Cara Menyiasati Keraguan Vaksin

Oleh dr. Pika Novriani

Keraguan terhadap vaksin atau vaccine hesitancy adalah adanya penundaan atau penolakan terhadap vaksinasi. Adanya keraguan terhadap vaksin akan menurunkan cakupan imunisasi. Padahal pemberian vaksin penting untuk membentuk kekebalan tubuh secara aktif dan meningkatkan herd immunity atau pembentukan imunitas terhadap komunitas, serta mencegah penularan penyakit.

Munculnya keraguan vaksin bukan hanya terjadi di Indonesia saja, namun sudah menjadi masalah global. Berbagai penelusuran ilmiah telah dilakukan untuk mencari penyebab keraguan vaksin dan strategi untuk menyiasati keraguan vaksin. Salah satu hal yang dapat menyebabkan keraguan vaksin adalah adanya berbagai mitos terkait vaksin, misalnya vaksin dapat menyebabkan autisme. [1-5] Berbagai cara berikut dapat dilakukan tenaga kesehatan untuk menyiasati keraguan vaksin.

vaccine

Memperluas Informasi Tentang Vaksin

Pemahaman yang baik mengenai seluk beluk vaksin dan imunisasi dapat meningkatkan trust dan engagement yang merupakan elemen penting untuk meningkatkan cakupan imunisasi. Selain memperluas pengetahuan, ketersediaan informasi juga dapat menghalau mitos dan kontranarasi vaksin.

Memanfaatkan Internet

Di era gadget, penyebaran informasi dapat dilakukan via internet dan media sosial. Tinjauan sistematik menyimpulkan penyebaran informasi melalui sosial media berdampak positif pada peningkatan uptake vaksin MCV, tetanus, dan influenza.

Teknik Konvensional

Di sisi lain, teknik konvensional dengan menggunakan poster, brosur, pamflet dan radio tetap digunakan walaupun cakupan imunisasi rendah. Kunci penyajian konten adalah menggunakan tiga macam jenis penyajian yang disebut bite, snack and meal. Bite adalah headline atau berita utama, snack adalah ringkasan atau rangkuman, dan meal merupakan artikel lengkap.

Dialog

Pembentukan trust dan engagement juga dapat dilakukan dengan dialog. Strategi menyiasati keraguan vaksin dengan metode ini terbukti paling efektif dibanding strategi lainnya. Usaha dialog dilakukan melalui kampanye imunisasi, grup diskusi, atau toll free call center. Keraguan vaksinasi akibat isu kehalalan vaksin dapat ditangkis melalui dialog dengan menggandeng tokoh agama atau tokoh masyarakat.

Semua regio WHO kecuali Mediterania menggunakan media dialog sebagai intervensi terhadap keraguan vaksin. Teknik dialog dapat dilakukan dengan motivational interview, presumptive approach, maupun participatory approach. Meminta izin sebelum mengajak diskusi merupakan poin penting yang harus dicermati.

Motivational interview dilakukan dengan melempar pertanyaan terbuka, dengarkan keluhan pasien, luruskan jika terjadi mispersepsi, beri penekanan hanya pada masalah yang dikemukakan dengan membeberkan fakta-fakta yang ada dan hindari mendikte pasien.

Presumptive approach adalah pendekatan yang beranggapan bahwa pasien akan diimunisasi dan tidak mempertanyakan alasan tidak melakukan vaksinasi.

Pada participatory approach dokter melakukan dialog dengan pasien sehingga keputusan dapat diambil bersama dengan partisipasi aktif dari pasien.

Tingkat cakupan vaksinasi dengan presumptive approach lebih tinggi daripada participatory approach berdasarkan studi oleh Opel et al. Lahirnya konflik akibat pendekatan personal ditengarai menjadi alasannya. Namun studi ini dibantah oleh Leask et al yang menyatakan bahwa vaksinasi harus dilakukan secara sadar dan sukarela. [1,2,5-13]

Mobilisasi Aktif

Strategi mobilisasi aktif dengan mengunjungi langsung pasien melalui posyandu dan home visit terbukti dapat meningkatkan cakupan imunisasi. Hasil tinjauan sistematik menyimpulkan bahwa strategi ini berdampak positif pada cakupan vaksinasi campak, DPT, dan polio pada populasi dengan pendapatan rendah. [6-9,12]

Manajemen Nyeri

Nyeri adalah salah satu efek samping pemberian vaksin. Pemahaman yang salah dengan menganggap hal tersebut meningkatkan morbiditas akan menimbulkan keraguan vaksin. Oleh karena itu, penting sekali memberi kenyamanan pasien dan keluarganya dengan melakukan manajemen nyeri prosedural. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri adalah:

  • Sugesti psikologis dengan memberikan afirmasi positif
  • Memberikan anestesi topikal
  • Distraksi dengan latihan pernafasan
  • Pada pasien anak, nyeri dapat berkurang dengan posisi memegang atau menggendong yang nyaman, stimulasi taktil, memberikan larutan gula, menganjurkan ibu untuk menyusui sebelum, selama, dan sesudah vaksinasi, serta memberikan mainan sebagai pengalih perhatian [6-9]

Reminder/Recall

Reminder atau recall melalui surat, SMS, atau telepon merupakan metode yang cukup efektif untuk meningkatkan cakupan vaksin pediatrik. Strategi ini akan membantu keluarga yang menunda vaksin karena terlupa jadwal atau karena stok vaksin sedang habis. Reminder atau recall bisa dilakukan dengan menghubungkan rekam medis digital dengan penyedia vaksin, sehingga pengingat dapat dikirimkan secara otomatis. Strategi ini umumnya sudah dilakukan di negara maju seperti negara-negara Eropa dan Amerika. [1, 6-9,13]

Pemberian Insentif

Pemberian insentif pada pasien atau orangtua dapat diberikan secara nonfinansial dengan pemberian makanan, souvenir, atau goodie bag, maupun dengan kompensasi finansial. Strategi ini dilaporkan memberi dampak positif pada saat program EPI/Extended Program Immunization dijalankan. [13]

Program Nasional

Keraguan vaksin terbukti menyebabkan wabah yang tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara lain di seluruh dunia. Pemerintah indonesia berusaha memperluas distribusi dan akses imunisasi dengan menjadikan imunisasi sebagai program nasional melalui PD3I (Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi) Tuberkulosis, Difteri, Pertusis, Campak, Polio, Tetanus, dan Hepatitis B; program ERAPO (Eradikasi Polio); program ETMN (Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal); dan RECAM (Reduksi Campak).

WHO juga berusaha meningkatkan cakupan imunisasi melalui EPI (Expanded Programme On Immunization) dan GAVI (Global Alliance For Vaccine And Immunization).

Conflict of interest dalam pelaksanaan dan pengadaan vaksinasi harus dilakukan secara transparan untuk menciptakan trust. Distribusi dan akses vaksin juga dapat ditingkatkan dengan pengadaan vaksin murah, mendorong penelitian tentang vaksin, dan mendorong kemajuan produksi vaksin. [1-7]

Pelatihan Petugas Kesehatan

Pelatihan petugas kesehatan merupakan landasan penting karena petugas kesehatan merupakan tonggak yang dijadikan acuan oleh masyarakat sebagai sumber informasi. Studi melaporkan bahwa 80% keraguan vaksin terjadi karena pengaruh fasilitas kesehatan termasuk petugas kesehatan.

Pelatihan dapat dilakukan melalui online tutorial atau handbook. Kunci komunikasi yang ditekankan dalam pelatihan mencakup 3A, yaitu  Ask, Acknowledge, Advice.

  • Ask dilakukan dengan memberikan pertanyaan terbuka untuk merangsang diskusi.

  • Acknowledge adalah berkomunikasi dengan empati

  • Advise dilakukan dengan pemaparan manfaat dan risko vaksinasi sebelum menganjurkan vaksinasi.

Pelatihan petugas kesehatan dilaporkan berdampak positif, terutama pada cakupan imunisasi DPT, selama EPI/Extended Program Immunization. [1,6,9,11-13]

Penetapan Jadwal Imunisasi

Walaupun telah ditetapkan, namun jadwal berbeda antar instansi dapat menciptakan kebingungan dan menimbulkan keraguan terhadap vaksinasi. Adanya satu jadwal yang dirujuk sebagai pedoman nasional akan membantu meningkatkan kepatuhan orang tua untuk memvaksin anaknya.

Terkait dengan penjadwalan, mengurangi frekuensi kunjungan dengan pemberian vaksin kombinasi atau pemberian imunisasi simultan juga dapat meningkatkan cakupan imunisasi. [7,10]

Kewajiban Imunisasi

Pemberlakuan imunisasi sebagai kewajiban terhadap anak usia sekolah, pelajar/mahasiswa maupun pekerja dapat membantu meningkatkan keberhasilan vaksinasi.

Australia menerapkan ‘no jab no pay’ untuk meningkatkan upaya promotif vaksinasi, sedangkan Amerika Serikat memberlakukan penolakan operasi terhadap anak yang tidak divaksinasi. Walaupun terdapat pembenaran bahwa herd immunity sangat diperlukan untuk menciptakan komunitas sehat, kekurangan dari metode ini adalah isu penolakan terhadap pasien yang tidak diimunisasi bersinggungan dengan kode etik profesi, tidak serta merta membuat orangtua lalu mengimunisasi anaknya, dan dapat membuat pasien semakin skeptis.

Adanya konsekuensi hukum juga dapat membantu engagement terhadap imunisasi. Strategi ini  diterapkan di seluruh negara bagian Amerika Serikat, Perancis, dan Italia dengan sanksi bahwa anak yang tidak diimunisasi tidak dapat bersekolah di sekolah tertentu. Atas alasan hak asasi dan etika, strategi ini dilarang di Inggris. [2, 6-8, 10,11]

Kesimpulan

Kepercayaan terhadap vaksin merupakan investasi jangka panjang yang bisa terbentuk jika ada trust dan engagement. Namun, etika harus tetap menjadi poin penting yang harus dikedepankan dalam KIE/Komunikasi Edukasi Informasi. Strategi yang digunakan antar negara berbeda-beda, bergantung pada penekanan masalah. Jenis vaksin juga menjadi faktor yang berpengaruh dalam penentuan intervensi.

Di Indonesia, pendekatan multikomponen yang berbasis dialog merupakan strategi yang dapat digunakan dalam menyiasati keraguan vaksin. Mobilisasi melalui Posyandu dan kunjungan rumah juga dapat dilakukan dan sudah terbukti meningkatkan cakupan imunisasi. Orangtua pasien dapat diingatkan melalui SMS atau telepon agar tidak terlambat memvaksin anaknya. Adanya program nasional seperti ERAPO dan RECAM, serta penetapan jadwal imunisasi yang seragam, juga dapat dilakukan untuk meningkatkan cakupan.

Referensi