Suplementasi Kalsium dan Vitamin D Terbukti Tidak Menurunkan Insidensi Fraktur Pada Lansia

Oleh dr. Yenna Tasia

Suatu meta analisis terbaru menemukan bahwa suplementasi kalsium, vitamin D atau kombinasi keduanya tidak menurunkan risiko fraktur osteoporotik pada lansia. [1,2]

Depositphotos_73928525_m-2015_compressed

Sekitar 40-50% wanita lansia mengalami fraktur osteoporotik yang diasosiasikan dengan angka morbiditas yang tinggi. Lansia yang tinggal di fasilitas residential care atau panti jompo memiliki risiko fraktur yang lebih tinggi yaitu sekitar > 50% setiap tahunnya.[1-3]

Berbagai fraktur osteoporotik yang dapat terjadi pada lansia antara lain adalah fraktur panggul, pergelangan tangan, tulang belakang dan tulang humerus. Fraktur panggul seringkali dianggap sebagai fraktur osteoporotik yang paling serius dengan angka morbiditas yang tinggi. Sekitar 5-20% pasien meninggal dalam 1 tahun setelah terjadinya fraktur panggul.[2,3,5]

Selama ini diketahui bahwa konsumsi vitamin D, kalsium atau kombinasinya dapat menurunkan risiko dan insidensi fraktur pada lansia. Berbagai pedoman merekomendasikan suplementasi kalsium dan vitamin D untuk mencegah terjadinya fraktur pada lansia dengan osteoporosis. Namun menurut meta-analisis yang dilakukan, sampai saat ini belum terdapat suatu kesimpulan yang konsisten mengenai asosiasi antara kalsium, vitamin D atau kombinasinya dengan risiko terjadinya fraktur. Selain itu terdapat kekhawatiran suplementasi kalsium dan vitamin D menyebabkan efek samping.[2,3,5,6]

Peran Kalsium dan Vitamin D dalam Fraktur

Kalsium adalah komponen utama dari tulang, maka keadaan defisiensi kalsium menyebabkan kerapuhan pada tulang. Setiap hari tubuh kehilangan sekitar 150-200 mg kalsium dari saluran cerna, ginjal dan kulit; kehilangan ini dikompensasi dengan penyerapan kalsium. Karena penyerapan kalsium fractional hanya sekitar 25%, diperlukan asupan kalsium sebanyak 800 mg/hari untuk mengatasi kehilangan kalsium ini. Jika asupan kalsium kurang, kalsium akan diserap dari tulang. Maka diharapkan suplementasi kalsium dapat menurunkan risiko fraktur.[3,6,7]

Vitamin D secara umum dibentuk saat kulit terpapar dengan sinar ultraviolet B. Metabolit utama vitamin D yang bersirkulasi adalah 25-hidroksivitamin D atau 25(OH)D yang dianggap sebagai marker utama untuk menilai kadar vitamin D di tubuh. Vitamin D menginduksi aktifitas osteoblastik tulang, sehingga bermanfaat dalam mencegah fraktur karena mengurangi bone loss yang terjadi pada lansia. Selain itu vitamin D juga mempunyai efek baik terhadap kekuatan otot, keseimbangan dan meningkatkan penyerapan kalsium di saluran cerna.[3-6]

Rekomendasi Suplementasi Kalsium dan/atau Vitamin D Saat Ini

Berbagai pedoman tetap menyarankan suplementasi kalsium dan/atau vitamin D sebagai dasar dari pencegahan dan penanganan fraktur pada lansia; walaupun asosiasi antara suplementasi kalsium dan vitamin D, densitas tulang, pencegahan fraktur dan potensi terjadinya efek samping masih tidak konsisten.[3] Dosis yang direkomendasikan berbeda-beda pada setiap pedoman.

Terdapat hubungan antara dosis dengan respons suplementasi vitamin D dan insidensi fraktur. Ditemukan bahwa vitamin D dengan dosis < 400 IU/hari tidak efektif untuk mencegah fraktur.[3,5] Namun dosis vitamin D yang terlalu tinggi juga tidak bermanfaat dan justru berpotensi menyebabkan efek samping. American Geriatric Society menyarankan bahwa lansia > 65 tahun sebaiknya mendapatkan vitamin D minimal 1000 IU/hari dengan kalsium 1000 – 1200 mg/hari untuk mencegah risiko terjadinya fraktur. Sedangkan Endocrine Society merekomendasikan suplementasi vitamin D 1500-2000 IU/hari karena dianggap tidak terdapat sumber makanan yang cukup untuk memenuhi angka kecukupan gizi vitamin D. Karena ada perbedaan antara berbagai pedoman, maka sebaiknya kadar suplementasi vitamin D dan kalsium disesuaikan dengan keadaan individu tersebut (misalnya pertimbangkan mobilitas dan asupan gizinya).[3]

Suplementasi vitamin D tanpa kalsium tidak direkomendasikan sebagai regimen tunggal untuk mencegah fraktur. Berbagai penelitian yang hanya menggunakan suplementasi vitamin D tunggal tidak menunjukkan adanya penurunan risiko fraktur yang signifikan.[4]

Pemantauan kadar 25(OH)D di serum tidak harus dilakukan, namun dapat dilakukan untuk memastikan bahwa kadar vitamin D yang adekuat sudah tercapai. Konsentrasi minimal 25(OH)D serum pada lansia terutama dengan risiko fraktur tinggi adalah sebanyak 30 ng/mL.[3]

Sebaiknya yang pertama dan terutama dianjurkan adalah peningkatan asupan kalsium melalui diet. Hanya jika asupan kalsium melalui diet tidak mencukupi, maka diberikan suplementasi kalsium. Angka kecukupan gizi yang direkomendasikan oleh Amerika adalah kalsium sebanyak 1000 mg/hari pada pria berusia 51-70 tahun dan 1200 mg/hari pada wanita berusia > 51 tahun dan pria > 71 tahun. Sedangkan angka kecukupan gizi untuk vitamin D adalah 600 IU/hari untuk dewasa berusia 51-70 tahun dan 800 IU/hari untuk dewasa berusia > 71 tahun.[3,8]

Selain suplementasi kalsium dan/atau vitamin D dan asupan nutrisi yang adekuat, fraktur osteoporotik dapat dicegah dengan penanganan komprehensif antara lain dengan gaya hidup yang sehat, olahraga teratur, lingkungan dan tempat tinggal yang aman.[3]

Efek Samping Suplementasi Kalsium dan Vitamin D

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa suplementasi kalsium, dengan atau tanpa vitamin D, berpotensi untuk menyebabkan efek samping seperti kejadian kardiovaskular, kematian mendadak, kanker atau batu pada saluran kemih. Mekanisme efek samping kalsium dengan risiko terjadinya miokard infark dihipotesakan karena kadar kalsium yang tinggi di serum seringkali dihubungkan dengan risiko kalsifikasi vaskular yang meningkat, sehingga meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular.[3,4,7,8]

Beberapa penelitian mengenai efek vitamin D terhadap faktor risiko kardiovaskular, stroke dan kematian menunjukkan hasil yang inkonsisten. Sampai saat ini belum ada asosiasi yang signifikan secara statsitik antara vitamin D dengan kejadian kardiovaskular, stroke dan kematian.[3,7]

Maka saat ini suplementasi kalsium dan vitamin D tetap direkomendasikan karena belum ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa kalsium dengan atau tanpa suplementasi vitamin D meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular dan kanker.[3]

Hasil dari Penelitian Terbaru Menentang Rekomendasi Yang Ada

Penelitian terbaru menemukan bahwa kalsium, vitamin D maupun kombinasi antara kalsium dan vitamin D tidak secara signifikan berhubungan dengan menurunnya insidensi fraktur panggul, tulang belakang, non-vertebra maupun total fraktur pada lansia di komunitas.[1] Dan hasil penelitian ini konsisten terlepas dari dosis suplementasi kalsium dan vitamin D, jenis kelamin, riwayat fraktur sebelumnya, jumlah asupan kalsium melalui makanan dan konsentrasi 25(OH)D di serum.[1,2]

Hasil penelitian ini menyokong beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. [7,8] Salah satu penelitian sebelumnya menyimpulkan bahwa peningkatan asupan kalsium tidak berhubungan dengan risiko terjadinya fraktur dan tidak ada bukti bahwa peningkatan dalam konsumsi kalsium dapat mencegah fraktur. Sedangkan suplementasi kalsium mempunyai efek yang tidak konsisten terhadap pencegahan fraktur.[8]

Di sisi lain, penelitian terbaru juga menemukan kemungkinan lansia yang tinggal di fasilitas residential care dan panti jompo mempunyai keuntungan dari suplementasi vitamin D atau kalsium. Karena penghuni fasilitas residential care ini memiliki risiko osteoporosis lebih tinggi akibat gaya hidup yang mereka miliki. Secara rerata penghuni fasilitas residential care memiliki mobilitas yang lebih rendah, kurang terpapar terhadap sinar matahari dan asupan gizi yang lebih buruk. Maka keuntungan dari suplementasi vitamin D dan kalsium ini adalah berbeda pada lansia yang tinggal di komunitas dengan lansia yang tinggal di fasilitas residential care dan panti jompo.[1,2]

Berdasarkan hasil penelitian terbaru ini, maka suplementasi rutin kalsium dan/atau vitamin D untuk mencegah risiko fraktur tidak direkomendasikan pada lansia sehat yang tinggal di komunitas.[2] Hal yang sama direkomendasikan oleh beberapa penelitian lainnya.[7,8] Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai manfaat dan keamanan suplementasi vitamin D atau kalsium pada lansia yang tinggal di residential care dan panti jompo.

Referensi