Peran Dokter Dalam Pendidikan Seksual di Sekolah

Oleh dr. Hunied Kautsar

Pendidikan seksual di sekolah masih menjadi topik perdebatan di beragam kalangan, terutama mengenai materi dan cara penyampaiannya sehingga dokter diharapkan dapat mengambil peran yang lebih besar dalam penyampaian materi pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi di sekolah.

Depositphotos_31778883_m-2015_compressed

 

Berdasarkan data dari Kemenkes tahun 2010, sebanyak 47,8% kasus AIDS berdasarkan usia diduduki oleh kelompok usia muda (20-29 tahun).[1] Hal ini diperparah dengan pengetahuan mengenai pencegahan penularan HIV yang masih sangat rendah di kalangan remaja. Hanya 18% remaja perempuan dan 25% remaja laki-laki mengetahui bahwa menggunakan kondom ketika berhubungan seks adalah salah satu cara menghindari infeksi HIV. Selain itu, hanya 11% remaja perempuan dan 8% remaja laki-laki menyadari bahwa membatasi jumlah pasangan adalah cara lain untuk menghindari HIV selain tidak melakukan hubungan seks (abstinence).[2]

Berdasarkan penelitian mengenai pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi yang diadakan di delapan kota di Indonesia pada bulan Juni-Agustus 2012, sudah terdapat inisiatif lokal yang baik dalam penyampaian materi pendidikan seksual. Pendidikan seksual disampaikan di sekolah melalui mata pelajaran Biologi, Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Olahraga (Penjaskesor), dan pelajaran Agama. Materi yang disampaikan disesuaikan dengan norma sosial dan agama yang berlaku namun cenderung tidak komprehensif karena hanya menekankan pada perkembangan organ reproduksi secara biologis dan risiko dari seks bebas. Dari hasil penelitian tersebut, masih terdapat responden siswa yang berpendapat bahwa perempuan tidak akan hamil jika berhubungan seks di saat masa subur (36,3%) dan menganggap bahwa jamu/obat herbal dapat mencegah kehamilan (36,4%). Hal ini membuktikan bahwa pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi di sekolah masih belum komprehensif.[3]

Banyak pihak yang khawatir pendidikan seksual akan memicu remaja untuk melakukan hubungan seks di luar pernikahan dan menjadi lebih tahu bahwa hubungan tersebut dapat diminimalisir risikonya.[3] Dokter sebagai tenaga medis tidak dapat menutup mata terhadap fakta aktivitas seksual yang terjadi (terutama) pada remaja saat ini. Tidak tersedianya pendidikan seksual di sekolah tidak akan menghentikan para siswa untuk mencari tahu sendiri. Rasa ingin tahu yang tinggi akan memicu remaja untuk mencari tahu mengenai seks melalui internet yang mengemas seks sebagai komoditas berbentuk pornografi dan mitos-mitos yang tidak akurat. Dokter perlu mengetahui dan mengedukasi masyarakat bahwa pendidikan seksual terbukti bermanfaat untuk menunda usia pertama kali berhubungan seks dan menurunkan tingkat berganti-ganti pasangan.[4]

Peran dokter dalam pendidikan seksual di sekolah menjadi sangat penting karena masih banyak yang mengganggap pendidikan seksual adalah hal yang tabu. Tidak semua guru di sekolah mempunyai kapabilitas yang cukup dan merasa nyaman dalam menyampaikan materi mengenai pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi. Dengan menjadikan dokter sebagai narasumber, kesan tabu dapat dihilangkan karena dokter hadir sebagai tenaga profesional yang pekerjaan sehari-harinya meliputi semua aspek kesehatan termasuk kesehatan seksual dan reproduksi.

Dokter dapat memberikan materi yang komprehensif dan berbasis bukti (evidence based). Selain itu dokter sebagai narasumber dapat menjembatani jarak yang pada umumnya ada di antara siswa dan guru. Para siswa seringkali merasa segan untuk bertanya kepada para guru karena takut dianggap tidak sopan. Para siswa akan merasa lebih nyaman bertanya kepada dokter karena dokter hadir sebagai "orang lain" yang tidak akan menghakimi mereka. Peran dokter juga menjadi penting karena tidak semua orang tua merasa nyaman untuk membicarakan masalah seksual dengan anaknya di rumah. Dokter dapat hadir sebagai sumber yang terpecaya dan tidak menghakimi.

Metode Penyampaian Pendidikan Seksual dan Kesehatan Reproduksi

Pendidikan seksual dalam jangka pendek hanya akan meningkatkan pengetahuan, namun dalam jangka panjang, pengetahuan mengenai seksualitas akan menjadi behavioral investment. Pembentukan moral remaja dilandasi oleh pengetahuan dan sikap sehingga perubahan perilaku dapat dicapai jika ada keselarasan antara pengetahuan dan sikap. Sikap tersebut dapat terbentuk setelah terjadi proses tahu terlebih dahulu.[5]

Peran dokter sangat penting dalam menyampaikan fakta-fakta mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi sebagai bekal pengetahuan para siswa. Fakta yang disampaikan harus komprehensif, yakni tidak hanya terbatas pada kesehatan reproduksi namun juga membantu para siswa (terutama remaja) untuk menyadari bahwa mereka adalah makhluk seksual dan dengan bekal pengetahuan yang sudah disampaikan mereka harus bisa bertanggung jawab atas aktivitas seksual yang mereka lakukan. Tanggung jawab tersebut meliputi pencegahan penularan penyakit menular seksual dengan penggunaan kondom atau abstinence, pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dengan penggunaan kontrasepsi atau abstinence, memahami risiko dari tindakan aborsi, serta mengenali bentuk-bentuk kekerasan dalam hubungan sehingga mampu untuk keluar dari suatu hubungan yang tidak kondusif dan membahayakan diri.  

Kemampuan siswa dalam menyerap informasi melalui indra pendengaran sangat terbatas sehingga penyampaian pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi melalui metode ceramah dinilai kurang efektif. Remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan keinginan yang tinggi untuk diterima di lingkungan teman-temannya (peer group). Metode edukasi game kognitif proaktif merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi bagi remaja. Para siswa akan dibagi menjadi kelompok-kelompok dengan teman sebayanya dan melalui diskusi yang dipimpin oleh dokter, para siswa dapat bertukar pikiran melalui isu-isu seksualitas yang dihadapi sehari-hari. Mereka dapat secara proaktif menyampaikan pendapat dan menilai aspek baik dan buruk dari setiap isu yang didiskusikan serta menyimpulkan sendiri yang terbaik untuk mereka. Dengan metode ini diharapkan isi materi menjadi lebih melekat karena disampaikan dalam suasana yang tidak formal dan dalam bahasa yang mereka mengerti.[6]

Materi yang disampaikan pada siswa di sekolah disesuaikan dengan usia para siswa dan diberikan dengan tujuan supaya mereka memahami alat reproduksi masing-masing serta hak dan kewajiban yang mereka miliki sebagai makhluk seksual.

Referensi