Aktivitas Fisik pada Masa Kehamilan dan Post Partum

Oleh dr. Gisheila Ruth

Bukti ilmiah terkini menunjukkan aktivitas fisik pada masa kehamilan dan post partum yang dilakukan dengan porsi yang tepat memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan ibu dan bayi.

Wanita hamil selalu dianggap sebagai kelompok yang cukup rentan dan disarankan untuk mengurangi intensitas aktivitas fisik selama masa kehamilan. Selama bertahun-tahun, aktivitas fisik dinilai memiliki dampak yang kurang baik bagi janin dan dapat mengakibatkan berbagai komplikasi, seperti kelahiran prematur, restriksi pertumbuhan janin, atau berat janin tidak sesuai dengan usia kehamilan. Namun, seiring berjalannya waktu, berbagai penelitian telah dilakukan. Penurunan aktivitas fisik selama kehamilan ternyata berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit metabolik kronik baik pada maternal maupun pada anak. Selain itu, adanya aktivitas fisik selama masa kehamilan dan post partum juga dapat menurunkan risiko gangguan emosional seperti gangguan cemas dan depresi yang umum dialami pada ibu hamil dan pasca melahirkan.[1,2]

Depositphotos_3631061_m-2015_compressed

 

Fisiologi Kehamilan

Selama masa kehamilan, ibu akan mengalami perubahan anatomi dan fisiologi secara signifikan untuk menunjang pertumbuhan fetus. Perubahan sudah dimulai setelah terjadinya konsepsi dan akan memengaruhi setiap sistem organ di dalam tubuh. Pada masa kehamilan 8 minggu, terjadi peningkatan cardiac output sebesar 20% dan akan terus meningkat sampai 40% selama masa kehamilan. Selain itu, terjadi peningkatan kebutuhan oksigen selama masa kehamilan karena terdapat peningkatan rate metabolik sebesar 15% dan konsumsi oksigen sebesar 20%. Terjadi peningkatan resistensi insulin maternal pada trimester dua dan tiga. Hal ini disebabkan karena berbagai hormon selama masa kehamilan menurunkan sensitivitas insulin pada jaringan perifer. Terdapat pula perubahan metabolisme lipid yang berfungsi untuk kebutuhan perkembangan fetus. Peningkatan level trigliserida dan LDL terjadi pada ibu hamil yang berfungsi untuk kebutuhan energi maternal dan steroidogenesis plasental. Peningkatan berat janin dan pola pertumbuhan janin selama masa kehamilan yang mengakibatkan perubahan pada anatomi maupun fisiologi membutuhkan adaptasi ibu untuk melakukan aktivitas fisik terutama pada usia kehamilan 20 minggu.[3,4]

Aktivitas Fisik pada masa Kehamilan dan Post Partum

Aktivitas fisik dalam setiap tahap kehidupan berdampak positif terhadap kesehatan kardiorespirasi, penurunan risiko obesitas dan komorbidnya, dan peningkatan usia hidup. Aktivitas fisik pada kehamilan pun dinilai dapat menurunkan risiko dan memberi keuntungan bagi ibu hamil, namun beberapa modifikasi perlu diberikan pada aktivitas rutin karena adanya perubahan anatomi dan fisiologi selama kehamilan.[5]

Aktivitas fisik dapat memberikan manfaat bagi kesehatan maternal dan fetus. Aktivitas fisik dapat mencegah risiko terjadinya diabetes gestasional. Pada beberapa studi multipel didapatkan adanya penurunan kadar glukosa darah pada 24-28 minggu kehamilan dari tes toleransi glukosa oral pada wanita hamil yang aktif. Aktivitas fisik dapat mengatur pertambahan berat badan ibu dalam kehamilan dan mengurangi risiko bayi makrosomia. Hipertensi gestasional dan preeklampsia juga lebih jarang ditemukan pada ibu hamil yang aktif. Pada beberapa studi juga ditemukan aktivitas fisik yang rutin selama kehamilan dapat memperpendek masa persalinan dan menurunkan risiko operasi Caesar. Aktivitas fisik yang dilakukan satu sampai dua kali per minggu dapat mengurangi angka depresi pasca persalinan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Newton, et al., adanya aktivitas selama kehamilan dapat meningkatkan laju pertumbuhan fetoplasental dan berat badan bayi saat lahir. Peningkatan pertumbuhan plasental terjadi pada awal kehamilan 20 minggu dan menetap selama kehamilan. Adanya aktivitas fisik selama masa kehamilan dapat menghasilkan plasenta dengan volume fungsional, nonfungsional, villi, dan terminal vili yang lebih besar.[1,4]

Pada ibu hamil dan post partum yang sehat, pedoman klinis merekomendasikan ibu hamil sebaiknya melakukan aktivitas fisik aerobik minimal 150 menit setiap minggu dengan intensitas moderat (seperti jalan cepat, senam khusus ibu hamil,dan berenang). Waktu 150 menit sebaiknya dibagi merata setiap harinya. Aktivitas fisik yang sebaiknya dihindari oleh ibu hamil adalah menyelam, olahraga dengan alat (boxing, bermain bola), dan aktivitas yang memiliki risiko tinggi untuk jatuh. Walau demikian, perlu diingat bahwa rekomendasi ini merupakan sebuah konsensus opini yang tidak didasarkan pada bukti ilmiah.[5]

Bukti Klinis

Meta analisis oleh Magro-malosso, et al. yang terdiri dari 17 Randomised Controlled Trials (RCT) menilai efektivitas aktivitas fisik selama kehamilan terhadap risiko terjadinya gangguan hipertensif gestasional. Pada meta analisis ini wanita hamil dilakukan randomisasi pada kehamilan awal dan dilakukan 30-60 menit aktivitas aerobik 2-7 kali setiap minggunya sampai usia kehamilan 35 minggu atau sampai persalinan. Pada grup aktivitas fisik didapatkan angka kejadian gangguan hipertensif gestasional atau preeklampsia lebih rendah secara signifikan (risiko relatif 0,7) dari 7 RCT.  16 RCT mendapatkan risiko yang lebih rendah terhadap terjadinya hipertensi gestasional dengan risiko relatif 0,54. 6 RCT mendapatkan adanya risiko yang lebih rendah secara signifikan pada grup aktivitas fisik terhadap angka kejadian preeklampsia (risiko relatif 0,79). Selain itu, wanita pada grup aktivitas fisik memiliki risiko yang lebih rendah secara signifikan menjalani operasi Caesar dibandingkan dengan grup kontrol (risiko relatif 0,84). Studi-studi pada meta analisis ini dilakukan randomisasi dan allocation concealment sehingga memiliki risiko bias yang rendah. Selain itu, meta analisis ini juga memiliki tingkat heterogenitas statistik yang rendah. Keterbatasan pada meta analisis ini adalah adanya faktor perancu seperti konseling makanan yang diberikan sebagai intervensi tambahan pada beberapa RCT.[6]

Meta analisis lain dilakukan oleh Yu, et al. yang terdiri dari 6 RCT menilai efektivitas aktivitas fisik selama kehamilan terhadap kejadian diabetes mellitus gestasional. Pada meta analisis ini dilakukan aktivitas fisik aerobik, kekuatan, dan fleksibilitas dengan intensitas moderat yang dilakukan 45-60 menit tiga kali dalam seminggu. Terdapat 5 RCT yang menyatakan bahwa grup ibu hamil yang melakukan aktivitas fisik memiliki risiko yang lebih rendah terhadap kejadian diabetes mellitus gestasional (risiko relatif 0,59). Namun, pada meta analisis ini tidak didapatkan adanya hasil yang signifikan terhadap angka kejadian lahir prematur, skor APGAR bayi <7, berat badan lahir bayi. Meta analisis ini memiliki risiko heterogenitas yang cukup rendah. Namun, meta analisis ini memiliki keterbatasan terhadap jumlah RCT, perbedaan durasi waktu dan intensitas waktu pada beberapa dinilai juga dapat memengaruhi hasil dari meta analisis.[7]

Dari dua meta analisis di atas, aktivitas fisik selama kehamilan dinilai memiliki dampak positif bagi maternal dan fetus, seperti penurunan kejadian gangguan hipertensif selama masa kehamilan, diabetes mellitus gestasional, dan melahirkan secara operasi caesar. Aktivitas fisik jenis aerobik dengan intensitas moderat yang dilakukan minimal tiga kali seminggu dengan durasi 30-60 per kali bermanfaat bagi kesehatan ibu dan bayi selama masa kehamilan dan post partum.

Kesimpulan

Sama seperti aktivitas seksual, aktivitas fisik selama kehamilan tidak berbahaya untuk dilakukan. Berbagai penelitian menyatakan bahwa aktivitas fisik memiliki dampak positif jika dilakukan secara tepat dan tidak berlebihan. Aktivitas fisik yang dianjurkan selama kehamilan adalah aktivitas fisik aerobik seperti berenang, berjalan, senam khusus ibu hamil yang dilakukan setiap minimal tiga kali dalam seminggu dengan total durasi 150 menit per minggunya. Adanya aktivitas fisik selama kehamilan dapat menurunkan risiko terjadinya berbagai komplikasi kehamilan dan post partum.

Referensi