Keamanan Berhubungan Seksual pada Kehamilan

Oleh dr. Khrisna Rangga

Aktivitas seksual saat kehamilan cenderung menurun akibat berbagai sebab, salah satunya adalah ketakutan akan keamanan dari hubungan seksual saat hamil. Ketakutan akan keguguran, melukai janin, pecah ketuban, bayi lahir prematur, dan ketakutan lainnya menjadi isu yang mengganggu wanita hamil dan umumnya tidak didiskusikan dengan orang lain, termasuk dengan tenaga kesehatan yang mengontrol selama proses kehamilan. Untuk itu, perlu adanya edukasi dari tenaga kesehatan terutama dokter terkait hubungan seksual selama kehamilan.

Keamanan Berhubungan Seksual Saat Kehamilan

Saat ini, tidak ada larangan atau rekomendasi yang melarang hubungan seksual pada masa kehamilan. Wanita hamil selama merasa nyaman dengan aktivitas seksual yang akan dilakukan, maka aktivitas seksual dilakukan seperti biasa. Aston G dkk (2015) mengatakan tidak ada keterkaitan antara berhubungan seksual dan keguguran. Tien J dkk (2007) tentang jurnalnya berjudul 'Non-surgical interventions for threatened and recurrent miscarriages' untuk pencegahan keguguran membenarkan situasi bahwa tidak ada penelitian yang dilakukan mengenai efek hubungan seksual terhadap keguguran trimester pertama secara khusus. Penulis menyatakan bahwa butuh lebih banyak data diperlukan untuk menentukan apakah hubungan seksual memiliki dampak negatif pada keguguran trimester pertama. Penelitian lainnya, Pulse (2012) juga mengatakan hal serupa namun menyarankan jika ada riwayat terkait suatu penyakit atau keluhan lain, ibu hamil harus tetap berkonsultasi ke dokter kandungan untuk mencegah komplikasi atau memastikan kondisi terkini ibu hamil. Faktor anatomi dari kehamilan pun mendukung hal tersebut. Janin terlindungi cairan ketuban rahim yang kuat, sehingga aktivitas seksual tidak akan membahayakannya. Perlindungan ini dibantu dengan otot rahim serta lendir tebal yang menutup mulut rahim untuk menghindarkan infeksi. Penis yang masuk saat bersenggama tidak akan mencapai bayi.

Tanda Bahaya

Berhubungan seks selama kehamilan aman dilakukan, namun berikut inilah tanda bahaya untuk wanita untuk mempertimbangkan kembali tentang berhubungan seksual selama kehamilan dan pertimbangan untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan sebelumnya[2]:

  1. Awal kehamilan dan riwayat keguguran sebelumnya

Keguguran sering terjadi pada trimester pertama. Risiko persalinan prematur berbeda di antara ibu hamil, tergantung dari ada tidaknya faktor risiko spesifik yang meliputi persalinan prematur sebelumnya, multigravida dan inkompetensi serviks. Pembatasan hubungan seksual secara rutin direkomendasikan pada wanita yang memiliki risiko kelahiran prematur. Yost dan rekan mempelajari dampak hubungan seksual pada kelahiran prematur berulang pada wanita dengan kelahiran prematur spontan sebelumnya pada usia gestasi kurang dari 32 minggu. Frekuensi hubungan seksual pada saat studi dilakukan tidak berpengaruh terhadap kejadian kelahiran prematur.  Hubungan seksual yang sering dikaitkan dengan peningkatan risiko persalinan prematur hanya ada pada wanita dengan infeksi Mycoplasma hominis atau Trichomonas vaginalis. Wanita dengan kehamilan berisiko rendah yang tidak memiliki gejala atau bukti infeksi saluran kemih yang lebih rendah harus diyakinkan bahwa hubungan seksual tidak meningkatkan risiko kelahiran prematur [1]. Pasien dengan riwayat keguguran, perlu memeriksakan diri sebelumnya.

  1. Sedang dalam pengobatan atau mempunyai keluhan dan faktor risiko ke arah infeksi genital

Untuk alasan ini, pedoman terbaru dari Society of Obstetricians and Gynecologists of Canada merekomendasikan bahwa wanita yang berisiko tinggi melakukan persalinan prematur menerima skrining dan pengobatan untuk vaginosis bakteri. Kesalahpahaman yang umum terjadi adalah bahwa kehamilan melindungi terhadap infeksi menular seksual dan penyakit radang panggul. Chlamydia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae adalah mikroorganisme yang paling sering terlibat; Namun, mikroorganisme lainnya mungkin juga terlibat. Spektrum penyakit berkisar dari asimtomatik sampai abses tubo-ovarium yang mengancam jiwa. Pasien harus diobati secara empiris, meski ada beberapa gejala. Sebagian besar wanita dapat diobati dengan sukses sebagai pasien rawat jalan dengan dosis tunggal sefalosporin parenteral ditambah doksisiklin oral, dengan atau tanpa metronidazol oral. Keterlambatan dalam perawatan dapat menyebabkan sekuele utama, termasuk nyeri panggul kronis, kehamilan ektopik, dan infertilitas [3].  Strategi untuk mencegah penyakit radang panggul termasuk skrining rutin untuk klamidia dan pendidikan pasien. Beberapa studi menunjukkan bahwa penyakit radang panggul dan kehamilan dapat hidup berdampingan pada remaja dan harus berada dalam diagnosis banding untuk pasien hamil yang mengalami nyeri perut.

  1. Kehamilan kembar/gemeli

Wanita dengan kehamilan kembar juga memiliki risiko persalinan prematur yang lebih tinggi, namun sebuah penelitian terhadap 126 wanita dengan gemeli tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dalam frekuensi aktivitas seksual di antara pasien yang melahirkan pada saat dibandingkan dengan mereka yang melahirkan prematur.

  1. Riwayat keluar darah/perdarahan saat melakukan hubungan seksual

Keluar darah sering dikaitkan dengan kejadian abortus jika usia kehamilan dibawah 20 minggu dan placenta previa jika diatas 20 minggu. Beberapa teori menyatakan bahwa kontak penis dengan serviks selama hubungan seksual dapat mengakibatkan risiko perdarahan yang sama, dan sebagai hasilnya, pasien dengan plasenta previa disarankan untuk tidak melakukan aktivitas seksual selama kehamilan. Namun, ada kekurangan data prospektif untuk mendukung atau menolak rekomendasi ini. Meskipun tidak ada penelitian tentang sudut kontak penis dengan serviks saat bersenggama pada kehamilan, seseorang mungkin dapat melakukan ekstrapolasi dari studi probe transvaginal [4].

Lebih jauh lagi, perdarahan deras yang dijelaskan dengan pemeriksaan digital pada serviks lebih mungkin terjadi karena fleksi falang distal, memungkinkan jari memasuki serviks dan bersentuhan langsung dengan plasenta. Meskipun rekomendasi terbatas saat ini, hal yang mungkin paling aman adalah dengan memberi saran kepada pasien plasenta previa agar tidak melakukan aktivitas seksual untuk mengurangi risiko teoritis perdarahan antepartum

  1. Terjadi pecahnya ketuban (keluar cairan/merembes air yang merupakan ketuban dari vagina sebagai tanda selaput ketuban bayi sudah robek)

Hal ini perlu diwaspadai jika timbul sebelum onset persalinan. Normalnya ketuban pecah saat persalinan/inpartu yaitu sesaat sebelum atau setelah pembukaan lengkap ketika aterm (37 minggu). Hal ini sering dikaitkan pada beberapa faktor predisposisi seperti infeksi baik langsung pada selaput ketuban maupun dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban, inkompetensia serviks dan trauma.

Edukasi

Berikut cara edukasi pada pasien:

  1. Berhubungan intim aman dilakukan, namun jika ada warning periksakan kandungan ke dokter kandungan terdekat untuk lebih amannya.
  2. Walaupun hubungan seksual aman dilakukan pada kebanyakan kehamilan dan warning tidak muncul/ada, hal ini tidak menggugurkan kewajiban ibu hamil untuk rutin kontrol kehamilannya ke dokter secara teratur.
  3. Gunakan kondom selama berhubungan seksual untuk mencegah penularan infeksi.
  4. Jangan sampai berhubungan seksual membuat anda kelelahan dan lupa beristirahat. Seimbangkan dengan makan dan minum yang cukup

Sumber: katemangostar, Freepik, 2017. Sumber: katemangostar, Freepik, 2017.

Referensi