Cegah Hipoglikemia pada Diabetes Mellitus Tipe 2

Oleh :
dr. Nathania S. Sutisna

Hipoglikemia adalah salah satu komplikasi akut pada diabetes mellitus tipe 2 (DMT2). Pencegahan hipoglikemia sangat penting untuk memperbaiki prognosis pasien.

Hipoglikemia merupakan penghalang utama untuk memaksimalkan terapi antihiperglikemik dalam upaya mencapai kontrol glikemik yang lebih baik. Penelitian pada 108 subjek yang menjalani pemeriksaan glukosa kontinyu menunjukkan bahwa terdapat setengah dari populasi mengalami hipoglikemia dengan atau tanpa gejala, dan ditemukan terbanyak pada pasien dalam terapi insulin. [1-3]

blood glucose

 

Hipoglikemia adalah kondisi gawat darurat yang memerlukan pengenalan dan pengobatan yang cepat untuk mencegah kerusakan organ vital, termasuk otak. Komplikasi jangka pendek dan jangka panjang dari hipoglikemia antara lain gangguan neurologis dan fungsi kognitif, penurunan kualitas hidup, gangguan kardiovaskular dan kematian [1,4] Hipoglikemia berat dikaitkan dengan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular dan mortalitas yang signifikan.[5] Pengetahuan diri tentang hipoglikemia, memilih atau memodifikasi terapi untuk mengurangi risiko hipoglikemia sangat penting bagi dokter dan pasien.

Sekilas Mengenai Hipoglikemia

Hipoglikemia dapat didefinisikan dalam beberapa cara antara lain berdasarkan nilai glukosa plasma, gejala, dan waktu kejadian.[6] Ambang batas glukosa darah yang rendah dapat bervariasi, dengan nilai waspada adalah di bawah 70 mg/Dl. [3]

Faktor risiko hipoglikemia pada diabetes mellitus tipe 2 (DMT2) adalah riwayat hipoglikemia dan terapi insulin. Risiko hipoglikemia tertinggi didapatkan pada penderita DMT2 yang diterapi insulin selama lebih dari 10 tahun [4]. Faktor risiko lainnya adalah perubahan asupan makanan, aktivitas yang berlebihan, dan gangguan kognitif [2,4,6] Penyebab lain seperti konsumsi alkohol, interaksi obat, stres dan infeksi juga harus dipertimbangkan [4]. Yun, et al, (2015) menemukan bahwa 56% dari peristiwa hipoglikemik memiliki penyebab yang tidak diketahui.[5]

Secara umum, hipoglikemia pada pasien DMT2 terjadi akibat ketidakseimbangan antara asupan obat hipoglikemi dan kebutuhan fisiologis tubuh. [4] Penurunan glukosa darah secara intensif (target HbA1c < 6.5%) dibandingkan dengan penurunan standar, meningkatkan risiko hipoglikemia berat.[7]

Populasi yang rentan hipoglikemia adalah :

  • Pasien dengan gangguan ginjal karena adanya gangguan pembuangan insulin, penurunan degradasi insulin pada jaringan perifer, penurunan glukoneogenesis pada penurunan massa ginjal, dan peningkatan waktu paruh obat-obatan lain.
  • Pasien usia lanjut terkait dengan penurunan fungsi ginjal dan kognitif.
  • Pasien dengan kegagalan fungsi otonom yaitu pasien yang mengalami defek regulasi glukosa
  • Ibu hamil. [4,6]

Cara Pencegahan Hipoglikemia

Prinsip-prinsip pencegahan hipoglikemia meliputi:

  • manajemen diabetes yang melibatkan pasien dan keluarga atau caregiver (melalui edukasi)

  • self monitoring blood glucose (SMBG)

  • penggunaan obat-obatan antihiperglikemia baik insulin maupun obat oral secara fleksibel dan tepat
  • penetapan target glikemik individual
  • identifikasi faktor risiko hipoglikemia yang ada
  • pemberian dukungan dan bimbingan profesional [4]

Edukasi mengenai gejala hipoglikemia, faktor risiko, pencegahan, dan penanganan pertama hipoglikemia untuk meningkatkan kewaspadaan pasien dilakukan untuk pencegahan. [4,6] Pasien dilatih untuk menangani hipoglikemia termasuk melakukan pengecekan glukosa darah mandiri, memberikan suplementasi glukosa, memeriksa kembali gula darah setelah episode hipoglikemia, dan menyesuaikan dosis obat karena target glikemik tiap pasien berbeda-beda sesuai situasi klinis. Pasien juga dilatih untuk mengenali dan merespon secara tepat terhadap gejala-gejala neuroglikopenia.[5] Edukasi pasien, keluarga dan caregiver tentang hipoglikemia merupakan faktor kunci dalam pencegahan komplikasi ini.[4]

Self- monitoring blood glucose (SMBG) atau continuous glucose monitors (CGM) atau pengecekan glukosa darah mandiri merupakan bagian penting dari manajemen diabetes terutama bagi mereka yang ada pada kelompok risiko tinggi. Informasi dari hasil pemantauan gula darah ini dapat digunakan untuk memandu terapi dan memberikan umpan balik kepada pasien dan tenaga medis tentang kontrol glikemik. [4] Studi lain menunjukkan bahwa fluktuasi glukosa dalam 24 jam sebelum onset dapat memprediksi kejadian hipoglikemia berat. [6] Sebuah penelitian menggunakan alat pemantauan glukosa kontinyu mengungkapkan bahwa sebagian besar episode hipoglikemik terjadi pada malam hari, dan berpotensi tidak memiliki gejala hipoglikemik yang disadari. [5] Pada pasien dengan riwayat hipoglikemia berulang, waktu terjadinya episode hipoglikemia harus diidentifikasi sehingga pemberian obat anti diabetes dapat disesuaikan.[4]

Insulin kerja panjang dapat menurunkan risiko hipoglikemia nokturnal dan simptomatik hingga lebih dari 30% pada diabetes mellitus tipe 2 (DMT2). [5,6] Pasien yang menggunakan obat antidiabetes oral juga berisiko mengalami hipoglikemia. Obat seperti metformin, dipeptidyl peptidase-4 inhibitor, dan tiazolidindion lebih dipertimbangkan untuk diberikan daripada sulfonilurea dalam meminimalkan risiko hipoglikemia.[4,8] Risiko hipoglikemia sulfonilurea berhubungan dengan sifat farmakokinetiknya dan paling tinggi didapatkan pada sulfonilurea kerja panjang seperti glibenclamide. [8]

Perencanaan diet dan manajemen gaya hidup juga harus disesuaikan dengan pengobatan diabetes. Pasien dengan terapi sulfonilurea kerja panjang atau insulin tidak boleh melewatkan atau terlambat makan. Jika pasien diberikan injeksi insulin postprandial maka dosis insulin diberikan bersama dengan waktu  makan. Pengaturan diet yang diberikan meliputi gizi seimbang, makan porsi kecil dan teratur, menghindari makan berlebihan dan membawa sumber glukosa seperti buah atau permen setiap saat sebagai penanganan pertama bila terjadi hipoglikemia.[6] Pada pasien yang sering mengalami hipoglikemia nokturnal dipertimbangkan untuk mendapat makanan tambahan sebelum tidur. Perencanaan olahraga atau latihan juga perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil yang optimal.[5]

Kesimpulan

Hipoglikemia adalah komplikasi akut yang dapat terjadi pada pasien diabetes mellitus tipe 2 (DMT2) terutama dalam terapi insulin. Hipoglikemia merupakan penghalang utama dalam memaksimalkan terapi antihiperglikemia. Cara pencegahan hipoglikemia antara lain manajemen diabetes yang melibatkan pasien dan keluarga atau caregiver (melalui edukasi), self monitoring blood glucose (SMBG), penggunaan obat-obatan antihiperglikemia baik insulin maupun obat oral secara fleksibel dan tepat, penetapan target glikemik individual, identifikasi faktor risiko hipoglikemia yang ada, dan pemberian dukungan dan bimbingan profesional.

Edukasi adalah hal yang penting untuk dilakukan pada pasien DMT2 terutama yang memiliki riwayat dan risiko hipoglikemia. Edukasi yang diberikan dapat meliputi faktor risiko terhadap hipoglikemia, gejala, pencegahan dan penanganan hipoglikemia. Faktor risiko terjadinya hipoglikemia antara lain riwayat hipoglikemia sebelumnya, penggunaan insulin, gangguan ginjal, usia lanjut, gangguan kognitif, adanya kegagalan fungsi otonom (defek regulasi glukosa) dan kehamilan. Pemantauan glukosa darah mandiri juga perlu dilakukan untuk memandu terapi dan memberikan peringatan untuk melakukan intervensi seperti pengubahan obat-obatan antihiperglikemia.

Obat antihiperglikemia yang berisiko tinggi membuat hipoglikemia selain insulin adalah sulfonilurea (contoh: glimepirid). Kedua golongan obat ini perlu dipertimbangkan untuk diganti dengan golongan lain yang lebih tidak menyebabkan hipoglikemia, atau dilakukan penyesuaian dosis, misalnya metformin. Perencanaan diet dan manajemen gaya hidup juga harus disesuaikan dengan pengobatan diabetes.

Referensi