Vaksin COVID-19 untuk Anak Usia 6 Bulan ‒ 5 Tahun: Bukti Ilmiah

Oleh :
dr.Eva Naomi Oretla

Vaksin COVID-19 yang disetujui untuk anak usia 6 bulan ‒ 5 tahun, tetapi belum direkomendasikan, adalah vaksin tipe mRNA yaitu vaksin Moderna dan vaksin Pfizer. Sebenarnya, bagaimana bukti ilmiah pemberian vaksin COVID-19 pada anak di masyarakat atau populasi lebih besar? Walaupun clinical trial terhadap kedua vaksin COVID-19 tersebut menunjukkan efikasi, keamanan, dan stimulasi antibodi pada anak usia ≥6 bulan yang serupa dengan pemberian pada dewasa.[1,3-5]

Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

FDA telah mengeluarkan emergency use authorization (EUA) untuk penggunaan vaksin COVID-19 pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun. Demikian juga CDC telah merekomendasikan dan mengeluarkan jadwal imunisasi COVID-19 interim untuk usia ≥6 bulan. Vaksin yang dapat diberikan adalah vaksin Moderna (mRNA-1273) dan vaksin Pfizer (BNT162b2).[1-4]

Vaksin COVID-19 untuk Anak Usia 6 Bulan

Rasionalisasi Pemberian Vaksin COVID-19 pada Anak Usia 6 Bulan ‒ 5 Tahun

Tujuan utama pemberian vaksin COVID-19 pada anak adalah untuk menurunkan angka mortalitas dan morbiditas akibat COVID-19, mencegah multisystem inflammatory syndrome in children (MIS-C), serta memberikan herd immunity pada populasi yang rentan, seperti lansia, individu dengan komorbid, dan individu yang belum menerima vaksinasi lengkap.[1,5,6]

Data WHO mencatat sekitar 400.000.000 kasus COVID-19 terkonfirmasi di seluruh dunia, termasuk +6.000.000 kematian. Namun, proporsi kasus pada anak-anak jauh lebih rendah (2‒20%), dengan tingkat kematian yang sangat rendah.[1]

Rasionalisasi pemberian vaksin COVID-19 selama uji klinis pada populasi anak adalah adanya pengembangan antibodi yang diharapkan dapat melindungi tubuh dari infeksi virus SARS-CoV-2. Namun, belum tersedia uji epidemiologi di masyarakat (populasi bear) yang menunjukkan pemberian vaksin pada anak akan lebih menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat COVID-19 pada anak usia <5 tahun.[1,5]

Uji Klinis Vaksin COVID-19 Moderna pada Populasi Anak Usia 6 Bulan ‒ 5 Tahun

Uji klinis vaksin COVID-19 Moderna (mRNA-1273) pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun dilakukan di Amerika Serikat pada Desember 2021 hingga Februari 2022. Dalam uji klinis tersebut dilakukan analisis dua kelompok secara terpisah, yaitu usia 6–23 bulan dan usia 2–5 tahun. Uji klinis ini melakukan intervensi (rasio vaksin 3:1 dengan plasebo salin), yang diberikan kepada subjek secara acak.[3,4,7]

Dosis vaksin diberikan dua dosis 25 µg secara injeksi intramuskular (IM), dengan interval pemberian 28 hari. Follow up dilakukan pada 2,5 bulan setelah pemberian dosis kedua.[3,7,10]

Hasil pada kelompok usia 6 bulan hingga 5 tahun menunjukkan efikasi sebesar 41,5 %. Efektivitas terhadap infeksi simtomatik yang terjadi 2 bulan setelah pemberian dosis kedua adalah 35%, yang konsisten dengan efektivitas vaksin pasca otorisasi vaksin Moderna pada orang dewasa usia 18–64 tahun.[4,7,10]

Data keamanan penggunaan vaksin melaporkan tidak terdapat kejadian kematian pada peserta uji klinis, dengan efek samping serius jarang terjadi (0,5% pada kelompok vaksin dibandingkan dengan 0,2% pada kelompok plasebo). Salah satu subjek yang menerima vaksin mengalami dua efek serius, yaitu demam dan kejang demam yang kemungkinan terkait dengan vaksin.

Pada uji klinis ini, tidak ditemukan miokarditis dan anafilaksis akibat vaksin,  meskipun ukuran sampel terlalu kecil untuk mendeteksi efek samping yang lebih jarang namun serius ini.[3,4,7-10]

Uji Klinis Vaksin COVID-19 Pfizer pada Populasi Anak Usia 6 Bulan – 5 Tahun

Uji klinis vaksin COVID-19 Pfizer (BNT162b2) pada anak usia 6 bulan hingga 4 tahun dilakukan di Amerika Serikat pada Juni 2021 hingga April 2022. Uji klinis dilakukan pada dua kelompok, yaitu usia 6–23 bulan dan usia 2–4 tahun. Hasil uji klinis akan dikumpulkan untuk estimasi gabungan penggunaan vaksin pada anak usia 6 bulan – 5 tahun.[2,3,7]

Uji klinis ini merupakan uji klinis acak dengan intervensi vaksin 2:1 ke plasebo salin. Vaksin diberikan tiga dosis masing-masing 3 µg, di mana interval antara dosis pertama dan kedua 21 hari dan interval antara dosis kedua dan ketiga 8 minggu. Follow up dilakukan 1 bulan setelah pemberian dosis ketiga. Perlu dicatat bahwa dosis ketiga ditambahkan karena desain studi asli dengan 2 dosis tidak memenuhi ambang kemanjuran.[7,11,12]

Secara keseluruhan, efikasi vaksin pada usia 6 bulan ‒ 4 tahun adalah 80,3 %. Data keamanan penggunaan vaksin melaporkan tidak terdapat kejadian kematian pada subjek. Efek samping serius jarang terjadi, tetapi ukuran studi tidak cukup besar untuk memperlihatkan efek samping yang serius.[7,11,12]

Insiden efek samping serius terjadi pada 1,0% penerima vaksin, dengan salah satu subjek yang menerima vaksin mengalami dua efek serius, yaitu demam dan nyeri pada ekstremitas yang kemungkinan terkait dengan vaksin dan memerlukan rawat inap. Pada uji klinis ini, tidak ditemukan miokarditis dan syok anafilaksis terkait vaksin.[4,7,11,12]

Rekomendasi Vaksin COVID-19 pada Anak Usia 6 Bulan – 5 Tahun Berdasarkan FDA

Setelah FDA di Amerika serikat mengeluarkan emergency use authorization (EUA) terhadap penggunaan vaksin COVID-19 pada anak usia 6 bulan – 5 tahun, pusat pengendalian penyakit CDC meninjau ulang penetapan EUA dan mengeluarkan rekomendasi jadwal vaksinasi COVID 19 interim pada usia anak ≤ 5 tahun.[1-4]

FDA dan CDC merekomendasikan tipe vaksin mRNA yaitu vaksin COVID-19 Moderna (mRNA-1273) untuk anak usia 6 bulan – 5 tahun dengan total pemberian 2 dosis, serta vaksin COVID-19 Pfizer (BNT162b2) untuk anak usia 6 bulan – 4 tahun dengan total pemberian 3 dosis. Tabel berikut memberikan panduan jadwal vaksinasi COVID-19 pada anak usia 6 bulan – 5 tahun beserta kondisi medis yang menyertai sesuai dengan rekomendasi CDC.[1-4,13-14]

Tabel 1. Panduan Vaksinasi Rekomendasi CDC

 

Produk vaksin mRNA*

 

Usia

 

Imunokompeten Imunodefisiensi

Dosis

 

Interval antar dosis#

 

Dosis

Interval antar dosis#

Moderna

25 µg

6 bulan hingga 5 tahun Total: 2 dosis Total: 3 dosis
Dosis 1 ke 2 Setidaknya 4–8 minggu Dosis 1 ke 2 Setidaknya 4 minggu
Dosis 2 ke 3 Setidaknya 4 minggu

Pfizer

3 µg

6 bulan hingga 4 tahun Total: 3 dosis Total: 3 dosis
Dosis 1 ke 2 Setidaknya 3‒8 minggu Dosis 1 ke 2 Setidaknya 3 minggu
Dosis 2 ke 3 Setidaknya 8 minggu Dosis 2 ke 3 Setidaknya 8 minggu

Catatan:

* Lengkapi seri primer vaksinasi dengan produk vaksin yang sama. Apabila produk vaksin yang sebelumnya tidak tersedia atau tidak dapat ditentukan, maka produk vaksin mRNA COVID-19 yang sesuai dengan usia dapat diberikan setidaknya 28 hari setelah dosis pertama.

# Anak yang baru terinfeksi SARS-CoV-2 dapat dipertimbangkan untuk menunda seri primer selama 3 bulan sejak timbulnya gejala atau tes positif (jika infeksi tidak menunjukkan gejala atau asimtomatik).

Sumber: dr.Eva Naomi, 2022.[13,14]

Rekomendasi Vaksin COVID-19 pada Anak Usia 6 Bulan - 5 Tahun Berdasarkan WHO

Pada Agustus 2022, WHO mengeluarkan pernyataan interim bahwa WHO dengan dukungan dari Strategic Advisory Group of Experts (SAGE) on Immunization sedang meninjau semua bukti yang ada tentang perlunya memvaksinasi anak usia 6 bulan – 5 tahun dengan vaksin COVID-19  yang tersedia saat ini. SAGE dan WHO terus meninjau literatur dan telah menghubungi produsen vaksin, komunitas riset, dan negara anggota WHO untuk mendapatkan data terlengkap dan terbaru tentang vaksin COVID-19.[15]

Pernyataan interim dari WHO ini bukan merupakan rekomendasi kebijakan, tetapi ungkapan untuk mengkaji peran vaksin COVID-19 pada anak usia 6 bulan ‒ 5 tahun dalam konteks global, meliputi fase pandemi yang berbeda di setiap negara dan tingkat cakupan vaksinasi yang berbeda.[15]

Alasan pengkajian vaksin COVID-19 pada anak usia 6 bulan - 5 tahun di antaranya karena distribusi dan akses vaksin yang tidak merata di seluruh negara. Saat ini, masih banyak negara yang belum mencapai tingkat cakupan vaksin yang tinggi pada kelompok prioritas tertinggi, yaitu populasi lansia dan populasi dewasa dengan komorbid.[15]

Selain itu, WHO melaporkan studi epidemiologi kasus COVID-19 pada anak usia <5 tahun selama rentang waktu Desember 2019 hingga Oktober 2021, di mana terdapat 2% (1.890.756) kasus global dan 0,1% (1.797) kasus mortalitas global. Kasus COVID-19 melonjak dengan drastis pada tahun 2022 selama lonjakan varian Omicron.[15]

Beberapa bukti epidemiologi lain juga menunjukkan bahwa anak yang lebih muda (usia 6 bulan – 5 tahun) memiliki transmisi penularan SARS-CoV-2 yang lebih rendah daripada remaja dan orang dewasa, yang diukur dengan secondary attack rates. Namun, survei seroprevalensi diperlukan untuk memberikan informasi yang lebih meyakinkan tentang tingkat transmisi infeksi SARS-CoV-2.[15]

Dalam studi epidemiologi tersebut, dilaporkan juga beberapa faktor risiko COVID-19 derajat berat pada anak usia 6 bulan - 5 tahun, yaitu obesitas, diabetes melitus, penyakit jantung dan paru, riwayat kejang, gangguan neurologis, imunodefisiensi, dan sindrom Down. Oleh karena itu, WHO merekomendasikan vaksin COVID-19  Pfizer atau Moderna diberikan pada usia 6 bulan - 5 tahun dengan kondisi kesehatan yang kompleks tersebut di atas.[15,16]

Rekomendasi Vaksin COVID-19 pada Anak Usia 6 Bulan - 5 Tahun di Indonesia

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) didukung oleh Tim Ahli Komite Nasional Penilai Vaksin COVID-19 dan  Indonesian Technical Advisory Group of Immunization (ITAGI) memberikan EUA untuk vaksin COVID-19 pada anak usia 5‒11 tahun pada 29 November 2022, dan usia 6 bulan - 4 tahun pada 11 Desember 2022.[17,18]

Vaksin COVID-19 yang direkomendasikan untuk anak usia 6 bulan - 5 tahun di Indonesia adalah vaksin Pfizer, dengan formulasi dan kekuatan yang berbeda dengan dosis untuk usia >12 tahun.[17,18]

Dosis vaksin primer Pfizer untuk anak usia 6 bulan - 4 tahun adalah 3 µg/0,2 mL, yang diberikan dalam 3 dosis. Dua dosis pertama diberikan dalam rentang waktu 3 minggu, diikuti dengan dosis ketiga yang diberikan setidaknya 8 minggu setelah dosis kedua. Sementara, dosis vaksin primer Pfizer untuk anak usia 5‒11 tahun adalah 10 µg/0,2 mL, diberikan 2 dosis dengan rentang waktu 3 minggu.[17,18]

BPOM melansir efek samping yang dapat timbul pada anak usia 6 bulan – 5 tahun pasca vaksinasi Pfizer berdasarkan studi Comirnaty Children memiliki intensitas ringan dan sedang.[18]

Terdapat insiden limfadenopati pasca vaksinasi sebanyak 0,2% pada subjek usia 6 bulan - 1 tahun, dan 0,1% pada subjek usia 2‒5 tahun. Pengamatan insiden adverse events of special interest (AESI) pada anak usia ≥ 5 tahun adalah laporan reaksi angioedema pasca vaksinasi COVID-19 dengan Pfizer.[18]

Akan tetapi, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) belum mengeluarkan pernyataan tertulis terkait pemberian vaksin COVID-19 pada anak usia 6 bulan – 5 tahun.

Kesimpulan

Uji klinis vaksin COVID-19 pada anak usia 6 bulan - 5 tahun menunjukkan peningkatan antibodi dan insiden efek samping ringan-sedang. Namun, masih perlu peninjauan ulang penetapan EUA pada vaksin COVID-19 terkait dengan masa pandemi yang telah berlangsung selama lebih dari 2 tahun.

Rasionalisasi pengkajian vaksin COVID-19 pada anak usia 6 bulan - 5 tahun  adalah belum tercapainya tingkat cakupan vaksinasi pada populasi prioritas tertinggi yaitu populasi lansia dan populasi dewasa dengan komorbid, yang merupakan populasi dominan pada global burden disease COVID-19. Rasionalisasi lainnya adalah bukti studi epidemiologi yang menunjukkan rendahnya insiden dan tingkat mortalitas COVID-19 pada anak usia <5 tahun secara global.

Vaksin COVID-19 pada anak usia 6 bulan ‒ 5 tahun dapat diberikan pada anak dengan kondisi kesehatan yang kompleks atau multipel, seperti anak dengan imunodefisiensi primer atau sekunder yang parah. Hal ini sesuai dengan pernyataan interim WHO berdasarkan studi epidemiologi tentang faktor risiko COVID-19 derajat berat pada kelompok usia di bawah 5 tahun.

Berbagai bukti ilmiah yang tersedia saat ini masih belum menjawab beberapa pertanyaan terkait pemberian vaksin pada anak kecil. Apakah vaksin memberikan manfaat klinis tambahan seperti pengurangan rawat inap dan kematian, mengingat morbiditas dan mortalitas COVID-19 pada anak rendah? Apakah benar risiko miokarditis akibat vaksin mRNA, terutama Moderna, jarang terjadi tetapi signifikan pada anak, padahal kasus miokarditis terkait vaksin pada remaja laki-laki telah dilaporkan secara signifikan?

Apakah vaksin COVID-19 ini, jika telah disetujui, akan rutin diberikan pada anak, atau hanya untuk anak-anak dalam kelompok risiko? Untuk itu, diperlukan studi uji klinis yang lengkap dan literatur yang lebih banyak tentang pengkajian pemberian vaksin COVID-19 pada populasi anak ini.

Referensi