Penatalaksanaan Kanker Lidah
Penatalaksanaan kanker lidah ditentukan oleh stadium klinis, kedalaman invasi tumor, keterlibatan kelenjar limfa, status kesehatan umum pasien, dan komorbiditas yang menyertai. Tujuan terapi meliputi eradikasi tumor, mempertahankan fungsi bicara dan menelan, mencegah rekurensi, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.[12,16-18]
Penatalaksanaan Stadium Awal (I-II)
Pada stadium awal, terapi utama yang direkomendasikan adalah tindakan bedah reseksi primer tumor dengan margin bebas tumor sekitar lebih dari 10 mm, yang merupakan standar margin bebas tumor yang adekuat secara histopatologis. Ukuran dan lokasi lesi menentukan bentuk tindakan apakah partial glossectomy atau hemiglossectomy.
Untuk menentukan kebutuhan akan diseksi leher elektif, penilaian kedalaman invasi menjadi parameter penting. Risiko metastasis mikroskopik akan terus melekat meskipun pembesaran nodus limfa tidak teraba. Oleh karena itu, kecuali pada lesi yang sangat superfisial, diseksi leher selektif umumnya direkomendasikan.
Pada sebagian kecil kasus stadium awal yang memiliki faktor risiko patologis seperti invasi perineural atau margin sempit, dapat dipertimbangkan pemberian radioterapi adjuvan untuk menurunkan risiko rekurensi.[12,16-18,26]
Penatalaksanaan Stadium Lanjut (III-IV)
Pada stadium lanjut, terapi bersifat multimodal. Artinya, kombinasi antara pembedahan luas dan terapi adjuvan untuk menekan rekurensi dan membersihkan sisa-sisa sel kanker merupakan pendekatan utama.
Tindakan bedah yang dilakukan pada stadium ini dapat meliputi reseksi luas tumor primer yang disertai diseksi leher komprehensif jika terdapat metastasis nodus limfa. Sementara itu, reseksi ekstensif disertai dengan rekonstruksi kompleks perlu dilakukan jika keterlibatan struktur dan jaringan sekitar sangat masif.
Pada pasien-pasien dengan faktor risiko tinggi seperti invasi limfovaskular, invasi perineural, margin positif, dan keterlibatan nodus multipel, perlu diberikan radioterapi pascaoperasi. Pada kondisi tertentu, kemoradioterapi kombinasi dengan agen seperti cisplatin menjadi pilihan untuk meningkatkan kontrol lokoregional.
Pada pasien dengan kondisi umum yang tidak baik sehingga tidak memungkinkan tindakan bedah, kemoradioterapi definitif dapat menjadi alternatif terapi utama.[12,16-18]
Terapi Sistemik
Pada pasien yang telah menjalani pembedahan, terapi sistemik sering diberikan secara konkuren dengan radioterapi pascaoperasi pada kondisi berisiko tinggi, seperti adanya margin bedah positif atau ekstensi nodal ekstrakapsular (extranodal extension). Kombinasi kemoterapi dan radioterapi ini dilaporkan dapat menurunkan risiko kekambuhan lokoregional, relaps penyakit, serta mortalitas.
Pada penyakit yang tidak dapat direseksi, rekuren, atau metastatik, terapi sistemik menjadi komponen utama pengobatan. Kemoterapi sitotoksik berbasis platinum sebelumnya merupakan terapi standar, namun saat ini imunoterapi dengan immune checkpoint inhibitors (ICI) semakin banyak digunakan.
Antibodi anti–PD-1 seperti nivolumab dilaporkan menghasilkan respons tumor dan kelangsungan hidup yang lebih baik dibandingkan kemoterapi sitotoksik pada pasien dengan karsinoma sel skuamosa kepala dan leher yang refrakter terhadap platinum, terutama pada tumor dengan ekspresi PD-L1 >1%.
Selain itu, pembrolizumab, baik sebagai monoterapi maupun dikombinasikan dengan kemoterapi, kini menjadi pilihan lini pertama pada kasus kanker kepala dan leher rekuren atau metastatik, dengan pemilihan terapi dipandu oleh tingkat ekspresi PD-L1 yang diukur melalui combined positive score (CPS) serta faktor klinis seperti beban tumor dan status performa pasien.
Perkembangan penelitian juga mengevaluasi peran imunoterapi pada stadium penyakit yang lebih awal, termasuk sebagai terapi neoadjuvan sebelum pembedahan atau sebagai tambahan pada kemoradioterapi definitif. Meskipun beberapa uji klinis fase III belum menunjukkan peningkatan bermakna dalam kelangsungan hidup bebas progresi, penelitian terus berlangsung untuk menentukan peran imunoterapi dalam strategi terapi kanker lidah.[12,16-18,27]
Rekonstruksi Lidah
Tindakan bedah reseksi pada kasus kanker lidah seringkali menghilangkan banyak jaringan lunak sehingga berdampak signifikan terhadap fungsi bicara, menelan, hingga estetika wajah. Oleh karena itu, rekonstruksi pasca tindakan memainkan peran penting.
Teknik rekonstruksi untuk mengembalikan fungsi normal dapat meliputi teknik flap lokal, regional, atau free flap microvascular untuk menggantikan jaringan yang hilang sembari mempertahankan mobilitas dan volume lidah.[12,16-18]
Pendekatan Rekonstruksi
Pemilihan teknik rekonstruksi bergantung pada ukuran dan lokasi defek jaringan, luas reseksi, serta kondisi umum pasien. Pada defek kecil, rekonstruksi dapat dilakukan dengan penutupan primer atau penyembuhan sekunder, sedangkan defek yang lebih luas umumnya memerlukan penggunaan graft atau flap jaringan.
Pada defek yang lebih besar, terutama setelah hemiglossectomy atau reseksi yang lebih luas, rekonstruksi sering menggunakan flap lokal atau free flap untuk menggantikan jaringan yang hilang dan mempertahankan volume lidah yang diperlukan untuk fungsi orofaringeal.
Flap fasciokutaneus yang tipis umumnya digunakan pada hemiglossectomy, sedangkan reseksi subtotal atau total memerlukan flap yang lebih besar untuk membantu mempertahankan fungsi menelan dan melindungi jalan napas.[27]
Rehabilitasi dan Pemantauan
Terapi wicara dan terapi menelan menjadi komponen utama rehabilitasi, terutama pada pasien yang mengalami disartria atau disfagia setelah pembedahan. Hasil fungsional yang lebih baik biasanya berkaitan dengan preservasi ujung lidah, ukuran reseksi yang lebih kecil, serta minimalnya restriksi pergerakan lidah setelah rekonstruksi.
Fisioterapi pascaoperasi umumnya diperlukan dan mencakup mobilisasi dini, fisioterapi dada untuk mencegah komplikasi paru pascaoperasi, serta penatalaksanaan masalah muskuloskeletal seperti disfungsi bahu, nyeri pada lokasi donor flap, dan limfedema.
Risiko komplikasi paru meningkat pada pasien dengan durasi operasi yang lama, riwayat merokok, penggunaan trakeostomi, atau komorbiditas respiratorik, sehingga mobilisasi dini dan latihan pernapasan dianjurkan untuk mempercepat pemulihan dan mengurangi lama rawat inap.
Pemantauan jangka panjang dilakukan melalui pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter onkologi, ahli gizi, terapis wicara, perawat onkologi, dan fisioterapis. Tim perawatan perlu memantau efek samping terapi seperti limfedema kepala dan leher, gangguan menelan, malnutrisi, serta komplikasi dari kemoterapi atau radioterapi. Penatalaksanaan limfedema dapat dilakukan dengan complete decongestive therapy, yang meliputi edukasi, perawatan kulit, latihan, pijat, dan kompresi.
Pada pasien dengan penyakit residif, residual, atau metastatik, pemantauan juga mencakup evaluasi kemungkinan terapi lanjutan serta perawatan paliatif. Pendekatan ini menekankan diskusi mengenai manfaat terapi, potensi toksisitas, dan kualitas hidup pasien. Keterlibatan dini tim perawatan paliatif dapat membantu mengoptimalkan kontrol gejala, dukungan emosional, serta perencanaan perawatan yang berpusat pada kebutuhan pasien.[27]