Terapi Intensif Menurunkan Risiko Komplikasi Diabetes Mellitus Tipe 2

Oleh dr. Nathania S.

Terapi intensif untuk diabetes mellitus tipe 2 dilakukan dengan menggunakan target kontrol HbA1c <6.5%, lebih rendah dibandingkan rekomendasi yang ada. Terapi intensif ini bermanfaat menurunkan risiko komplikasi diabetes mellitus tipe 2, tetapi di sisi lain juga meningkatkan risiko hipoglikemia berat pada pasien. Pelajari pertimbangan penggunaan terapi intensif ini sebelum menerapkannya kepada pasien Anda.

Depositphotos_24060969_m-2015 edit_compressed

Target Kontrol HbA1c

Penurunan glukosa darah pada diabetes mellitus tipe 2 (DMT2) ditujukan untuk menurunkan angka terjadinya komplikasi dan mortalitas. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menunjukkan kontrol glikemik yang baik adalah menggunakan hemoglobin glikosilasi atau HbA1c.

Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) tahun 2015 merekomendasikan target HbA1c pada pasien DMT2 dalam pengobatan adalah 7%, atau disesuaikan dengan kondisi klinis.[1]

Terapi Intensif dengan Target Kontrol HbA1c yang lebih Rendah

Bukti ilmiah yang ada menunjukkan bahwa terapi intensif dengan target kontrol HbA1c yang lebih rendah dibandingkan dengan rekomendasi tersebut bermanfaat untuk menurunkan tingkat komplikasi dan mortalitas akibat DMT2. Target kontrol yang digunakan sebaiknya 6.5% karena berdasarkan studi ACCORD, target kontrol <6% justru meningkatkan risiko mortalitas relatif hingga 22% dibandingkan target HbA1c 7%.[2]

Walau bermanfaat untuk menurunkan tingkat komplikasi dan mortalitas, dokter juga harus mempertimbangkan risiko hipoglikemia berat akibat target kontrol yang lebih rendah ini. Sebaiknya gunakan target normal, HbA1c 7%, pada pasien yang berisiko tinggi hipoglikemia sebagai berikut:

  • Pasien dengan gangguan ginjal dan jantung
  • Pasien usia lanjut di atas 60 tahun
  • Ibu hamil
  • Konsumsi alkohol berlebih
  • Penggunaan polifarmaka
  • Riwayat hipoglikemia[3]

Manfaat Terapi Intensif Diabetes Mellitus Tipe 2

Kondisi hiperglikemia pada diabetes mellitus tipe 2 dapat menimbulkan komplikasi makrovaskular (penyakit kardiovaskular) dan mikrovaskular. Komplikasi mikrovaskular antara lain retinopati diabetik, nefropati diabetik dan neuropati diabetik.[4] Peningkatan HbA1c sebesar 1% ditemukan berhubungan dengan peningkatan kejadian kardiovaskular sebesar 18%, angka kematian sebesar 12–14% dan kejadian mikrovaskular seperti nefropati dan retinopati sebesar 37%.[5]

Studi meta analisis yang melibatkan lebih dari 13 studi mendapatkan bahwa penurunan glukosa secara intensif tidak menambah keuntungan pada kematian akibat semua penyebab dan penyebab kardiovaskular.[6]

Pada studi Action in Diabetes and Vascular Disease: Preterax and Diamicron MR Controlled Evaluation (ADVANCE) yang melibatkan lebih dari 10.000 pasien DMT2, penurunan glukosa secara intensif dengan target HbA1c <6.5% ditemukan dapat menurunkan angka kejadian komplikasi gabungan makrovaskular atau mikrovaskular dan komplikasi kejadian mikrovaskular, namun tidak berbeda bermakna pada kejadian makrovaskular dan kematian akibat semua penyebab. Kejadian mikrovaskular yang ditemukan lebih rendah pada kelompok terapi intensif adalah nefropati diabetik sedangkan tidak ada perbedaan bermakna pada kejadian retinopati diabetik.[5]

Studi meta analisis dari Kelly, et al. menunjukkan bahwa kelompok terapi intensif dengan target kontrol HbA1c yang lebih rendah mengalami penurunan angka kejadian penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung koroner, stroke, dan penyakit arteri perifer, sebanyak 10% dan penyakit jantung koroner secara spesifik sebesar 11%. Angka kematian terkait semua sebab ataupun terkait penyakit kardiovaskular tidak berbeda antara kelompok terapi intensif dan standar pada penelitian yang sama.[7]

Risiko Terapi Intensif Diabetes Melitus Tipe 2

Kelompok terapi intensif dengan target kontrol HbA1c yang lebih rendah memiliki risiko retensi cairan yang lebih tinggi. Hal ini dapat menyebabkan edema pretibial, pembengkakan pergelangan kaki, sesak napas, gagal jantung kongestif dan edema paru, serta nokturia.[5]

Risiko efek samping hipoglikemia meningkat pada kelompok terapi intensif dibandingkan dengan yang menggunakan target HbA1c 7%.[5,6] Episode hipoglikemia yang berulang dapat mempengaruhi kerja otonom, di mana terdapat gangguan regulasi balik dari kadar glukosa sehingga terjadi peningkatan risiko hipoglikemia. Terapi intensif dengan target HbA1c yang lebih rendah sebaiknya tidak diterapkan pada pasien dengan riwayat hipoglikemia, terutama riwayat hipoglikemia berat atau berulang.[8]

Kesimpulan

Terapi intensif untuk diabetes mellitus tipe 2 dengan target HbA1c yang lebih rendah, <6,5%, bermanfaat untuk menurunkan risiko komplikasi, seperti retinopati dan nefropati diabetik. Walau demikian, target HbA1c yang lebih rendah ini memiliki potensi bahaya berupa peningkatan risiko retensi cairan dan hipoglikemia. Dokter harus mengedukasi pasien untuk dapat melakukan pengecekan glukosa rutin secara mandiri untuk mencegah terjadinya hipoglikemia.

Pertimbangkan manfaat dan risiko penerapan terapi intensif diabetes mellitus tipe 2 pada pasien. Nilai kondisi pasien terlebih dahulu sebelum menerapkan target HbA1c <6.5%. Jangan gunakan target kontrol HbA1c yang lebih rendah ini pada pasien yang berisiko hipoglikemia, misalnya pada pasien dengan riwayat hipoglikemia berat atau berulang, serta pada ibu hamil.

Referensi