaskular

Efektifitas Kontrasepsi Emergensi Oral Terhadap Pencegahan Kehamilan

Efektifitas kontrasepsi emergensi oral pada konsumsi dalam 72 jam terbukti dapat mencegah 85% kehamilan.[4] Namun, penggunaan antara 72 hingga 120 jam setelah senggama masih terbukti efektif untuk mencegah kehamilan.[5]

Cara dan Dosis Konsumsi Kontrasepsi Emergensi Oral

Terdapat 2 jenis kontrasepsi emergensi oral yaitu berisi progesteron tunggal dan kombinasi hormon, namun di Indonesia hanya tersedia turunan progesteron tunggal (levonogestrel). Terdapat dua sediaan pada kontrasepsi emergensi oral yaitu pil levonogestrel 0.75 mg dan 1.5 mg. Berikut dosis dan cara konsumsi levonogestrel pil:

  • Dosis tunggal dengan mengkonsumsi 1 pil levonogestrel 1.5 mg dalam 0 – 120 jam setelah senggama
  • Dosis alternatif dengan mengkonsumsi 1 pil levonogestrel 0.75 mg secepatnya dalam 72 jam setelah senggama, dilanjutkan dengan pil kedua (levonogestrel 0.75 mg) 12 jam setelah konsumsi pil pertama
  • Pasien dianjurkan untuk mengkonsumsi obat ini secepatnya setelah senggama[6]

Pada pasien yang mengalami muntah dalam 1 hingga 3 jam setelah penggunaan kontrasepsi emergensi, dianjurkan untuk mengkonsumsi terapi antiemetik dahulu sebelum diberikan kembali kontrasepsi emergensi oral dengan dosis yang sama. Kontrasepsi emergensi oral digunakan 1 jam setelah konsumsi antiemetik. Hal ini terbukti mampu meredakan mual dan muntah pada pemberian kembali kontrasepsi emergensi oral.[7]

Efek Samping dan Peringatan Penggunaan Kontrasepsi Emergensi Oral

Penggunaan kontrasepsi emergensi oral dapat menimbulkan beberapa efek samping yang perlu diketahui dan peringatan dalam mengkonsumsinya. Efek samping yang ditimbulkan antara lain mual, muntah, nyeri perut, sakit kepala, gangguan siklus mentruasi, lemas, pusing dan nyeri payudara. Anjurkan pasien untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika muncul efek samping yang lebih berat, seperti nyeri dada yang tajam, batuk berdarah atau nafas pendek dengan tiba-tiba, nyeri pada betis, kehilangan penglihatan seluruhnya dengan tiba-tiba, breast lump, nyeri perut berat, atau kuning pada kulit atau bola mata.

Peringatan terkait kontrasepsi emergensi oral jika terdapat keluhan nyeri abdomen bagian bawah 0.75 mg 3 sampai 5 minggu setelah penggunaan kontrasepsi emergensi oral. Dokter perlu mengevaluasi kemungkinan terjadinya kehamilan ektopik. Hal lain yang perlu menjadi peringatan adalah penggunaan kontrasepsi emergensi ini tidak memberikan efek perlindungan terhadap infeksi HIV maupun infeksi menular seksual lainnya. Untuk itu, jika pasien melakukan hubungan seks tanpa pengaman, perlu dilakukan konseling dan anjuran untuk pemeriksaan infeksi menular seksual.[8]

Interaksi Kontrasepsi Emergensi Oral dengan Obat Lainnya

Kontrasepsi emergensi oral memiliki kandungan hormon yang dapat berinteraksi dengan beberapa obat lain. Interaksi yang muncul dapat berupa penurunan efektivitas levonorgestrel maupun peningkatan atau penurunan efek obat lain yang berinteraksi.

Penurunan Efek Levonogestrel

Efektivitas levonogestrel akan menurun jika dikonsumsi bersama dengan obat berikut:

Peningkatan Efek Obat

Akan terjadi peningkatan efek obat pada penggunaan levonogestrel bersama obat-obat berikut:

  • Alprazolam
  • Vitamin C
  • Beta Blocker seperti bisoprolol atau propranolol

  • Kafein
  • Kortikosteroid seperti dexamethasone atau prednisone

Penurunan Efek Obat

Obat-obat berikut akan menurun efeknya bila digunakan bersama dengan levonogestrel:

Referensi