Mengatasi Resistensi Antibiotik terhadap Gonorrhea

Oleh :
dr. Fresa Nathania Rahardjo, M.Biomed, Sp.KK

Resistensi antibiotik terhadap gonorrhea adalah salah satu dari new emerging disease. Resistensi antibiotik terhadap gonorrhea ini merupakan salah satu dari resistensi antibiotik secara luas pada dunia.

Berdasarkan WHO pada tahun 2017, setidaknya ada 78 juta orang terinfeksi dengan gonorrhea setiap tahunnya. Sebanyak 77 negara telah melaporkan adanya gonorrhea resistensi antibiotik. Peningkatan ini disebabkan oleh menurunnya penggunaan kondom, meningkatnya urbanisasi dan perjalanan, pendeteksian infeksi gonorrhea yang rendah dan pengobatan yang tidak memadai berkontribusi pada peningkatan gonorrhea resisten obat.[1]

shutterstock_525793660

Hal ini serupa dengan European Centre for Disease and Prevention Control (ECDC) mengenai sebab peningkatan gonorrhea resisten obat. Hal-hal tersebut adalah terjadi berbagai aktivitas seksual yang meningkat pada turis dikarenakan adanya fenomena lepas dari rutinitas sehari - hari (travel-associated gonorrhea), kondisi anonim, dan norma yang tidak diterima oleh masyarakat. Prevalensi aktivitas travel-related sex adalah sebesar 20% sampai dengan 34%.[2]

Laporan kasus mengenai temuan strain FC428 pada gonorrhea resisten antibiotik di Kanada menunjukan bahwa pada belahan dunia tertentu, terutama Asia Tenggara, terjadi berbagai resistensi antibiotik yang dapat memicu terjadinya strain multidrug-resistant (MDR) dan extended drug-resistant (XDR).[3]

Keadaan Resistensi Gonorrhea saat ini

Saat ini terdapat 2 pembagian besar resistensi antibiotik terhadap gonorrhea yaitu multidrug-resistant gonorrhea (MDR-GC) dan extensively drug resistant gonorrhea (EDR-GC).

Definisi MDR-GC dan EDR-GC adalah sebagai berikut:

  • MDR-GC adalah infeksi gonorrhea yang resisten terhadap salah satu dari antibiotik kategori 1 (termasuk sefalosporin spektrum luas bentuk injeksi/oral dan spectinomycin) dan minimal 2 antibiotik kategori 2 (termasuk penicillin, fluoroquinolon, azithromycin, aminoglycoside dan carbapenem)
  • EDR-GC didefinisikan menjadi infeksi yang resisten terhadap dua atau lebih dari kelas antibiotik kategori I dan tiga atau lebih dari kategori II[2]

Keadaan Resistensi Gonorrhea secara Global

Pada tahun 2016, sebanyak 23,708 kasus gonorrhea dilaporkan oleh kementrian kesehatan masyarakat Kanada. Kasus ini meningkat sebanyak 87%, dari 34.9 kasus /100.000 populasi pada 2012 menjadi 65.4 kasus /100.000 pada 2016.[4]

Pada 2012, 7 isolat (0.2%) EDR-GC menunjukkan terjadinya penurunan suseptibilitas terhadap cephalosporin dan resistensi terhadap azithromycin, yang kemudian meningkat menjadi 8 (0.3%) pada tahun 2013. Mulai tahun 2014 ke 2016, didapatkan angka XDR-GC yang cukup menurun, hanya 1 kasus pada 2014, 2 kasus pada 2015, dan 1 kasus pada 2016. Sedangkan pada MDR-GC terjadi peningkatan kasus dari 6.2% (n=189/3,036) pada 2012 menjadi 8.9% (n=406/4,538) pada 2016 di Kanada.[4]

Persentase ini menunjukkan proporsi isolat dengan penurunan suseptibilitas terhadap cephalosporin atau resistensi terhadap azithromycin, yang dilanjutkan dengan resistensi terhadap 2 antimikroba lainnya.[4]

Selanjutnya, menurut European Gonococcal Antimicrobial Surveillance Programme (EURO-GASP), terdapat hubungan peningkatan tren resistensi terhadap antibiotik cefixime dan ciprofloxacin pada heterosexual (hanya pria pada resistensi ciprofloxacin), pasien yang lebih tua (>25 tahun), dan tanpa infeksi chlamydia sebelumnya.[5]

Keadaan Resistensi Gonorrhea di Indonesia

Di Indonesia, pada tahun 2014 ditemukan 79 kasus infeksi N. gonorrhoeae yang tidak resistensi terhadap ceftriaxone atau cefixime. Hanya terdapat 1 kasus resisten azithromycin. Namun, 98.8% terbukti resisten terhadap doxycycline dan 97.6% terhadap ciprofloxacin. Resistensi ini sekarang berkembang menjadi multidrug-resistant gonorrhea dan extensively drug-resistant gonorrhea. [2]

Rositawati et al. pada tahun 2019 di melakukan penelitian tes resistensi gonorrhea terhadap cefixime pada pasien di Surabaya. Hasil penelitian ini menemukan bahwa 7 dari 20 isolat (35%) resisten terhadap cefixime, 13 dari 20 isolat (65%) masih sensitif terhadap cefixime. Selain itu, 11 sampel (35%) melakukan swamedikasi untuk infeksi gonorrhea. Obat yang diberikan secara bebas berdasarkan penelitian ini adalah cefixime/azithromycin, tetracycline, ampicillin dan ofloxacin. [6]

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Resisten Antibiotik pada Gonorrhea

Sebuah review oleh Abraha et al. pada tahun 2018 menilai faktor-faktor yang diasosiasikan dengan gonorrhea resisten antibiotik. Beberapa faktor yang mempengaruhi adalah faktor epidemiologis, kebiasaan, dan klinis.[7]

Faktor Epidemiologis

Umur, jenis kelamin, hubungan seksual sesama jenis dan ras secara epidemiologi mempengaruhi infeksi gonorrhea. Usia 20–24 tahun merupakan kelompok puncak infeksi gonorrhea di Amerika dan Inggris Raya. Laki-laki memiliki risiko 2 kali lebih tinggi dibandingkan perempuan. Hubungan seksual sesama jenis terutama pada pria memiliki angka infeksi gonorrhea yang lebih tinggi dibandingkan dengan perilaku heteroseksual. [7]

Kondisi sosial ekonomis yang rendah memiliki angka infeksi gonorrhea yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan rendahnya pendidikan, sulitnya fasilitas kesehatan, dan rendahnya pengetahuan tentang infeksi menular seksual (IMS). [7]

Faktor Kebiasaan Hidup

Beberapa pola perilaku dinilai dapat meningkatkan infeksi gonorrhea. Perilaku seperti partner seksual multiple, pelancong atau turis yang melakukan aktivitas seksual (sex tourism) ,pekerjaan seks komersial (PSK) dan penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan.[7]

Faktor Klinis

Berikut ini ada beberapa faktor klinis yang memperberat infeksi gonorrhea resisten antibiotik:

  • Regio anatomis infeksi: di Eropa faring merupakan situs anatomis tersering terdapat infeksi gonorrhea yang resisten antibiotik pada kelompok hubungan seksual sesama jenis. Sedangkan pada kelompok heteroseksual terdapat pada area genital
  • Koinfeksi dengan HIV dan IMS lainnya: infeksi gonorrhea resisten antibiotik pada pasien dengan HIV positif memiliki angka risiko yang lebih tinggi. Studi terakhir hanya dilakukan pada infeksi dengan HIV negatif yang memiliki angka OR sebesar 0.72 dengan IK 95% 0.54 - 0.96
  • Penggunaan antibiotik sebelumnya: Penggunaan antibiotik sebelumnya seperti penggunaan ciprofloxacin pada PSK di Filipina memiliki angka infeksi gonorrhea yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak menggunakan antibiotik sebelumnya[7]

Upaya Menurunkan Angka Gonorrhea Resisten Obat

Melihat peningkatan infeksi gonorrhea resisten antibiotik dan potensi bahaya di masa mendatang, dibutuhkan upaya menurunkan angka kejadian gonorrhea. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah meningkatkan skrining dan promosi kesehatan, konseling sebelum bepergian, dan pemberian pengobatan yang optimal.

Tabel 1. Empat Rekomendasi yang Diperlukan dalam Penanggulangan Resistensi Antibiotik Terhadap Infeksi Gonorrhea

Rekomendasi Poin Penting
Peningkatan skrining dan promosi aktivitas seksual yang aman

  • Edukasi untuk menghilangkan stigma negatif infeksi gonorrhea
  • Pemeriksaan rutin terhadap infeksi menular seksual
  • Sampel diambil dari area tubuh yang terpapar aktivitas seksual yang mencurigakan

Skrining pra travel

  • Konseling pra travel untuk edukasi aktivitas seksual yang aman
  • Pemeriksaan infeksi menular seksual sebelum bepergian
  • Pencatatan terhadap aktivitas seksual yang mencurigakan dalam penularan gonorrhea

Peningkatan kultur spesimen sebagai diagnosis dan tes laboratoris Peningkatan frekuensi Tes Nucleic Acid Amplification Tests (NAAT) dalam diagnosis gonorrhea dalam usaha pengurangan terjadinya resistensi antibiotik terhadap gonorrhea
Terapi antibiotik kombinasi sesuai konsensus terbaru

  • Penggunaan antibiotik kombinasi disesuaikan dengan area infeksi gonorrhea tiap pasien.
  • Update setiap tatalaksana terapi kombinasi
  • Terapi empiris dilakukan dalam 60 hari pasca terjadinya aktivitas seksual yang mencurigakan.

Sumber: Bodie, 2019.[3]

Pedoman Klinis Penanggulangan Resistensi Antibiotik terhadap Gonorrhea dan Terapi Antibiotik Gonorrhea saat ini

Saat ini terdapat pedoman nasional dalam menangani kasus gonorrhea yang dikeluarkan oleh persatuan dokter spesialis kulit dan kelamin. Pada Panduan Praktis Klinis dari PERDOSKI tahun 2017 dicantumkan bahwa infeksi gonokokus dan infeksi Chlamydia trachomatis hampir selalu bersamaan maka dalam pengobatan infeksi gonokokus sebaiknya diberikan juga pengobatan untuk infeksi Chlamydia.[8]

Menurut Pitasari et al. pengobatan gonorrhea di RSUD dr Soetomo Surabaya dengan cefixime, diberikan pada 75 pasien (60%), kedua adalah kombinasi cefixime dengan doksisiklin pada 24 pasien (19,2%). Juga didapatkan pemberian kombinasi ciprofloxacin dan doxycycline pada 4 pasien (2,2%). Tujuan pemberiannya bersamaan dengan doksisiklin adalah selain untuk eradikasi N.gonorrhoeae, juga untuk eradikasi Chlamydia Trachomatis, sebab infeksi gonorrhea seringkali mengalami koinfeksi dengan C. Trachomatis.[9]

10-30% orang dengan infeksi gonorrhea mengalami koinfeksi dengan chlamydia, sehingga terapi kombinasi doxycycline/azithromycin direkomendasikan dan terbukti efektif. Terapi rangkap dua ini juga menurunkan perkembangan resistensi antibiotika pada bakteri.[9]

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Kesehatan Indonesia nomor 2406/MENKES/PER/XII/2011 Tentang Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik juga diatur berbagai antibiotik empiris dalam penanggulangan infeksi menular seksual dan protokol dalam penanggulangan resistensi antibiotik terhadap berbagai infeksi menular seksual dan non seksual.[10]

Kesimpulan

Infeksi gonorrhea merupakan infeksi menular seksual dengan angka insiden cukup tinggi dan meningkat setiap tahunnya. Telah terdapat berbagai tatalaksana dalam penanganan infeksi ini oleh Kemenkes dan PERDOSKI yang dapat diikuti oleh seluruh praktisi di indonesia.

Namun, sesuai hasil data penelitian global dan di Indonesia, terdapat berbagai kasus yang mengindikasikan terjadinya resistensi antimikroba dalam 10 tahun terakhir sehingga penggunaan dual antibiotik dalam eradikasi kasus infeksi ini sangat disarankan.

Rekomendasi internasional dalam praktek sehari-hari adalah peningkatan skrining dan promosi aktivitas seksual yang aman, skrining pra-travel, peningkatan kultur spesimen sebagai diagnosis dan tes laboratorik, dan terapi antibiotik kombinasi sesuai konsensus terbaru.

Keempat rekomendasi ini di konsesuskan oleh kementrian kesehatan masyarakat Kanada untuk prevensi resistensi antibiotik terhadap gonorrhea.

Dalam praktek di Indonesia keempat rekomendasi ini dapat digunakan secara luas dalam praktek sehari-hari dalam menghindari terjadinya resistensi antibiotik terhadap gonorrhea.

Referensi